<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Balat al-Syuhada : Perang Paling menentukan Bagi sejarah Kristen Eropa

 

KITA tidak hanya harus belajar dari kemenangan-keberhasilan tapi lebih penting lagi belajar dari kekalahan. Dengan demikian, kita mampu melakukan koreksi setelah tahu penyebab kekalahan dan dapat menghindarinya di masa mendatang.

Awal Ramadhan 114H (732M) terjadi pertempuran paling menentukan sepanjang sejarah Kristen Eropa. Medan perang diantara kota Tours dan Poitiers - Perancis, dikenal sebagai peristiwa Balat al-Syuhada (Pavements of Martyrs). Paul K. Davis memasukkan peristiwa ini dalam daftar 100 Decisive Battles. Edward Creasy, memasukkan pertempuran ini dalam bukunya, Fifteen Decisive Battles of the World.

Kapankah suatu pertempuran bersifat menentukan jalan sejarah?

Menurut Paul K. Davies (1999:xi), pertempuran dikatakan ’menentukan’ ketika memenuhi salah satu dari 3 kriteria berikut :

-   Pertama, pertempuran itu berdampak pada perubahan
     sosial politik yang sangat penting.
     (brought about a major political or social change).
-   Kedua, sekiranya hasil pertempuran berbeda 180 derajat
     maka akan terjadi perubahan besar secara sosial-politik. 
     (had the outcome ... been reversed, major political or
     social changes would have ensued
).
-   Ketiga,
pertempuran tersebut menandai dimulainya
     perubahan penting dalam strategi perang.
     (marks the introduction of a major change in warfare).

Pertempuran yang kita dibicarakan termasuk dalam kategori ke-2.

Pertempuran Balat al-Syuhada

Balat al-Syuhada, dalam sejarah juga dikenal sebagai Pertempuran Tours atau Pertempuran Poitiers, terjadi antara pasukan Muslim Andalusia yang dipimpin Abdul Rahman al-Ghafiqi melawan pasukan Perancis dipimpin Charles Martel dan pasukan Muslimin kalah, bahkan Abdul Rahman menjadi martyr sebagai syuhada.

Muhammad Abdullah Enan dalam bukunya “Decisive Moments in the History of Islam” (1983:43) menuliskan ahli2 sejarah terutama di Barat, berandai-andai bahwa sekiranya hasil pertempuran berbeda, yaitu kaum Muslimin menang dan pasukan Perancis kalah, maka ‘tidak akan ada lagi Eropa Kristen, dan Islam akan mendominasi Eropa.’

Ia juga mengutip pendapat Edward Gibbon yang mengatakan bahwa pada titik itu (di daerah antara Poitiers dan Tours, pen.) garis kemenangan kaum Muslimin telah mencapai 1000 mil ke Utara dihitung dari Gibraltar. Sekiranya mereka mampu meneruskan jarak kemenangannya dengan jumlah yang sama, maka mereka akan mampu mencapai Polandia dan Dataran Tinggi Skotlandia. Jika itu terjadi, ‘barangkali tafsir al-Qur’an pada saat ini akan diajarkan di sekolah Oxford, dan mimbar-mimbarnya mungkin menunjukkan pada orang bersunat, kesucian dan kebenaran Wahyu Muhammad’ (1983:48). Kemungkinan inilah yang membuat para sejarawan memandang pertempuran ini sebagai decisive battle.

Enan dalam pengantar bukunya (1983:iv) memandang pertempuran ini sebagai salah satu dari 2 pertempuran paling menentukan antara Islam dan Barat (the greatest decisive encounters of Islam and Christendom). Pertempuran yang satunya lagi adalah pengepungan Konstantinopel yang dimulai sejak 32H (653M). Kegagalan Muslim dalam 2 pertempuran itu telah menunda dan menghalangi penetrasi Islam ke Eropa, masing-masing dari pintu masuk Timur dan Barat.

Bagaimana jalannya Pertempuran Tours atau Poitiers? Dan apa yang menyebabkan kekalahan Muslim pada pertempuran tersebut?

Pertempuran ini terjadi sekitar 20 tahun setelah Islam masuk Andalusia dipimpin Tariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nusayr. Sejak awal sudah tampak keinginan para pemimpin Muslim ini untuk membuka lebih jauh wilayah Eropa. Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad sudah menyeberangi Pegunungan Pyrenees yang membatasi wilayah Spanyol dan Perancis untuk memasuki wilayah lebih jauh lagi dan, tidak tertutup kemungkinan, mencapai Konstantinopel dari arah Barat (Eropa).

Namun saat 2 tokoh ini baru menguasai beberapa bagian Selatan Perancis mereka dipanggil menghadap Khalifah di Damaskus. Sepeninggal Musa ibn Nusayr hingga ke Abdul Rahman al-Ghafiqi setidaknya ada 5 orang lain yang ditunjuk oleh Damaskus untuk memimpin Andalusia (Reinaud, 1964). Sejak memasuki Andalusia, kekuatan kaum Muslimin terus merambah wilayah Selatan, Tengah, dan bahkan Utara Perancis (Davis, 1999: 103). Namun, laju penetrasi pasukan Muslim berjalan relatif lambat disebabkan ketidakstabilan politik di Andalusia pada masa itu.

Keadaan sosial-politik menjadi lebih baik saat Abdul Rahman al-Ghafiqi ditunjuk memimpin Andalusia. Kepemimpinannya baik dan adil membuatnya disukai bawahan yang dipimpin. Dalam membagi pampasan perang, ia lebih mendahulukan kepentingan anggota pasukan daripada kepentingan sendiri. Ia juga pemimpin saleh dan dikenal sebagai salah seorang dari sahabatnya Ibn Umar ra., yaitu sahabat Rasulullah SAW generasi Tabi’in(Reinaud, 1964:43; Alatas: 2007: 151).

Enan (1983: 45) menjelaskan bahwa al-Ghafiqi merupakan pemimpin dan administrator tangguh, pembaharu yang antusias, punya kebaikan kualitas ideal, punya rasa keadilan, kesabaran dan relijiusitas tinggi. Secara umum Enan melihat al-Ghafiqi sebagai pemimpin (Wali) Andalusia yang terbesar dan paling handal. Sejak kepemimpinannya, menurut Reinaud (1964: 44), gubernur-gubernur tidak amanah diganti dengan orang jujur. Orang Islam dan Kristen diperlakukan adil sesuai perjanjian diantara mereka. Gereja2 yang dirobohkan secara semenamena diperbaiki kembali. Sebaliknya gereja yang dibangun dengan cara korupsi dengan menyuap penguasa  setempat diperintahkan dirobohkan.

Ia sangat waspada terhadap potensi konflik internal  dan pemberontakan di Andalusia serta terhadap kemungkinan ancaman dari Utara. Karena itu, ia segera mengirim pasukan ke Utara menyeberangi pegunungan Pyrenees untuk memerangi salah satu gubernurnya di Perancis Selatan, Uthman ibn Abi Nis’ah, yang menentang kepemimpinannya dan bersekutu dengan penguasa Kristen di wilayah itu, yaitu Eudo, Duke of Acquitaine.

Pasukan yang dikirim al-Ghafiqi berhasil menumpas perlawanan Ibn Abi Nis’ah. Al-ghafiqi sendiri kemudian menyusul ke Utara dengan pasukan yang kuat untuk menghadapi ancaman Duke Eudo dan pasukannya.

Al-Ghafiqi memasuki wilayah Perancis di musim semi 732M (114H), kurang lebih satu tahun setelah diangkat menjadi Wali Andalusia. Satu persatu wilayah Acquitaine diduduki pasukannya. Eudo berusaha menahan pasukan al-Ghafiqi di tepi Sungai Dordogne. Namun dalam pertempuran ini Eudo menderita kekalahan telak dan banyak anggota pasukannya mati di pertempuran itu. Al-Ghafiqi mengejar Eudo hingga ke ibukota kerajaannya di Burdal, Bordeaux, yang segera takluk setelah pengepungan singkat.

Seluruh Acquitaine kemudian jatuh ke tangan Muslim. Sementara Eudo sendiri melarikan diri ke Utara, pasukan Muslim mulai memasuki wilayah Burgundi dan menaklukkan kota-kota seperti Lyon dan Besancon.

Sebagian pasukan Muslim bahkan berhasil mencapai Sens yang terletak hanya seratus mil saja dari Paris. Pasukan al-Ghafiqi kemudian bergerak ke arah Barat hingga ke tepi Sungai Loire. Dari sana mereka bersiap untuk ke Utara menuju pusat Kerajaan Frank (Perancis) (Enan, 1983: 47-8).

Kerajaan Frank ketika itu dalam masa transisi antara Dinasti Merovingian dan Dinasti Carolingian. Walaupun secara resmi masih dipimpin oleh seorang raja Merovingian yang sudah tidak memiliki kekuasaan riil, tapi secara efektif dikendalikan Charles Martel. Kerajaan Frank pada masa itu, dan pada abad-abad setelahnya, dapat dikatakan sebagai kerajaan terkuat di Eropa Barat dan sekutu paling setia dari kepausan Katholik Roma. Begitu melihat gerakan pasukan Islam semakin berbahaya, Charles Martel menghimpun pasukannya. Eudo sendiri, yang merupakan saingan Charles Martel dan selalu berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pusat, kini datang meminta bantuan pada Charles Martel. Charles menyetujuinya dengan syarat Eudo harus loyal kepadanya.

Sementara itu, Pasukan Muslim telah mencapai daerah diantara Poitiers dan Tours. Mereka menyerang dan menguasai kedua kota itu. Tidak lama setelah itu, di wilayah antara Poitiers dan Tours, pasukan Muslim mulai berhadapan dengan pasukan Frank yang dipimpin oleh Charles Martel. Laporan tentang jumlah pasukan Muslim beragam, antara 20.000 sampai 80.000. Sementara jumlah pasukan Frank dilaporkan secara beragam juga, ada yang menyatakan lebih sedikit dari pasukan Muslim dan ada yang yang menyebutkan angka yang lebih besar. Pasukan Frank kebanyakannya merupakan pasukan irregular, nyaris telanjang, dengan rambut ikal tergerai hingga ke bahu, serta mengenakan kulit serigala.

Pasukan yang dibawa al-Ghafiqi saat itu merupakan pasukan terkuat dan terbesar yang pernah dibawa ke Perancis. Namun jumlahnya sudah agak berkurang setelah melalui berbagai pertempuran. Pada saat itu mereka juga menghadapi ujian serius: harta! Sepanjang penaklukan berbagai kota di Perancis, pasukan Muslim berhasil mengumpulkan banyak pampasan perang. Harta itu bisa menjadi kekuatan ekonomi bagi Muslim selepas perang. Tapi masalahnya perang belum selesai. Dan kini mereka justru sedang dihadapkan dengan kekuatan inti lawan.

Al-Ghafiqi mulai mencemaskan keberadaan pampasan perang yang ada di tangan pasukannya. Ia khawatir perhatian pasukannya terpecah antara menghadapi musuh dan menjaga harta pampasan agar tidak jatuh ke tangan musuh. Ia meminta agar sebagian pampasan itu ditinggalkan saja, tapi ia tak mampu memaksakan hal ini karena, khawatir anggota pasukan akan menentangnya di saat yang cukup genting tersebut.

Kedua pasukan tidak langsung bertempur. Mereka saling mengawasi selama kurang lebih seminggu. Kesempatan ini digunakan oleh pasukan Muslim untuk mengamankan harta yang telah mereka kumpulkan agak jauh ke Selatan. Akhirnya pertempuran bermula pada tanggal 12 atau 13 Oktober 732 (Sha’ban 114). Selama 7-8 hari berikutnya kedua pasukan terlibat pertempuran kecil. Hari ke-9 mereka memasuki pertempuran besar melibatkan seluruh pasukan hingga malam tanpa ada pihak yang menang.

Pada hari kesepuluh kedua belah pihak saling menyerang lebih keras lagi. Kubu Perancis memperlihatkan strategi pertahanan yang kokoh dan menyulitkan kaum Muslimin untuk menyerang. Enan menyebutkan bahwa pasukan Perancis pada akhirnya mulai kelelahan dan tanda-tanda kemenangan mulai berpihak kepada pasukan Muslim. Tapi sayangnya banyak di antara anggota pasukan Muslim yang terlalu khawatir akan jatuhnya pampasan perang ke tangan musuh. Sehingga ketika mereka mendengar seruan dari tempat penjagaan harta bahwa musuh mulai melakukan penetrasi ke tempat itu, konsentrasi pasukan Muslim menjadi terpecah. Banyak di antara mereka yang meninggalkan tempatnya dan menuju tempat harta pampasan perang berada. Hal ini menimbulkan kekacauan di dalam barisan Muslim dan membuka peluang bagi musuh.

Al-Ghafiqi berusaha mengembalikan pasukannya pada posisi semula. Tapi terlambat. Dalam keadaan yang tidak menentu, ia terkena anak panah musuh. Ia terjatuh dari kudanya dan mati syahid. Keadaan semakin kacau dan musuh berhasil mendesak pasukan Muslim. Walaupun mendapat pukulan bertubi-tubi dan banyak korban gugur, kaum Muslimin masih bisa mempertahankan posisinya hingga pertempuran dihentikan pada hari itu. Kedua belah pihak kembali ke posisi masing-masing dan bersiap-siap menyongsong pertempuran baru keesokan harinya.

Namun pasukan Muslim tidak bersiap menyongsong pertempuran baru. Mereka menyadari kekalahan dan pemimpin mereka sudah gugur. Secara diam-diam mereka mundur pada malam harinya,  meninggalkan semua pampasan perang yang sejak awal berusaha mereka jaga.

Esok paginya pasukan Frank heran dengan kesunyian di kubu Muslim. Mereka pun menyadari bahwa lawan mereka sudah pergi meninggalkan pertempuran. Charles Martel dan pasukannya merasa cukup dengan hasil pertempuran itu dan tidak merasa perlu untuk mengejar pasukan Muslim. Mereka mengambil harta pampasan perang yang ditinggalkan pasukan Muslim dan kembali pulang (Enan, 1983: 56-9; Davis, 1999: 104-6).

Peristiwa itu kemudian dikenal dalam Sejarah Islam sebagai Balat al-Syuhada’ atau Dataran Syuhada. Para Sejarawan hanya bisa berandai-andai atas apa yang akan terjadi sekiranya pertempuran itu dimenangkan oleh pasukan Muslim. Bagaimana keadaan Eropa setelah itu sekiranya Kerajaan Frank dan seluruh wilayah Perancis jatuh ke tangan Muslim? Akankah Paris, dan mungkin juga setelah itu London, dan berbagai kota penting Eropa lainnya, menjadi pusat-pusat kebudayaan Islam?

Kita tidak perlu berandai-andai. Semua sudah ditetapkan Allah dan ketetapan Allah yang terbaik. Kita perlu belajar dari Sejarah, bahwa:

Adakalanya bukan musuh kuat yang mampu menaklukkan dan mengalahkan kita, tetapi yang seringkali terjadi, yang membuat kita takluk dan kalah justru karena ketidakmampuan kita sendiri dalam mengontrol hawa-nafsu yang bersumber pada kecintaan  berlebihan terhadap harta duniawi.

-------------------------------------

Oleh: Alwi Alatas.  Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini studi doktoral bidang sejarah, Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Referensi
Alatas, Alwi. Sang Penakluk Andalusia: Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad. Jakarta:
Davis, Paul K. 100 Decisive Battles: From Ancient Times to the Present. Oxford: ABC-    CLIO. 1999.
Enan, Muhammad Abdullah. Decisive Moments in the History of Islam. Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delli. 1983.
Reinaud, Muslim Colonies in France, Northern Italy and Switzerland, diterjemahkan oleh Haroon Khan Sherwani dari Invasions des Sarrazins en France, et de France en Savoie, en Piemont et en Suisse. Lahore: Sh. Muhammad Ashraf. 1964

         -------------------------------

READ MORE ... Monggo di-Klik

Satu milyar $ untuk IMF, NOL untuk Derita Rohingya


Inilah sikap ironis yang parah dari pimpinan puncak Republik Indonesia. Sepertinya sudah tidak ada lagi  emphaty apalagi simpati terhadap penderitaan bangsa lain. Apalagi suku bangsa yang menderita ini, muslim Birma - Rohingya, masih di bawah payung ASEAN, dimana kita memiliki posisi strategis sebagai Sekjen ASEAN. Negara kita terbesar di kawasan ini dan negara muslim pula.
Inikah akibat paham Nasionalism yang menghalangi dan membatasi sifat  wala wal bara seorang muslim yang sedang menjadi pemimpin RI terhadap muslim bangsa lain. Argumen tidak terungkap adalah karena tidak menyangkut kepentingan Nasional atau tidak mengganggu kepentingan RI. Maka pemerintah Indonesia hanya perlu menutup mata atas kebiadaban Budhis Myanmar.
Inilah kepicikan paham Nasionalism yang dianut seorang muslim ketika dihadapkan dengan penderitaan muslim bangsa lain. Dan ini ironisnya, di saat yang sama Indonesia komitmen mengucurkan US $ 1 Milyar untuk membantu IMF, sementara belum ada 1 dollar pun bantuan pemerintah RI untuk  menyelamatkan muslim Rohingya. Barangkali logikanya $ 1 Milyar untuk IMF akan jauh lebih menguntungkan daripada untuk membantu penderitaan rakyat negara lain atau bahkan untuk subsidi rakyatnya sendiri. (Kita tahu untuk subsidi, pemerintah juga sangat pelit. Bilangnya tidak cukup anggaran).    

MUI kritik pemerintah: US 1M untuk IMF, 0 untuk Rohingya


Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik pemerintah yang tidak melakukan tindakan nyata terhadap tragedi yang menimpa muslim Rohingya di Myanmar.
Desakan MUI kepada pemerintah Indonesia kembali disuarakan. Hadir mewakili MUI, Wakil Sekretaris Jenderal MUI Dr. Amirsyah Tambunan dan Ketua Komisi Luar Negeri MUI Dr. Saleh Daulay. Seruan kedua ulama itu terungkap di Mushola Kemanusiaan ACT,  Komplek Perkantoran Ciputat Indah Permai, Ciputat, Tangerang Selatan, Ahad (29/7), di tengah persiapan pemberangkatan tim pertama Simpaty of Solidarity (SOS) Rohingya yang telah memperoleh izin masuk ke Bangladesh seperti dirilis itoday.
Dr. Amirsyah mengatakan, tiga hal yang seharusnya dilakukan pemerintah Indonesia. Pertama, melakukan diplomasi tingkat dengan lembaga-lembaga dunia.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk tertinggi di dunia, yakni masuk tiga besar dunia. Seharusnya, prestasi ini menjadikan langkah-langkah Indonesia diperhatikan dan didengar dunia," kata Dr. Amirsyah.
Amirsyah juga menyatakan keheranannya, mengapa pemerintah tidak memanfaatkan posisi Indonesia sebagai Sekjen ASEAN untuk memberikan pengaruh kebaikan bagi perdamaian di kawasan ASEAN.
Yang kedua, pemerintah semestinya memberikan bantuan konkret untuk Rohingya. "IMF saja diberi bantuan sampai nyaris satu triliun, mengapa Rohingya tidak. Padahal bantuan yang diberikan, digunakan untuk menyelamatkan masyarakat Eropa yang mengalami krisis ekonomi. Sedangkan rakyat Rohingya, jauh lebih parah nasibnya?." gugat Amirsyah.,
Ketiga, "Dan ini selemah-lemahnya iman, kita terima pencari suaka dari Rohingya. Indonesia negara besar, pasti mampu membantu mereka. Sediakan saja sebuah pulau, mereka yang terlepas dari ancaman dan penderitaan, akan sangat bersyukur dan pasti bisa bekerja keras memulihkan kehidupannya. Pada saatnya, kehadiran mereka akan punya nilai kontribusi bagi negeri ini," papar Amir.
Sebelum menutup sambutan dengan nasihat dan doa, Amirsyah menegaskan, "Langkah konkret seperti ACT ini, seharusnya sudah saatnya menjadi langkah pemerintah. Sebagai negara besar, tidak ada alasan untuk tidak memperlihatkan kepemimpinan kita di tengah kondisi krisis kemanusiaan seperti ini."

READ MORE ... Monggo di-Klik

Mengapa RII Berkali-kali Mampu menghadapi Embargo Global?


Negara manapun yang tidak tunduk dengan Amerika pasti  menghadapi tekanannya. Semakin sengit membangkang, mereka akan menggunakan pengaruhnya untuk memperalat PBB dan meminta dukungan sekutunya di seluruh dunia untuk menjatuhkan sanksi ekonomi dan bentuk embargo lain dengan alasan isu HAM dan Demokrasi (tapi ada anomali demokrasi – Paman Sam menutup mata atas eksistensi diktator Arab anti demokrasi  bahkan menolak kemenangan Islam konservatif dalam  Pemilihan Umum adil di Aljazair & Iran) Mereka mengusik Birma, China, Cuba, Irak, Venezuela, Sudan, Libia, Siria, Somalia, Afghanistan dan lainnya.
Semua itu masih ditambah dengan isu pengembangan kekuatan nuklir yang mengancam dominasi Amerika (Barat) di negara-negara diluar Kekuatan Utama – seperti terjadi pada Korea Utara dan Iran. Korea Utara sangat menderita dan jutaan rakyatnya terancam mati kelaparan karena paceklik yang diperparah dengan embargo ekonomi, tapi masih mampu bertahan – meski sempat menerima inspeksi Nuklir PBB untuk mendapatkan bantuan bahan bakar dan makanan.
Ada fenomena aneh dengan Republik Islam Iran (RII). Embargo militer dan ekonomi beberapa kali di perbaharui selama lebih dari 30 tahun justru RII mampu menunjukkan kemandirian. Iran menahan ofensif Saddam Hussein  di Sath-el-Arab, membangun keunggulan sain dan kekuatan militer hingga menjadi yang paling kuat di Timur Tengah. Sorotan internasional saat ini isu pengembangan teknologi Balistik, Satelit dan Nuklir yang menjadi ancaman nyata terhadap eksistensi Israel dan kepentingan geo-politik Barat di kawasan ini.         

Mengapa Iran Sanggup Hadapi Embargo Dunia Barat?

RepublikaRepublika – 24 Januari 2012
REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Iran bukanlah anak kemarin sore yang mudah takluk dengan gertakan pemberlakuan embargo oleh dunia Barat. Sejarah mencatat Iran berulang-kali diembargo, namun tetap bertahan bahkan mampu berkembang secara mandiri.
Pertama, kekuatan Iran bersumber pada figur pemimpin spiritual.
"Apa yang dikatakan pemimpin spiritualnya akan diikuti masyarakat Iran. Figur pemimpin spiritual merupakan kekuatan luar biasa bagi Iran," kata Muhyiddin saat diwawancarai Republika.co.id, Selasa (24/1-2012).
Yang kedua, masyarakat Iran memiliki rasa nasionalisme kuat.
Masyarakat Iran akan melakukan apa saja untuk mempertahankan keutuhan negaranya."  Ambil contoh, kasus pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, kematian itu bukan menciutkan masyarakat Iran untuk mempelajari ilmu Nuklir, sebaliknya mereka kian bersemangat mempelajari Nuklir,"
Yang terakhir, masyarakat Iran begitu cinta dengan ilmu dan teknologi.
Iran mengalami perkembangan sains dan teknologi demikian pesat. Salah satunya, bagaimana Iran mencontoh Kanada dalam budidaya gandum. Faktanya Iran tidak lagi mengimpor gandum. Iran memiliki kemampuan mengekspor gandum. Kemampuan ini mensejajarkan Iran dengan Israel yang mampu mengembangkan zaitun dalam kondisi tanah tidak subur."
Karena itu, Muhyiddin sangsi embargo Barat, utamanya Uni Eropa akan menyurutkan kemampuan mandiri bangsa Iran. Efek jangka pendek embargo memang berpengaruh, tetapi tidak menjamin efek jangka panjang," pungkasnya.

Tag Technorati: {grup-tag}

READ MORE ... Monggo di-Klik

Ahok – Ahok – Ahok! : "Ahok Menjilat Ludahnya Sendiri"?

 

Menakar pemimpin daerah yang paling utama adalah dengan menimbang-pikir kredibilitas, integritas, moral, konsistensi sikap dan program kerjanya. Tidak lama lagi kita pun akan berpartisipasi memasuki putaran ke-2 pemilihan pasangan Gubernur DKI. Langsung saja dah dengan beritanya. Berikut ini  berita dilansir dari portal berita inilah.com - "Ahok Jilat Ludahnya Sendiri"

metropolitan - Kamis, 16 Agustus 2012 | 05:42 WIB

Berita Terkait:

INILAH.COM, Jakarta -Terkait pernyataan Cawagub DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang tak puas akan kinerja Panwaslu DKI Jakarta yang menyatakan ceramah Rhoma Irama tak bernuansa SARA, cukup disesalkan sebagian pengamat.

Terlebih sebelum langkah Panwaslu untuk memeriksa Rhoma Irama, Ahok tak mempersalahkan isi ceramah si Raja Dangdut tersebut.

"Jika Ahok kemudian mempersalahkan keputusan Panwaslu, maka dirinya telah menjilat ludahnya sendiri," kata pengamat politik Ibukota, Amir Hamzah di Jakarta, Rabu (15/8/2012).
Bahkan, lanjut Amir, pernyataan Ahok tak mencerminkan sikap seorang pemimpin. Pasalnya pernyataan Ahok menurut Amir, tak akan menyelesaikan persoalan, sebaliknya akan makin memperkeruh suasana.

"Maaf adalah mahkamah paling tinggi.Jika kita telah menyatakan maaf, maka tak ada hukum yang akan menjerat. Artinya maaf dari Ahok telah mewakili sebelum keputusan Panwaslu dikeluarkan," ungkapnya.
Menurut Amir, sebagai seorang politisi yang mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin, Ahok harus memiliki kehati-hatian dalam membuat pernyataan. Karena pernyataan yang dikeluarkan dapat menimbulkan persepsi yang negatif, sehingga berdampak pada perolehan suara pendukung.

Dijelaskannya, pernyataan Rhoma Irama saat ceramah terawih dengan mengutip ayat-ayat Al Quran, sebagai syarat pemimpin itu merupakan hal yang wajar. Terlebih kapasitas Rhoma Irama dalam berbicara sebagai mubaliq, dan bukan politikus ataupun tim kampanye Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

Seperti diketahui, usai menjalani pemeriksaan yang dilakukan Panwaslu DKI terkait ceramahnya yang dianggap berbau SARA, Rhoma Irama dinyatakan tak bersalah. Tapi keputusan Panwaslu DKI tersebut disesalkan Ahok. Ahok menyatakan tak puas atas kinerja Panwaslu DKI Jakarta.[jat]

READ MORE ... Monggo di-Klik

Lintasan Sejarah Habib di Indonesia

 

Kaum Alawiyyin yang menjadi himpunan besar para habib, syarif atau sayyid keturunan Rasulullah menjadikan kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur sebagai tujuan “Mahjaru Tsani” tempat hijrah yang kedua (yang pertama terjadi 3 abad sebelumnya 345H dari Bashrah ke Hadramaut).

Masuknya Alawiyin di Indonesia lewat perdagangan, pengajaran agama, perkawinan dan akhlak. Kaum Alawiyyin masuk melalui beberapa jalur:

(1) Dari Hadramaut langsung. 

(2) Hadramaut ---> India ---> Indonesia.

(3) Hadramaut –> Yunnan (Champa/kamboja + China selatan) ---> Jawa
     (seperti model dakwah Walisongo, 9 sunan mayoritas dari negeri China).

Karena akhlak mereka yang baik, banyak kalangan masyarakat Indonesia menerima agama yang dianut para keturunan Hussein itu. Sehingga mereka mau memeluk agama baru. Bahkan Islam kemudian menjadi agama resmi beberapa kerajaan, menggusur agama “impor” lain dan agama lokal.

Namun pada masa kolonialisme Barat di Asia Tenggara terjadi kemunduran dakwah. Di Indonesia. Kiprah dakwah Islam kaum Alawiyin yang sangat dicintai masyarakat menjadi batu sandungan bagi Belanda. Pemerintah kolonial pun melarang Alawiyyin menetap di pedalaman pulau Jawa, berkeluarga dengan anggota istana (beberapa Alawiyin kawin mawin dengan keluarga kerajaan tempat mereka menetap).

Sebagian kaum Alawiyyin pun migrasi ke perkampungan tertentu di bandar-bandar di tepi laut, atau mengganti nama mengambil nama keluarga Jawa agar dianggapnya orang Jawa asli, pribumi. Karena pindahnya Alawiyyin dari pedalaman ke wilayah pesisir utara, pusat ke-Islam-an pun beralih di sepanjang pantai utara Jawa, seperti ; Semarang, Surabaya, Jakarta, dan lain tempatnya. Yang tidak pindah dari pedalaman menetap di perkampungan-perkampungan yang disebut kauman.

Di beberapa daerah di Indonesia, keturunan Hussein memakai sebutan sayyid, syarif, ayib atau sidi di depan nama mereka. Selain di Indonesia, keturunan Hussein memakai Sayyid (Sayed/Syed) di depan namanya, misalnya bekas menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar atau pimpinan tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei.

Namun tidak semua keturunan Nabi Muhammad lewat cucunya Hussein mendapat gelar Habib. Karena orang yang mendapat gelar Habib itu, memiliki tingkat ketakwaan, kezuhudan, keilmuan dan akhlak yang mulia lebih dari orang yang lain. Boleh jadi setingkat di bawah wali. Tidak jarang, misalnya, orang datang kepada Habib minta didoakan (pesan doa melalui Shalawat Nabi), air atau keberkahan lain.

Banyak ulama terkenal Indonesia adalah keturunan Alawiyyin, yang karena ilmu dan akhlaknya dipanggil Habib, misalnya, Habib Sholeh bin Yahya dari Tanggul, Jember, Jawa Timur, Habib Abdurahman Alaydrus- luar batang, Jakarta Utara atau Ali Alhabsyi, Kwitang, Jakarta Pusat.

Sayangnya kini mulai muncul kasus habib-habib palsu, nama habib, sudah dipakai sembarang orang yang tidak pantas menggunakannya. Ada habib Hani Assegaf yang memimpin sebuah organisasi kriminal dan berlabel agama, ada juga  menggunakan gelar Habib tapi melakukan perbuatan nista.

Dan ini lagi ada pakai gelar Habib di depan namanya tetapi sesungguhnya, dia bukan keturunan Hussein. Seperti Abdullah Haris Umarella, yang terkenal dengan nama Abdurahman Assegaf yang punya pesantren besar di Parung Bogor yang bekerjasama dengan DAI TV atau lembaga amaliyah Budha, Ketua FPI Depok memakai nama Al-Ghadri atau Habib Paulus Muhammad Ali Makhrus At-Tamimi, pendeta yang mengaku bekas aktifis Front Pembela Islam (FPI) di Jawa Timur. Entah karena ingin mendapat keuntungan dari “kepatuhan” masyarakat Indonesia atau karena kurang percaya diri?

Selain Habib, makna lain yang mulia adalah Kiai. Namun penurunan makna juga terjadi pada kata Kiai. Dalam KBBI berarti alim ulama yang cerdik cendikia dalam ilmu agama ; sebutan bagi pempimpin pondok pesantren ; sebutan bagi orang-orang yang dihormati (di masyarakat Madura). Gelar kehormatan itu diberikan pada ulama pimpinan pesantren yang memiliki ribuan santri.

Namun kini sebutan kiai bisa hanya dilekatkan pada pendakwah (dai), atau pimpinan sebuah organisasi yang mengusung gaya premanisme. Gelar kiai juga dipakai untuk kelompok musik; Kiai Kanjeng atau Kiai Ganjur. Bahkan kerbau yang dikramatkan, dipanggil kiai Slamet, kotorannya, diperebutkan sebagai mendapat  berkah.

Penyalahgunaan kedua kata yang menunjukkan tempat terhormat tersebut, berakibat penurunan makna kata. Tentu saja tak mengurangi orang-orang yang memang pantas menerima gelar tersebut. Kami tetap hormat pada para habaib dan kiai yang tetap menjaga gelar kehormatan di depan namanya.

Source:
Tulisan Sayyid Abdul Kadir bin Yahya, Ketua Majelis Taklim Asmaul Husna,Desa Tegal Wangi, Kecamatan Palang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dan Ahmad Taufik beserta sedikit editing.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Habaib/Habib di Indonesia : Darimana Mereka Berasal?

 

Habib (jamak:habaib) berasal dari kata hubb. Dalam ilmu shorof (perubahan kata dan fungsinya) termasuk wazan (pola) af’alla – yuf’illu. Kata “hubb” berasal dari:

ahabbah             –     yuhibbu                        –     hubban.
(Past tenses)             (present/future tenses)         (gerunds)

Gerunds – kata-benda yang berasal dari kata-kerja dan berupa –ing forms, misalnya swimming/eating. menurut Kamus Arab Inggris Indonesia, Elias A. Elias & Edward E. Elias, Ali Al-Mascatie, (Al-Maarif, Bandung, 1983) berarti cinta atau mencintai.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka (2005), habib (“yang dicintai”) bisa digunakan sebagai panggilan yang berarti tuan, atau panggilan  lain untuk gelar sayid. Kata “sayid” berasal dari:

saadah – yasiidu – siyadah/sayid  (pimpinan yang melayani (ummat)).

Dalam KBBI, sayid berarti tuan atau sebutan untuk Keturunan Muhammad SAW. KBBI juga memperjelas dengan kata sayidani yang berarti tuan yang dua (sebutan untuk kedua cucu Nabi Muhammad, Hassan dan Hussein).

Selain 2 kata tersebut (habib dan sayid) ada kata yang tepat, syarif (syarifah untuk perempuan), dalam KBBI berarti orang yang mulia, atau sebutan bagi keturunan Rasulullah SAW melalui Hussein.

Panggilan Habib yang dilekatkan pada nama seseorang, tidak lepas dari kecintaan ummat terhadap seorang guru yang mengajarkan kebaikan dan akhlak, seperti juga gelar Kiai pada guru pesantren di jawa atau gelar Ajengan di pesantren Jawa Barat.

Gelar Habib, sesungguhnya gelar yang mulia yang dilekatkan kepada keturunan Hussein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW. Semuanya tidak lepas dari sejarah Islam. Setelah Hussein dibunuh secara kejam di Karbala, Irak, anaknya Ali Zainal Abidin, karena tekanan penguasa (khalifah), hanya bisa menjadi ahli ibadah (makanya dibelakang namanya ada gelar Abidin).

Semua khalifah ini walaupun sudah berganti dinasti selalu memusuhi keturunan Hussein, karena alasan takut pengaruh keilmuan dan ketinggian asal keturunannya. Keturunan Hussein ke-8, Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bi Husein pindah dari Basrah ke Hadramaut (Yaman). Ahmad bin Isa wafat di Hasisah (345 H) dan cucunya, yaitu Alwi bin Ubaidillah (keturunan ke-10) kemudian di-nisbath-kan pada nama kaumnya, kaum Alawiyyin di Hadramaut.

Penetapan nama Alawiyyin, menurut Tharick Chehab (1975) yang ditulis ulang oleh  Kurtubi (2007) dalam buku “Sejarah Singkat Habaib (Alawiyin) di Indonesia”, karena di Hadramaut berlaku undang-undang kesukuan, tiap keluarga harus punya nama suku. Beberapa suku terbesar di Yaman (disebut Qabili), antara lain ; Al-Katiri, At-Tamimi dan lainnya. Para Qabili ini tidak suka dan sangat membenci pendatang dari Irak keturunan Ali bin Abi-Talib dan mereka pun terdesak di wilayah tandus.

Kebencian Qabili yang ada begitu kuat, maka generasi ke-6 Alwi bin Ubaidillah (atau generasi ke-16 Husein cucu Nabi), Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam, meninggalkan mazhab Ahlul bait yang dianutnya, dan secara kompromis menerima dan memilih mazhab Syafi’i (Muhammad bin Idris as-Syafi’i Al-Quraisyi).

Setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam wafat di Tarim (653H)  keturunannya pun menyebar ke :  Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand, Filipina, Tiongkok (Cina), termasuk Indonesia. Yaitu setelah lebih dari 300 tahun tinggal di Hadramaut.

Di Indonesia, keturunan Hussein, cucu Rasulullah, masih membawa nama keluarga, karena pengaruh kehidupan di Hadramaut yang sukuisme. Sehingga kaum alawiyyin memakai nama keluarga seperti ; Al-Attas (berarti bersin/bangkis) , Assegaf (Al-saqaf- atap/langit-langit), Al-Haddad (hadid-besi/pandai besi), , Al-Habsyi (nama tempat di Afrika, habsyah), Al-Jufri, Al-Idrus dan lainnya. Secara umum mereka disebut sebagai AHLUL BAYT.

READ MORE ... Monggo di-Klik
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

.

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website
Webmaster Toolkit - free webmaster tools
Google PageRank Checker

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?