Metode Pengajaran Jiwa Bagian PERTAMA
Saya mencemaskan anak-anak saya. Anak pertama lahir setelah 7 tahun pernikahan. tersemat di Akta Kelahirannya Najwa Dzikrina Istighfarah binti Zulkarnain (5 th) disusul Abdillah Tanjung (3 th). Dua orang beradik-kakak ini menjadi lubuk curahan hati. Najwa duduk di Pre-School dan ini yang menjadi sumber keresahan sebab tahun depan ke Elementary School.
Saya termangu membandingkan sekolah di SD Negeri tahun 1970-an dengan kondisi belasan tahun terakhir. Dimasa sekolah SD Teman kelasku hanyalah anak buruh cuci, tetapi dengan sistem pendidikan saat itu memungkinkan dia meraih gelar master dan status sosial terhormat.
Banyak anak buruh tani miskin di pedesaan Jawa namun anaknya mampu kuliah di PTN. Salah satu teman kuliah saya seangkatan di Fakultas Ekonomi UGM pertengahan 1980-an adalah anak petani miskin di Bantul Yogyakarta namun dia mampu membiayai kuliah dari mengayuh becak. Maka tercipta peluang terjadinya Mobilitas Sosial Vertikal.
Apa yang terjadi sekarang? Biaya masuk Pre-School/TK berkisar ratusan ribu
hingga jutaan, SPP puluhan ribu hingga ratusan ribu. Kampus Almamater-
ku yg dijuluki Kampus Rakyat pun melambungkan biaya kuliah. Sehingga
anak yang ayah dan ibunya lulusan S1 dari UGM, tetapi karena hidupnya
kurang beruntung tidak lagi mampu membiayai kuliah anaknya di UGM.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Anda memiliki komentar tentang blog "Care about teaching our son"