<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>
Tampilkan postingan dengan label The Messengers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Messengers. Tampilkan semua postingan

Ibrahim Sily : Kisah Aneh Pendeta Masuk Islam

 

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, “Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, “Bukankah anda seorang pendeta?” Aku jawab, “Benar.” Lantas ia bertanya kepadaku, “Siapa Tuhanmu?” Aku katakan, “Al-Masih.” Ia kembali berkata, “Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’.” Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, “Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab.” Aku katakan, “Kalau begitu, coba beri jawabannya!” Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, “Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…” lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, “Wahai Ibrahim!” Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, “Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?” Aku jawab, “Benar.” Ia berkata, “Lihat ke sebelah kananmu!” Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!” Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, “Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.” Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, “Selamat datang ya Ibrahim!” Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, “Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam.” Aku katakan, “Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?” Ia menjawab, “Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.” Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, “Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?” Ia berkata, “Benar.”

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.” Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, “Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.” Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, “Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.” Aku katakan, “Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.” Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, “Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.”

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, “Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.” Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?” Ia menjawab, “Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.”

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, “Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, ti-dakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!”

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (Abu Mufti, Facebook).

(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616)


[Source]

READ MORE ... Monggo di-Klik

Kenali “Habib” Abdurrahman Assegaf

 

Kita harus selalu melakukan tabayyun atas semua informasi sangat penting dan sensitif. Jika harus menggali dari sumber-sumber informasinya, kenali sumber informasi yang valid dan memiliki kredibilitas.  Jangan terpedaya dengan citra figur hanya karena “dibesarkan oleh media besar” dan gelar yang bisa dipalsukan.

Siapakah sebenarnya “Habib” Abdurrahman Assegaf? Dia menjadi sorotan Setelah membuat kontroversi dengan menuduh Nur Hasbi, alumnus Pondok Pesantren Ngruki sebagai sebagai pelaku peledakan di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton (yang kemudian terbukti sebagai tuduhan palsu dan ngawur karena ternyata tidak sesuai dengan hasil penyelidikan), Dia baru-baru ini kembali bikin fitnah di Masjid Al Munawarrah, Pamulang.

“Habib” dari Jalan Mardani

Sebelumnya, Ustadz Abu Bakar Baasyir pernah menyatakan bahwa Abdurrahman Assegaf merupakan habib palsu yang disewa Amerika Serikat atau CIA dengan imbalan uang. Bahkan secara tegas Ustadz Abu Bakar Baasyir pernah mengatakan :

“Abdurrahman Assegaf itu bukan habib, dia itu preman. Semua habib sudah bilang kepada saya kalau dia bukan seorang habib,” kata Baasyir usai mengisi pengajian di Masjid Al Ikhlas di Semarang, Sabtu (25 Juli 2012) malam.

Santernya berita bahwa Abdurrahman Assegaf adalah habib palsu sebenarnya sudah beredar luas di internet. Disebut-sebut, Abdurrahman Assegaf bernama asli Abdul Haris Umarella bin Ismail Umarella, putera Tulehu, Ambon.

Bahkan menurut sumber terpercaya arrahmah.com, yang juga merupakan temannya sewaktu bersekolah di SMP Negeri 2, Mardani Raya, daerah Percetakan Negara, Jakarta Pusat, dia dikenal dengan nama Amsari Omarella. Ibunya berasal dari Ambon, dan ayahnya dari Makasar. Dari sini, gelar habib semakin jauh dari Abdurrahman Assegaf alias Abdul Haris, alias Amsari.

Setelah lulus SMP Negeri 2, habib palsu ini melanjutkan pendidikan ke SMAN 68 (angkatan 85) dan kuliah di UnKris (Universitas Krisna Dwipayana) – yang kampusnya berdekatan dengan Universitas asy-Syafi’yyah, Pondok Gede, Bekasi. Masih menurut sumber yang terpercaya, kali ini kawan dia semasa bersekolah di SMA Negeri 68, di  Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, bahwa Abdurrahman Assegaf ini siswa SMAN 68, jurusan IPS. Menurut sumber tersebut habib palsu alias Abdurrahmah Assegaf, alias Amsar terlihat biasa-biasa saja ketika di SMAN 68. Hanya saja menurut sumber tersebut, dia sudah tidak begitu suka dengan kegiatan rohis dan tidak mendukung pemakaian jilbab pada masa itu.

Tidak diketahui sejak kapan gelar habib bercokol di depan namanya. Menurut kawannya di SMPN 2, Abdurrahman pernah menunjukkan sertifikat yang menyatakan bahwa kini dirinya sudah resmi menjadi seorang habib. Tambah aneh, apakah gelar habib harus dikeluarkan melalui sebuah sertifikat?

Siapa Habib (Palsu) Abdurrahman Assegaf ?

Waspadai Habib Palsu

Kini, semua berpaling kepada ummat, untuk menilai dan bersikap terhadap habib palsu ini. Masalahnya, gelar habib di negeri ini begitu tinggi dan mulia, yang bahkan terkadang sudah di luar koridor syariat Islam. Dikhawatirkan, oknum semacam habib (palsu) Abdurrahman Assegaf ini memanfaatkan dan memanipulasi gelar habib palsunya tersebut untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun kelompoknya. Nama atau para ulama yang memang bergelar habib tentunya akan tercoreng dengan ulah oknum yang mengaku-ngaku habib ini.

Bukan tidak mungkin, ummat akan terpedaya, ikut begitu saja, tanpa kritis melihat dan mempertimbangkan ucapan si habib palsu ini dari sisi Al Qur’an dan As Sunnah. Hal itulah yang saat ini diperlihatkan oleh habib (palsu) Abdurrahman Assegaf, dan harus segera dihentikan.  Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk ummat, agar tidak mudah tertipu gelar-gelar, pencitraan dan penampilan,

Bertabayyun lah dan konfirmasi atas setiap kebenaran informasi. Jika tuduhan ini benar, ini perbuatan laknat karena berdusta atas nama Rasulullah SAW  – dengan menisbathkan dirinya sebagai keturunan Nabi Muhammad Shallaallaahu ‘alaihi wa salam. 

Wallahu’alam bis showab!

READ MORE ... Monggo di-Klik

Kisah Cinta Sejati Zainab Binti Rasulullah SAW : Keimanan di Batas Ajal

 

Inilah salah satu kisah sangat langka dan jarang sekali diketahui di kalangan umat Islam. Kisah cinta sangat mengharukan Zainab binti Muhammad radhiallahu 'anha – putri sulung Rasulullah SAW. Berkisah tentang kesetiaan suami istri yang dipisahkan oleh iman dan dipersatukan kembali oleh iman di batas ajalnya. Zainab merupakan putri sulung Nabi yang terlahir dari rahim Siti Khadijah radhiallahu 'anha.

Zainab merupakan hiasan teramat berharga bagi suaminya, Abul Ash ibn Rabi’. Sosok Zainab menjadi cermin istri yang begitu setia dalam khidmat untuk suaminya. Cinta kasih sayangnya tidak lekang oleh keberpisahan karena perbedaan iman dan ketaatan memenuhi perintah ayahandanya –Rasullah SAW– untuk hijrah ke Madinah, meninggalkan suaminya tercinta.

Bagaimanakah kisah romantika suami istri yang sangat merawankan hati ini terjadi? Ketika Zainab menyampaikan berita risalah tauhid bahwa ayahandanya mendapat wahyu kenabian melalui malaikat Jibril, Abul Ash, suaminya mengingkari kenabian mertuanya Muhammad SAW. Abul Ash tidaklah menyangkal bahwa ayah mertuanya, yang telah mendapat gelar al Amin dari kalangan para pemuka Quraisy – sukunya – merupakan orang yang tidak pantas diingkari, tetapi demi alasan mengikuti ajaran nenek moyangnya lebih ia utamakan untuk menolak risalah kenabian tersebut.

Dalam perang Badar, Abul Ash melibatkan diri sebagai bagian dari 1.000 musyrikin Quraisy Makkah yang memerangi ayah mertuanya sendiri. Tidaklah terbayangkan kegalauan perasaan hati Zainab saat itu menghadapi peperangan diantara mertua dengan menantunya. Ia sangat berharap-harap cemas akan keselamatan ayahnya. Namun di saat yang sama, ia juga teramat gundah dengan nyawa suaminya dalam perang Badar.

Perang yang sangat menentukan nasib ayahnya dan risalah kenabian. Bagaimana tidak? Karena perang ini sangat tidak berimbang, 303 muslim generasi paling awal menghadapi kekuatan 1.000 orang musrik Makkah yang ingin melenyapkannya.

Namun akhirnya datang kabar berita ke dalam rumahnya bahwa 70 orang musyrikin Mekkah telah tertawan di Madinah, dan salah satu adalah Abul Ash. suaminya. Ayyuhai! Siapakah yang akan menebus suaminya sebagai tawanan kaum muslimin? Zainab sang istri yang akhirnya menebus pembebasannya.

Demikianlah kethaatan seorang istri yang beriman terhadap suaminya yang belum masih kafir, sementara belum ada perintah larangan Nabi untuk memisahkan suami istri yang berbeda iman. Belum turun wahyu dari Allah SWT yang memerintahkan seorang istri harus terpisah dari suaminya karena perbedaan iman.

Dari Makkah, Zainab mengirimkan tebusan untuk membebaskan suaminya sejumlah harta tebusan dan seuntai kalung batu Onyx Zafar pemberian ibundanya tercinta. Ini kalung teramat istimewa bagi Rasulullah karena mengingatkan akan istri tercintanya. Kalung itu juga hadiah pernikahan Zainab dari ibunya, Khadijah.

Ketika Nabi melihat kalung itu, ingatannya melayang ke masa lalunya pada cinta sejatinya, Khadijah. Nabi berseru pada kaum muslimin Madinah, JIKA mereka setuju Nabi meminta AGAR Abul Ash dibebaskan dan kalung itu dikembalikan ke Zainab, putri kesayangannya yang masih tertinggal di Mekkah. Begitulah adab Nabi, meski sebagai pemimpin yang berkuasa penuh namun dia masih meminta persetujuan umat menyangkut kemaslahatan keluarganya (terkait kalung tebusan tawanan).

Berita gembira kembalinya Abul Ash kepada istri yang sangat mencintainya, Zainab, ternyata juga membawa kabar yang sangat memiriskan hati pasangan suami istri tersebut. Nabi bersabda bahwa iman telah memisahkan mereka sebagai pasangan istri. Iman telah menjadi batas hubungan suami istri. Dan Zainab diminta berhijrah ke Madinah oleh Nabi.

Zainab harus berhijrah ke Madinah, menempuhi jarak 400 KM, karena kewajiban iman guna memenuhi perintah Rasulullah. Kala itu Zainab sedang mengandung buah cinta dengan Abul Ash dan kelak akhirnya keguguran karena terjatuh dari untanya. Keduanya, Zainab dan Abul Ash, harus berpisah dengan  air mata menggenang. Demikianlah kethaatan Zainab kepada agamanya dan kesetiaan pada suaminya.

Sementara dalam masa yang sama, ada seorang laki-laki di Mekkah diriwayatkan melakukan hijrah ke Madinah karena ingin menemui wanita yang akan dinikahinya. 

Beberapa waktu sebelum Fathul Makkah (penaklukan Mekkah), Abul Ash memimpin kafilah dagang dari Syam. Lagi-lagi, seluruh hartanya disita kaum muslimin. Ketika gelap malam merayapi kota Madinah, Abul Ash diam-diam menemui Zainab, setelah terpisah selama 6 tahun, dan meminta Zainab memberi perlindungan. Zainab pun menyanggupi permintaan suaminya.

Zainab pun berseru dari balik dinding masjid ketika Rasul dan kaum muslimin berdiri menegakkan shalat Subuh.

“Wahai kaum muslimin, Abul Ash berada dalam perlindungan Zainab.”

Abul Ash dan hartanya pun selamat.

Dan ini klimaks dari kisah cinta sejati putri sulung Rasulullah SAW. Sepulang kembali ke Makkah dan menunaikan amanat orang Quraisy, Abul Ash berseru dan berikrar syahadat memasuki ke haribaan Islam.

Abul Ash pun dengan sangat segera menyusul istri yang sangat menyayanginya, Zainab binti Rasullah SAW, ke Madinah. Kembali kepada belahan jiwanya setelah 6 tahun berpisah karena iman. Abul Ash dan Zainab pun kembali bersatu cintanya juga karena iman. Berpisah dan bersatunya pasangan suami istri ini BUKAN karena cinta.

Maka sangat tercela apabila seorang muslim maupun muslimah terlalu mengagung-agungkan CINTA. Mendudukkan perasaan cinta di atas segala-galanya.

Cinta dan kasih sayang Zainab kepada suaminya akhirnya tergenapkan. Kerinduan sang istri  agar berkas cahaya iman bersemayam  di dada suaminya pun terpenuhi. Tak berselang lama, hanya setahun kemudian wafatlah Zainab binti Muhammad SAW.

Cinta Abul Ash, entah bagaimana, telah menyebabkan tangisannya begitu menyayat sehingga yang mendengarnya pun ikut menangis. Usai dimandikan, Nabi bersabda : 

“Kafanilah ia dengan kain ini.”

Dalam perjalanannya ke negeri Syam, Abul Ash mengenang istri tercinta,

''Puteri Al-Amiin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya.'

Demikianlah ridha suami telah dibawa serta oleh Zainab untuk menemaninya di alam kubur. Itu bayangan kecintaan Zainab, putri pemimpin para Nabi, kepada suaminya.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Analisis National Review tentang “Bilaad asy Syam” - Syria

Perkembangan terakhir konflik Syria dI bulan November 2012, pemerintah Assad telah kehilangan kontrol di semua wilayah perbatasan. Kontrol pintu perbatasan Syiria – Irak, Syiria – Turki dan Syiria – Yordania berhasil direbut kaum Mujahiddin yang terobsesi pada penegakkan Syariat Islam.
 
Perkembangan terbaru ini akan membuka pintu masuknya lebih banyak lagi Mujahid dari seluruh dunia. Tampaknya inilah “pematangan” situasi menuju perang paling besar “ARMAGEDDON” sebagaimana di-nubuwwat-kan Nabi Muhammad SAW. 


National Reviews adalah majalah 2 mingguan yang didirikan oleh bekas penulis William F. Buckley, Jr, tahun 1955. Berbasis di New York City . Ia menjelaskan dirinya sebagai "majalah Amerika yang paling banyak dibaca dan berpengaruh dan website-nya untuk berita-berita, komentar, dan opini yang bersifat konservatif."
 
Kali ini situs National Review (NR) baru saja merilis sebuah analisis yang sangat menarik mengenai pergerakan Al Qaeda di Suriah.  Mereka mengungkapkan bahwa Al Qaeda berhasil menangkap kesempatan emas yang tidak diketahui oleh Barat.  Walaupun analisis ini bersumber dari media Barat, namun analisis kali ini sangat penting untuk disimak. Mengapa karena ini sangat relevan dengan nubuwwat Nabi Muhammad SAW bahwa akan terjadi suatu perang di bumi Syam (meliputi Syria, Yordania, Libanon dan Israel) sebagai salah satu tanda mendekati Kiamat.
 
Perang yang dalam hadits disebutkan sebagai Peperangan Terbesar (Al-Malhamah Al-Kubra). Perang yang akan terjadi ini tidak banyak diketahui kalangan awam ummat Islam, kecuali oleh sebagian kecil saja yang menthela’ah hadits / nubuwwat Nabi berikut ini :
Rasulullah bersabda, “Kalian akan mengadakan perdamaian dengan bangsa Rum dalam keadaan aman. Lalu kalian akan berperang bersama mereka melawan suatu musuh dari belakang mereka. Maka kalian akan selamat dan mendapatkan harta rampasan perang. Kemudian kalian akan sampai ke sebuah padang rumput yang luas dan berbukit-bukit. Maka berdirilah seorang laki-laki dari kaum Rum lalu ia mengangkat tanda salib dan berkata, ‘Salib telah menang’. Maka datanglah kepadanya seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu ia membunuh laki-laki Rum tersebut. Lalu kaum Rum berkhianat dan terjadilah peperangan, dimana mereka akan bersatu menghadapi kalian di bawah 80 bendera, dan di bawah tiap-tiap bendera terdapat dua belas ribu tentara.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)
 
Sementara pihak-pihak yang berperang dalam pertempuran ini adalah pihak kaum Muslimin menghadapi pihak Rum, setelah terjadinya perang Armageddon, dimana pihak Rum telah berkhianat terhadap kita dalam perang tersebut. Dan semua itu terjadi di negeri Syam (Bilaad asy Syam).

Pengenalan Perang Armageddon

Peperangan Armageddon adalah peristiwa pertama sebagai permulaan dari serentetan huru-hara akhir zaman, pertempuran ini adalah perang penghancuran dan nuklir yang akan memusnahkan sebagian besar senjata-senjata strategis.

Perang Armageddon adalah:
1. Peristiwa besar dan perang kehancuran
2. Pertemuan strategi dari perang raksasa yang sudah dekat waktunya
3. Perang persekutuan internasional (PD) yang ditunggu oleh seluruh penduduk bumi
4. Ia adalah perang politik dan agama
5. Ia adalah perang raksasa oleh banyak pihak
6. Ia adalah perang yang paling besar dan dahsyat dalam sejarah
7. Ia adalah awal dari kemusnahan
8. Perang dimulai menyeluruhnya ‘perdamaian palsu’ sehingga orang2 berkata
    ‘perdamaian sudah datang’, ‘keamanan sudah datang’, padahal fakta sebaliknya.

Armageddon berasal dari bahasa Ibrani yang terdiri dari 2 kata yaitu:
1. “Ar” yang berarti gunung atau bukit
2. “Mageddo” nama suatu lembah di Palestina, yangmana di lembah ini akan menjadi medan pertempuran yang akan datang, membentang sekitar 200 mil dari “Mageddo” di utara hingga ke “Edom” di selatan, dan dari laut putih di barat hingga bukit Mohab di Timur yang berjarak 100 mil.

Analisis National Review tentang Syria

berikut analisis yang dipublikasikan National Review di New York :
 
Kegembiraan kolektif kita yang melihat kemungkinan bahwa rezim Assad akan hancur dan pendukung Ayatullah Iran terus melemah, telah mengaburkan visi dan mencegah kita melihat munculnya Al Qaeda di Suriah.  Pada bulan Maret tahun ini, jihadis melancarkan tujuh serangan terhadap Assad.  Pada bulan Juni mereka memimpin 66 operasi dan lebih dari setengahnya terjadi di ibukota Suriah, Damaskus.  Oposisi Suriah sangat mendapatkan manfaat dari organisasi "teroris" tersebut, disiplin, pengalaman tempur, semangat keagamaan dan kemampuan menyerang rezim Assad di tempat yang paling menyakitkan.
Di wilayah Timur Tengah, yang paling diinginkan Al Qaeda tentu saja Arab Saudi, namun Suriah masuk ke dalam daftar berikutnya.  Kini, Suriah bukan lagi Suriah bagi jihadis, namun bagian dari Bilad al-Syam, wilayah yang disebut ketika perbatasan tidak lagi memisahkan tanah yang sekarang disebut Yordania, Suriah, Lebanon dan yang terpenting Palestina dan Israel.  Bagi Al Qaeda, negara-negara modern ini dibatasi oleh batas-batas artifisial yang diciptakan Inggris dan Perancis setelah Perang Dunia Pertama.  Ya, Al Qaeda memiliki memori sejarah yang panjang, tetapi mereka juga memiliki rencana untuk masa depannya.  Dan di Bilaad al Syam, masa depan terlihat baik bagi Al Qaeda.
Selama Assad mengatur Suriah, brigade Arab dan pejuang Muslim lainnya akan terus berkumpul di Bilaad al-Syam untuk mendukung jihad kaum Muslim Sunni melawan kafir Alawiyah seperti yang mereka lihat.  Assad menawarkan mereka titik berkumpul.  Dalam prosesnya, waralaba lokal Al Qaeda akan mendapatkan dukungan dan membuat aliansi dengan suku-suku Suriah dan pemimpin Sunni.  Saat Assad Jatuh, Al Qaeda mungkin akan mendapatkan kontrol de facto di Suriah sebagai basis strategis baru untuk jihadis di Timur Tengah, atau setidaknya menikmati perlindungan suku di daerah perbatasan yang lebih luas dengan Irak dan Yordania.  Sebuah pemerintahan baru di Suriah tidak hanya akan berhutang budi kepada para pejuang, tetapi juga membutuhkan kerja sama mereka untuk meminimalkan potensi pertempuran milisi satu sama lainnya.
Sama seperti Suriah bukanlah Suriah dan bagi Al Qaeda, bukanlah Al Qaeda, seperti yang kita kenal mereka adalah Tentara Pembebasan Suriah (FSA).  Bagi pasukan oposisi Suriah, pejuang Al Qaeda menyambut sukarelawan Arab dan negeri-negeri muslim, Mujahidin yang menyebut dirinya Jabhah al nusrah li-Ahli al-Syam, di antara nama-nama lainnya.
Tidak sejak zaman Jihad Afghan melawan Soviet, jihad global telah menemukan kombinasi langka penyebab kuat, dana yang tersedia, dukungan semangat Arab, persetujuan Barat, dan kedatangan para pemuda Muslim untuk berperang di bawah panji mereka untuk mendirikan pemerintahan Islam.  Sementara jumlah yang tepat dari pejuang-pejuang itu sulit didapat, itu adalah fakta bahwa dalam setiap pertempuran penting tiga bulan terakhir dari Aleppo hingga Homs hingga Deir al-zor dan Damaskus, Al Qaeda telah menonjol.
Untuk masa-masa mendatang, pemerintahan Assad akan terus menghadapi pemberontakan keras di kota demi kota.  Mereka akan kehilangan kontrol atas perbatasan dengan Yordania, Irak, Turki dan Libanon dan pejuang asing akan datang dengan berbondong-bondong untuk berjihad di Bilaad al-Syam dengan memegang beberapa janji kuat.
Wallaahu a’lam

READ MORE ... Monggo di-Klik

Telah Hilangkah Ruh Jihad untuk Pembelaan Rasulullah pada Ulama Kita? Apalah Arti kekuatan Demo Semata

 

Ulama Indonesia terdahulu sebenarnya sudah menyadari tabiat penguasa baru, Wahabi, yang telah mengusir Syarif Husain dari tanah Haromain (Mekkah dan Madinah).  Wahabi adalah kaum puritan yang bersemboyan “Pemurnian aqidah Islam”, “Kembali kepada Qur’an dan Hadits” dan mengkafir-kafirkan dan membid’ah-bid’ahkan amalan golongan lain. Pada tahun 1924 Komisi Hijaz, hasil konferensi umat Islam Indonesia di Bandung, telah dikirim ke penguasa baru tersebut dengan misi menyampaikan pesan untuk tidak merusak situs warisan Rasulullah dan para sahabat. Komisi ini juga meminta agar kaum Wahabi menghormati ajaran dan praktek amalan umat Islam yang bukan Wahabi di Makkah dan Madinah.  

Faktanya hingga kini ada sekitar 300-an situs sejarah awal Islam telah dihancurkan. Bagaimana mungkin mereka bisa menghancurkan rumah tinggal Nabi hingga tidak berbekas? Tokoh intelektual besar Wahabi (saya tidak sudi menyebutnya “ulama besar Wahabi”) sejak lebih dari 60 tahun lalu  menyerukan pembongkaran makam keluarga Nabi (ahlul bayt) dan makam para sahabat utama. Mereka penjarakan para ulama bukan Wahabi tanpa proses pengadilan. 

Sejak tahun 1942, mereka undang tentara kafir Amerika di tanah Nabi dan membangun pangkalan militer Dahran. Pengkhianatan penguasa Wahabi terhadap umat Islam sudah terjadi sebelum berkuasa. Mereka berkuasa atas bantuan Yahudi Inggris, (Kolonel) “Lawerence – Prince of Arabia” hingga mendatangkan fitnah teramat besar dengan mengundang Barat untuk mendominasi pusat dunia Islam.

Mereka juga punya hubungan khusus dengan negara Israel dan membiarkan Israel membangun pos pemeriksaan di  Pulau Tiran dan Safir seluas 113 Km yang dimiliki Arab Saudi. Keduanya sangat strategis karena berada di mulut Teluk Aqaba, dimana lalu lintas ke pelabuhan di selatan Israel harus melewati Laut Merah.  “Ulama Besar” Wahabi – Nashiruddin al Albani juga mengharamkan Jihad melawan Israel dan menghimbau warga Palestina pergi meninggalkan tanah miliknya.

Dan kini mereka ingin mewujudkan Mekkah dan Madinah sama seperti kota-kota besar lain di Amerika dan Eropa. Tentu saja harus menggusur semua situs dunia Islam tersebut dengan alasan perluasan dan pembangunan. INI BUKTI TERBARU :

MAKKAH - Pembukaan sebuah toko baru di kota suci Makkah, Arab Saudi, oleh artis Barat Paris Hilton memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia, sebab dianggap sebagai penodaan bagi kota suci Makkah. Hilton telah membuka sebuah toko yang menjual tas mewah dan barang-barang berharga tinggi di kota Makkah awal pekan ini di bulan November 2012.

 

"Toko baru saya yang cantik baru saja dibuka di Mall Makkah di Arab Saudi," tulis Hilton di akunTwitternya, dikutip Onislam.

 

"Tidak perlu ada tokonya di sini karena kami tidak membutuhkannya," kata seorang Syaikh di Saudi, Syaikh Adnan Baharith kepada CNN.

"Jika ini berada di tangan kami (jika berkuasa-red) kami pasti telah menutup seluruh tokonya di Saudi," tambah Syaikh.  Sebenarnya, ini bukan pertama kali Hilton membuka toko di negeri kaum Muslimin itu. Tetapi ini adalah toko ke-5 milik Hilton yang didirikan di Saudi.

 

"Ini adalah toko ke-5 di Arab Saudi, dan jumlah toko totalnya 42! Bangga banget untuk mengembangkan merek saya!" kicau Hilton.

 

Kabar ini bukan saja membuat Muslim di Saudi marah, tetapi juga menimbulkan kemarahan umat Muslim di seluruh dunia.

 

"Ini tidak bisa diterima bagi seorang wanita seperti dia membuka tokonya di sini (Makkah)," kata seorang user menulis di Twitter.

Makkah adalah kota tersuci umat Islam, di sana adalah tempat berkumpulnya umat Islam di seluruh dunia untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji. Pemerintah Arab Saudi telah melakukan beberapa proyek pengembangan Makkah, mencakup memperluas area Masjidil Haram dan terminal-terminal untuk ibadah haji.

Namun bertaburnya perusahaan milik non-Muslim di Arab Saudi, terkhusus tanah suci Makkah, membuat banyak Muslim khawatir bahwa Makkah "dikomersilkan."

Lalu mengapa ketua Majelis Ulama Indonesia dan kebanyakan ulama kita seperti menutup mata? Apakah karena kedermawanan Arab Saudi untuk pembangunan masjid dan madrasah di Indonesia? 

MUI: Rencana Hancurkan Makam Nabi SAW, fitnah untuk adu domba umat Islam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Amidan mengatakan kabar yang menyebutkan Pemerintah Arab Saudi akan menghancurkan Masjid Nabawi beserta Makam Nabi Muhammad Saw adalah isu belaka. Dia menilai isu tersebut sengaja dihembuskan untuk mengadu domba kalangan Muslim, seperti diketahui Arab Saudi dalam manhajnya menisbatkan diri kepada dakwah Salafiyah.

"Memang mau diperluas tapi kondisi makam tidak akan berubah. Selain itu kan makam ada di dalam masjid," kata Amidhan seperti dikutip merdeka.com, Rabu (31/10/2012).

Dia katakan, di Arab Saudi isu tersebut tak beredar. Karenanya, ia mempertanyakan asal isu itu beredar. "Enggak ada sama sekali. Tenang-tenang saja di sini," kata Amidhan yang saat ini berada di Madinah usai menunaikan haji.

Komentar I : Pak Kyai! Rencana itu sungguh rencana teramat besar dan  menjadi isu sejak tahun 1950-an. Sama seperti juga usaha 2 orang nashrani membuat terowongan untuk mencuri jenazah Nabi pada berabad2 yang lalu. Sementara Pak Kyai terlampau tergesa menyimpulkan hanya berdasarkan kunjungan sekilas di Masjid Nabawi.

Menurutnya, pemerintah Arab Saudi juga tidak bakal berani melakukannya. Sebab, jika hal itu terjadi, Pemerintah Arab Saudi akan didemo seluruh umat muslim dunia.

"Pasti akan dimusuhi sama semua umat muslim di dunia, pasti akan didemo. Pasti tidak akan tinggal diam umat muslim," kata Amidan.

Komentar 2 : Pak Kyai, kerajaan Arab Saudi tak ambil pusing dengan demo-demo seperti itu.  Mana ada berita demo disana Karena protes sedikit, langsung dibawa ke penjara. Demo besar di Bahrain ditumpas habis dengan kekuatan senjata oleh tentara Arab Saudi.

Sebelumnya beredar kabar Pemerintah Arab Saudi berencana memperluas Masjid Nabawi di Madinah. Hal itu menimbulkan kekhawatiran banyak pihak jika makam Nabi Muhammad akan dihancurkan.

Kabar ini pertama kali dihembuskan oleh kantor berita Iran, Fars News Agency, yang kemudian dikutip sejumlah media di Indonesia, Senin (29/10/2012) lalu.

Menurut kantor berita itu, pengahancuran makam Rasulullah SAW merupakan bagian dari rencana pemerintah Arab Saudi yang akan menghancurkan seluruh situs bersejarah Islam, termasuk Masjid Nabawi dan 3 masjid lainnya yang merupakan masjid tertua di dunia.

Sebagai gantinya, dikatakan, pemerintah Arab Saudi merencanakan pengembangan proyek ekspansi yang bernilai multi miliar Poundsterling.

Bahkan rencana penghancuran Masjid Nabawi di Madinah, tempat di mana Nabi Muhammad SAW dimakamkan, akan dimulai bulan depan seusai musim Haji. Kemudian, di atas tanah situs paling bersejarah tersebut, pemerintah Saudi akan membangun gedung terbesar di dunia yang bisa menampung 1,6 juta orang.

Dikatakan selanjutnya, pengembangan Masjid Nabawi sebagian besar nantinya akan mengambil bagian sayap barat dari masjid. Dalam sayap itu, terdapat makam 2 khalifah sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Siddik RA dan Umar bin Khatab RA.

Mengutip Dr. Irfan al-Alawi dari Yayasan Riset Warisan Islam, Fars menyebutkan rencana itu  digulirkan sejak 2007 lalu, dimana Kementerian Urusan Islam Arab Saudi merilis pamflet yang isinya rencana penghancuran makam Rasulullah SAW dan situs bersejarah lainnya. Pamflet tersebut disusun oleh Mufti Besar Arab Saudi, Abdulaziz al-Sheikh. Bahkan, di dalam pamflet disebutkan, penghancuran kubah masjid dan meratakan makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar berdasarkan fatwa Abdulaziz al-Sheikh.

Suara Islam Online
telah berusaha menghubungi Kedubes Saudi Arabia di Jakarta melalui Atase Pers Nawwaf Algarnas. Hingga berita ini diturunkan handphonenya dalam keadaan mati. Pesan singkat yang dikirimkan SI Online juga belum dijawab

Komentar 3 Penutup :

Pak Kyai! Isu pembongkaran makam Nabi SAW, bukan baru ada dan diciptakan oleh media Iran - yang sebagian kaum suni menganggap Syiah bukan bagian dari dunia Islam. Sementara kaum wahabi yang begitu jelas pengkhianatannya dianggap sebaliknya.   Modernisasi di Makkah dan Madinah agar setara dengan kota-kota besar di dunia Barat sudah jelas di depan mata. Tidak perlu dibayangkan lagi Hotel HILTON hanya berjarak satu lemparan batu dari Masjidil Haram di Mekkah.

READ MORE ... Monggo di-Klik

National Review : Analisis “Bilaad asy Syam” dan Al-Qaida

 

Dalam hadits disebutkan akan terjadi Peperangan Terbesar (Al-Malhamah Al-Kubra). Perang yang akan terjadi ini tidak banyak diketahui kalangan awam ummat Islam, kecuali oleh sebagian kecil saja yang menthela’ah hadits/nubuwwat Nabi berikut ini :

Rasulullah bersabda, “Kalian akan mengadakan perdamaian dengan bangsa Rum dalam keadaan aman. Lalu kalian akan berperang bersama mereka melawan suatu musuh dari belakang mereka. Maka kalian akan selamat dan mendapatkan harta rampasan perang. Kemudian kalian akan sampai ke sebuah padang rumput yang luas dan berbukit-bukit. Maka berdirilah seorang laki-laki dari kaum Rum lalu ia mengangkat tanda salib dan berkata, ‘Salib telah menang’. Maka datanglah kepadanya seorang lelaki dari kaum muslimin, lalu ia membunuh laki-laki Rum tersebut. Lalu kaum Rum berkhianat dan terjadilah peperangan, dimana mereka akan bersatu menghadapi kalian di bawah 80 bendera, dan di bawah tiap-tiap bendera terdapat dua belas ribu tentara.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

National Reviews adalah majalah 2 mingguan yang didirikan oleh bekas penulis William F. Buckley, Jr , pada tahun 1955 dan berbasis di New York City . Ia menjelaskan dirinya sebagai "majalah Amerika yang paling banyak dibaca dan berpengaruh. Situsnya untuk berita, komentar dan opini yang bersifat konservatif."

Kali ini situs National Review (NR) baru saja merilis sebuah analisis yang sangat menarik mengenai pergerakan Al Qaeda di Suriah.  Mereka mengungkapkan bahwa Al Qaeda berhasil menangkap kesempatan emas yang tidak diketahui oleh Barat.  Walaupun analisis ini bersumber dari media Barat, namun analisis kali ini sangat penting untuk disimak. Mengapa karena ini sangat relevan dengan nubuwwat Nabi Muhammad SAW bahwa akan terjadi suatu perang di bumi Syam (meliputi Syria, Yordania, Libanon dan Israel) sebagai salah satu tanda mendekati Kiamat.

Perang yang dalam hadits disebut Peperangan Terbesar (Al-Malhamah Al-Kubra) akan terjadi di bumi Syam, wilayah meliputi Syria, Yordania, Libanon dan Israel.

image

Sementara pihak-pihak yang berperang dalam pertempuran ini adalah pihak kaum Muslimin menghadapi pihak Rum, setelah terjadinya perang Armageddon, dimana pihak Rum telah berkhianat terhadap kita dalam perang tersebut. Dan semua itu terjadi di negeri Syam (Bilaad asy Syam).

Pengenalan Perang Armageddon

Peperangan Armageddon adalah peristiwa pertama sebagai permulaan dari serentetan huru-hara di akhir zaman, pertempuran ini adalah adalah perang penghancuran dan nuklir yang akan memusnahkan sebagian besar senjata strategis.

Perang Armageddon adalah:
1. Peristiwa besar dan perang kehancuran
2. Pertemuan strategi dari perang raksasa yang sudah dekat waktunya
3. Perang persekutuan internasional (Perang Dunia) yang akan segera datang, yaitu
    yang sedang ditunggu oleh seluruh penduduk bumi pada hari ini
4. Ia adalah perang politik dan agama
5. Ia adalah perang raksasa oleh banyak pihak
6. Ia adalah perang yang paling besar dan dahsyat dalam sejarah
7. Ia adalah awal dari kemusnahan
8. Adalah perang yang dimulai dengan ‘perdamaian palsu’ yang tersebar menyeluruh
    Sehingga orang2 berkata ‘perdamaian sudah datang’, ‘keamanan sudah datang’,
    padahal kenyataannya adalah sebaliknya.

Armageddon berasal dari bahasa Ibrani yang terdiri dari 2 kata yaitu:
1. “Ar” yang berarti gunung atau bukit
2. “Mageddo” adalah nama lembah di Palestina, yang mana di lembah ini merupakan
     medan peperangan yang akan datang tersebut, membentang dari “Mageddo” di
     utara sampai ke “Edom” di selatan yang berjarak sekitar 200 mil dan dari Laut
     Putih di barat dan ke bukit Mohab di Timur yang berjarak 100 mil.

Analisis National Review tentang Syria

berikut analisis yang dipublikasikan oleh National Review yang berbasis di New York :

Kegembiraan kolektif kita yang melihat kemungkinan bahwa rezim Assad akan hancur dan pendukung Ayatullah Iran terus melemah, telah mengaburkan visi dan mencegah kita melihat munculnya Al Qaeda di Suriah.  Pada bulan Maret tahun ini, jihadis melancarkan tujuh serangan terhadap Assad.  Pada bulan Juni mereka memimpin 66 operasi dan lebih dari setengahnya terjadi di ibukota Suriah, Damaskus.  Oposisi Suriah sangat mendapatkan manfaat dari organisasi "teroris" tersebut, disiplin, pengalaman tempur, semangat keagamaan dan kemampuan menyerang rezim Assad di tempat yang paling menyakitkan.

Di wilayah Timur Tengah, yang paling diinginkan Al Qaeda tentu saja Arab Saudi, namun Suriah masuk ke dalam daftar berikutnya.  Kini, Suriah bukan lagi Suriah bagi jihadis, namun bagian dari Bilad al-Syam, wilayah yang disebut ketika perbatasan tidak lagi memisahkan tanah yang sekarang disebut Yordania, Suriah, Lebanon dan yang terpenting Palestina dan Israel.  Bagi Al Qaeda, negara-negara modern ini dibatasi oleh batas-batas artifisial yang diciptakan Inggris dan Perancis setelah Perang Dunia Pertama.  Ya, Al Qaeda memiliki memori sejarah yang panjang, tetapi mereka juga memiliki rencana untuk masa depannya.  Dan di Bilaad al Syam, masa depan terlihat baik bagi Al Qaeda.

Selama Assad mengatur Suriah, brigade Arab dan pejuang Muslim lainnya akan terus berkumpul di Bilaad al-Syam untuk mendukung jihad kaum Muslim Sunni melawan kafir Alawiyah seperti yang mereka lihat.  Assad menawarkan mereka titik berkumpul.  Dalam prosesnya, waralaba lokal Al Qaeda akan mendapatkan dukungan dan membuat aliansi dengan suku-suku Suriah dan pemimpin Sunni.  Saat Assad Jatuh, Al Qaeda mungkin akan mendapatkan kontrol de facto di Suriah sebagai basis strategis baru untuk jihadis di Timur Tengah, atau setidaknya menikmati perlindungan suku di daerah perbatasan yang lebih luas dengan Irak dan Yordania.  Sebuah pemerintahan baru di Suriah tidak hanya akan berhutang budi kepada para pejuang, tetapi juga membutuhkan kerja sama mereka untuk meminimalkan potensi pertempuran milisi satu sama lainnya.

Sama seperti Suriah bukanlah Suriah dan bagi Al Qaeda, bukanlah Al Qaeda, seperti yang kita kenal mereka adalah Tentara Pembebasan Suriah (FSA).  Bagi pasukan oposisi Suriah, pejuang Al Qaeda menyambut sukarelawan Arab dan negeri-negeri muslim, Mujahidin yang menyebut dirinya Jabhah al nusrah li-Ahli al-Syam, di antara nama-nama lainnya.

Tidak sejak zaman Jihad Afghan melawan Soviet, jihad global telah menemukan kombinasi langka penyebab kuat, dana yang tersedia, dukungan semangat Arab, persetujuan Barat, dan kedatangan para pemuda Muslim untuk berperang di bawah panji mereka untuk mendirikan pemerintahan Islam.  Sementara jumlah yang tepat dari pejuang-pejuang itu sulit didapat, itu adalah fakta bahwa dalam setiap pertempuran penting tiga bulan terakhir dari Aleppo hingga Homs hingga Deir al-zor dan Damaskus, Al Qaeda telah menonjol.

Untuk masa mendatang, pemerintahan Assad akan terus menghadapi pemberontakan keras di kota demi kota.  Mereka akan kehilangan kontrol atas perbatasan dengan Yordania, Irak, Turki dan Libanon dan pejuang asing akan datang dengan berbondong-bondong untuk berjihad di Bilaad al-Syam dengan memegang beberapa janji kuat.

Wallaahu a’lam

READ MORE ... Monggo di-Klik

Missing-Link : Titik Lemah Kurikulum Pendidikan Indonesia

 

Mau dibawa kemana dunia pendidikan kita? Dunia pendidikan di Indonesia memiliki titik kelemahan paling mendasar, yaitu Missing-Link. Produk pendidikan sama sekali kehilangan LINK dengan dunia luar (di laur akademis) dan tidak aneh kita temukan prestasi terbesar seorang fresh-graduate (sarjana baru - S1) adalah hanya selembar lamaran kerja dan penolakan dari perusahaan.

Sama sekali tidak aneh! Sistem pendidikan penjajah Belanda – yang misi & visinya untuk memenuhi tenaga clerk (ambtenaar) pamongprojo atau ‘pegawai negeri’ pemerintahan Hindia-Belanda – hingga sekarang masih diwariskan pada Blue-print kurikulum pendidikan. Output pendidikan adalah mental pegawai atau ‘kacung’ dimana output terbaik dengan Indeks Prestasi terbaik akan menjadi ‘kacung’ yang baik dan patuh. Dalam kadar berbeda mental ini masih berlaku hingga sekarang.

Kelemahan ini mudah sekali kita lihat, seperti dibawah ini :

  1. A.  Pendidikan Indonesia identik hafalan berbasis "kunci jawaban" bukan 
         pengertian.
  2. Ujian Nasional, tes masuk PT, kursus-kursus, lembaga bimbingan belajar dan lembaga pendidikan lainnya  semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya, bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus tersebut.
  3. Efeknya bisa dikaji, dengan biaya ekstra seorang siswa lulus tes masuk perguruan tinggi mengandalkan rumus-rumus ‘jalan-pintas’ dari tempat Bimbingan Belajar, mengalami kesulitan di tahun kedua dan seterusnya karena tidak paham pengertian rumus-rumus tersebut.

  4. B.  Kurikulum pendidikan terlalu teoritis, sangat tidak aplikatif dan sangat
         tidak sesuai realita di lapangan. Literaturnya pun sering tidak up-to-date.
  5.      Anggaran pendidikan yang terilyun2 hanya difokuskan demi pencapaian
         hasil UN tertinggi.
  6. (keberhasilan pendidikan hanya diukur dari besarnya % kelulusan. Jika 100% pendidikan dianggap berhasil).

  7. Semua itu hanya untuk meningkatkan gengsi pejabat daerah atau pengelola pendidikan semata. Tidak untuk kepentingan anak didik.

  8. C.   Pendidikan Moral, Agama, karakter, Budi pekerti semua hanya berupa
           Materi Hafalan (Kognitif), sangat kurang dengan aspek penerapan.

Karena berbasis hafalan, murid di Indonesia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Itulah mengapa anak kita sarat dengan beban kurikulum.

Mereka dididik menjadi :

Jack of all trades, but master of none

(tahu sedikit2 tentang banyak hal  tetapi tidak menguasai apapun).

Semua bisa dirangkum dengan sebuah komentar :

“semenjak aku keluar kuliah aku juga berfikir.
kuliah sampah, paling cuma 1% ilmu yang masuk 99% sampah.
”

Wakil Ketua DPR RI, Anis Matta, melayangkan kritik pedas terhadap kurikulum yang di terapkan dalam dunia pendidikan. Pasalnya, kurikulum yang saat ini dijalankan, dikhawatirkan alokasi dana dari APBN dana 20 persen atau sebesar Rp200 triliun untuk bidang pendidikan akan sia-sia saja di gelontorkan. Karena tidak akan menghasilkan mutu pendidikan yang memadai.

"Karena tidak diajari tentang pendidikan finansial dan entrepreneurship maka ketika kita menjadi sarjana, satu-satunya prestasi yang bisa dilakukan adalah membuat surat lamaran kerja. Tidak pernah kita mendengar seorang mahasiswa kita lulus kuliah lalu membuka lowongan kerja," jelas Wakil Ketua DPR RI, Anis Matta, di hadapan para tokoh dalam acara safari Ramadan, di Solo, Jawa Tengah beberapa waktu lalu, Minggu (29/7/2012)seperti dirilis Okezone.

Menurutnya, kurikulum yang saat ini diterapkan dinilainya hanya mendidik murid menjadi tidak mandiri dan tidak mampu mengelola kemampuan pribadinya.

Seharusnya sejak tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi, harus ada mata pelajaran maupun mata kuliah pendidikan finansial dan entrepreneurship.

Anis mengambil contoh entrepreneurship yang di tunjukan Nabi Muhammad SAW. Yang mana sejak kecil Nabi Muhammad mengembangkan kemampuannya dengan membuka jasa pengelolaan ternak.  Dari jasa pengelolaan ternak tersebut Nabi Muhammad SAW mampu membelikan mahar berupa 100 ekor unta.

"Bila satu ekor unta seharga Rp10 juta maka saat berumur 25 tahun, beliau saat itu berarti telah mempunyai harta Rp1 miliar untuk membeli unta. Ini contoh dalam mendidik anak-anak kita kedepan," paparnya.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Lintasan Sejarah Habib di Indonesia

 

Kaum Alawiyyin yang menjadi himpunan besar para habib, syarif atau sayyid keturunan Rasulullah menjadikan kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur sebagai tujuan “Mahjaru Tsani” tempat hijrah yang kedua (yang pertama terjadi 3 abad sebelumnya 345H dari Bashrah ke Hadramaut).

Masuknya Alawiyin di Indonesia lewat perdagangan, pengajaran agama, perkawinan dan akhlak. Kaum Alawiyyin masuk melalui beberapa jalur:

(1) Dari Hadramaut langsung. 

(2) Hadramaut ---> India ---> Indonesia.

(3) Hadramaut –> Yunnan (Champa/kamboja + China selatan) ---> Jawa
     (seperti model dakwah Walisongo, 9 sunan mayoritas dari negeri China).

Karena akhlak mereka yang baik, banyak kalangan masyarakat Indonesia menerima agama yang dianut para keturunan Hussein itu. Sehingga mereka mau memeluk agama baru. Bahkan Islam kemudian menjadi agama resmi beberapa kerajaan, menggusur agama “impor” lain dan agama lokal.

Namun pada masa kolonialisme Barat di Asia Tenggara terjadi kemunduran dakwah. Di Indonesia. Kiprah dakwah Islam kaum Alawiyin yang sangat dicintai masyarakat menjadi batu sandungan bagi Belanda. Pemerintah kolonial pun melarang Alawiyyin menetap di pedalaman pulau Jawa, berkeluarga dengan anggota istana (beberapa Alawiyin kawin mawin dengan keluarga kerajaan tempat mereka menetap).

Sebagian kaum Alawiyyin pun migrasi ke perkampungan tertentu di bandar-bandar di tepi laut, atau mengganti nama mengambil nama keluarga Jawa agar dianggapnya orang Jawa asli, pribumi. Karena pindahnya Alawiyyin dari pedalaman ke wilayah pesisir utara, pusat ke-Islam-an pun beralih di sepanjang pantai utara Jawa, seperti ; Semarang, Surabaya, Jakarta, dan lain tempatnya. Yang tidak pindah dari pedalaman menetap di perkampungan-perkampungan yang disebut kauman.

Di beberapa daerah di Indonesia, keturunan Hussein memakai sebutan sayyid, syarif, ayib atau sidi di depan nama mereka. Selain di Indonesia, keturunan Hussein memakai Sayyid (Sayed/Syed) di depan namanya, misalnya bekas menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar atau pimpinan tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei.

Namun tidak semua keturunan Nabi Muhammad lewat cucunya Hussein mendapat gelar Habib. Karena orang yang mendapat gelar Habib itu, memiliki tingkat ketakwaan, kezuhudan, keilmuan dan akhlak yang mulia lebih dari orang yang lain. Boleh jadi setingkat di bawah wali. Tidak jarang, misalnya, orang datang kepada Habib minta didoakan (pesan doa melalui Shalawat Nabi), air atau keberkahan lain.

Banyak ulama terkenal Indonesia adalah keturunan Alawiyyin, yang karena ilmu dan akhlaknya dipanggil Habib, misalnya, Habib Sholeh bin Yahya dari Tanggul, Jember, Jawa Timur, Habib Abdurahman Alaydrus- luar batang, Jakarta Utara atau Ali Alhabsyi, Kwitang, Jakarta Pusat.

Sayangnya kini mulai muncul kasus habib-habib palsu, nama habib, sudah dipakai sembarang orang yang tidak pantas menggunakannya. Ada habib Hani Assegaf yang memimpin sebuah organisasi kriminal dan berlabel agama, ada juga  menggunakan gelar Habib tapi melakukan perbuatan nista.

Dan ini lagi ada pakai gelar Habib di depan namanya tetapi sesungguhnya, dia bukan keturunan Hussein. Seperti Abdullah Haris Umarella, yang terkenal dengan nama Abdurahman Assegaf yang punya pesantren besar di Parung Bogor yang bekerjasama dengan DAI TV atau lembaga amaliyah Budha, Ketua FPI Depok memakai nama Al-Ghadri atau Habib Paulus Muhammad Ali Makhrus At-Tamimi, pendeta yang mengaku bekas aktifis Front Pembela Islam (FPI) di Jawa Timur. Entah karena ingin mendapat keuntungan dari “kepatuhan” masyarakat Indonesia atau karena kurang percaya diri?

Selain Habib, makna lain yang mulia adalah Kiai. Namun penurunan makna juga terjadi pada kata Kiai. Dalam KBBI berarti alim ulama yang cerdik cendikia dalam ilmu agama ; sebutan bagi pempimpin pondok pesantren ; sebutan bagi orang-orang yang dihormati (di masyarakat Madura). Gelar kehormatan itu diberikan pada ulama pimpinan pesantren yang memiliki ribuan santri.

Namun kini sebutan kiai bisa hanya dilekatkan pada pendakwah (dai), atau pimpinan sebuah organisasi yang mengusung gaya premanisme. Gelar kiai juga dipakai untuk kelompok musik; Kiai Kanjeng atau Kiai Ganjur. Bahkan kerbau yang dikramatkan, dipanggil kiai Slamet, kotorannya, diperebutkan sebagai mendapat  berkah.

Penyalahgunaan kedua kata yang menunjukkan tempat terhormat tersebut, berakibat penurunan makna kata. Tentu saja tak mengurangi orang-orang yang memang pantas menerima gelar tersebut. Kami tetap hormat pada para habaib dan kiai yang tetap menjaga gelar kehormatan di depan namanya.

Source:
Tulisan Sayyid Abdul Kadir bin Yahya, Ketua Majelis Taklim Asmaul Husna,Desa Tegal Wangi, Kecamatan Palang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dan Ahmad Taufik beserta sedikit editing.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Habaib/Habib di Indonesia : Darimana Mereka Berasal?

 

Habib (jamak:habaib) berasal dari kata hubb. Dalam ilmu shorof (perubahan kata dan fungsinya) termasuk wazan (pola) af’alla – yuf’illu. Kata “hubb” berasal dari:

ahabbah             –     yuhibbu                        –     hubban.
(Past tenses)             (present/future tenses)         (gerunds)

Gerunds – kata-benda yang berasal dari kata-kerja dan berupa –ing forms, misalnya swimming/eating. menurut Kamus Arab Inggris Indonesia, Elias A. Elias & Edward E. Elias, Ali Al-Mascatie, (Al-Maarif, Bandung, 1983) berarti cinta atau mencintai.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka (2005), habib (“yang dicintai”) bisa digunakan sebagai panggilan yang berarti tuan, atau panggilan  lain untuk gelar sayid. Kata “sayid” berasal dari:

saadah – yasiidu – siyadah/sayid  (pimpinan yang melayani (ummat)).

Dalam KBBI, sayid berarti tuan atau sebutan untuk Keturunan Muhammad SAW. KBBI juga memperjelas dengan kata sayidani yang berarti tuan yang dua (sebutan untuk kedua cucu Nabi Muhammad, Hassan dan Hussein).

Selain 2 kata tersebut (habib dan sayid) ada kata yang tepat, syarif (syarifah untuk perempuan), dalam KBBI berarti orang yang mulia, atau sebutan bagi keturunan Rasulullah SAW melalui Hussein.

Panggilan Habib yang dilekatkan pada nama seseorang, tidak lepas dari kecintaan ummat terhadap seorang guru yang mengajarkan kebaikan dan akhlak, seperti juga gelar Kiai pada guru pesantren di jawa atau gelar Ajengan di pesantren Jawa Barat.

Gelar Habib, sesungguhnya gelar yang mulia yang dilekatkan kepada keturunan Hussein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW. Semuanya tidak lepas dari sejarah Islam. Setelah Hussein dibunuh secara kejam di Karbala, Irak, anaknya Ali Zainal Abidin, karena tekanan penguasa (khalifah), hanya bisa menjadi ahli ibadah (makanya dibelakang namanya ada gelar Abidin).

Semua khalifah ini walaupun sudah berganti dinasti selalu memusuhi keturunan Hussein, karena alasan takut pengaruh keilmuan dan ketinggian asal keturunannya. Keturunan Hussein ke-8, Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bi Husein pindah dari Basrah ke Hadramaut (Yaman). Ahmad bin Isa wafat di Hasisah (345 H) dan cucunya, yaitu Alwi bin Ubaidillah (keturunan ke-10) kemudian di-nisbath-kan pada nama kaumnya, kaum Alawiyyin di Hadramaut.

Penetapan nama Alawiyyin, menurut Tharick Chehab (1975) yang ditulis ulang oleh  Kurtubi (2007) dalam buku “Sejarah Singkat Habaib (Alawiyin) di Indonesia”, karena di Hadramaut berlaku undang-undang kesukuan, tiap keluarga harus punya nama suku. Beberapa suku terbesar di Yaman (disebut Qabili), antara lain ; Al-Katiri, At-Tamimi dan lainnya. Para Qabili ini tidak suka dan sangat membenci pendatang dari Irak keturunan Ali bin Abi-Talib dan mereka pun terdesak di wilayah tandus.

Kebencian Qabili yang ada begitu kuat, maka generasi ke-6 Alwi bin Ubaidillah (atau generasi ke-16 Husein cucu Nabi), Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam, meninggalkan mazhab Ahlul bait yang dianutnya, dan secara kompromis menerima dan memilih mazhab Syafi’i (Muhammad bin Idris as-Syafi’i Al-Quraisyi).

Setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam wafat di Tarim (653H)  keturunannya pun menyebar ke :  Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand, Filipina, Tiongkok (Cina), termasuk Indonesia. Yaitu setelah lebih dari 300 tahun tinggal di Hadramaut.

Di Indonesia, keturunan Hussein, cucu Rasulullah, masih membawa nama keluarga, karena pengaruh kehidupan di Hadramaut yang sukuisme. Sehingga kaum alawiyyin memakai nama keluarga seperti ; Al-Attas (berarti bersin/bangkis) , Assegaf (Al-saqaf- atap/langit-langit), Al-Haddad (hadid-besi/pandai besi), , Al-Habsyi (nama tempat di Afrika, habsyah), Al-Jufri, Al-Idrus dan lainnya. Secara umum mereka disebut sebagai AHLUL BAYT.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Nubuwwat : Realitas Tanda Menjelang Akhir Zaman


Nubuwwat Nabi atau berita masa depan yang diberitakan Rasulullah SAW selalu mengandung kebenaran. Dan nubuwwat mengenai tanda-tanda akhir zaman satu persatu ataupun berangkaian mulai terkuak kejadian yang membuktikan akan kebenaran nubuwwat. 

Dan tanda itu juga banyak terjadi di pusat dunia Islam, jazirah Arab. Seperti seorang budak (TKW) melahirkan tuannya, blokade negeri Iraq yang sudah terjadi dan menyusul kemudian negeri Syam yang saat ini belum terjadi namun sedang terjadi perang dan banyak lagi. Salah satu tanda-tanda kiamat seperti dalam hadits Nabi Muhammad adalah ketika manusia berlomba-lomba dengan bangunan megah. 



Kemungkinan besar tanda yang digambarkan oleh Rasulullah itu bakal muncul di Arab Saudi, negeri kaum Wahabi yang telah mengkhianati Islam dengan mengundang tentara kafir Amerika dan kerjasama rahasia dengan zionist Yahudi. Mereka berencana membangun gedung tertinggi di dunia yang akan diberi nama Menara Kerajaan (Kingdom Tower) untuk kemegahan kerjaan. 

Proyek senilai Rp 168,09 triliun ini akan berdiri di kota pelabuhan Jeddah. Pembangunan gedung setinggi hampir 2 kilometer ini diperkirakan bakal selesai dalam 5 tahun. Sejauh ini, belum diketahui kapan proyek itu bakal mulai dikerjakan.


“Kami merasakan sensasi untuk membantu Yang Mulia (Pangeran Walid) mewujudkan rencana ini buat Kerajaan,” kata Gordon Gill dari tim arsitek AS+GG yang ikut merancang desain Menara Kerajaan. Proyek ini bakal digarap oleh Bin Ladin Grup.

Jika terwujud, Menara Kerajaan akan lebih tinggi 50 lantai ketimbang Burj Khalifah di Dubai, Uni Emirat Arab yang sekarang masih memegang rekor gedung tertinggi sejagat sejak diresmikan Januari tahun lalu. Tinggi menara kerajaan itu akan mencapai 1,6 kilometer, sedangkan Burj Khalifa 828,14 meter. Saking tingginya, perlu 12 menit untuk mencapai puncak Menara Kerajaan dengan lift.
 

Proyek ambisius ini bakal dibiayai oleh Pangeran Al-Walid bin Talal al-Saud. Dengan harta Rp 173,3 triliun, ia menempati urutan ke-36 dalam daftar orang paling tajir sejagat versi majalah Forbes.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Nabi Melarang Minum Sambil Berdiri – Tinjauan Kesehatan

 

Islam mengajarkan tuntunan hidup sehari-hari mencakup semua aspek kehidupan termasuk makanan, minuman dan cara konsumsi. Rasulullah SAW memberi  arahan kesehatan dan tindakan  preventif melalui cara kita makan dan minum.

Hadits Nabi SAW, “Jangan kamu makan dan minum sambil berdiri”

Bahaya Cara Minum Berdiri

Air minum yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh Sfinger, yaitu struktur muskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup.

Setiap kita minum, air akan disalurkan ke ‘pos-pos’ penyaringan yang ada di ginjal. Jika minum sambil berdiri. Air minum otomatis masuk tanpa disaring lagi di ginjal. Langsung menuju kandung kemih. Saat air menuju kandung kemih terjadi pengendapan di saluran sepanjang perjalanan air (ureter). Karena banyak limbah yang menyisa di ureter inilah awal mula munculnya bencana.

sitting drink insure healthy

Penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang sangat berbahaya. diduga diakibatkan karena Susah kencing. Hal ini terkait dengan saluran yang sedikit demi sedikit tersumbat tadi.

Penyakit ginjal parah sangat berbahaya, karena disamping harus secara rutin melakukan cuci darah, komplikasi dari penyakit ini bisa merembet merusak organ tubuh lain. Sementara penyakit ginjal sangat mahal biaya perawatannya.

Bahaya Cara Makan Berdiri

Dari Anas ra. dari Nabi SAW :

"Bahwa Nabi melarang seseorang minum sambil berdiri" Qatadah berkata, "Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa hal itu lebih buruk lagi."

Pada saat duduk, apa yang diminum atau dimakan seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lambat. Adapun minum sambil berdiri, maka akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabrak dengan keras, jika ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan usus melar dan jatuh usus, yang kemudian menyebabkan disfungsi pencernaan.

Nabi pernah sekali minum sambil berdiri, hal itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesak manusia, tapi bukan merupakan kebiasaan.

Manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf bekerja keras supaya mampu mempertahankan semua otot tubuh, sehingga bisa berdiri stabil dan sempurna. Ini merupakan kerja sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara sinergis dan simultant (serentak) yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat terpenting pada saat makan dan minum.

Ketenangan ini hanya bisa dihasilkan saat duduk, di mana syaraf berada dalam keadaan rileks (tidak tegang) sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap menerima makanan dan minuman dengan cara cepat.

Makanan dan minuman yang masuk pada saat berdiri bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini jika terjadi secara keras dan tiba-tiba bisa menyebabkan saraf tak berfungsi (vagal inhibition) untuk menghantar detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak.

Membiasakan makan dan minum sambil berdiri secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka lambung. Para dokter melihat bahwa luka lambung 95% terjadi di tempat-tempat yang biasa berbenturan dengan makanan/minuman yang masuk.

Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokkan yang menghalangi jalan makanan ke usus secara mudah dan kadang menyebabkan rasa sangat sakit yang mengganggu fungsi pencernaan. Rasa nyaman pun bisa hilang saat makan dan minum.

Ketika Nabi SAW di rumah Aisyah ra. sedang makan daging dikeringkan diatas talam sambil duduk bertekuk lutut, tiba-tiba masuk perempuan yang mulutnya keji dan  melihat cara duduk Nabi seperti itu, ia  berkata :

"Lihatlah orang itu duduk seperti budak."

Maka dijawab oleh Nabi :

”Saya seorang hamba, maka duduk seperti duduk budak dan makan seperti makan budak." Lalu Nabi mempersilakan wanita itu makan.

Makan-minum sambil duduk bertelekan (bersandar) juga dilarang Nabi :

"Sesungguhnya Aku tidak makan secara bertelekan (BERSANDAR)" (HR Bukhari).


Tag Technorati: {grup-tag},

READ MORE ... Monggo di-Klik

Ayyuhai! ... Where are you Lovers of the Prophet Muhammad SAW?


Banyak jamaah haji menggeleng kepala saat melihat rumah kelahiran Nabi, 10X18m. Terpampang nama di pintu “Maktabah Makkah al-mukarramah.”  bangunan ini terjelek di sekitar Masjidil Haram, tak dirawat layaknya situs penting. Coretan spidol tandatangan, nama, doa dalam berbagai bahasa   menodai dinding-dindingnya. Arab-Saudi sengaja membiarkan, alasannya khawatir jika dipugar akan menjadi tempat syirik.
 
Sebelah kiri bangunan dijadikan gudang, bagian kanannya tempat kran air Zamzam yang disediakan kerajaan, bagian belakangnya trotoar jalan yang ramai dilalui dari dan ke Masjidil Haram atau orang mengambil air Zamzam. Kondisi diperparah dengan debu dan kebisingan buldozer proyek perluasan halaman Masjidil Haram. Sungguh bikin pilu pencinta Rasulullah.  Ilustrasi sangat tragis ini hasil liputan wartawan detik.com M. Nur Hayid.
 
Menurut sejarah Nabi tempat ini dulunya lembah Abu Thalib. Saat hijrah Nabi, rumah ini ditinggali Aqil bin Abi Thalib (sepupu Nabi) selanjutnya didiami anak keturunannya. Lalu rumah itu dibeli Khizran, istri khalifah Harun Al Rasyid dan dibangun masjid oleh Al-Khaizuran, ibunda khalifah. Anti klimaksnya, rumah lahir Nabi dihancurkan dan didirikan perpustakaan umum oleh Syaikh Abbas Qatthan walikota Makkah pada tahun 1370 H/1950. Begitulah saat tanah suci dikuasai kaum Wahabi.

Hijaz masuk wilayah Kekhalifahan Turki saat diprovokasi  Yahudi Inggris Col. Thomas Edward Lawrence (Lawrence of Arabia) pada masa PD I. Hijaz merdekakan diri dipimpin Syarif Hussein ibnu Ali gubernur Mekkah. Tahun 1924, kekuasaannya direbut ibnu Saud, tetangganya di sebelah Timur, NAJED yang Nabi beritakan sebagai tempat akan munculnya TANDUK SETAN.

yahudi musuh Allah islam nabi rasul perusak akhlak imanColonel T E Lawrence by Augustus John. © Tate © Courtesy of the Estate of Augustus John – Shahabat karib Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Sa'ud (pendiri kerajaan Arab Saudi).

Ulama Indonesia merisaukan penguasa Wahhaby. Februari 1926, Konggres Al-Islam mengirim Komisi Hijaz ke Mekkah sebagai respon penghancuran situs di Makkah-Madinah. Komisi dibentuk oleh ulama dari Muhammadiyah, Pesantren (diwakili KH Wahab Hasbullah,pendiri NU), Persis & SI. Delegasi terdiri HOS Tjokroaminoto (SI) dan KH Mas Mansur (Muhammadiyah). Tuntutannya pelestarian tradisi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah khususnya tradisi tarekat, wirid, pembacaan sholawat dan pengajaran kitab mazhab agar tetap diizinkan. Semua tuntutan itu diabaikan hingga sekarang.

23 September 1932, Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Sa'ud (Ibnu Sa‘ud) mendirikan al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su‘udiyah (kerajaan Arab Saudi).

Hadits tentang Penghancuran Yatsrib

Najed menjadi cikal bakal wilayah kerajaan Arab Saudi, lebih dulu merdeka dari kekhalifahan Turki yang lemah (The Sick Man) melalui pemberontakan 13 tahun (1899-1912). Saat ini Najed menjadi salah satu provinsi dimana Ibukota Riyadh ada di wilayah ini. Provinsi lainnya seperti Ha-a, Asir dan Hijaz (Makkah dan Madinah).

Saat ini Zionist Israel berupaya menggali situs peradaban Yahudi kuno di Yerusalem. membangun Kuil Salomon diatas puing peradaban Islam (Baitul Maqdis) yang terus mereka gerogoti. Pada saat yang sama kerajaan Arab Saudi (yang telah dibantu Yahudi INGGRIS – Colonel TE Lawrence) dan tokoh Wahaby juga berupaya menghancurkan situs-situs Islam - warisan Rasulullah dan sahabat - hingga saat ini. Fakta ini sesuai dengan berita hadits Rasulullah:

Hadits dari Mu’âdz ibn Jabal Nabi saw berkata (diantara tanda dekatnya Kiamat adalah) “ Pembangunan kembali Baitul-Maqdis, penghancuran  Yatsrib dan penghancuran Yatsrib muncul pembantaian dan pertempuran  dahsyat, pertikaian berdarah, penaklukan Konstantinopel & kemunculan Dajjal.” Lalu Nabi menepuk paha Mu’âdz sambil berkata, “Sungguh, itu kebenaran, sama halnya kenyataan bahwa kamu sedang duduk saat ini.

Ini berita memilukan bagi peradaban Islam. “Pembangunan Baitul-Maqdis” dan “Penghancuran Yatsrib” berjalan simultan (serentak).   Kerajaan Arab Saudi hingga kini telah menghancurkan 300-an situs Islam usia 14 abad. Semua perusakan diawali dari Madinah (Yatsrib) dan diganti dengan bangunan-bangunan baru dengan alasan modernisasi.

Kharâb Yatsrib (penghancuran Yatsrib) pada hadits diatas berarti bahwa peradaban kota tua Madinah (yang dulu dikenal dengan nama Yatsrib) akan rusak. Dampaknya: semua peninggalan Islam klasik akan dihancurkan pada masa sebelum Kiamat. Kaum Perusak ini diperankan oleh kaum Wahhaby (Arab Saudi).

Siapakah Wahhaby dan apa rencana kejinya?

Adalah sekelompok orang yang menyebarkan ajaran Islam dengan pemahaman dangkal, mendiskreditkan dan meremehkan tradisi klasik. Kini kita telah menyaksikan munculnya sekelompok orang yang menentang setiap aspek Islam tradisional – Mainstream Islam - yang telah dianut dan dipelihara lebih dari 1400 tahun. Seolah-olah umat Islam sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab (pendiri Wahaby) dan diluar pengikutnya adalah Islam sesat. Mereka ingin mengubah seluruh pemahaman Islam dengan menawarkan Islam ala Wahhaby.

Selain Masjid Nabawi, tempat bersejarah lain di Madinah adalah Baqi, tempat makam imam Ahlulbait, keluarga nabi, sahabat dan syuhada. Dulu, tempat itu rapi dengan bangunan dan kubah tempat orang berkumpul untuk berziarah. Hingga kaum Wahaby berkuasa dan menghancurkannya.

situs Kuburan islam Baqi sahabat nabi rasul AllahSecara bertahap dengan alasan rapuh, 8 Syawal 1345 / 21 April 1925 pemakaman Baqi hancur total oleh Raja Abdul Aziz. Pada tahun sama, ia juga menghancurkan makam Jannatul Mualla (Mekkah) di mana ibunda Nabi, istri, kakek dan leluhur Nabi dikuburkan. Makam para Sahabat Nabi juga hancur, dihancurkan semua.

Situs Islam lain juga dibongkar sebab akan disesuaikan dengan kota-kota besar dunia. Tempat kelahiran Nabi terancam dibongkar untuk perluasan parkir. Rumah Nabi sudah digusur. Padahal, di tempat itu Nabi berulang-ulang menerima wahyu dan tempat putra-putrinya dilahirkan serta tempat Khadijah meninggal.

situs islam nabi rasul Allah
Lihat perubahan sekitar Masjidil Haram (gambar di atas). Rumah Abu Bakar ash-Shiddiq, shahabat Nabi paling setia, diubah menjadi HILTON HOTEL, Rumah Siti Khatijah, Istri Pertama Nabi, berubah menjadi Tempat buang Air Besar (Toilet Umum), Masjid Qubais dibongkar habis diganti Istana Raja. Tidak ada lagi Rumah Daarul Arqom, rumah penggemblengan pengikut pada awal dakwah Nabi.

Ada usaha menghancurkan Kubah Masjid Nabawi  yang didalamnya ada makam Nabi, terjadi sekitar 90 tahun lalu, tahun awal kekuasaan Wahaby membentuk Kerajaan Arab Saudi. Terjadi mukjizat sebagaimana dikisahkan Syekh Az-Zubaidi. Saat orang itu memanjat kubah dan akan memulai menghancurkan, tiba-tiba kilat menyambarnya dan tewas seketika. Tidak seorang pun mampu memindahkan mayat tersebut dari atas kubah karena badannya lengket dengan permukaan Kubah.

Dikisahkan, ada orang saleh di Madinah bermimpi mendengar suara yang berkata bahwa tidak seorang pun bisa mengangkat mayat itu dari kubah. Inilah peringatan bagi mereka yang berpikir dan berusaha menghancurkan makam Nabi di masa mendatang!.

Akhirnya, mayat itu tetap ada di atas kubah, ditutupi dengan kotak hijau agar tidak terlihat oleh orang-orang.

dome-nabi rasul allah_ejajufri situs islam
Ini rencana paling keji Wahhabi yang lahir dari BANI HANIFAH  di NAJED – pengikut nabi palsu MUSAILAMAH AL KADZDZAB. Tabiatnya menunjukkan kebencian pada Nabi dan keturunan Nabi. Buku berjudul Riyadhul Jannah fi Ar-Radd ‘ala A’da-i Sunnah, penulisnya Abu Abdurrahman Muqbil bin Hadi al-Wadi’i (tokoh utama Wahhabi, saya tidak sudi menyebutnya ulama) justru menganjurkan agar Kubah Hijau yang didalamnya ada makam Nabi diratakan dengan tanah. Ia meminta pemerintah Arab Saudi dan semua umat Islam mengeluarkan kuburan tersebut dari dalam Mesjid. Na’udzubillah min dzalik…!

Wahabi didirikan Ibnu Abdul Wahab dari Nejd. Dalam hadis shahih Bukhari Muslim disebutkan bahwa Nabi pernah berkata bahwa kelak dari Nejd akan muncul 2 Qarn al-Syaithan (tanduk syaithan atau agen iblis) yang membuat huruhara dan keonaran. Satu tanduk setan, yaitu Musailamah al-kadzzab dari Nejd muncul di zaman Nabi dan fakta kemudian mayoritas pendukung Khawarij dari Nejd. Tanduk setan kedua diberitakan muncul pada abad 12 Hijrah (abad 17 M).

Sekarang kaum Wahabi telah mereproduksi kitab2 warisan ulama klasik yang isi halaman diubah, dibuang bagian yang tidak sesuai dengan doktrin Wahabi.  Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un.

Wahai Wahabi, kalian sama sekali tidak punya sifat amanah, amanah keilmuan dan amanah sebagai muslim.

Bagaimana bisa dibiarkan begitu saja tindakan Wahhaby  (yang hanya beberapa ratus ribu atau beberapa juta orang) mampu menghancurkan warisan peradaban Islam tanpa izin/musyawarah dengan mayoritas umat Islam dunia (yang lebih dari 1 Milyar)???

Inilah yang terjadi ketika suku Badui Najed menguasai Mekkah-Madinah setelah 13 tahun memberontak dari kekhilafahan Usmani. Pemberontakan yang dibantu Inggris ini berujung pembentukan kerajaan Saudi Arabia. Kaum Quraisy (penduduk asli) Mekah lama-kelamaan tersingkir. Bahkan Bani Hasyim dipaksa migrasi ke Yordana (dengan skenario Inggris).

Kini Mekkah-Madinah tidak sama dengan Mekkah-Madinah yang kita baca di buku sejarah Islam. Suasana sakral semakin digerus nuansa hedonisme ala Amerika dengan pembangunan fisik ultra-modern (Hotel Hilton etc.) dan menggusur warisan peradaban nabi.
------------------------------------------

Kembali ke BAGIAN PALING ATAS halaman  klik!         Back to Top

READ MORE ... Monggo di-Klik

The Hadiths of Najd and Bani Tamim

This article will explore the hadith that preached later in the 12th century (Hijrah) or about the 17th century AD from the highlands Najed will arise source of confusion in Islam. In that place will rise the devil's horn [qarn al-shaytan]. Another hadith narrators mentioned will appear 2 devil horns.

If referring to the second hadith, then we have seen Musailamah al Kadzdzab, false prophet in the early period of Islam, derived from Najed, then the second devil horn will appear later 12th century or 3 century past.

Islamic history also shows that the supporters of the movement comes Khawarij Najed descendants of Tamim, who was one of them came to the prophet, saying: "Yaa Rasulullah, be fair!" This act of presumptuous and disobedience to Rasul Allah, the most noble human being in sight of Allah.

Three centuries after the emergence of the second devil horn, his followers and lovers already spread all over the world, including in Indonesia and establish the kingdom of Saudi Arabia. They felt the most true in Islam as basic character, his movement wanted to purify Islam, always accused of heresy, so easy to accuse other moslems disbelieve. His message addressed to people who are already Moslems.

Puncturing the Devil's Dream About the Hadiths of Najd and Tamim

It is striking that not one of the great muhaddiths, mufassirs, grammarians, historians, or legists of Islam has emerged from the region known as Najd, despite the extraordinary and blessed profusion of such people in other Muslim lands. This essay offers to Muslims with open minds an explanation of this remarkable fact.


The Hadith of Najd: a correction

The land of Najd, which for two centuries has been the crucible of the Wahhabi doctrine, is the subject of a body of interesting hadiths and early narrations which repay close analysis. Among the best-known of these hadiths is the relation of Imam al-Bukhari in which Ibn Umar said: ‘The Prophet (s.w.s.) mentioned : “O Allah, give us baraka in our Syria, O Allah, give us baraka in our Yemen.” They said: “And in our Najd?” and he said: “O Allah, give us baraka in our Syria, O Allah, give us baraka in our Yemen.” They said: “And in our Najd?” and I believe that he said the third time: “In that place are earthquakes, and seditions, and in that place shall rise the devil’s horn [qarn al-shaytan].”’

This hadith is clearly unpalatable to the Najdites themselves, some of whom to this day strive to persuade Muslims from more reputable districts that the hadith does not mean what it clearly says. One device used by such apologists is to utilise a definition which includes Iraq in the frontiers of Najd. By this manoeuvre, the Najdis draw the conclusion that the part of Najd which is condemned so strongly in this hadith is in fact Iraq, and that Najd proper is excluded. Medieval Islamic geographers contest this inherently strange thesis (see for instance Ibn Khurradadhbih, al-Masalik wa’l-mamalik [Leiden, 1887], 125; Ibn Hawqal, Kitab Surat al-ard [Beirut, 1968],18); and limit the northern extent of Najd at Wadi al-Rumma, or to the deserts to the south of al-Mada’in.

There is no indication that the places in which the second wave of sedition arose, such as Kufa and Basra, were associated in the mind of the first Muslims with the term ‘Najd’. On the contrary, these places are in every case identified as lying within the land of Iraq.

The evasion of this early understanding of the term in order to exclude Najd, as usually understood, from the purport of the hadith of Najd, has required considerable ingenuity from pro-Najdi writers in the present day. Some apologists attempt to conflate this hadith with a group of other hadiths which associate the ‘devil’s horn’ with ‘the East’, which is supposedly a generic reference to Iraq.

While it is true that some late-medieval commentaries also incline to this view, modern geographical knowledge clearly rules it out. Even the briefest glimpse at a modern atlas will show that a straight line drawn to the east of al-Madina al-Munawwara does not pass anywhere near Iraq, but passes some distance to the south of Riyadh; that is to say, through the exact centre of Najd. The hadiths which speak of ‘the East’ in this context hence support the view that Najd is indicated, not Iraq.

On occasion the pro-Najdi apologists also cite the etymological sense of the Arabic word najd, which means ‘high ground’. Again, a brief consultation of an atlas resolves this matter decisively. With the exception of present-day northern Iraq, which was not considered part of Iraq by any Muslim until the present century (it was called ‘al-Jazira’), Iraq is notably flat and low-lying, much of it even today being marshland, while the remainder, up to and well to the north of Baghdad, is flat, low desert or agricultural land. Najd, by contrast, is mostly plateau, culminating in peaks such as Jabal Tayyi’ (1300 metres), in the Jabal Shammar range. It is hard to see how the Arabs could have routinely applied a topographic term meaning ‘upland’ to the flat terrain of southern Iraq (the same territory which proved so suitable for tank warfare during the 1991 ‘Gulf War’, that notorious source of dispute between Riyadh’s ‘Cavaliers’ and ‘Roundheads’).

Confirmation of this identification is easily located in the hadith literature, which contains numerous references to Najd, all of which clearly denote Central Arabia. To take a few examples out of many dozens: there is the hadith narrated by Abu Daud (Salat al-Safar, 15), which runs: ‘We went out to Najd with Allah’s Messenger (s.w.s.) until we arrived at Dhat al-Riqa‘, where he met a group from Ghatafan [a Najdite tribe].’ In Tirmidhi (Hajj, 57), there is the record of an encounter between the Messenger (s.w.s.) and a Najdi delegation which he received at Arafa (see also Ibn Maja, Manasik, 57). In no such case does the Sunna indicate that Iraq was somehow included in the Prophetic definition of ‘Najd’.

Further evidence can be cited from the cluster of hadiths which identify the miqat points for pilgrims. In a hadith narrated by Imam Nasa’i (Manasik al-Hajj, 22), ‘A’isha (r.a.) declared that ‘Allah’s Messenger (s.w.s.) established the miqat for the people of Madina at Dhu’l-Hulayfa, for the people of Syria and Egypt at al-Juhfa, for the people of Iraq at Dhat Irq, and for the people of Najd at Qarn, and for the Yemenis at Yalamlam.’ Imam Muslim (Hajj, 2) narrates a similar hadith: ‘for the people of Madina it is Dhu’l-Hulayfa - while on the other road it is al-Juhfa - for the people of Iraq it is Dhat Irq, for the people of Najd it is Qarn, and for the people of Yemen it is Yalamlam.’

These texts constitute unarguable proof that the Prophet (s.w.s.) distinguished between Najd and Iraq, so much so that he appointed two separate miqat points for the inhabitants of each. For him, clearly, Najd did not include Iraq.


Najd in the Hadith

There are many hadiths in which the Messenger (s.w.s.) praised particular lands. It is significant that although Najd is the closest of lands to Makka and Madina, it is not praised by any one of these hadiths. The first hadith cited above shows the Messenger’s willingness to pray for Syria and Yemen, and his insistent refusal to pray for Najd. And wherever Najd is mentioned, it is clearly seen as a problematic territory. Consider, for instance, the following noble hadith:

Amr ibn Abasa said: ‘Allah’s Messenger (s.w.s.) was one day reviewing the horses, in the company of Uyayna ibn Hisn ibn Badr al-Fazari. [...] Uyayna remarked: “The best of men are those who bear their swords on their shoulders, and carry their lances in the woven stocks of their horses, wearing cloaks, and are the people of the Najd.” But Allah’s Messenger (s.w.s.) replied: “You lie! Rather, the best of men are the men of the Yemen. Faith is a Yemeni, the Yemen of [the tribes of] Lakhm and Judham and Amila. [...] Hadramawt is better than the tribe of Harith; one tribe is better than another; another is worse [...] My Lord commanded me to curse Quraysh, and I cursed them, but he then commanded me to bless them twice, and I did so [...] Aslam and Ghifar, and their associates of Juhaina, are better than Asad and Tamim and Ghatafan and Hawazin, in the sight of Allah on the Day of Rising. [...] The most numerous tribe in the Garden shall be [the Yemeni tribes of] Madhhij and Ma’kul.’ (Ahmad ibn Hanbal and al-Tabarani, by sound narrators. Cited in Ali ibn Abu Bakr al-Haythami, Majma‘ al-zawa’id wa manba‘ al-fawa’id [Cairo, 1352], X, 43).

The Messenger says ‘You lie!’ to a man who praises Najd. Nowhere does he extol Najd - quite the contrary. But other hadiths in praise of other lands abound. For instance:

Umm Salama narrated that Allah’s Messenger (s.w.s.) gave the following counsel on his deathbed: ‘By Allah, I adjure you by Him, concerning the Egyptians, for you shall be victorious over them, and they will be a support for you and helpers in Allah’s path.’ (Tabarani, classed by al-Haythami as sahih [Majma‘, X, 63].) (For more on the merit of the Egyptians see Sahih Muslim, commentary by Imam al-Nawawi [Cairo, 1347], XVI, 96-7.)

Qays ibn Sa‘d narrated that Allah’s Messenger (s.w.s.) said: ‘Were faith to be suspended from the Pleiades, men from the sons of Faris [south-central Iran] would reach it.’ (Narrated in the Musnads of both Abu Ya‘la and al-Bazzar, classified as Sahih by al-Haythami. Majma‘, X, 64-5. See further Nawawi’s commentary to Sahih Muslim, XVI, 100.)

Allah’s Messenger said: ‘Tranquillity (sakina) is in the people of the Hijaz.’ (al-Bazzar, cited in Haythami, X, 53.)

On the authority of Abu’l-Darda (r.a.), the Messenger of Allah (s.w.s.) said: ‘You will find armies. An army in Syria, in Egypt, in Iraq and in the Yemen.’ (Bazzar and Tabarani, classified as sahih: al-Haythami, Majma‘, X, 58.) This constitutes praise for these lands as homes of jihad volunteers.

‘The angels of the All-Compassionate spread their wings over Syria.’ (Tabarani, classed as sahih: Majma‘, X, 60. See also Tirmidhi, commentary of Imam Muhammad ibn Abd al-Rahman al-Mubarakfuri: Tuhfat al-Ahwadhi bi-sharh Jami‘ al-Tirmidhi, X, 454; who confirms it as hasan sahih.)

Abu Hurayra narrated that Allah’s Messenger (s) said: ‘The people of Yemen have come to you. They are tenderer of heart, and more delicate of soul. Faith is a Yemeni, and wisdom is a Yemeni.’ (Tirmidhi, Fi fadl al-Yaman, no.4028. Mubarakfuri, X, 435, 437: hadith hasan sahih. On page 436 Imam Mubarakfuri points out that the ancestors of the Ansar were from the Yemen.)

‘The people of the Yemen are the best people on earth’. (Abu Ya‘la and Bazzar, classified as sahih. Haythami, X, 54-5.)

Allah’s Messenger (s) sent a man to one of the clans of the Arabs, but they insulted and beat him. He came to Allah’s Messenger (s.w.s.) and told him what had occurred. And the Messenger (s) said, ‘Had you gone to the people of Oman, they would not have insulted or beaten you.’ (Muslim, Fada’il al-Sahaba, 57. See Nawawi’s commentary, XVI, 98: ‘this indicates praise for them, and their merit.’)

The above hadiths are culled from a substantial corpus of material which records the Messenger (s.w.s.) praising neighbouring regions. Again, it is striking that although Najd was closer than any other, hadiths in praise of it are completely absent.

This fact is generally known, although not publicised, by Najdites themselves. It is clear that if there existed a single hadith that names and praises Najd, they would let the Umma know. In an attempt to circumvent or neutralise the explicit and implicit Prophetic condemnation of their province, some refuse to consider that the territorial hadiths might be in any way worthy of attention, and focus their comments on the tribal groupings who dwell in Najd.


The Tribe of Tamim

The best-known tribe of Central Arabia are the Banu Tamim. There are hadiths which praise virtually all of the major Arab tribal groups, and to indicate the extent of this praise a few examples are listed here:

Allah’s Messenger (s) said: ‘O Allah, bless [the tribe of] Ahmas and its horses and its men sevenfold.’ (Ibn Hanbal, in Haythami, Majma‘, X, 49. According to al-Haythami its narrators are all trustworthy.)

Ghalib b. Abjur said: ‘I mentioned Qays in the presence of Allah’s Messenger (s) and he said, “May Allah show His mercy to Qays.” He was asked, “O Messenger of God! Are you asking for His mercy for Qays?” and he replied, “Yes. He followed the religion of our father Ismail b. Ibrahim, Allah’s Friend. Qays!  Salute our Yemen! Yemen! Salute our Qays! Qays are Allah’s cavalry upon the earth.”’ (Tabarani, declared sahih by al-Haythami, X, 49.)

Abu Hurayra narrated that Allah’s Messenger (s) said: ‘How excellent a people are Azd, sweet-mouthed, honouring their vows, and pure of heart!’ (Ibn Hanbal via a good (hasan) isnad, according to Haythami, X, 49.)

Anas b. Malik said: ‘If we are not from Azd, we are not from the human race.’ (Tirmidhi, Manaqib, 72; confirmed by Mubarakfuri, X, 439 as hasan gharib sahih.)

Abdallah ibn Mas‘ud said: ‘I witnessed Allah’s Messenger (s.w.s.) praying for this clan of Nakh‘.’ Or he said: ‘He praised them until I wished that I was one of them.’ (Ibn Hanbal, with a sound isnad. Haythami, X, 51.)

On the authority of Abdallah ibn Amr ibn al-As, who said: ‘I heard Allah’s Messenger (s.w.s.) saying: “This command [the Caliphate] shall be in Quraysh. No-one shall oppose them without being cast down on his face by Allah, for as long as they establish the religion.”’ (Bukhari, Manaqib, 2.)

The hadith which appears to praise Tamim is hence not exceptional, and can by no stretch of the imagination be employed to indicate Tamim’s superiority over other tribes. In fact, out of this vast literature on the merits of the tribes, only one significant account praises Tamim. This runs as follows: Abu Hurayra said: ‘I have continued to love Banu Tamim after I heard three things concerning them from Allah’s Messenger (s.w.s.). “They will be the sternest of my Umma against the Dajjal; one of them was a captive owned by ‘A’isha, and he said: ‘Free her, for she is a descendent of Ismail;’ and when their zakat came, he said: ‘This is the zakat of a people,’ or ‘of my people’.”’ (Bukhari, Maghazi, 68.)

This hadith clearly indicates that the rigour of the Tamimites will be used for, and not against, Islam in the final culminating battle against the Dajjal; and this is unquestionably a merit. The second point is less significant, since all the Arabs are descendents of Ismail; while the variant readings of the third point make it difficult to establish its significance in an unambiguous way. Even the most positive interpretation, however, allows us to conclude no more than that the Messenger (s.w.s.) was pleased with that tribe at the moment it paid its zakat. As we shall see, its payment of zakat proved to be short-lived.

Far more numerous are the hadiths which explicitly critique the Tamimites. These hadiths are usually disregarded by pro-Najdite apologists; but traditional Islamic scholarship demands that all, not merely some, of the evidence be mustered and taken as a whole before a verdict can be reached. And a consideration of the abundant critical material on Tamim demonstrates beyond any doubt that this tribe was regarded by the Messenger (s.w.s.) and by the Salaf as deeply problematic.

An early indication of the nature of the Tamimites is given by Allah himself in Sura al-Hujurat. In aya 4 of this sura, He says: ‘Those who call you from behind the chambers: most of them have no sense.’ The occasion for revelation (sabab al-nuzul) here was as follows:

‘The “chambers” (hujurat) were spaces enclosed by walls. Each of the wives of Allah’s Messenger (s.w.s.) had one of them. The aya was revealed in connection with the delegation of the Banu Tamim who came to the Prophet (s.w.s.). They entered the mosque, and approached the chambers of his wives. They stood outside them and called: “Muhammad! Come out to us!” an action which expressed a good deal of harshness, crudeness and disrespect. Allah’s Messenger (s.w.s.) waited a while, and then came out to them. One of them, known as al-Aqra‘ ibn Habis, said: “Muhammad! My praise is an ornament, and my denunciation brings shame!” And the Messenger (s.w.s.) replied: “Woe betide you! That is the due of Allah.”’ (Imam Muhammad ibn Ahmad ibn Juzayy, al-Tashil [Beirut, 1403], p.702. See also the other tafsir works; also Ibn Hazm, Jamharat ansab al-‘Arab [Cairo, 1382], 208, in the chapter on Tamim.)

In addition to this Qur’anic critique, abundant hadiths also furnish the Umma with advice about this tribe. Since the tacit acceptance of the Prophet (s.w.s.) constitutes a hadith, we may begin with the following incident.

This relates to a famous poem by Hassan ibn Thabit (r.a.). The Tamimites were late converts to Islam, joining the religion, after much resistance, only in the Year of Delegations (‘am al-wufud), which was the ninth year of the Hijra. They hence miss the virtue of sabiqa, of precedence in Islam. Coming at last to the Prophet (s.w.s.), the Tamim insisted on a public debate against him, and he appointed Hassan to reply to the Tamimites’ vain boasting about their tribe. Hassan’s ode, which completely defeated and humiliated them by describing the low status of their tribe, can be considered evidence for the Prophet’s (s.w.s.) own view of Tamim, since the condemnation was given in his presence, and there is no record of his criticising it. (Diwan Hassan ibn Thabit [Beirut, 1966], p.440; for full details of the incident see Barquqi’s commentary in the same volume. See also Ibn Hisham, Sira [Guillaume translation], p.631.)

A further hadith concerning Tamim runs as follows:

On the authority of Imran ibn Husayn (r.a.): ‘A group of Tamimites came to the Prophet (s.w.s.), and he said: “O tribe of Tamim! Receive good news!” “You promise us good news, so give us something [money]!” they replied. And his face changed. Then some Yemenis came, and he said: “O people of Yemen! Accept good news, even though the tribe of Tamim have not accepted it!” And they said: “We accept.” And the Prophet (s.w.s.) began to speak about the beginning of creation, and about the Throne.’ (Bukhari, Bad’ al-Khalq, 1.)

The harsh waywardness of the Tamimi mentality documented in the Qur’an and Hadith casts an interesting light on the personality of Abu Jahl, the arch-pagan leader of Quraysh. Abu Jahl, with his fanatical hatred of the Prophet (s.w.s.), must have been shaped by the Tamimi ethic in his childhood. His mother, Asma’ bint Mukharriba, was of the tribe of Tamim. (al-Jumahi, Tabaqat Fuhul al-Shu‘ara, ed. Mahmud Shakir [Cairo, 1952], p.123.) He also married the daughter of ‘Umayr ibn Ma‘bad al-Tamimi, by whom he had his son, predictably named Tamim. (Mus‘ab ibn Abdallah, Nasab Quraysh [Cairo, 1953], p.312.)
An attribute recurrently ascribed to the Tamimites in the hadith literature is that of misplaced zeal. When they finally enter Islam, they are associated with a fanatical form of piety that demands simple and rigid adherence, rather than understanding; and which frequently defies the established authorities of the religion. Imam Muslim records a narration from Abdallah ibn Shaqiq which runs: ‘Ibn Abbas once preached to us after the asr prayer, until the sun set and the stars appeared, and people began to say: “The prayer! The prayer!” A man of the Banu Tamim came up to him and said, constantly and insistently: “The prayer! The prayer!” And Ibn Abbas replied: “Are you teaching me the sunna, you wretch?”’ (Muslim, Salat al-Musafirin, 6.)


Banu Tamim and the Khawarij

Perhaps the best-known of any hadith about a Tamimite, which again draws our attention to their misplaced zeal, is the hadith of Dhu’l-Khuwaysira:

Abu Sa‘id al-Khudri (r.a.) said: ‘We were once in the presence of Allah’s Messenger (s.w.s.) while he was dividing the spoils of war. Dhu’l-Khuwaysira, a man of the Tamim tribe, came up to him and said: “Messenger of Allah, be fair!” He replied: “Woe betide you! Who will be fair if I am not? You are lost and disappointed if I am not fair!” And Umar (r.a.) said, “Messenger of Allah! Give me permission to deal with him, so that I can cut off his head!” But he said: “Let him be. And he has companions. One of you would despise his prayer in their company, and his fast in their company. They recite the Qur’an but it goes no further than their collarbones. They pass through religion as an arrow passes through its target.”’

Abu Sa‘id continued: ‘I swear that I was present when Ali ibn Abi Talib fought against them. He ordered that that man be sought out, and he was brought to us.’ (Bukhari, Manaqib, 25. For the ‘passing through’ see Abu’l-Abbas al-Mubarrad, al-Kamil, chapter on ‘Akhbar al-Khawarij’ published separately by Dar al-Fikr al-Hadith [Beirut, n.d.], pp.23-4: ‘usually when this happens none of the target’s blood remains upon it’.)

This hadith is taken by the exegetes as a prophecy, and a warning, about the nature of the Kharijites. There is a certain type of believing zealot who goes into religion so hard that he comes out the other side, with little or nothing of it remaining with him. One expert who confirms this is the Hanbali scholar Ibn al-Jawzi, well-known for his hagiographies of Ma‘ruf al-Karkhi and Rabi‘a al-Adawiya. In his book Talbis Iblis. (Beirut, 1403, p.88) under the chapter heading ‘A Mention of the Devil’s Delusion upon the Kharijites’ he narrates the hadith, and then writes: ‘This man was called Dhu’l-Khuwaysira al-Tamimi. [...] He was the first Kharijite in Islam. His fault was to be satisfied with his own view; had he paused he would have realised that there is no view superior to that of Allah’s Messenger (s.w.s.).’

Ibn al-Jawzi goes on to document the development of the Kharijite movement, and the central role played by the tribe of Tamim in it. Hence (p.89) ‘The commander of the fight [against the Sunnis, at Harura] was Shabib ibn Rab‘i al-Tamimi’; also (p.92) ‘Amr ibn Bakr al-Tamimi agreed to murder Umar’. All this even though their camp sounded like a beehive, so assiduously were they reciting the Qur’an (p.91).

The Kharijite movement proper commenced at the Siffin arbitration, when the first dissenters left the army of the khalifa Ali (k.A.w.). One of them was Abu Bilal Mirdas, a member of the tribe of Tamim (Ibn Hazm, 223), who despite his constant worship and recitation of the Qur’an became one of the most brutal of the Kharijite zealots. He is remembered as the first who said the Tahkim - the formula ‘The judgment is Allah’s alone’ - on the Day of Siffin, which became the slogan of the later Kharijite da‘wa.

In his long analysis of the Kharijite movement, Imam Abd al-Qahir al-Baghdadi also describes the intimate involvement of Tamimites, and of Central Arabians generally, noting that the tribes of Yemen and Hijaz contributed hardly anyone to the Kharijite forces. He gives an account of Dhu’l-Khuwaysira’s later Kharijite activities. Appearing before Imam Ali ibn Abi Talib (k.A.w.) he says: ‘Ibn Abi Talib! I am only fighting you for the sake of Allah and the Hereafter!’ to which Imam Ali replies: ‘Nay, you are like those of whom Allah says, “Shall I inform you who are the ones whose works are most in loss? It is they whose efforts are astray in the life of this world, but who think that they are doing good!” [Kahf, 103].’ (Imam Abd al-Qahir al-Baghdadi, al-Farq bayn al-firaq [Cairo, n.d.], 80; see the note to p.76 for the full identification of Dhu’l-Khuwaysira.)

As Imam Abd al-Qahir gives his account of the early Kharijite rebellions, replete with appalling massacres of innocent Muslim civilians, he makes it clear that the leaders of each of the significant Kharijite movements hailed from Najd. For instance, the Azariqa, one of the most vicious and widespread Khariji movements, were led by Nafi‘ ibn al-Azraq, who was from the Central Arabian tribe of Banu Hanifa (Abd al-Qahir, 82). As the Imam records, ‘Nafi and his followers considered the territory of those who opposed them to be Dar al-Kufr, in which one could slaughter their women and children. [...] They used to say: “Our opponents are mushriks, and hence we are not obliged to return anything we hold in trust to them.’ (Abd al-Qahir, 84.) After his death in battle, ‘the Azariqa pledged their allegiance to Ubaydallah ibn Ma’mun al-Tamimi. Al-Muhallab then fought them at Ahwaz, where Ubaidallah ibn Ma’mun himself died, along with his brother Uthman ibn Ma’mun and three hundred of the most fanatical of the Azariqa. The remainder retreated to Aydaj, where they pledged their allegiance to Qatari ibn al-Fuja’a, whom they called Amir al-Mu’minin.’ (Abd al-Qahir, 85-6.) The commentator to Abd al-Qahir’s text reminds us that Ibn Fuja’a was also of Tamim (p.86).

The Azariqa, who massacred countless tens of thousands of Muslims who refused to accept their views, had a rival in the Najdiyya faction of the Kharijites. These were named after Najda ibn Amir, a member of the tribe of Hanifa whose homeland is Najd; Najda himself maintained his army in Yamama, which is part of Najd. (Abd al-Qahir, 87.)

As is the way with Kharijism in all ages, the Najdiyya fragmented amid heated arguments generated by their intolerance of any dissent. The causes of this schism included the Kharijite attack on Madina, which came away with many captives; and different Kharijite ijtihads over sexual relations with Muslim women who, not being Kharijites, they had enslaved. Three major factions emerged from this split, the most dangerous of which was led by Atiyya ibn al-Aswad, again of the tribe of Hanifa. Following Najda’s death, his own faction split, again into three, one of which left Najd to raid the vicinity of Basra (Abd al-Qahir, 90-1).

The last major Kharijite sect was the Ibadiyya, which, in a gentler and much attenuated form, retains a presence even today in Zanzibar, southern Algeria, and Oman. The movement was founded by Abdallah ibn Ibad, another Tamimi. Its best-known doctrine is that non-Ibadis are kuffar: they are not mu’mins, but they are not mushriks either. ‘They forbid secret assassinations [of non-Ibadis], but allow open battles. They allow marriages [with non-Ibadis], and inheritance from them. They claim that all this is to aid them in their war for Allah and His Messenger.’ (Abd al-Qahir, 103.)

The best-known woman among the Kharijites was Qutam bint ‘Alqama, a member of the Tamimite tribe. She is remembered as the one who told her bridegroom, Ibn Muljam, that ‘I will only accept you as my husband at a dowry which I myself must name, which is three thousand dirhams, a male and a female slave, and the murder of Ali!’ He asked, ‘You shall have all that, but how may I accomplish it?’ and she replied, ‘Take him by surprise. If you escape, you will have rescued the people from evil, and will live with your wife; while if you die in the attempt, you will go on to the Garden and a delight that shall never end!’ (Mubarrad, 27.) As is generally known, Ibn Muljam was executed after he stabbed imam Ali (k.A.w.) to death outside the mosque in Kufa.

Muslims anxious not to repeat the tragic errors of the past will wish to reflect deeply upon this pattern of events. Tens of thousands of Muslims, fervently committed to the faith and outstanding for their practical piety, nonetheless fell prey to the Kharijite temptation. The ulema trace the origins of that temptation back to the incident of Dhu’l-Khuwaysira, who considered himself a better Muslim than the Prophet himself (s.w.s.). And he, like the overwhelming majority of the Kharijite leaders who followed in his footsteps, was a Tamimi. Of the non-Tamimi Kharijites, almost all were from Najd.


The Ridda: the First Fitna

There is a further issue which Muslims will wish to consider when forming their view of Najd. This is the attitude of the Najdis following the death of the Messenger (s.w.s.). The historians affirm that the great majority of the rebellions against the payment of zakat which broke out during the khilafa of Abu Bakr (r.a.) took place among Najdis. Moreoever, and even more significantly, many of the the Najdi rebellions were grounded in a strange anti-Islamic ideology. The best-known of these was led by Musaylima, who claimed to be a prophet, and who established a rival shari‘a which included quasi-Muslim rituals such as forms of fasting and dietary rules. He followed the Islamic prayer rules, but abolished the Fajr and the Isha prayers. One of his so-called ‘revelations’ ran:

Banu Tamim is a tribe of purity,
a free people, with no fault in them,
neither do they pay a tribute.
We shall be their allies of protection,
good to them for as long as we live!
We shall protect them from everyone,
and when we die, their affair is with al-Rahman.

(Imam al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa’l-Muluk [Beirut, 1407], II, 276).

Musaylima was a forceful speaker, and soon gained a huge following in Central Arabia. However the historians record that when he tried to imitate the miracles of the Prophet (s.a.w.) disaster would result. Children brought to him for cures would become sicker. When his wudu water was poured over crops, the land would turn sterile. Wells that he had used would turn salty. However the power of tribalism caused many to pay no attention.

Talha al-Namari came to Najd and said: ‘Where is Musaylima?’ At this the people said: ‘Careful! Call him the Messenger of Allah!’ So he replied: ‘No, not until I have seen him.’ So when he came to him he said: ‘You are Musaylima,’ and he replied, ‘Yes.’ He said: ‘Who comes to you?’ and he replied: ‘Al-Rahman’. He asked: ‘Does he come in light or darkness?’ ‘In darkness.’ Whereupon he said: ‘I bear witness that you are a liar and that Muhammad tells the truth, but a liar of your tribe is dearer to me than a truth-teller of his.’ So he joined Musaylima until he was killed at the Battle of Aqraba. (Tabari, II, 277).

Incidents like this are revealing in two ways. Firstly, they show the characteristic feature of Musaylima’s aqeedah: Allah resembles a physical being who can ‘come’. Secondly, they reveal the immense, blind power of Arabian tribalism as this still existed in Najd.

As leader of a rival religion, he and his Najdi enthusiasts were in a state of baghy, heretical revolt against due caliphal authority, and Abu Bakr (r.a.) sent an army against them under Khalid ibn al-Walid. In the year 12 of the Hijra Khalid defeated the Najdis at the Battle of al-Aqraba, a bloody clash that centred on a walled garden which is known to our historians as the Garden of Death, because hundreds of great Companions lost their lives there at the hands of the Najdis. The battle ranged the egalitarian spirit of Islam against the old Arab tribalism, as was shown by the fact that the banner of the Muhajirun was held by a freed Persian slave, Salim, while the banner of the Ansar was held high by Thabit b. Qays. The Muslim battle-cry was not the invocation of a tribe or an ancestor, instead it was, ‘Ya Muhammad!’ (Tabari, 281.) The pseudo-prophet was killed by Wahshi, the Ethiopian slave who, even though he had killed Hamza ibn Abd al-Muttalib, had made good his Islam, and was now an honored member of the community. The killing of the prophet of Najdi pride by a man of such humble origins was a powerful symbol of the principles that were at stake. (See Abdallah ibn Muslim Ibn Qutayba, Kitab al-Ma‘arif [Cairo, 1960], p.206; Ahmad ibn Yahya al-Baladhuri, Futuh al-buldan [repr. Beirut, n.d., p.86.])

Devotion to Musaylima lingered on in Central Arabia, however. An indication of the continuity of Najdi religious life is given by the non-Muslim traveller Palgrave, who as late as 1862 found that some Najdi tribesmen continued to revere Musaylima as a prophet. (W. Palgrave, Narrative of a year’s journey through Central and Eastern Arabia [London, 1865], I, 382.)

The other ringleader of Najdi rebellion against the khilafa was a woman known as Sajah, whose full name was Umm Sadir bint Aws, and who belonged to the tribe of Tamim. She made claims to prophethood in the name of a rabb who was ‘in the clouds’, and who gave her revelations by which she succeeded in uniting sections of the Tamim who had argued among themselves over the extent to which they should reject the authority of Madina. Leading several campaigns against tribes who remained loyal to Islam, the Najdi prophetess is said to have thrown in her lot with Musaylima. Other than this, little is known of her fate. (Ibn Qutayba, Ma‘arif, p.405; Baladhuri, Futuh, pp.99-100.)


Recent Najdi Tendencies

It is well-known that the Najdi reformer, Muhammad ibn Abd al-Wahhab, was a Tamimi. The violence and takfir associated with the movement which carries his name surely bears more than a coincidental resemblance to the policies and mindset of the Tamimi Kharijites of ancient Najd. Consider, for instance, the following massacre, of the Shi‘a of Karbala in April 1801, as described by a Wahhabi historian:

Saud made for Karbala with his victorious army, famous pedigree horses, and all the settled people and bedouin of Najd [...] The Muslims (i.e. the Wahhabis) surrounded Karbala and took it by storm. They killed most of the people in the markets and houses. One cannot count their spoils. They stayed there for just one morning, and left after midday, taking away all the possessions. Nearly two thousand people were killed in Karbala. (Uthman ibn Bishr, Unwan al-Majd fi Tarikh Najd [Makka, 1349], 1, 121-122.)

It is hard to distinguish this raid, and the brutality of its accomplishment, from the Khariji raids from Najd into the same region a thousand years earlier.
Muhammad Finati, an Italian revert to Islam who served with the Caliphal army which defeated the Wahhabis, wrote a long first-hand account of the extreme barbarism of the Najdi hordes. For instance:

Such among us as fell alive into the hands of these cruel fanatics, were wantonly mutilated by the cutting off of their arms and legs, and left to perish in that state, some of whom, in the course of our retreat, I myself actually saw, who had no greater favour to ask than that we would put them to death. (G. Finati, Narrative of the Life and Adventures of Giovanni Finati [London, 1830], I, 287.)

It is sometimes claimed that the days when ‘all the settled people and bedouin of Najd’ would happily commit such mass murder are long gone, and that Wahhabism has become more moderate. But another, more recent example, shows otherwise. In 1924, the Wahhabi army entered the city of Ta’if, plundering it for three days. The chief qadi and the ulema were dragged from their houses and slaughtered, while several hundred other civilians lost their lives. (Ibn Hizlul, Tarikh Muluk Al Sa‘ud [Riyadh, 1961], pp.151-3.) After giving the the Sunni population of the Hijaz this terrorist lesson, ‘Ibn Saud occupied Mecca with Britain’s tacit blessing’ (Alexei Vassiliev, A History of Saudi Arabia [London, 1998], p.264).

Source :
SUNNI DEFENCE LEAGUE
Ladjnat Al-Difa’a an As-Sunnah Al-Mutahharah
Milano, Italy


CONCLUSION

A good deal of material concerning Najd and Tamim has been preserved from the time of the Salaf. If we reject the method of some Najdi apologists, a method based on the highly selective quotation of hadiths coupled with the blind imitation of opinions expressed by late-medieval commentary writers, we may reach some reasonably settled and authoritative conclusions regarding Central Arabia and its people. The Qur’an, the sound Hadith, and the experience of the Salaf overwhelmingly concur that Central Arabia is a region of fitna. The first of all fitnas in Islam emerged from that place, notably the arrogance of Dhu’l-Khuwaysira and his like, and also the apostasy and fondness for false prophets which caused such difficulty for Abu Bakr (r.a.). Subsequently, the Kharijite heresy, overwhelmingly Najdi in its roots, cast a long shadow over the early history of Islam, dividing the Muslims, distracting their armies from the task of conquering Byzantium, and injecting rancour, suspicion, and bitterness among the very earliest generations of Muslims. Only the most determined, blinkered and irresponsible Najdi sympathiser could ignore this evidence, transmitted so reliably from the pure Salaf, and persist in the delusion that Najd and the misguided, literalistic rigorism which it recurrently produces, is somehow an area favoured by Allah.

And Allah knows best. May He unite the Umma through love for the early Muslims who refused bigotry, and may He preserve us from the trap of Kharijism and those who are attracted to its mindset in our time. Ameen.

Wallaahu a'lam bissawab


READ MORE ... Monggo di-Klik
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

.

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website
Webmaster Toolkit - free webmaster tools
Google PageRank Checker

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?