<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>
Tampilkan postingan dengan label Ahlul-Bayt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlul-Bayt. Tampilkan semua postingan

Telah Hilangkah Ruh Jihad untuk Pembelaan Rasulullah pada Ulama Kita? Apalah Arti kekuatan Demo Semata

 

Ulama Indonesia terdahulu sebenarnya sudah menyadari tabiat penguasa baru, Wahabi, yang telah mengusir Syarif Husain dari tanah Haromain (Mekkah dan Madinah).  Wahabi adalah kaum puritan yang bersemboyan “Pemurnian aqidah Islam”, “Kembali kepada Qur’an dan Hadits” dan mengkafir-kafirkan dan membid’ah-bid’ahkan amalan golongan lain. Pada tahun 1924 Komisi Hijaz, hasil konferensi umat Islam Indonesia di Bandung, telah dikirim ke penguasa baru tersebut dengan misi menyampaikan pesan untuk tidak merusak situs warisan Rasulullah dan para sahabat. Komisi ini juga meminta agar kaum Wahabi menghormati ajaran dan praktek amalan umat Islam yang bukan Wahabi di Makkah dan Madinah.  

Faktanya hingga kini ada sekitar 300-an situs sejarah awal Islam telah dihancurkan. Bagaimana mungkin mereka bisa menghancurkan rumah tinggal Nabi hingga tidak berbekas? Tokoh intelektual besar Wahabi (saya tidak sudi menyebutnya “ulama besar Wahabi”) sejak lebih dari 60 tahun lalu  menyerukan pembongkaran makam keluarga Nabi (ahlul bayt) dan makam para sahabat utama. Mereka penjarakan para ulama bukan Wahabi tanpa proses pengadilan. 

Sejak tahun 1942, mereka undang tentara kafir Amerika di tanah Nabi dan membangun pangkalan militer Dahran. Pengkhianatan penguasa Wahabi terhadap umat Islam sudah terjadi sebelum berkuasa. Mereka berkuasa atas bantuan Yahudi Inggris, (Kolonel) “Lawerence – Prince of Arabia” hingga mendatangkan fitnah teramat besar dengan mengundang Barat untuk mendominasi pusat dunia Islam.

Mereka juga punya hubungan khusus dengan negara Israel dan membiarkan Israel membangun pos pemeriksaan di  Pulau Tiran dan Safir seluas 113 Km yang dimiliki Arab Saudi. Keduanya sangat strategis karena berada di mulut Teluk Aqaba, dimana lalu lintas ke pelabuhan di selatan Israel harus melewati Laut Merah.  “Ulama Besar” Wahabi – Nashiruddin al Albani juga mengharamkan Jihad melawan Israel dan menghimbau warga Palestina pergi meninggalkan tanah miliknya.

Dan kini mereka ingin mewujudkan Mekkah dan Madinah sama seperti kota-kota besar lain di Amerika dan Eropa. Tentu saja harus menggusur semua situs dunia Islam tersebut dengan alasan perluasan dan pembangunan. INI BUKTI TERBARU :

MAKKAH - Pembukaan sebuah toko baru di kota suci Makkah, Arab Saudi, oleh artis Barat Paris Hilton memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia, sebab dianggap sebagai penodaan bagi kota suci Makkah. Hilton telah membuka sebuah toko yang menjual tas mewah dan barang-barang berharga tinggi di kota Makkah awal pekan ini di bulan November 2012.

 

"Toko baru saya yang cantik baru saja dibuka di Mall Makkah di Arab Saudi," tulis Hilton di akunTwitternya, dikutip Onislam.

 

"Tidak perlu ada tokonya di sini karena kami tidak membutuhkannya," kata seorang Syaikh di Saudi, Syaikh Adnan Baharith kepada CNN.

"Jika ini berada di tangan kami (jika berkuasa-red) kami pasti telah menutup seluruh tokonya di Saudi," tambah Syaikh.  Sebenarnya, ini bukan pertama kali Hilton membuka toko di negeri kaum Muslimin itu. Tetapi ini adalah toko ke-5 milik Hilton yang didirikan di Saudi.

 

"Ini adalah toko ke-5 di Arab Saudi, dan jumlah toko totalnya 42! Bangga banget untuk mengembangkan merek saya!" kicau Hilton.

 

Kabar ini bukan saja membuat Muslim di Saudi marah, tetapi juga menimbulkan kemarahan umat Muslim di seluruh dunia.

 

"Ini tidak bisa diterima bagi seorang wanita seperti dia membuka tokonya di sini (Makkah)," kata seorang user menulis di Twitter.

Makkah adalah kota tersuci umat Islam, di sana adalah tempat berkumpulnya umat Islam di seluruh dunia untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji. Pemerintah Arab Saudi telah melakukan beberapa proyek pengembangan Makkah, mencakup memperluas area Masjidil Haram dan terminal-terminal untuk ibadah haji.

Namun bertaburnya perusahaan milik non-Muslim di Arab Saudi, terkhusus tanah suci Makkah, membuat banyak Muslim khawatir bahwa Makkah "dikomersilkan."

Lalu mengapa ketua Majelis Ulama Indonesia dan kebanyakan ulama kita seperti menutup mata? Apakah karena kedermawanan Arab Saudi untuk pembangunan masjid dan madrasah di Indonesia? 

MUI: Rencana Hancurkan Makam Nabi SAW, fitnah untuk adu domba umat Islam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Amidan mengatakan kabar yang menyebutkan Pemerintah Arab Saudi akan menghancurkan Masjid Nabawi beserta Makam Nabi Muhammad Saw adalah isu belaka. Dia menilai isu tersebut sengaja dihembuskan untuk mengadu domba kalangan Muslim, seperti diketahui Arab Saudi dalam manhajnya menisbatkan diri kepada dakwah Salafiyah.

"Memang mau diperluas tapi kondisi makam tidak akan berubah. Selain itu kan makam ada di dalam masjid," kata Amidhan seperti dikutip merdeka.com, Rabu (31/10/2012).

Dia katakan, di Arab Saudi isu tersebut tak beredar. Karenanya, ia mempertanyakan asal isu itu beredar. "Enggak ada sama sekali. Tenang-tenang saja di sini," kata Amidhan yang saat ini berada di Madinah usai menunaikan haji.

Komentar I : Pak Kyai! Rencana itu sungguh rencana teramat besar dan  menjadi isu sejak tahun 1950-an. Sama seperti juga usaha 2 orang nashrani membuat terowongan untuk mencuri jenazah Nabi pada berabad2 yang lalu. Sementara Pak Kyai terlampau tergesa menyimpulkan hanya berdasarkan kunjungan sekilas di Masjid Nabawi.

Menurutnya, pemerintah Arab Saudi juga tidak bakal berani melakukannya. Sebab, jika hal itu terjadi, Pemerintah Arab Saudi akan didemo seluruh umat muslim dunia.

"Pasti akan dimusuhi sama semua umat muslim di dunia, pasti akan didemo. Pasti tidak akan tinggal diam umat muslim," kata Amidan.

Komentar 2 : Pak Kyai, kerajaan Arab Saudi tak ambil pusing dengan demo-demo seperti itu.  Mana ada berita demo disana Karena protes sedikit, langsung dibawa ke penjara. Demo besar di Bahrain ditumpas habis dengan kekuatan senjata oleh tentara Arab Saudi.

Sebelumnya beredar kabar Pemerintah Arab Saudi berencana memperluas Masjid Nabawi di Madinah. Hal itu menimbulkan kekhawatiran banyak pihak jika makam Nabi Muhammad akan dihancurkan.

Kabar ini pertama kali dihembuskan oleh kantor berita Iran, Fars News Agency, yang kemudian dikutip sejumlah media di Indonesia, Senin (29/10/2012) lalu.

Menurut kantor berita itu, pengahancuran makam Rasulullah SAW merupakan bagian dari rencana pemerintah Arab Saudi yang akan menghancurkan seluruh situs bersejarah Islam, termasuk Masjid Nabawi dan 3 masjid lainnya yang merupakan masjid tertua di dunia.

Sebagai gantinya, dikatakan, pemerintah Arab Saudi merencanakan pengembangan proyek ekspansi yang bernilai multi miliar Poundsterling.

Bahkan rencana penghancuran Masjid Nabawi di Madinah, tempat di mana Nabi Muhammad SAW dimakamkan, akan dimulai bulan depan seusai musim Haji. Kemudian, di atas tanah situs paling bersejarah tersebut, pemerintah Saudi akan membangun gedung terbesar di dunia yang bisa menampung 1,6 juta orang.

Dikatakan selanjutnya, pengembangan Masjid Nabawi sebagian besar nantinya akan mengambil bagian sayap barat dari masjid. Dalam sayap itu, terdapat makam 2 khalifah sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Siddik RA dan Umar bin Khatab RA.

Mengutip Dr. Irfan al-Alawi dari Yayasan Riset Warisan Islam, Fars menyebutkan rencana itu  digulirkan sejak 2007 lalu, dimana Kementerian Urusan Islam Arab Saudi merilis pamflet yang isinya rencana penghancuran makam Rasulullah SAW dan situs bersejarah lainnya. Pamflet tersebut disusun oleh Mufti Besar Arab Saudi, Abdulaziz al-Sheikh. Bahkan, di dalam pamflet disebutkan, penghancuran kubah masjid dan meratakan makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar berdasarkan fatwa Abdulaziz al-Sheikh.

Suara Islam Online
telah berusaha menghubungi Kedubes Saudi Arabia di Jakarta melalui Atase Pers Nawwaf Algarnas. Hingga berita ini diturunkan handphonenya dalam keadaan mati. Pesan singkat yang dikirimkan SI Online juga belum dijawab

Komentar 3 Penutup :

Pak Kyai! Isu pembongkaran makam Nabi SAW, bukan baru ada dan diciptakan oleh media Iran - yang sebagian kaum suni menganggap Syiah bukan bagian dari dunia Islam. Sementara kaum wahabi yang begitu jelas pengkhianatannya dianggap sebaliknya.   Modernisasi di Makkah dan Madinah agar setara dengan kota-kota besar di dunia Barat sudah jelas di depan mata. Tidak perlu dibayangkan lagi Hotel HILTON hanya berjarak satu lemparan batu dari Masjidil Haram di Mekkah.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Pembantaian Karbala dalam pandangan Habib Umar bin Hafidz oleh Habib Ali Al-Jufri

 

Peristiwa pembantaian Karbala terhadap kafilah cucu Rasulullah SAW, Husein bin Ali ibn Thalib beserta keluarganya dan pendukung setianya, hanya menyisakan satu-satunya keturunan Nabi SAW, yaitu Ali Zainal Abidin dalam usia belia dan bibinya Zainab yang senantiasa berusaha melindunginya. Peristiwa ini adalah ujian yang sangat besar dari Allah terhadap umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW dan pengaruhnya pun terasa hingga sekarang terkait dengan sejarah mazhab Suni dan Syiah dan pasang surut hubungan diantara keduanya hingga sekarang.

“Sungguh mereka pasti akan membunuhku. Mereka tak mungkin membiarkanku. Dan aku takut bila aku terbunuh di Tanah Haram ini, hal itu akan merusak kehormatan Tanah Haram.”

Husein ra. dengan kesadaran penuh dengan sikap ridho dan ikhlas menyambut takdirnya. Maka takdir Allah pun tetap berlaku apapun jadinya. Dan peristiwa Karbala pun terjadi.

Penuturan Habib Ali Al-Jufri

Suatu malam di negeri Mesir, Habib Ali Al-Jufri menuturkan kisah Tragedi Karbala. Peristiwa yang menjadi noda hitam dalam sejarah Islam. Peristiwa yang mengakibatkan cucu Rasulullah SAW Imam Husain, dan hampir seluruh anggota keluarganya, dibunuh secara keji.

Demi Tuhan, yang mengumpulkan kita semua di malam ini, apa yang terjadi pada Imam Husain adalah konsekuensi dari cobaan dan ujian baginya.

Al-Husain pergi meninggalkan Madinah menuju Makkah. Sebelumnya ia beristikharah, meminta petunjuk Allah SWT, perihal dukungan 17.000 orang yang membai’atnya. Lalu ia memutuskan akan pergi bersama sekelompok pemuda Bani Hasyim, berikut para pengikut dan (keluarga) pendukung mereka dari kalangan wanita dan anak-anak.

Kemudian, Abdullah bin Abbas menjumpai Al-Husain, ia berkata, “Wahai anak putri Rasulullah SAW, benarkah berita yang sampai kepadaku bahwa engkau telah memutuskan akan pergi ke medan jihad itu?”
“Ya,” jawab Al-Husain.

“Bukankah mereka telah mengkhianati ayah dan saudaramu? Tidaklah aku lihat mereka kecuali pasti mengkhianatimu pula,” ujar Ibnu Abbas.

Al-Husain berkata, “Sungguh aku mengetahui bahwa mereka pasti mengkhianatiku.”

Ibnu Abbas bertanya lagi, “Lalu untuk apa engkau keluar, wahai putra Rasulullah?”

Al-Husain berkata, “Sungguh mereka pasti akan membunuhku. Mereka tak mungkin membiarkanku. Dan aku takut bila aku terbunuh di Tanah Haram ini, hal itu akan merusak kehormatan Tanah Haram….”

Akhirnya sampailah Al-Husain dan rombongan di sebuah padang yang luas. Karbala namanya. Dan, di sanalah pembataian itu terjadi.

Tragedi Karbala terjadi tak terlepas dari rakusnya penguasa zhalim pada kedudukan khalifah secara politis. Namun, apakah pencapaian posisi khalifah secara politis itu adalah segala-galanya?
Inilah antara lain pandangan Habib Umar Bin Hafidz.

Dalam kitab Al-Mustadrak ada riwayat yang dinyatakan shahih oleh Adz-Dzahabi, “Setelah Al-Hasan mundur sebagai khalifah, ada orang bilang kepadanya, ‘Orang-orang mengatakan, Tuan menginginkan khilafah.’

Al-Hasan berkata, ‘Aku meninggalkan jabatan khilafah di saat orang-orang kuat berada di tanganku. Mereka mengikuti perintahku, siap memerangi orang yang aku perangi, dan berdamai dengan orang yang berdamai denganku. (Aku meninggalkan khilafah itu) karena untuk mencari ridha Tuhanku dan menghindarkan pertumpahan darah sesama muslimin….’.”

Dalam konteks ini, mundur dari khilafah saat terjadinya perpecahan adalah khilafah sejati. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh anakku (cucuku) ini adalah seorang pemimpin. Dengan perantaraannya, Allah akan mendamaikan permusuhan di antara dua kubu besar kaum muslimin.” (HR Al-Bukhari).

Intinya, sikap Al-Hasan dan Al-Husain benar sesuai konteks masalah yang mereka hadapi. Dalam mensikapi takdir Allah atas umat Islam diatas (peristiwa Karbala) maka sikap yang bijak adalah berhenti saling menyalahkan golongan atau mazhab lain. Husein ra. dengan kesadaran penuh ridho dan ikhlas menyambut takdirnya. Maka takdir Allah pun tetap berlaku apapun jadinya. Maka biarlah pihak masa lalu yang membela cucu-cucu Rasulullah SAW dan yang memusuhinya adalah menjadi urusan Allah semata.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Mengenal Profil yang Mengatakan : “Jalan Nabi Jalan Penuh Onak Duri”

 

Untuk menghibur hati yang galau dengan maraknya kyai, ustadz dan guru ngaji yang menjual Islam dan untuk mengingati kerinduan kami pada ustadz saya dulu yang mukhlis, saya kutipkan syair ini :

Dimana Ustadz kami  

Dimana ustadz kami yang selalu tersenyum dengan sorban hijau dan janggut di wajahnya?
Dimana ustadz yang dulu mengajarkan alif ba ta tsa ... hingga yak di surau kami?
Dimana ustadz yang dulu memberi tausiah iman dan Islam di langgar kampung?
Dimana ustadz yang mengajarkan etika, kesopanan akhlaqul karimah kepada kami?

Ustadz itu sudah tidak ada, saudaraku … Saya sudah tidak lagi menemukannya. 
Yang ada ustadz-ustadz yang menunggangi ummat untuk kepentingan pribadi.
Tidak ada lagi uluran tangan untuk kami cium sebagai hormat kami
Tidak ada lagi yang men-tartil tilawah kami
Tidak ada lagi yang menasihatkan kami untuk tegar dalam Iman dan Islam
Tidak ada lagi penjaga akhlaq kami …… … …

Berikut ini saya posting ulang interview menarik bersumber dari :
http://matengkol.multiply.com/journal/item/784/Jalan-Nabi-Jalan-Penuh-Onak-Duri
tentang tokoh pendiri Jabhah Nushrah Islam, di sini kita lebih mengenalnya sebagai FPI, yaitu Habib Rizieq Syihab. Tentang FPI, Abdurrahman Wahid sebagai gembong kaum liberal dan sekutu Zionis, dengan sangat percaya diri pada tahun 2008, menyatakan jika dirinya sudah 15 tahun berjuang hendak membubarkan FPI. Itu berarti sejak tahun 1993. Padahal FPI baru berdiri tahun 1998.

Kita hendaknya maklum dengan pernyataan ngawur ini karena memang orang yang sudah kena serangan stroke 2 kali biasanya banyak syarafnya yang mati atau tidak terkoneksi dengan baik. Istilah komputernya sering disebut “hang” sehingga harus di-restart atau kalau tidak bisa juga ya di-off-kan saja dan dibuang saja CPU-nya.

Tentang Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dia hanya sekedar keturunan ulama besar, dia hanya membawa nama besar kakeknya..., tapi tidak ada sedikit pun mewarisi kemuliaan apapun yang ada dalam jiwa kakeknya. Yang ada pada dirinya hanyalah, kesombongan, kepala batu ... menggadaikan umat dan akidah islamnya kepada Zionist Israel.

Interview dengan Habib Rizieq Syihab

HB. Rizieq Syihab: "DEMI ALLAH, SAYA LEBIH SUKA DIPENJARA ATAU DIBUNUH DARIPADA MEMBUBARKAN FPI. APAPUN YANG TERJADI TUNTUTAN SAYA SATU: BUBARKAN AHMADIYAH...!!!

Suatu waktu Habib Rizieq kembali dibawa polisi. Bersama puluhan anak buahnya, pemimpin organisasi massa Islam yang tidak gentar dalam ber-amar maruf dan ber-nahyi munkar ini secara jantan mempersilakan polisi untuk bersama-sama menuju markas aparat negara tersebut.

Bukan sekali ini saja Sang Habib ‘berjalan beriringan’ dengan polisi. Bahkan dinginnya lantai penjara pun pernah dirasakannya. Dalam suatu pertemuan pribadi beberapa tahun lalu, Sang Habib berkata,

“Jalan Nabi adalah jalan penuh onak dan duri. Jalan yang sunyi dan jalan yang kerap dipenuhi fitnah. Inilah dakwah Islam yang lurus, jalan para mujahid yang telah menjual nyawa dan kehidupannya semata untuk meninggikan kalimat Allah. Tidak semua orang mampu menelusuri jalan ini. Hanya orang-orang yang berani, punya nyali, dan mungkin sedikit nekat, yang mau menyusuri jalan yang tidak populer seperti ini.”

Saya mengangguk, terus memperhatikan uraiannya. Sang Habib mempersilakan saya minum teh hangat dari cangkir kuningan kecil. Setelah minum, kedua mata saya mengedarkan pandangan ke seluruh bagian rumah Habib yang juga dijadikan “markas besar” organisasi yang dipimpinnya.

Markas besar pakai tanda kutip. Soalnya markas besar yang ada di sekeliling saya—jujur saja—tidak layak disebut sebagai markas besar. Selain rumah Habib yang sangat-sangat sederhana, di sebelah kirinya berdiri sebuah ruangan kecil sebagai tempat perpustakaan dan barang-barang dagangan Sang Habib seperti tasbih, sorban, qur’an, aneka minyak wangi, dan lain-lain.

Di sebelah kanan rumah utama, berdiri sebuah ruangan yang lebih kecil lagi sebagai warung Sang Habib yang dipenuhi barang-barang dagangannya. Inilah Habib Rizieq yang sangat bersahaja dalam menjalani hidup. Isterinya, saya memanggilnya Umi, merupakan seorang perempuan yang sangat rendah hati dan tawadhu. Tak jarang dia menyapu sendiri halaman rumahnya atau bermain-main dengan anak-anaknya yang masih kecil dan lucu-lucu. Saya tidak pernah melihat khadimat di rumah ini.

Saya sudah berkali-kali mengunjungi rumah Habib, dari tahun ke tahun tidak ada perubahan yang berarti. Tetap dalam kesederhanaan dan ketawadhuannya. Dari jalan raya ke rumah sang Habib harus tetap menyusuri gang senggol sepanjang sepuluh meter dan pintu besinya yang rendah dan jarang di kunci yang itu-itu juga. Yang berubah hanya masjid yang berjarak sekitar tigapuluh meter dari rumah sang Habib, dulu masjid itu kecil, sekarang sudah lumayan besar.

Dalam hati saya berkata bahwa jika saja Habib mau merasakan hidup lebih makmur maka hal itu bukan hal yang sulit baginya. Front Pembela Islam (FPI), organisasi massa yang dipimpinnya itu memiliki cabang di hampir seluruh provinsi negeri ini. Bukan sekali dua kali tawaran menggiurkan (tentu saja dalam ukuran duniawi) mampir kepada Habib dari orang-orang yang memiliki maksud-maksud mengeksploitasi jumlah simpatisan maupun anggota FPI demi keuntungan dirinya. Namun semua itu dilihat Habib sebagai cobaan dakwah dan tidak membuat Sang Habib goyah. Beliau tetap menjalani hidup penuh kesederhanaan dan ketawakalan.

Saya sangat bangga kita masih memiliki pemimpin umat yang lurus seperti Habib Rizieq. Di bumi Indonesia, jenis pemimpin umat seperti itu sudah sangat langka.

Banyak ustadz-ustadz yang dahulu mengatakan dunia dengan segala perhiasannya adalah fitnah yang harus dihindari, ternyata sekarang malah terpenjara dalam kehidupan duniawi yang melenakan. Ada yang menyeru agar umat Islam lebih banyak jalan-jalan ke mall agar selera terhadap dunianya bertambah, ada yang tiap bulan membeli tanah hingga akte tanahnya menggunakan nama orang lain agar tidak ketahuan orang, ada yang mampu membeli mobil Bentley yang harga miliaran rupiah dan membangun istana di atas tanah berhektar-hektar di tengah lautan penderitaan umatnya yang kian hari kian putus asa, ada yang sibuk mengotak-atik anggaran negara (mengakali uang rakyat) demi memperkaya dirinya, ada yang mondar-mandir jadi makelar pilkada, dan sebagainya.

Sangat sedih melihat kenyataan seperti sekarang ini. Dakwah kini tidak ada bedanya dengan Multi Level Marketing (MLM), di mana mereka yang di atas bisa kaya raya dengan menginjak dan menunggangi umat yang berada di bawah. Yang di atas hidup bagaikan surga dunia, sedangkan yang di bawah, umat kebanyakan, tetap hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan.

Ukhuwah Islamiyah? Itu hanya materi dalam pengajian. Prakteknya: NOL BESAR. Hanya orang-orang kritis, cerdas, dan berani yang bisa bangkit dari semua dongeng penuh kepalsuan ini.

Saya terngiang-ngiang perkataan Habib saat akhir pertemuan. “Akhi, walau banyak orang menuding kami kelompok radikal, kami akan tetap dalam jalan dakwah ini. Kami akan tetap melakukan amar ma’ruh nahyi munkar sampai kapan pun. Ini adalah jalan para Nabi. Mudah-mudahan Allah SWT selalu bersama kita.”

Malam ini, saya memanjatkan doa agar Allah SWT melindungi dan memperkokoh keimanan Sang Habib dan para anak buahnya yang tengah didera fitnah dari Hizbusyaithon, manusia-manusia yang merelakan dirinya menjadi pembela kepentingan Zionisme.

Bagi saya, Habib dan para pengikutnya merupakan orang-orang yang selalu istiqomah dalam melakukan amar ma’ruf nahyi munkar. Bukan seperti 'pemimpin umat yang lain' yang sudah memodifikasikan hal ini sehingga menjadi Amar Ma’ruh Nyambi Munkar. Amien …

READ MORE ... Monggo di-Klik

Studi Analisis : Sampang, Tajul Muluk, dan NU Membeku

 

Ummat Islam memang ditakdirkan harus menghadapi cabaran pertentangan antar golongan. Nabi memberitakan ummat akan terpecah-pecah dengan kefanatikan golongan masing-masing – merasa Islam-nya paling benar dan juga akan muncul nabi-nabi palsu.

Nabi palsu dan ajaran Islam yang sesat pun muncul di kalangan Syiah (seperti Ismailiyah, Nushairiyah atau Druze) namun lebih banyak lagi muncul di kalangan Sunni. Fitnah yang termasuk paling besar di kalangan Sunni adalah munculnya kaum Wahabi/Salafi, pengikut “si Tanduk Setan dari Najed.” Penyebar kebencian dan dendam kesumat. Dakwah, khutbah dan majelis ilmunya pun jauh dari kedamaian karena mengobral cacian, pengkafiran, tuduhan sesat dengan mengklaim Islam-nya paling benar. Slogannya pemurnian Islam dan kembali ke Qur’an & Hadits yang penafsiran dan pengajaran menurut syaikh-syaikh mereka – di luar ajaran gurunya dianggap sesat, bid’ah dan kafir. Saya pun tidak sudi menyebut syaikh-syaikh mereka ini sebagai ”ulama.” 

Namun sayangnya banyak kalangan Sunni memukul rata semua Syiah sesat (ada 22 golongan) sementara mereka menutup mata kesesatan Wahabi. Padahal imam-imam madzab utama di kalangan sunni (Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali) tidak pernah mengkafirkan atau fatwa sesat pada Syi’ah Imamah (Itsna Asy’ariyah – Imam 12 keturunan Ali bin Abii Thalib ra keturunan Rasulullah SAW) meski ada perbedaan sejarah mazhab dan periwayatan hadits dalam rentang 14 abad.

Mengapa kini sikap bijak bil hikmah para imam besar Sunni ini tidak menjadi pegangan penganut Sunni?

Syiah adalah bagian dari ummat Islam dan bagian dari mozaik dunia Islam. Ingat kebencian Wahabi dan penyebaran fitnah salafi telah memperbesar masalah ini.

Sunni dan Syiah Imamah

Segala puji bagi Allah. Alhamdulillaah! Astaghfirullaah!

Kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya dan kami pun meminta ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Amma ba’du …

Siapa Sunni?

Secara umum, golongan ini adalah umat yang mengikuti aliran Hasan Asy''ari dalam urusan akidah dan keempat imam Mahzab (Malik, Syafi''i, Ahmad bin Hanbal, dan Hanafi) dalam fiqih atau syari’at. Jadi identifikasi golongan Sunni (Ahlul Sunnah) sejarahnya muncul belakangan – pada masa hidup Abu-al Hasan Asy’ari (lahir: 873M- wafat: 935 M) atau 3 abad sesudah Rasulullah SAW wafat.

Ahlul Sunnah (Sunni) secara harfiah adalah orang-orang yang konsisten mengikuti tradisi Muhammad SAW. Baik dalam tuntunan lisan maupun amalan serta sahabat mulia beliau. Golongan ini percaya perbuatan manusia diciptakan Allah dan baik  buruknya karena qadha dan qadar-Nya. Kaum Sunni  memperurutkan keutamaan Khulafaa ur-Rasyidin sesuai urutan dan masa kekuasaan mereka. 

Siapa Syi’ah?

Kaum Syiah atau cikal bakal pendukung Syiah munculnya tidak lama setelah Rasulullah SAW wafat di zaman Khulafaa ur Rasyidin. Merekalah pembela Ali ibn Abi Thalib dan cucu Nabi (Hasan + Husein) yang di kemudian hari diburu dan dibunuh atas suruhan Mu’awiyah. Mereka menganggap Nabi mewasiatkan kekhalifahan pada Ali. Sementara Ali mengurusi jenazah Nabi SAW, Abu Bakr di tempat lain dibaiat oleh para sahabat sebagai khalifah pengganti kepemimpinan Nabi.

Jadi akar sejarahnya adalah pembelaan kepada Ali ibn Abi Thalib (masalah politik). Dalam perkembangannya, ajaran Islam Syiah berkembang dalam rel yang berbeda dengan sejarah sunni. Termasuk sanad dan perawi hadits. Para imam Syi’ah (yang utama 12) Ayatullah sebagai pimpinan tertinggi dan keturunan Rasulullah SAW, bisa saja mengatakan :

“Perawi hadits adalah saya.”  

Karena memang merekalah pemegang otoritas keagamaan dan terutama memang  kapabilitas intelektual - sebagai pewaris ajaran datuknya Nabi SAW - benar-benar sangat terjaga.  Kehidupan sufi (yang sangat dibenci oleh kaum wahabi) dan tradisi keilmuan benar-benar hidup dan berkembang di lingkungan Syiah. Misalnya lembaga pesantren pertamakali muncul dari kalangan Syiah. Sejarah Syiah juga mengiringi masuknya Islam di Indonesia. Ulama Syiah banyak yang ahli  filsafat sehingga mendorong berkembangnya masyarakat yang memiliki ciri rasionalitas.

Mengapa Syiah dan Sunni harus bertentangan?

Membayangkan kasus Sampang – seolah saya ada disana – menjadikan hati, akal dan pikiran saya pun merasa sangat kesakitan dan seketika hati dan pikiran saya menerawang ke penindasan agama yang masih menimpa muslim Sunni  Rohingya di Myanmar. Dan sekarang kaum Mustadh’afin (yang Teraniaya) ini pun sudah dekat di pelupuk mata – di Indonesia. 

Saya bukan penganut Syiah. Ketika kuliah saya pernah mondok di Pesantren NU, di Payaman,  Secang – Magelang. Namun perasaan walaa’ dan barra’ – Muslim itu bersaudara, jika anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh pun akan merasakan sakitnya – perasaan itu yang mengganggu hati dan pikiran saya.

Perbedaan tidak berarti perselisihan. Perbedaan dapat menjadi rahmat karena ia merupakan sumber kekayaan intelektual khazanah Islam.

Sampang, Tajul Muluk, dan NU yang Membeku

Tajul Muluk, penganut mazhab Syiah di Sampang telah dikriminalisasi karena keyakinannya adalah contoh orang kecil tertindas. Saya tidak bisa mendamaikan kemarahan dengan kesedihan saya yang mendalam atas nasibnya, tanpa menuliskannya. Bagi saya, Tajul Muluk adalah pantulan diri saya sendiri. Saya melihat diri saya pada dirinya dan nasibnya.

Simpati saya datang dari rasa kemanusiaan yang wajar, sedemikian wajarnya sehingga saya merasa perlu untuk mengurai penindasan yang dialami dengan alasan yang wajar dan mudah, mengabaikan kerumitan teknis hukum dan pasal-pasal.

Semata-mata agar orang tahu, tanpa perdebatan soal prosedur hukum dan pengadilan tiga per empat yang kerap begitu palsu, keadilan dan ketidakadilan bukanlah perkara yang rumit untuk dipahami bahkan bagi orang kebanyakan. Dan hakim atau pengadilan sering kali gagal melihat konteks-konteks sosial secara utuh sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari bangunan kesimpulan hukum.

Tajul Muluk awalnya adalah seorang santri, kemudian seorang ustad yang memimpin madrasah milik orangtuanya. Sebagaimana orangtuanya, dia menetap dan menghabiskan umurnya yang mendekati 40 tahun, sebagai warga kampung di Dusun Nangkernang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.

Selama itu, dia tak pernah terlibat kejahatan, perbuatan asusila, atau kebejatan moral yang meresahkan masyarakat. Bahkan sebaliknya, dia adalah seorang ustad yang pintar, peduli, dan secara tak terelakkan menjadi panutan di kampungnya.

Ditunjang dengan bahasa Arab yang cukup baik, bekal ilmu agama yang luas, dan kepribadian yang lembut terutama terhadap warga miskin di sekitarnya, keberadaan Tajul adalah ‘perbedaan mencolok’ bagi praktik keberagamaan yang semakin simbolis dan cenderung membeku di Sampang.

Dengan sadar saya menulis bahwa telah begitu lama tumbuh sejumlah kiai gadungan yang mengaku NU atau lebih tepatnya pedagang agama dengan simbol-simbol NU yang telah menjadikan agama dan tradisi NU yang mulia itu sebagai barang dagangan di Sampang.

Sebagian para pengaku kiai NU di Sampang itu mencekik umat bahkan yang miskin dengan tarif saat perayaan mauludan Kanjeng Nabi dan ritual-ritual tradisi NU lainnya yang sangat dihormati di Sampang.

Sehabis ritual-ritual itu, sudah umum diketahui begitu banyak warga di Sampang sering harus berutang karena tradisi menanggap kiai berceramah dari pintu ke pintu. Status dan kadar ke-NU-an perlahan-lahan dibangun di atas hubungan-hubungan selebritas agama yang menyusahkan daripada membebaskan.

Kiai-kiai NU ini tentu saja tak benar-benar layak disebut kiai kecuali karena simbol-simbol di tubuhnya. Mereka mempromosikan Islam NU yang materialistis dengan menjual tarif dan tak lagi mau berkunjung ceramah ke tempat orang-orang miskin yang jamak ada di sana. Anda tak perlu mengerahkan daya selidik yang serius untuk mengetahui realitas seperti itu.

Kiai atau tokoh agama itu kini juga lebih banyak menjual proposal agama dengan Pemda ketimbang memperjuangkan masalah sosial dan kepentingan umat yang cukup mengkhawatirkan di sana.

Jika saja pikiran orang di Sampang dibiarkan bebas tanpa membutakan diri dengan simbol dan dogma, keprihatinan-keprihatinan mendalam terhadap kebekuan beragama itu sebenarnya tidak asing di benak warga Sampang. Mereka merasakan belenggu-belenggu itu lebih banyak dari mengatakannya.

“Tetapi kok Kiai itu (Tajul) berbeda?” pikirnya, “Kalau begitu, mending saya jadi Syiah saja atau Muhammadiyah. Tak perlu harus berutang!”

Perlahan-lahan, sepak terjang keberagamaan Tajul Muluk, anak seorang kiai terpandang di Sampang, yang ramah terhadap orang miskin dan lebih mempesona dalam berdakwah, secara serius mengusik kemapanan kiai-kiai pecinta materi yang ada di Sampang, khususnya di Kecamatan Omben. Tajul Muluk adalah anti-tesa, sebuah Islam protes kepada kebekuan beragama yang menguat di sana.

Perang pengaruh yang mulanya bersifat personal telah beralih secara cepat menjadi sentimen identitas mazhab bahwa kami NU sementara Tajul Muluk itu Syiah dan (karenanya) sesat. Tentu saja sentimen primordial yang meruncing itu adalah dalih untuk membungkus alasan sesuangguhnya yang jauh lebih primordial dan memalukan: kecemburuan, ketakutan akan hilangnya pamor dan panggung dakwah para kiai. Hal-hal yang cepat atau lambat, dengan atau tanpa Tajul Muluk, sebenarnya pasti akan terjadi di Sampang.

Tajul Muluk kemudian diolah dalam desas-desus dan fitnah klise yang standar dan mengada-ada tentang Syiah sehingga kemudian Tajul tersihir sebagai musuh masyarakat. Para kiai yang kemapanannya terusik itu mendapatkan angin pembenaran lebih dahsyat lagi oleh kelompok wahabi/takfiri bernama al-Bayyinat, yang juga mendaku diri sebagai kader NU yang anehnya terang-terangan memiliki agenda organisasi dan tercermin dalam ceramah kebencian mereka yang sistematis untuk menyesatkan dan memerang Syiah, khususnya di Jawa Timur.

Persekutuan jahat itu pun makin menjadi-jadi dengan melibatkan politik daerah di Sampang yang dimainkan oleh Bupati Sampang Noer Tjahja. Bupati ini melihat peluang menjadikan kasus Tajul Muluk sebagai kasus populis yang bisa digunakannya mendulang simpati massa fanatik NU untuk memilihnya sebagai bupati untuk kali kedua. Semenjak itu, bupati ini secara aktif mengeraskan dan memobilisasi pidato kebencian terhadap Tajul Muluk dan paham Syiah.

Tajul Muluk akhirnya terusir dari rumah, kampung halamannya dan dari pengikut dan santrinya yang berjumlah lebih dari 350 orang. Tapi itu rupanya tidak cukup. Jauh di pengungsian, Tajul mendengar, rumah dirinya, madrasah, mushalla, koperasi, rumah ibunya, dll telah dibakar massa.

Kebakaran itu berbuntut pengungsian ratusan warga pengikut Syiah dan kemudian penderitaan yang tidak berkesudahan hingga sekarang, misalnya: penjarahan harta benda, pemecatan para buruh tani karena tidak mau keluar dari Syiah, dan  lainnya.

Alih-alih aktor penyuruh dan pelaku pembakaran ditangkap, dan hukum ditegakkan, yang terjadi Tajul Muluk yang sebenarnya adalah korban justru dikriminalisasi dan dihukum karena dianggap melakukan penodaan agama. Tak ada rehabilitasi rumah korban, pergantian hak warga yang dirampas atau bahkan sekadar kata maaf.
Warga Syiah dan Tajul Muluk dipersekusi haknya secara perlahan dan menyakitkan. Dalam penderitaan dan kemiskinan, anak istri Tajul Muluk, dan pengikutnya, menjalani penindasan di depan negara yang hanya bersedia menjadi penonton.

Tanpa basa-basi saya ingin mengatakan, NU yang toleran, yang katanya memiliki prinsip kemanusiaan dan keindonesiaan yang solid terbukti hanya ilusi di Sampang.
NU boleh bersilat lidah, bahwa ada oknum, tapi tampaknya apa yang disebut oknum-oknum itu telah cukup menguasai kancah politik organisasi NU di Jawa Timur, dan mungkin di daerah lain dalam waktu cepat, begitu cepatnya sehingga tak bisa dibayangkan oleh tokoh-tokoh ideologis NU sendiri.

Pada saat itu, mungkin NU bahkan akan pula segera disesatkan dan dikafirkan oleh rayap takfiri yang menempel di rumahnya sendiri yaitu si bunglon Wahabi.

Source:
Hertasning Ichlas; beritasatu.com; Kamis, 16 Agustus 2012

Saya tutup dengan pandangan Habib Rizieq mengenai Syiah dari release resmi FPI :

"KONFLIK BERDARAH Sunni - Syiah tidak boleh terjadi. Sunni harus bisa menahan diri dan Syiah harus tahu diri. Artinya, Sunni tidak boleh tunjuk hidung dengan  mengkafirkan Syiah, apalagi menggeneralisir bahwa semua Syiah kafir, tapi Sunni tetap wajib mengkafirkan aneka pemikiran yang nyata-nyata kafir dari siapa pun datangnya.”

Untuk menghibur hati yang galau dengan maraknya kyai, ustadz dan guru ngaji yang menjual Islam dan untuk mengingati kerinduan kami pada ustadz saya dulu yang mukhlis, saya kutipkan syair ini :

Dimana Ustadz kami  

Dimana ustadz kami yang selalu tersenyum dengan sorban hijau dan janggut di wajahnya?
Dimana ustadz yang dulu mengajarkan alif ba ta tsa ... hingga yak di surau kami?
Dimana ustadz yang dulu memberi tausiah iman dan Islam di langgar kampung?
Dimana ustadz yang mengajarkan etika, kesopanan akhlaqul karimah kepada kami?

Ustadz itu sudah tidak ada, saudaraku … Saya tidak sudah tidak lagi menemukan. 
Yang ada ustadz-ustadz yang menunggangi ummat untuk kepentingan pribadi.
Tidak ada lagi uluran tangan untuk kami cium sebagai hormat kami
Tidak ada lagi yang men-tartil tilawah kami
Tidak ada lagi yang menasihatkan kami untuk tegar dalam Iman dan Islam
Tidak ada lagi penjaga akhlaq kami

Yang ada adalah para ustadz dan santri yang siap menghajar kami
membubarkan tempat pengajian kami
menghancurkan rumah dan sekretariat tempat kami berkumpul dan tilawah qur'an
jumlahnya ratusan bahkan ribuan
datang dari jauh
bukan untuk mentausiahkan kami
mengajak kami mengaji
tapi menghancurkan kami
karena kami menjaga eksistensi agama Islam ini, yang dulu telah diajarkan mereka kepada kami.

Dimana ulama itu ?  Dimana MUI itu ?  Dimana Ummat Islam ???

Ketika penjara penuh dengan orang pengajian dan ustadz yang komitmen Islam
Selamat datang kemaksiatan
Selamat datang penyimpangan
Selamat datang kebebasan

READ MORE ... Monggo di-Klik

Lintasan Sejarah Habib di Indonesia

 

Kaum Alawiyyin yang menjadi himpunan besar para habib, syarif atau sayyid keturunan Rasulullah menjadikan kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur sebagai tujuan “Mahjaru Tsani” tempat hijrah yang kedua (yang pertama terjadi 3 abad sebelumnya 345H dari Bashrah ke Hadramaut).

Masuknya Alawiyin di Indonesia lewat perdagangan, pengajaran agama, perkawinan dan akhlak. Kaum Alawiyyin masuk melalui beberapa jalur:

(1) Dari Hadramaut langsung. 

(2) Hadramaut ---> India ---> Indonesia.

(3) Hadramaut –> Yunnan (Champa/kamboja + China selatan) ---> Jawa
     (seperti model dakwah Walisongo, 9 sunan mayoritas dari negeri China).

Karena akhlak mereka yang baik, banyak kalangan masyarakat Indonesia menerima agama yang dianut para keturunan Hussein itu. Sehingga mereka mau memeluk agama baru. Bahkan Islam kemudian menjadi agama resmi beberapa kerajaan, menggusur agama “impor” lain dan agama lokal.

Namun pada masa kolonialisme Barat di Asia Tenggara terjadi kemunduran dakwah. Di Indonesia. Kiprah dakwah Islam kaum Alawiyin yang sangat dicintai masyarakat menjadi batu sandungan bagi Belanda. Pemerintah kolonial pun melarang Alawiyyin menetap di pedalaman pulau Jawa, berkeluarga dengan anggota istana (beberapa Alawiyin kawin mawin dengan keluarga kerajaan tempat mereka menetap).

Sebagian kaum Alawiyyin pun migrasi ke perkampungan tertentu di bandar-bandar di tepi laut, atau mengganti nama mengambil nama keluarga Jawa agar dianggapnya orang Jawa asli, pribumi. Karena pindahnya Alawiyyin dari pedalaman ke wilayah pesisir utara, pusat ke-Islam-an pun beralih di sepanjang pantai utara Jawa, seperti ; Semarang, Surabaya, Jakarta, dan lain tempatnya. Yang tidak pindah dari pedalaman menetap di perkampungan-perkampungan yang disebut kauman.

Di beberapa daerah di Indonesia, keturunan Hussein memakai sebutan sayyid, syarif, ayib atau sidi di depan nama mereka. Selain di Indonesia, keturunan Hussein memakai Sayyid (Sayed/Syed) di depan namanya, misalnya bekas menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar atau pimpinan tertinggi Iran Sayyid Ali Khamenei.

Namun tidak semua keturunan Nabi Muhammad lewat cucunya Hussein mendapat gelar Habib. Karena orang yang mendapat gelar Habib itu, memiliki tingkat ketakwaan, kezuhudan, keilmuan dan akhlak yang mulia lebih dari orang yang lain. Boleh jadi setingkat di bawah wali. Tidak jarang, misalnya, orang datang kepada Habib minta didoakan (pesan doa melalui Shalawat Nabi), air atau keberkahan lain.

Banyak ulama terkenal Indonesia adalah keturunan Alawiyyin, yang karena ilmu dan akhlaknya dipanggil Habib, misalnya, Habib Sholeh bin Yahya dari Tanggul, Jember, Jawa Timur, Habib Abdurahman Alaydrus- luar batang, Jakarta Utara atau Ali Alhabsyi, Kwitang, Jakarta Pusat.

Sayangnya kini mulai muncul kasus habib-habib palsu, nama habib, sudah dipakai sembarang orang yang tidak pantas menggunakannya. Ada habib Hani Assegaf yang memimpin sebuah organisasi kriminal dan berlabel agama, ada juga  menggunakan gelar Habib tapi melakukan perbuatan nista.

Dan ini lagi ada pakai gelar Habib di depan namanya tetapi sesungguhnya, dia bukan keturunan Hussein. Seperti Abdullah Haris Umarella, yang terkenal dengan nama Abdurahman Assegaf yang punya pesantren besar di Parung Bogor yang bekerjasama dengan DAI TV atau lembaga amaliyah Budha, Ketua FPI Depok memakai nama Al-Ghadri atau Habib Paulus Muhammad Ali Makhrus At-Tamimi, pendeta yang mengaku bekas aktifis Front Pembela Islam (FPI) di Jawa Timur. Entah karena ingin mendapat keuntungan dari “kepatuhan” masyarakat Indonesia atau karena kurang percaya diri?

Selain Habib, makna lain yang mulia adalah Kiai. Namun penurunan makna juga terjadi pada kata Kiai. Dalam KBBI berarti alim ulama yang cerdik cendikia dalam ilmu agama ; sebutan bagi pempimpin pondok pesantren ; sebutan bagi orang-orang yang dihormati (di masyarakat Madura). Gelar kehormatan itu diberikan pada ulama pimpinan pesantren yang memiliki ribuan santri.

Namun kini sebutan kiai bisa hanya dilekatkan pada pendakwah (dai), atau pimpinan sebuah organisasi yang mengusung gaya premanisme. Gelar kiai juga dipakai untuk kelompok musik; Kiai Kanjeng atau Kiai Ganjur. Bahkan kerbau yang dikramatkan, dipanggil kiai Slamet, kotorannya, diperebutkan sebagai mendapat  berkah.

Penyalahgunaan kedua kata yang menunjukkan tempat terhormat tersebut, berakibat penurunan makna kata. Tentu saja tak mengurangi orang-orang yang memang pantas menerima gelar tersebut. Kami tetap hormat pada para habaib dan kiai yang tetap menjaga gelar kehormatan di depan namanya.

Source:
Tulisan Sayyid Abdul Kadir bin Yahya, Ketua Majelis Taklim Asmaul Husna,Desa Tegal Wangi, Kecamatan Palang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dan Ahmad Taufik beserta sedikit editing.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Habaib/Habib di Indonesia : Darimana Mereka Berasal?

 

Habib (jamak:habaib) berasal dari kata hubb. Dalam ilmu shorof (perubahan kata dan fungsinya) termasuk wazan (pola) af’alla – yuf’illu. Kata “hubb” berasal dari:

ahabbah             –     yuhibbu                        –     hubban.
(Past tenses)             (present/future tenses)         (gerunds)

Gerunds – kata-benda yang berasal dari kata-kerja dan berupa –ing forms, misalnya swimming/eating. menurut Kamus Arab Inggris Indonesia, Elias A. Elias & Edward E. Elias, Ali Al-Mascatie, (Al-Maarif, Bandung, 1983) berarti cinta atau mencintai.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka (2005), habib (“yang dicintai”) bisa digunakan sebagai panggilan yang berarti tuan, atau panggilan  lain untuk gelar sayid. Kata “sayid” berasal dari:

saadah – yasiidu – siyadah/sayid  (pimpinan yang melayani (ummat)).

Dalam KBBI, sayid berarti tuan atau sebutan untuk Keturunan Muhammad SAW. KBBI juga memperjelas dengan kata sayidani yang berarti tuan yang dua (sebutan untuk kedua cucu Nabi Muhammad, Hassan dan Hussein).

Selain 2 kata tersebut (habib dan sayid) ada kata yang tepat, syarif (syarifah untuk perempuan), dalam KBBI berarti orang yang mulia, atau sebutan bagi keturunan Rasulullah SAW melalui Hussein.

Panggilan Habib yang dilekatkan pada nama seseorang, tidak lepas dari kecintaan ummat terhadap seorang guru yang mengajarkan kebaikan dan akhlak, seperti juga gelar Kiai pada guru pesantren di jawa atau gelar Ajengan di pesantren Jawa Barat.

Gelar Habib, sesungguhnya gelar yang mulia yang dilekatkan kepada keturunan Hussein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW. Semuanya tidak lepas dari sejarah Islam. Setelah Hussein dibunuh secara kejam di Karbala, Irak, anaknya Ali Zainal Abidin, karena tekanan penguasa (khalifah), hanya bisa menjadi ahli ibadah (makanya dibelakang namanya ada gelar Abidin).

Semua khalifah ini walaupun sudah berganti dinasti selalu memusuhi keturunan Hussein, karena alasan takut pengaruh keilmuan dan ketinggian asal keturunannya. Keturunan Hussein ke-8, Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bi Husein pindah dari Basrah ke Hadramaut (Yaman). Ahmad bin Isa wafat di Hasisah (345 H) dan cucunya, yaitu Alwi bin Ubaidillah (keturunan ke-10) kemudian di-nisbath-kan pada nama kaumnya, kaum Alawiyyin di Hadramaut.

Penetapan nama Alawiyyin, menurut Tharick Chehab (1975) yang ditulis ulang oleh  Kurtubi (2007) dalam buku “Sejarah Singkat Habaib (Alawiyin) di Indonesia”, karena di Hadramaut berlaku undang-undang kesukuan, tiap keluarga harus punya nama suku. Beberapa suku terbesar di Yaman (disebut Qabili), antara lain ; Al-Katiri, At-Tamimi dan lainnya. Para Qabili ini tidak suka dan sangat membenci pendatang dari Irak keturunan Ali bin Abi-Talib dan mereka pun terdesak di wilayah tandus.

Kebencian Qabili yang ada begitu kuat, maka generasi ke-6 Alwi bin Ubaidillah (atau generasi ke-16 Husein cucu Nabi), Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam, meninggalkan mazhab Ahlul bait yang dianutnya, dan secara kompromis menerima dan memilih mazhab Syafi’i (Muhammad bin Idris as-Syafi’i Al-Quraisyi).

Setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam wafat di Tarim (653H)  keturunannya pun menyebar ke :  Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand, Filipina, Tiongkok (Cina), termasuk Indonesia. Yaitu setelah lebih dari 300 tahun tinggal di Hadramaut.

Di Indonesia, keturunan Hussein, cucu Rasulullah, masih membawa nama keluarga, karena pengaruh kehidupan di Hadramaut yang sukuisme. Sehingga kaum alawiyyin memakai nama keluarga seperti ; Al-Attas (berarti bersin/bangkis) , Assegaf (Al-saqaf- atap/langit-langit), Al-Haddad (hadid-besi/pandai besi), , Al-Habsyi (nama tempat di Afrika, habsyah), Al-Jufri, Al-Idrus dan lainnya. Secara umum mereka disebut sebagai AHLUL BAYT.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Sampaikanlah Pesan Islam Sesuai dengan Kadar Akal

 

Sering dalam membicarakan issue ajaran Islam kita disodori pertanyaan :

Haditsnya mana, ayatnya mana? Kedudukan haditsnya shohih atau tidak? Siapa perawinya? Sanad hadits-nya mana? Anda belajar dari mana?

Pertanyaan ini sangat khas di kalangan penganut Wahabi / Salafi dari yang awam sampai yang sudah senior. Sementara “ulama” Wahabi yang mengaku ahli hadits – Syaikh Nashiruddin al-Albani, ketika diminta menyebutkan 10 hadits dengan sanadnya (perawinya hingga ke Rasulullah) tidak mampu menjawab. Dan akhirnya mengaku “Saya ahli hadits kitabi” – Jelasnya si tukang reparasi arloji jam ini belajar hadits dari buku.

Pertanyaan diatas tidak selayaknya disodorkan pada muslim awam. Bahkan tidak semua pendakwah atau mubaligh atau ustadz memiliki kapasitas untuk menjawab. Silahkan tanyakan atau lakukan konfirmasi kebenaran hadits dan pemahaman tafsir Qur’an kepada ahlinya – ulama hadits dan ulama tafsir. Jangan kepada seorang muslim biasa yang menyampaikan kebenaran tentang Islam.

Apakah hanya karena dia seorang muslim biasa (awam) dan ketiadaan pengetahuan ilmu hadits dan ilmu tafsir akan menghalangi seseorang untuk menyampaikan esensi ajaran dan kebenaran Islam. Pahamilah perkataan dan nasehat agama darinya dan jika masih ragu, maka bertanyalah kepada ahlinya. Karena boleh jadi dia hanya menggugurkan kewajiban pada setiap muslim :

- Balighuu ‘anni walau ayah (Sampaikan oleh kalian walau hanya satu ayat)

- Saling nasehat menasehatilah kalian (dalam mengajarkan ajaran Islam).

Ketahuilah setiap muslim masing-masing memiliki otoritas dan kewajiban yang dituntut dan akan dia pertanggungjawabkan di akhirat sesuai dengan kapasitas dan timbangan akalnya. Setiap muslim bertanggungjawab bagaimana mengajarkan, mendidik dan memimpin keluarganya.

Kapasitas sebagai seorang muslim awam

Kewajiban seorang muslim awam adalah menyampaikan esensi kebenaran ajaran Islam sesuai dengan pemahaman maksimalnya. Misalnya, seorang jama’ah umroh dan dia ini muslim biasa (awam) menghadiri majlis ilmu seorang ulama ahli hadits di masjid Nabawi – Madinah. Dia didampingi seorang translator yang menterjemahkan perkataan ulama tersebut.

Muslim awam tersebut pun menangkap esensi dari ajaran ulama tersebut, termasuk ingatan isi kandungan hadits atau ayat al-Qur’an. Dia tidak memiliki pengetahuan tentang matan hadits, perawi dan sanadnya atau bahkan setelah sekian lama dia lupa dengan hafalan ayatnya atau nama ulama hadits dalam majlis ilmu tersebut.

Apakah hanya karena lupa atau tidak tahu ilmu kedudukan hadits tersebut dan tidak hafal ayat namun esensi ajarannya masih utuh dalam benaknya akan menghalangi seorang muslim biasa untuk menyampaikan esensi ajaran Islam kepada Istrinya, keluarganya, kerabatnya dan bahkan jama’ah pengajian di mushola lingkungannya?

Kapasitas sebagai pendakwah atau mubaligh atau ustadz

Mereka berkepentingan menghafal matan (redaksional) ayat Al-Qur’an dan hadits, memahami penafsirannya sebagaimana yang diajarkan gurunya atau ulama hadits dan ulama tafsir, kitab-kitab kuning yang ditulis ulama salaf di bidang tafsir dan hadits. Beserta asbaabul Nuzul dan asbaabul furuj. Pada tingkatan ini ustadz satu dengan ustadz-ustadz (asaatidz) pun masing-masing memiliki derajat keilmuan yang berbeda-beda.

Sebagian mereka memiliki kapasitas untuk menjawab pertanyaan alinea pertama diatas, sebagian lain barangkali tidak mampu menguraikan jawaban yang benar. Apalagi jika ia menjadi ustadz kitabi (mempelajari Islam dan mengajarkannya hanya dari buku) atau berguru tidak dalam jangka waktu lama atau hanya dari satu-dua orang guru.

Kapasitas sebagai ulama ahli hadits (Muhadits) atau ahli tafsir al-Qur’an (Mufasir)

image Mereka ini sumber ilmu Islam sejati, ibarat air berasal dari sumber yang jernih dan memiliki otoritas dan kapasitas menjaga Islam tidak tercemari oleh ajaran sesat. Mereka setia menjaga Islam yang diajarkan Rasulullah SAW, yang kemudian diwariskan ke generasi terbaik ummat Islam – Shahabat, Tabi’in, Tabi’it-Tabi’in – kemudian ke ulama pengumpul hadits (Imam Bukhori, Muslim, Ahmad etc.), imam madzab yang diakui (Imam Maliki, Hanafi, Syafi’I,Hambali etc.), ulama salaf ahli hadits dan tafsir qur’an, ulama khalaf (yang datang kemudian) yang dari generasi ke generasi menjaga dan mewariskan sanad ajaran Rasulullah SAW hingga sekarang.

Merekalah tempat sebaik-baiknya bertanya tentang ajaran Rasulullah SAW, tentang ajaran Islam. Datangilah majlis ilmunya dimanapun berada karena engkau akan mendapati pengajaran Islam dari sumber mata air yang jernih. Karena belajar Islam hanya dari buku atau bahkan internet saja boleh jadi memiliki fondasi ilmu yang rapuh atau bahkan sesat tanpa disadari.

Namun hati-hati dalam memilih guru dan majlis Ilmu, karena banyak yang sesat-menyesatkan. Sebagaimana nubuwwat Rasulullah yang memberitakan bahwa kelak mendekati kiamat banyak kesesatan di kalangan ummat. Namun Rasulullah memberi tuntunan untuk mengikuti fikroh yang dianut mayoritas ummat Islam dan lebih spesifik lagi mengikuti ulama dari kalangan jurriah keturunan Rasulullah – yaitu kalangan ahlul bait atau habaib (jamak dari kata habib).

Semoga Allah memberkati dan member hidayah kepada kita semua – Amien.

READ MORE ... Monggo di-Klik

“ANDA Putra Ali ibn Abi Tholib BUKAN PUTRA RASUL SAW!”

 

(DEBAT HARUN Al-RASYID DG IMAM MUSA KAZHIM AS)

Khalifah Harun al-Rasyid merasa sangat terganggu jika mendengar masyarakat Muslim banyak memanggil Imam Musa al-Kazhim as dengan panggilan “Ibnu Rasul” yang artinya putra Rasulullah Saw, padahal menurutnya Rasulullah Saw tidak mempunyai keturunan laki-laki, sehingga nasab Nabi Saw terputus.

Pada suatu kesempatan Harun al-Rasyid meminta Imam Musa al-Kazhim as untuk menemuinya.

Harun : “Mengapa Anda membiarkan masyarakat menasabkan diri Anda kepada Nabi Saw dan mereka memanggil Anda, “Ya Ibna Rasul – Wahai Putra Rasulullah” padahal, Anda putra Ali (bukan putra Rasul), dan seseorang hanya dinasabkan kepada ayahnya. Sementara Fatimah hanyalah wadah. Nabi Saw adalah kakek atau moyang Anda dari pihak ibu Anda.”

Imam Musa : “Kalau Nabi Saw dibangkitkan, lalu menyampaikan kemuliaan Anda kepada Anda, akankah Anda menyambutnya?”

Harun : “Subhanallah! Mengapa saya tidak menyambut beliau? Saya akan membanggakan diri di hadapan bangsa Arab dan kaum non-Arab.”

Imam : “Akan tetapi, beliau tidak mengatakannya kepada saya dan saya pun tidak ingin mendahuluinya.”

Harun : “Anda benar. Akan tetapi, mengapa Anda sering mengatakan, “Kami keturunan Nabi Saw” padahal Nabi tidak memiliki keturunan? Sebab, keturunan itu dari pihak laki-laki, bukan dari pihak perempuan. Anda dilahirkan oleh putri Nabi (Fathimah). Karena itu beritahukan kepada saya argumen Anda dalam masalah ini, wahai putra Ali. Anda boleh menegaskannya kepada saya dengan dalil Kitab Allah.

Anda, wahai putra Ali, mengaku bahwa tidak turun dari kalian sedikit pun dari Kitab Allah itu, baik alif maupun wawu melainkan memiliki penakwilannya. Kalian berargumen dengan firman-Nya ‘Azza wa Jalla, “Tidaklah Kami alfakan sesuatu pun di dalam al-Kitab.” (QS al-An’am [6]: 38). Jadi, kalian tidak lagi memerlukan pendapat dan qiyas dari ulama lain.”

Imam : “Izinkanlah saya untuk menjawab.”

Harun : “Silahkan”

Imam : “Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) setan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Dan dari keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Isa, dan Ilyas semuanya termasuk orang-orang yang shalih.” (QS al-An’am [6]: 84-85). Lalu, siapa ayah Nabi Isa?

Harun : “Isa tidak memiliki ayah.”

Imam : “Tetapi, mengapa Allah Azza wa Jalla menisbatkannya kepada keturunan para nabi melalui ibunya, Maryam as? Maka demikian pula kami (Ahlul-Bayt) dinisbatkan kepada keturunan Nabi Saw melalui ibu kami, Fathimah as! Maukah saya tambahkan penjelasannya?”

Harun: “Tentu!”

Imam : “Allah SWT berfirman, “Siapa yang membantahmu tentang kisah `Isa sesudah datang pengetahuan yang meyakinkanmu maka katakanlah (kepadanya), “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan kami dan perempuan kamu, diri kami dan diri kamu. Kemudian marilah kita ber-mubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.” (QS Ali Imran [3]: 61). Tidak seorangpun mengaku bahwa ia disertakan Nabi Saw ke dalam jubah (al-kisa) ketika bermubahalah dengan kaum Nasrani kecuali Ali bin Abi Thalib as, Fatimah as, al-Hasan as, dan al-Husain as. Seluruh kaum Muslim sepakat bahwa maksud dari kalimat abna’ana (anak-anak kami) di dalam ayat mulia tersebut adalah Hasan dan Husain as, dan maksud nisa’ana (perempuan kami) adalah Fathimah al-Zahra as dan maksud kata anfusana (diri kami) adalah Ali bin Abi Thalib as.”

Harun : “Anda benar, wahai Musa!”
________________________________

READ MORE ... Monggo di-Klik
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

.

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website
Webmaster Toolkit - free webmaster tools
Google PageRank Checker

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?