<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>
Tampilkan postingan dengan label KEMULIAAN ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEMULIAAN ISLAM. Tampilkan semua postingan

Usia 5 tahun Syarifuddin Khalifah mengislamkan Ribuan Orang

 

image

Kisah nyata ini terjadi di Distrik Pumwani, Kenya, tahun 1998. Ribuan orang telah berkumpul di lapangan, untuk melihat bocah ajaib, Syarifuddin Khalifah. Usianya baru lima tahun, tetapi namanya telah menjadi buah bibir karena pada usia itu ia telah menguasai lima bahasa. Oleh umat Islam Afrika, Syarifuddin dijuluki Miracle Kid of East Africa.
Perjalanannya ke Kenya saat itu merupakan bagian dari rangkaian safari dakwah ke luar negeri. Sebelum itu, ia telah berdakwah ke hampir seluruh kota di negaranya, Tanzania. Masyarakat Kenya mengetahui keajaiban Syarifuddin dari mulut ke mulut. Tetapi tidak sedikit juga yang telah menyaksikan bocah ajaib itu lewat Youtube.
Orang-orang agaknya tak sabar menanti. Mereka melihat-lihat dan menyelidik apakah mobil yang datang membawa Syarifuddin Khalifah. Beberapa waktu kemudian, Syeikh kecil yang mereka nantikan akhirnya tiba. Ia datang dengan pengawalan ketat layaknya seorang presiden.
Ribuan orang yang menanti Syarifuddin Khalifah rupanya bukan hanya orang Muslim. Tak sedikit orang-orang Kristen yang ikut hadir karena rasa penasaran mereka. Mungkin juga karena mereka mendengar bahwa bocah ajaib itu dilahirkan dari kelarga Katolik, tetapi hafal Qur’an pada usia 1,5 tahun. Mereka ingin melihat Syarifuddin Khalifah secara langsung!
Ditemani Haji Maroulin, Syarifuddin menuju tenda yang sudah disiapkan. Luapan kegembiraan masyarakat Kenya tampak jelas dari antusiasme mereka menyambut Syarifuddin. Wajar jika anak sekecil itu memiliki wajah yang manis. Tetapi bukan hanya manis. Ada kewibawaan dan ketenangan yang membuat orang-orang Kenya takjub dengannya. Mengalahkan kedewasaan orang diwasa.
Kinilah saatnya Syeikh cilik itu memberikan taushiyah. Tangannya yang dari tadi memainkan jari-jarinya, berhenti saat namanya disebut. Ia bangkit dari kursi menuju podium.
Setelah salam, ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Bahasa Arabnya sangat fasih, diakui oleh para ulama yang hadir pada kesempatan itu. Hadirin benar-benar takjub. Bukan hanya kagum dengan kemampuannya berceramah, tetapi juga isi ceramahnya membuka mata hati orang-orang Kristen yang hadir pada saat itu. Ada seberkas cahaya hidayah yang masuk dan menelusup ke jantung nurani mereka. Selain pandai menggunakan ayat Al Qur’an, sesekali Syarifuddin juga mengutip kitab suci agama lain. Membuat pendengarnya terbawa untuk memeriksa kembali kebenaran teks ajaran dan keyakinannya selama ini.
Begitu ceramah usai, orang-orang Kristen mengajak dialog bocah ajaib itu. Syarifuddin melayani mereka dengan baik. Mereka bertanya tentang Islam, Kristen, dan kitab-kitab terdahulu. Sang Syeikh kecil mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dan itulah momen-momen hidayah. Ratusan pemeluk Kristiani yang telah berkumpul di sekitar Syarifuddin mengucapkan syahadat. Menyalamai tangan salah seorang perwakilan mereka, Syarifuddin menuntun syahadat dan mereka menirukan: “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.”
Syahadat agak terbata-bata. Tetapi hidayah telah membawa iman. Mata dan pipi pun menjadi saksi, air mata mulai berlinang oleh luapan kegembiraan. Menjalani hidup baru dalam Islam. Takbir dari ribuan kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu terdengar membahana di bumi Kenya.
Bukan kali itu saja, orang-orang Kristen masuk Islam melalui perantaraan bocah ajaib Syarifuddin Khalifah. Di Tanzania, Libya, dan negara lainnya kisah nyata itu juga terjadi. Jika dijumlah, melalui dakwah Syarifuddin Khalifah, ribuan orang telah masuk Islam. Ajaibnya, itu terjadi ketika usia Syeikh kecil itu masih lima tahun. [Disarikan Abu Nida dari “Buku Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang”]

[Source]

READ MORE ... Monggo di-Klik

Amazing Romance Story : Kisah cinta seorang wanita mualaf Rusia

 

Sebermula … Ia seorang gadis Rusia, berasal dari keluarga penganut Katholik ortodox Rusia dan sangat fanatik. Salah seorang pedagang Rusia menawarinya untuk pergi bersama dengan sekelompok gadis ke negara teluk untuk membeli alat-alat elektronik yang kemudian akan dijual di Rusia. Demikianlah awal kesepakatan antara pedagang dengan mereka.

image

Ketika mereka telah sampai di negara  di Teluk, laki-laki itu mulai menampakkan taringnya dan mengungkapkan niat jahatnya. Ia menawarkan kepada gadis-gadis tersebut profesi tercela dunia PROSTITUSI. Ia mulai merayu dengan kelimpahan harta dan hubungan luas, sampai mereka terpedaya dan akhirnya menerima idenya, kecuali wanita satu ini. Ia nashrani sangat fanatik sehingga ia menolak.

Laki-laki itu menertawakannya seraya berkata,

“Engkau di negeri ini tersia-sia, engkau tidak memiliki apapun selain pakaian yang engkau pakai … dan aku tidak akan memberikan apapun kepadamu”.

Ia mulai menekannya, ia tempatkan wanita itu di sebuah flat bersama gadis-gadis lain dan ia sembunyikan paspor mereka. Gadis-gadis lain tidak mampu mempertahankan prinsipnya, mereka larut bersama arus … sementara ia tetap teguh menjaga kesuciannya. Setiap hari ia selalu mendesak laki-laki itu untuk menyerahkan paspor atau memulangkan dirinya ke negeri asalnya. Tetapi laki-laki itu menolak. Pada suatu hari ia berusaha mencari paspornya di flat. Setelah susah payah mencari akhirnya ia temukan. Langsung saja ia ambil paspor dan kabur.

Ia keluar menuju ke jalan raya, sementara ia tidak punya apa-apa selain pakaian yang dikenakan. Ia kebingungan, ia orang asing yang tidak tahu kemana harus pergi, tak ada keluarga, tak ada hubungan, tak ada harta, tak ada makanan dan tak ada tempat tinggal. Wanita lemah itu benar-benar kebingungan, menoleh ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba ia melihat seorang pemuda sedang berjalan bersama tiga orang wanita, ia merasa tentram dengan penampilannya.

Ia menghampirinya dan mulai berbicara dengan bahasa Rusia.Pemuda itu minta maaf karena ia tidak paham bahasa Rusia. Wanita itu berkata, “Apakah kalian bisa berbicara bahasa Inggris”. Mereka menjawab, “Ya, bisa.” Wanita itu menangis karena gembira, lalu berkata, “Aku seorang wanita dari Rusia, kisahku begini (ia menuturkan kisahnya), aku tidak punya harta dan tempat tinggal, aku ingin pulang ke negeriku, yang aku inginkan dari kalian hanyalah sekedar mau menampungku dua atau tiga hari agar aku dapat mengatur urusanku bersama keluargaku dan saudara-saudaraku di negeriku.”

Pemuda yang bernama Khalid itu merenungkan kata-katanya, ia berfikir boleh jadi wanita ini menipu! Sementara wanita itu melihat kepadanya dan menangis. Lalu Khalid bermusyawarah dengan ibu dan kedua saudara perempuannya.

Akhirnya mereka sepakat membawanya ke rumah. Ia mulai menghubungi keluarganya di Rusia, akan tetapi tidak ada yang menjawab. Jaringan telepon terputus di negeri itu! Padahal ia sudah mengulang-ulang menelpon setiap jam.

Keluarga itu tahu bahwa wanita itu seorang Kristen. Mereka berusaha untuk berlemah lembut dan santun kepadanya. Wanita itu mencintai mereka dan mereka mengajaknya untuk memeluk Islam. Akan tetapi ia menolak dan tidak ingin berpindah agama, bahkan tidak bersedia sekedar untuk diskusi tentang masalah agama sama sekali, karena ia dari keluarga ortodox yang sangat fanatik membenci Islam dan kaum muslimin!

Khalid pergi ke Pusat Islam dan Dakwah (Islamic Center) lalu membawakan untuknya beberapa buku tentang Islam berbahasa Rusia. Wanita itu membacanya dengan seksama. Setelah membaca buku-buku tersebut ia mulai bisa memahami tentang Islam. Pada akhirnya ia terkesan dan kagum dengan Islam yang baru ia kenal. Hari-hari terus berlalu sementara mereka terus berusaha meyakinkannya hingga akhirnya dia masuk Islam. Semakin hari keislamannya semakin baik. Ia mulai menaruh perhatian terhadap ajaran Islam dan semangat untuk bergaul dengan wanita-wanita shalihah. Setelah memeluk Islam ia takut kembali ke negerinya karena khawatir kembali ke agama Kristen.

Pernikahan

Karena ia telah menjadi seorang wanita yang muslimah maka akhirnya Khalid pun menikahinya. Ternyata ia lebih teguh dalam memegang dien daripada kebanyakan wanita-wanita muslimah lainnya. Pada suatu hari ia pergi bersama suaminya ke pasar, di sana ia melihat seorang wanita bercadar. Ini adalah untuk pertama kalinya ia melihat seorang wanita berjilbab yang menutupi wajahnya (bercadar). Seorang wanita berjilbab dengan sempurna, ia merasa heran dengan bentuk pakaian tersebut!! Ia berkata kepada suaminya , “Khalid, kenapa wanita itu berpakaian seperti itu? Mungkin wanita itu tertimpa penyakit yang membuat rusak wajahnya sehingga ia menutupinya?”

Khalid menjawab, “Tidak, wanita itu berhijab dengan hijab yang diridhoi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk hamba-hamba-Nya dan yang diperintahkan oleh Rasul-Nya.” Ia terdiam sebentar kemudian berkata, “Ya, benar, ini adalah hijab yang islami, yang dikehendaki oleh Allah untuk kita.”

Khalid berkata, “Dari mana engkau tahu?” Ia menjawab, “Aku sekarang merasakan, jika aku masuk ke pertokoan, mata-mata para pemilik toko itu tidak lepas dari wajahku! Seakan-akan mereka mau menelan wajahku sepotong-sepotong!! Kalau begitu wajahku ini harus ditutup, tidak boleh ada yang melihatnya selain suamiku saja, kalau begitu aku tidak akan keluar dari pasar ini kecuali dengan hijab seperti itu. Di mana kita bisa membelinya?”. Khalid berkata, “Tetaplah terus dengan hijabmu ini, seperti ibu dan saudara-saudara perempuanku.” Ia menjawab, “Tidak, aku ingin hijab seperti yang diinginkan Allah.”

Hari-hari terus berlalu atas wanita ini sementara tidak ada yang bertambah kecuali keimanannya. Orang-orang yang ada di sekelilingnya menyukainya, hati dan perasaan Khalid pun terkuasai olehnya.

Pada suatu hari ia melihat paspornya, ternyata hampir habis masa berlakunya dan harus segera diperpanjang. Yang paling sulit adalah paspor itu harus diperpanjang di kota tempat dulu ia tinggal. Jadi mesti pergi ke Rusia. Jika tidak, maka ia akan dianggap pendatang gelap. Khalid memutuskan untuk pergi bersamanya, karena wanita itu tidak mau bepergian tanpa disertai mahram.

Mereka berdua naik pesawat jawatan penerbangan Rusia (Russian Air Lines) sementara wanita itu tetap dengan hijabnya yang sempurna!! Ia duduk di samping suaminya dengan mantap dan penuh kewibawaan. Khalid berkata kepadanya, “Aku khawatir kita menemui kesulitan-kesulitan karena hijabmu ini.” Ia menjawab, “Subhanallah! engkau ingin agar aku mentaati orang-orang kafir tersebut dan mendurhakai Allah? Tidak, demi Allah, terserah mereka mau ngomong apa.”

Orang-orang mulai memandanginya. Dan para pramugari mulai membagi-bagikan makanan dan khamr (bir) kepada para penumpang. Tak lama kemudian khamr mulai beraksi di kepala mereka, kata-kata kasar mulai bermunculan dari orang-orang di sekelilingnya yang diarahkan kepadanya. Ada yang membuat lelucon (humor), ada yang tertawa, ada juga yang mengolok-olok. Mereka berdiri di samping wanita itu dan mengomentari dirinya. Sementara Khalid melihat ke arah mereka tanpa memahami ucapan mereka sedikitpun. Adapun wanita itu tersenyum dan tertawa serta menerjemahkan omongan mereka kepadanya. Sang suami marah, tetapi wanita itu berkata, “Jangan, jangan engkau bersedih, jangan merasa sempit dada, ini perkara kecil dibandingkan ujian dan cobaan iman yang dialami oleh para sahabat Nabi, baik yang laki-laki maupun perempuan.” Wanita itu bersabar, demikian juga sang suami, hingga pesawat itu mendarat.

Di Rusia

Khalid berkata, “Ketika kami turun di bandara, aku menyangka bahwa kami akan pergi ke rumah keluarganya dan tinggal di sana, setelah itu akan menyelesaikan pengurusan perpanjangan paspor kemudian pulang. Akan tetapi pandangan istriku ternyata cukup jauh.”Wanita itu berkata, “Keluargaku masih menganut kristen ortodox semua, mereka fanatik dengan agamanya. Oleh karena itu aku tidak ingin ke sana sekarang! Tetapi kita akan menyewa sebuah kamar di satu tempat dan tinggal di sana lalu mengurus perpanjangan paspor. Nanti sebelum pulang, kita berkunjung ke rumah keluargaku.”

Khalid setuju usulan bagus itu. Kami menyewa sebuah kamar dan bermalam di situ. Keesokan harinya kami pergi ke kantor bagian pengurusan paspor. Kami menemui petugas dan ia meminta agar kami menyerahkan paspor lama berikut foto pemiliknya. Istriku menyerahkan pas fotonya hitam putih.

Petugas berkata, “Foto ini menyalahi aturan, kami minta foto berwarna, dan terlihat di situ wajah, rambut dan leher dengan sempurna!!” Istriku menolak menyerahkan selain foto itu. Kami pergi ke petugas kedua lalu petugas lainnya lagi, akan tetapi mereka semua minta foto tidak berjilbab, sementara istriku berkata,

“Tidak mungkin aku berikan kepada mereka foto yang tabarruj (terbuka auratnya) selama-lamanya.”

Para petugas itu menolak melayani permintaan kami. Kemudian kami menuju ke pimpinan utama mereka yang perempuan.

Istriku berusaha semampunya meyakinkan pimpinan itu agar mau menerima foto tersebut. Akan tetapi ditolak. Istriku mulai mendesak seraya berkata, “Apakah tidak engkau lihat rupaku yang sebenarnya lalu engkau bandingkan dengan yang ada di foto itu? Yang penting wajah terlihat, adapun rambut bisa saja berubah. Bukankah foto ini sudah cukup?!”Pimpinan itu tetap bersikeras bahwa aturan tidak membolehkan foto seperti itu. Maka istriku berkata,

“Saya tidak akan menyerahkan selain foto-foto ini, adakah solusinya?” Si pimpinan berkata, “Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah ini kecuali direktur utama di kantor pusat pengurusan paspor di Moskow.” Kami keluar dari kantor tersebut.

Ia menoleh kepadaku seraya berkata, “Wahai Khalid, kita akan pergi ke Moskow.” Ketika itu aku berkata kepadanya,

“Sudahlah, serahkan saja foto yang mereka minta, bukankah Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya? Bertakwalah kepada Allah semampumu. Dan ini sesuatu yang darurat, sementara paspor itu tidak akan dilihat kecuali oleh segelintir orang, itupun untuk sesuatu yang darurat, kemudian setelah itu engkau sembunyikan di rumah sampai habis masa berlakunya. Lepaskan dirimu dari kesulitan-kesulitan ini, kita tidak perlu pergi ke Moskow.”

Ia menjawab, “Tidak, tidak mungkin aku tampil dengan bentuk yang tabarruj (membuka aurat) setelah aku mengenal agama Allah ini.”

Di Moskow

Ia mendesakku, akhirnya kami pergi ke Moskow, lalu menyewa sebuah kamar. Keesokan harinya kami pergi ke kantor pusat pengurusan paspor. Kami menemui petugas pertama, kedua dan ketiga. Pada akhirnya kami terpaksa menghadap direktur utama.

Kami menemuinya, ternyata ia termasuk orang paling buruk akhlaknya! Ketika ia melihat paspor, ia membolak-balik foto-foto kemudian mengarahkan pandangan ke istriku, seraya berkata, “Siapa yang bisa membuktikan kepadaku bahwa engkau adalah pemilik foto-foto ini?” Ia ingin agar istriku membuka wajahnya agar dapat melihatnya. Istriku berkata kepadanya, “Katakan saja kepada salah seorang pegawai wanita yang ada di sini atau sekretaris wanita untuk menemuiku lalu aku bersedia membuka wajahku untuknya, sehingga ia dapat mencocokkan foto-foto itu. Adapun engkau maka tidak akan bisa mencocokkannya, aku tidak akan membuka wajahku untukmu.”

Orang itu marah lalu mengambil paspor lama dan foto-fotonya berikut berkas-berkas lainnya kemudian dijadikan satu dan dilemparkan ke laci meja pribadinya. Ia berkata kepada istriku, “Engkau tidak akan bisa memperoleh paspor yang lama ataupun yang baru kecuali jika engkau serahkan kepadaku foto-foto yang benar-benar cocok dan kami bisa mencocokkannya denganmu.”Istriku mulai berbicara kepadanya dan berusaha untuk meyakinkannya. Kedua orang itu berbicara dengan bahasa Rusia, sementara aku memandangi keduanya tanpa faham sedikitpun pembicaraan mereka.

Aku marah … tetapi aku tak dapat berbuat apa-apa, sementara orang itu mengulang-ulang, “Engkau harus mendatangkan foto-foto yang sesuai dengan syarat-syarat kami.”

Istriku tetap berusaha meyakinkannya… tetapi tanpa hasil! Akhirnya ia diam dan berdiri, aku menoleh kepadanya dan mengulangi perkataanku sebelumnya, “Wahai istriku yang terhormat, Allah tidak akan memberikan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, dan kita dalam keadaan darurat, sampai kapan kita berkeliling di kantor-kantor pengurusan paspor?”Dia menjawab,

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia adakan baginya jalan keluar dan Dia karuniakan kepadanya rizki dari arah yang tidak diduga-duga.”

Perdebatan antara aku dengannya semakin sengit, direktur pengurusan paspor itupun marah dan kami diusir dari kantornya. Kami keluar sambil menyeret langkah kami, perasaanku antara kasihan dan marah kepada istriku. Kami pun pergi untuk saling mempelajari perkara ini di kamar kami. Aku berusaha untuk meyakinkannya, akan tetapi ia tetap bersungguh-sungguh meyakinkanku, sampai larut malam. Kami pun shalat Isya’. Fikiranku tetap risau dengan musibah ini, kemudian kami makan malam seadanya lalu aku letakkan kepalaku untuk tidur.

Bagaimana engkau bisa tidur?

Ketika ia melihatku seperti itu, wajahnya berubah lalu menoleh kepadaku seraya berkata, “Khalid, engkau akan tidur?!” Aku menjawab, “Ya, apakah engkau tidak merasa capek?!”Ia berkata, “Subhanallah, dalam kondisi yang sulit ini engkau bisa tidur?! Kita sedang melewati saat-saat yang kita harus lari kepada Allah, bangun dan mohonlah kepada Allah dengan sungguh-sungguh, karena ini adalah waktu untuk memohon.”

Aku pun bangun dan shalat sesuai dengan yang Allah kehendaki untukku, kemudian aku tidur, adapun dia tetap berdiri untuk shalat dan shalat, setiap kali aku terbangun dan melihatnya, aku dapati dia masih dalam keadaan ruku’ atau sujud atau berdiri atau berdoa atau menangis, sampai terbit fajar. Ia membangunkanku seraya berkata,

“Telah masuk waktu fajar, mari kita shalat berjam’ah.”

Aku pun bangun, berwudhu’ dan shalat berjama’ah, Lalu ia tidur sejenak. Setelah matahari terbit ia terbangun seraya berkata, “Mari kita pergi ke kantor pengurusan paspor!!”Aku berkata, “Kita pergi ke kantor pengurusan paspor lagi?! Dengan argumen apa?! Mana foto-fotonya, kita masih belum punya foto itu!!”

Ia berkata, “Marilah kita pergi dan berusaha, jangan putus asa dari rahmat Allah.” Kami pun pergi. Demi Allah, ketika kaki-kaki kami menginjak lantai ruang pertama kantor pengurusan paspor tersebut dan mereka melihat istriku -yang sudah mereka ketahui sebelumnya- dengan hijabnya itu, tiba-tiba salah seorang petugas memanggil, ”Engkau Fulanah?”Istriku menjawab, “Ya, benar!” Petugas itu berkata, “Ambillah paspormu.” Ternyata paspor itu telah beres, lengkap dengan fotonya yang berjilbab. Aku sangat gembira, lalu ia menoleh seraya berkata,

“Bukankah telah aku katakan kepadamu, barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia adakan baginya jalan keluar.”

Tatkala kami ingin keluar, petugas itu berkata, “Kalian harus kembali ke kota yang kalian datangi pertamakali agar paspor Anda distempel di sana.” Kami kembali ke kota yang pertama. Dalam hatiku berkata, ini  kesempatan mengunjungi keluarganya sebelum kami meninggalkan Rusia. Akhirnya kami sampai di kota keluarganya. Kami menyewa sebuah kamar kemudian kami menstempel paspor tersebut.

Perjalanan penuh seksa

Kami kunjungi keluarganya. Rumah itu tampak kuno dan sederhana. Nampak jelas ada tanda-tanda kemiskinan. Kami mengetuk pintu rumah dan yang membukakan pintu adalah kakak laki-lakinya tertua, ia seorang pemuda yang kekar otot-ototnya. Istriku gembira bertemu dengan kakaknya, ia membuka wajahnya dan tersenyum serta mengucapkan selamat berjumpa! Adapun sang kakak -ketika pertama kali melihat adiknya- wajahnya terlihat gembira dengan kepulangannya yang selamat tapi bercampur heran karena pakaiannya yang hitam.

Istriku masuk sambil tersenyum dan memeluk saudaranya. Aku pun ikut masuk di belakangnya dan duduk di ruang tamu, duduk seorang diri. Adapun dia, terus masuk ke dalam rumah. Aku mendengar mereka berbicara dengan bahasa Rusia. Aku tidak faham sama-sekali, tetapi aku perhatikan nada suara mereka semakin meninggi dan keras!! Logatnya pun berubah!! Teriakan mulai meninggi!!… Tiba-tiba mereka semua meneriaki istriku, sementara ia membela diri dan menyanggah. Aku merasa ada hal yang tidak baik dalam urusan ini, tetapi aku tidak bisa memastikannya karena aku tidak faham sedikitpun pembicaraan mereka.

Tiba-tiba suara mereka semakin mendekat ke ruangan tamu –dimana aku berada di situ- kemudian keluarlah tiga orang pemuda dipimpin oleh seorang yang agak tua menemuiku. Pada mulanya aku menduga bahwa mereka akan menyambut kedatangan suami dari anak mereka! Ternyata mereka menyerangku seperti binatang buas. Tiba-tiba sambutan berubah menjadi pukulan-pukulan dan tamparan-tamparan!! Aku berusaha untuk membela diri dari serangan mereka, aku berteriak dan minta tolong, hingga habis kekuatanku. Aku merasa di rumah inilah akhir hidupku.

Mereka semakin menghujaniku dengan pukulan-pukulan. Sementara itu aku berusaha menoleh ke sekitarku, aku berusaha mengingat-ingat dari pintu mana aku tadi masuk supaya aku bisa keluar. Ketika aku melihat pintu, aku segera bangkit membuka pintu dan kabur. Sementara mereka mengejar di belakangku. Aku masuk di tengah kerumunan orang hingga tersembunyi dari mereka.

Kemudian aku menuju ke kamarku yang kebetulan tidak jauh dari rumah itu. Aku berdiri membersihkan darah dari wajah dan mulutku. Aku melihat diriku, ternyata pukulan dan tamparan-tamparan itu meninggalkan bekas pada kening, pipi dan hidungku. Darah mengalir dari mulutku, pakaianku robek. Aku memuji Allah yang telah menyelamatkanku dari binatang-binatang buas tersebut. Tetapi aku berkata dalam hati, “Aku telah selamat, tetapi bagaimana dengan istriku?!” Wajahnya terbayang-bayang di hadapanku, apakah ia juga menerima pukulan dan tamparan sepertiku? Laki-laki saja hampir-hampir tak sanggup menghadapinya… sementara ia adalah seorang wanita, apakah ia mampu menanggungnya?! Aku khawatir wanita yang lemah itu roboh…

Inikah saatnya perpisahan…??

Syetan mulai bekerja dan membisikkan kepadaku, “Ia akan murtad dari agamanya dan kembali menjadi Kristen, lalu engkau akan kembali ke negerimu seorang diri.” Aku jadi bingung, apa yang harus aku perbuat? Di negeri ini, kemana aku harus pergi, apa yang mesti aku lakukan? Nyawa di negeri ini murah, engkau bisa menyewa seseorang untuk membunuh orang lain hanya dengan sepuluh dollar!! Uuuh … bagaimana kalau keluarga istriku menyiksanya lalu ia menunjukkan kepada mereka tempatku, kemudian mereka mengutus seseorang untuk membunuhku di kegelapan malam…?

Aku kunci kamar, aku tetap merasa takut dan cemas sampai pagi. Kemudian aku berganti pakaian lalu pergi untuk mencari-cari informasi, aku lihat rumah mereka dari kejauhan, aku mengawasinya dan mengikuti apa yang terjadi di situ. Akan tetapi pintunya tertutup. Aku terus menunggu. Tiba-tiba pintu terbuka dan keluarlah tiga orang pemuda dan seorang tua yang telah menyiksaku. Dari penampilannya nampaknya mereka akan pergi ke tempat kerja. Pintu pun tertutup dan terkunci kembali. Aku tetap mengawasi dan mengintai. Berharap dapat melihat wajah istriku, akan tidak berhasil.

Aku terus mengawasinya sampai berjam-jam. Kemudian para laki-laki yang pergi itu kembali dari pekerjaan mereka dan memasuki rumah mereka. Aku merasa lelah, lalu kembali ke kamarku. Pada hari kedua, aku pergi mengawasi kembali. Akan tetapi aku tidak melihat istriku. Pada hari ketiga pun sama. Aku sudah putus asa akan kehidupannya, aku menduga ia sudah mati karena kerasnya siksaan atau dibunuh! Akan tetapi seandainya ia telah mati tentu paling tidak akan terlihat kesibukan di rumah itu, akan ada yang datang untuk berta’ziah (melayat) atau menjenguk. Akan tetapi ketika aku tidak melihat sesuatu yang aneh. Akhirnya aku meyakinkan diriku bahwa ia masih hidup dan kesempatan bertemu kembali masih ada.

Pertemuan

Pada hari yang keempat, aku tidak sabar untuk duduk di kamarku, lalu aku pergi untuk mengawasi rumah mereka dari kejauhan. Ketika para pemuda itu pergi bersama ayah mereka ke tempat kerjanya seperti biasa, sementara aku tetap mengawasi dan berharap, tiba-tiba pintu terbuka… dan ternyata wajah istriku terlihat dari balik pintu.

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, aku melihat ke wajahnya, ternyata penuh dengan lingkaran-lingkaran merah dan bekas-bekas pukulan yang membiru, karena banyaknya pukulan dan tamparan. Pakaiannya bersimbah darah. Aku merasa cemas dan iba ketika melihat penampilannya. Aku segera menghampirinya. Aku melihatnya semakin jelas, ternyata darah mengalir dari luka-luka di wajahnya. Kedua tangan dan kakinya pun mengalirkan darah. Pakaiannya robek-robek, tidak tersisa kecuali secarik kain sederhana yang menutupinya. Kedua kakinya terikat dengan belenggu!! Kedua tangannya pun diikat ke belakang dengan rantai. Tatkala aku melihatnya seperti itu aku menangis. Aku tidak dapat menguasai diriku, aku panggil ia dari kejauhan…

Keteguhan

Istriku berkata kepadaku sambil menahan air matanya dan merintih karena pedihnya siksaan, “Dengarkan wahai Khalid, jangan engkau mencemaskan diriku, aku tetap teguh di atas perjanjian. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, apa yang aku temui sekarang ini tidak sebanding seujung rambut pun dengan apa yang ditemui oleh para sahabat dan tabi’in, apalagi para Nabi dan Rasul. Dan aku mengharap agar engkau tidak ikut campur dalam urusan antara aku dan keluargaku, dan pergilah cepat-cepat sekarang juga serta tunggulah di kamar sampai aku datang, insya Allah, akan tetapi perbanyaklah doa, qiyamullail dan shalat.”

Aku pun pergi dari sisinya sementara aku merasa sangat iba dan sedih atas dirinya, aku tinggal di kamarku sehari penuh menunggunya, aku mengharapkan kedatangannya. Hari berikutnya pun lewat. Hari ketiga juga berlalu, sampai malam telah larut, tiba-tiba pintu kamarku diketuk! Aku terkejut… siapakah gerangan yang di balik pintu?! Siapa yang mengetuk itu? Akan merasa sangat takut, siapa yang datang pada tengah malam begini? Boleh jadi keluarganya telah mengetahui tempatku, atau boleh jadi istriku telah mengaku lalu keluarganya datang untuk membunuhku. Aku ditimpa ketakutan seperti mau mati, tidak ada jarak antara aku dengan kematian kecuali seujung rambut. Aku bertanya dengan mengulang-ulang, “Siapa yang mengetuk pintu itu?”

Tiba-tiba terdengar suara istriku berkata dengan penuh kelembutan, “Bukalah pintu, aku Fulanah.” Kemudian aku nyalakan lampu kamar dan aku buka pintu. Ia masuk dalam keadaan gemetar dan kondisi yang mengenaskan, sementara luka-luka disekujur tubuhnya. Ia berkata, “Cepat kita pergi sekarang!” Aku berkata, “Sementara keadaanmu seperti ini?!” Ia menjawab, “Ya, cepatlah.” Aku mulai membereskan pakaianku sementara ia mengambil kopernya, ia mengganti pakaiannya dan mengeluarkan hijab dan ‘aba’ah (mantel luar) nya lalu dipakainya. Kami segera mengambil semua barang-barang kami lalu turun dan naik taksi. Wanita yang lemah itu menghempaskan tubuhnya yang lapar dan penuh luka itu ke kursi mobil…

Ke Bandara

Begitu aku naik taksi, aku langsung berkata kepada sopir dengan bahasa Rusia, “Ke bandara pak!” Aku memang sudah mengetahui beberapa kata dalam bahasa Rusia. Tetapi istriku berkata, “Tidak, kita tidak akan pergi ke bandara, tetapi kita akan pergi ke suatu desa.”Aku bertanya, “Kenapa? Bukankah kita akan kabur?!” Ia menjawab, “Benar, akan tetapi jika keluargaku tahu akan kepergianku mereka pasti akan segera mencari kita di bandara. Kita pergi saja ke suatu desa, jika kita telah sampai di desa tersebut kita akan turun, lalu naik mobil lain ke desa yang lainnya, kemudian ke desa lainnya, kemudian ke sebuah kota lain yang di situ ada bandara internasional.”

Ketika kami telah sampai di bandara internasional, kami segera memesan tiket untuk pulang ke negeri kami, akan tetapi pemesanan terlambat, lalu kami menyewa sebuah kamar dan tinggal di situ. Tatkala kami sudah merasa tenang tinggal di kamar, istriku melepas aba’ah (mantel luar) nya. Aku melihat kepadanya, ya Allah … ternyata tidak ada satu tempat pun yang selamat dari darah!! Kulitnya tercabik, darah-darah yang membeku, rambut yang terpotong-potong dan bibir yang membiru …

Kisah menakutkan

Aku bertanya kepadanya, “Apa yang telah terjadi?.” Ia menjawab, “Ketika kita telah masuk ke rumah, aku duduk bersama keluargaku, lalu mereka berkata kepadaku, ‘Pakaian apa ini?!! Aku menjawab, ‘Ini adalah pakaian Islam.’ Mereka berkata, ‘Dan siapakah laki-laki itu?!’ Aku menjawab, ‘Dia suamiku, aku telah masuk Islam dan menikah dengan laki-laki tersebut.’ Mereka berkata, ‘Tidak mungkin ini terjadi!’”

Kemudian aku berkata, “Dengarkanlah dulu ceritaku.” Lalu aku ceritakan kepada mereka kisah laki-laki Rusia yang ingin menarikku ke lembah prostitusi, lalu bagaimana aku bisa lari darinya, kemudian pertemuanku denganmu. Mereka berkata, “Seandainya engkau menempuh jalan prostitusi tentu lebih kami sukai daripada engkau datang kepada kami sebagai muslimah.” Mereka juga berkata kepadaku, “Sekali-kali engkau tidak akan bisa keluar dari rumah ini kecuali sebagai wanita kristen orthodox atau mayat yang kaku!!”

Sejak saat itu mereka menyiksa dan memukuliku, kemudian mereka menuju kepadamu dan memukulimu, sementara aku mendengar mereka memukulimu dan engkau berteriak minta tolong, sedangkan aku saat itu dalam keadaan terikat. Dan ketika engkau lari, saudara-saudaraku kembali kepadaku dan menumpahkan cacian serta cercaannya kepadaku. Kemudian mereka pergi dan membeli rantai belenggu, lalu mereka mengikatku.

Mereka mulai mencambukku, aku merasakan cambukan yang meninggalkan bekas, mereka mencambukku dengan cambuk-cambuk yang aneh dan asing!! Setiap hari pemukulan dimulai ba’da ‘ashar sampai tiba waktu tidur, adapun di pagi hari, ayah dan saudara-saudaraku pergi ke tempat kerja, sedangkan ibuku di rumah. Nah, inilah waktu istirahatku satu-satunya. Tidak ada di sampingku selain adik perempuan yang umurnya 15 tahun. Ia mendatangiku dan menertawakan keadaanku. Percayakah engkau bahwa hingga tidur pun aku dalam keadaan pingsan? Mereka mencambukku sampai aku pingsan dan tertidur. Mereka hanya menuntut dariku agar murtad dari Islam, tetapi aku menolaknya dan berusaha keras untuk bersabar. Setelah itu adik perempuanku mulai bertanya kepadaku, “Kenapa engkau tinggalkan agamamu dan agama ibu, ayah serta kakek-kakekmu?.”

Dia adakan baginya jalan keluar

Aku berusaha untuk meyakinkannya, aku jelaskan kepadanya tentang dien ini, aku terangkan tentang tauhid, lalu ia pun mulai merasa puas dan terkesan!! Gambaran tentang Islam mulai jelas di hadapannya!! Tiba-tiba aku dikejutkan olehnya ketika ia berkata, “Engkau di atas kebenaran … inilah agama yang benar, inilah agama yang seharusnya aku anut juga!!” Kemudian ia berkata kepadaku, “Aku akan membantumu.” Aku menjawab, “Jika engkau memang ingin membantuku maka bantulah aku untuk menemui suamiku.”

Adik perempuanku mulai melihat dari atas rumah, lalu ia melihatmu sedang berjalan, ia segera berkata kepadaku, “Sesungguhnya aku melihat seorang laki-laki yang begini dan begitu cirinya.” Aku berkata, “Dialah suamiku, jika engkau melihatnya maka bukakanlah pintu untukku agar aku bisa berbicara kepadanya.”

Dan benar, ia pun membukakan pintu lalu aku keluar dan berbicara kepadamu, akan tetapi aku tidak bisa keluar menghampirimu karena aku dalam keadaan terikat dengan dua rantai belenggu yang kuncinya dipegang oleh saudaraku, dan rantai yang ketiga diikatkan ke salah satu tiang rumah agar aku tidak bisa keluar. Kuncinya dipegang oleh adik perempuanku ini dan akan dibukanya bila aku hendak ke kamar mandi.

Ketika aku berbicara kepadamu waktu itu dan aku meminta kepadamu agar tetap tinggal sampai aku datang, keadaanku masih terikat dengan rantai belenggu. Lalu aku mulai meyakinkan adik perempuanku tentang Islam, maka ia pun masuk Islam dan ingin berkorban dengan pengorbanan yang lebih besar dari pengorbananku. Ia pun memutuskan untuk melepasku agar bisa keluar rumah, akan tetapi kunci-kunci rantai belenggu dipegang oleh saudaraku dan ia sangat menjaganya.

Pada hari tersebut, adik perempuanku menyiapkan untuk saudara-saudaraku khamr yang kental dan berat. Lalu mereka pun meminumnya sampai mabuk berat dan tidak sadar sama sekali. Kemudian adikku mengambil kunci tersebut dari kantong saudaraku dan membuka rantai-rantai belenggu itu dariku. Lalu aku datang menemuimu pada kegelapan malam itu.

Aku bertanya kepada istriku, “Bagaimana adik perempuanmu? Apa yang akan terjadi dengannya?” Ia menjawab, “Tidak masalah, aku sudah meminta kepadanya agar merahasiakan ke-Islamannya sampai kita bisa memikirkan urusannya.”

Kami pun bisa tidur malam itu, dan keesokan harinya kami pulang ke negeri kami. Begitu kami sampai di negeri kami, langsung aku masukkan istriku ke rumah sakit. Ia tinggal di situ beberapa hari menjalani pengobatan karena bekas cambukan-cambukan dan penyiksaan. Dan sekarang ini kami berdoa untuk adik perempuannya agar Allah Subhanahu wa Ta’ala meneguhkan hatinya di atas dien-Nya.

***

Kisah ini dikutip dari kaset yang berjudul Qishash Mu’atstsirah, oleh Dr. Ibrahim Al Faris

[Source]

READ MORE ... Monggo di-Klik

Ummatan Wahidan : Keajaiban di Maidan Rabi'ah al 'Adawiyah

 

Dari lapangan Rab'ah al 'Adawiyah, Allah ingin menunjukkan tempat ini menjadi pusat percontohan peradaban Islam sesungguhnya, yang dibina di atas akhlak sangat luhur (akhlaaqul Karimah). Allah ingin menampilkan karakter ummat Islam yang sesungguhnya memalui rakyat Mesir, ummat yang yang siap untuk mengembalikan Palestina dan mesjid al Aqsha ke pangkuan dunia Islam.

Pagi hari Sabtu (3/8/2013), rumah sakit Maidan Rab'ah al 'Adawiyah mengumumkan bahwa RS kehabisan stok obat-obatan, darah dan tenaga medis, karena saking banyaknya korban penembakan subuh itu. Pengumuman disampaikan melalui FB, twitter, televisi (aljazeera mubasyir) dan dari mulut ke mulut.

Hanya berlangsung dua jam setelah pengumuman RS kebanjiran obat-obatan, sumbangan darah, peralatan medis, dan tenaga medis. Ada 65 ranjang berdatangan entah dari mana, dan ada 400 orang dokter dari segala spesialis menyumbangkan tenaga dan kemampuannya dengan gratis.

Keajaiban di Maidan Rabi'ah al 'Adawiyah

Tidak lama berlangsung RS justru kekurang lemari es untuk penyimpan darah. Pengumumanpun kembali disebarkan bahwa RS butuh 2 buah kulkas. Tidak sampai satu jam 6 kulkas diantarkan oleh masyarakat. Bukan kulkas bekas, tapi baru keluar dari toko. Sampai malam kulkas masih berdatangan sampai berjejer di samping panggung.

Di antara yang mengantarkan obat-obat itu adalah seorang penulis terkenal Ihab Mu'awwad. Sesampainya di RS ia menemui direktur RS dan menyampaikan kalau ia datang membawa satu truk obat-obatan yang telah ia kumpulkan dengan uang halal dari sumbangan keluarganya sendiri. Namun jawaban direktur RS sangat mengecewakan:

"Maaf, datang terlambat, pihak RS tidak membutuhkan obat-obatan lagi, karena obat yang sudah terkumpul sudah cukup untuk seumur hidup. Nanti kalau kami butuh sesuatu kami akan menghubungi anda".

Dengan memelas ia berkata: Tolonglah terima sumbangan saya ini. Dokter berkata sambil bercanda dan senyum: Kami sekarang tidak butuh obat lagi, tapi butuh orang sakit.

Hikmah Allah selalu ada dalam kondisi apapun. Saat ini Allah ingin memperlihatkan bagaimana watak asli orang Mesir yang sangat peduli kepada orang lain dan suka berkorban demi orang lain. Rab'ah al 'Adawiyah jadi pusat percontohan peradaban Islam sesungguhnya yang dibina di atas akhlak yang sangat luhur. Allah ingin menampilkan rakyat yang siap untuk mengembalikan Palestina dan mesjid al Aqsha ke pangkuan Islam.

[Source]

READ MORE ... Monggo di-Klik

Menuai di ladang jihad : 4 Akhwat Pro Presiden Mursi Syahid



Headline news

Empat aktivis perempuan Ikhwanul Muslimin Mesir (Akhwat) Pembela Presiden sah Muhammad Mursi telah menjemput kesyahidan. Status terakhir FACEBOOK mereka :

"Kami mencintai kesyahidan..."

Allah memuliakan ikhwah Mesir dg memberi ujian dan kesyahidan. Sungguh bulan nan berkah penuh kemuliaan. #RamadhanKarim

Empat orang muslimah pendukung Presiden Mursi gugur (syahid, insya Allah) setelah diserang orang-orang berpakaian preman, Jum’at (19/7) waktu setempat bertepatan dengan 10 Ramadhan 1434 H. Salah satunya adalah akhwat berusia 20 tahun, Hala Muhammad Abu Syaisyi.

Seperti merasakan cita-citanya mendapatkan syahid semakin dekat, status terakhir yang ditulisnya difacebook mengungkapkan kerinduan dan kecintaannya pada mati syahid.

"Kami mencintai kesyahidan jauh lebih besar daripada kami mencintai kehidupan. Oleh karena itu jangan cabar kami. Bagi kami, syahid adalah cita-cita tertinggi ," kata Hala dalam status terakhirnya difacebook seperti dikutip MesirKini.

Seorang saksi mata mengatakan kepada Rassd.com, bahwa ia membawa dua anaknya dalam kereta bayi sebab seperti sebelumnya, demo pendukung Mursi adalah aksi damai. Namun tiba-tiba di sebuah jalan Manshurah sekelompok orang berpakaian preman menyerang peserta long march. Anak-anak menangis, sejumlah wanita menjerit dan suasana berubah mencekam seketika. Suara tembakan pun terdengar. Beberapa orang terjatuh dengan luka dan darah yang tercecer ke tanah.

Selain Hala, korban lain adalah Islam Abdul Gani (seorang apoteker berusia 38 tahun, memiliki 4 anak), Amal Mutawally Farhat (45 tahun) dan Jihad Musa. Seperti dilansir Rassd.com, Islam Abdul Gani terkena tembakan bagian kepala, sedangkan Hala Muhammad Abu Syaisyi’ dan Amal Mutawally Farhat terkena tembakan di bagian perut



[Source]

READ MORE ... Monggo di-Klik

Ibrahim Sily : Kisah Aneh Pendeta Masuk Islam

 

Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.

Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, “Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, “Bukankah anda seorang pendeta?” Aku jawab, “Benar.” Lantas ia bertanya kepadaku, “Siapa Tuhanmu?” Aku katakan, “Al-Masih.” Ia kembali berkata, “Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’.” Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, “Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab.” Aku katakan, “Kalau begitu, coba beri jawabannya!” Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, “Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…” lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, “Wahai Ibrahim!” Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, “Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?” Aku jawab, “Benar.” Ia berkata, “Lihat ke sebelah kananmu!” Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!” Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, “Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.” Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, “Selamat datang ya Ibrahim!” Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, “Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam.” Aku katakan, “Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?” Ia menjawab, “Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.” Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, “Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?” Ia berkata, “Benar.”

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.” Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, “Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.” Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, “Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.” Aku katakan, “Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.” Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, “Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.”

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, “Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.” Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?” Ia menjawab, “Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.”

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, “Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, ti-dakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!”

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (Abu Mufti, Facebook).

(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616)


[Source]

READ MORE ... Monggo di-Klik

Dia –Allah– telah menamai kamu sekalian orang muslim dari dahulu dan sekarang : Ustadz Mudzakkir tidak bisa kafirkan Syi'ah

 

Kyai Mudzakkir bersama Abu Bakar Arsal al-Habsy, pembina demokrat dan tokoh syiah Indonesia dalam sebuah acara. (26/6/13) (foto: an-najah)

Pro kontra, issue dan problematika yang selama ini melekat pada diri pimpinan Ponpes Al Islam Gumuk Solo Jawa Tengah, ustadz Mudzakkir terkait tuduhan bahwa dirinya merupakan bagian dari Syi’ah, akhirnya terkuak.

Paling tidak, satu benang kusut dari sekian keruwetan yang ada sudah terurai, saat ustadz Mudzakkir mengisi kajian Jum’at malam bertema ” KEUNGGULAN SUNNI TERHADAP SYI’AH” di masjid Istiqlal Sumber Solo, pada Jum’at (12/7/2013).

Dalam kesempatan tersebut, di akhir-akhir acara, tepatnya pada waktu sesi tanya jawab dan sekitar sepuluh menit sebelum acara akan selesai, ustadz Mudzakkir menyatakan dirinya adalah seorang muslim, dan bukan Syi’ah.

Namun, sebelum ustadz Mudzakkir mengungkapkan kalimat tersebut, terlebih dahulu diwarnai dengan suara lantang dari para jama’ah yang menginginkan agar ustadz Mudzakkir mengatakan secara jelas dan tegas bahwa dirinya bukan Syi’ah dan Syi’ah itu Kafir.

Hal ini seperti yang di minta Ketua Dewan Syari’ah Kota Surakarta (DSKS), Ustadz Dr Mu’inudinillah Basri yang juga hadir dalam kajian pada malam itu, yang merupakan salah satu dari ribuan jama’ah yang memadati kompleks masjid Istiqlal.

acara suni lebih unggul di solo

(foto: voa-islam)

Ustadz Mu’in menjelaskan, hal ini diminta karena banyaknya orang yang menuduh ustadz Mudzakkir Syi’ah, namun tidak mau untuk tabayyun. Bahkan banyak diantara yang menuduh tersebut, 100 % sudah yakin bahwa ustadz Mudzakkir itu Syi’ah.

Disisi lain, ustadz Mudzakkir sebagai pihak yang tertuduh mengatakan tidak mau untuk memberikan klarifikasi. Maka, dalam kondisi seperti itu, ustadz Mu’in mengaku bingung. Apalagi DSKS juga dikait-kaitkan dalam permasalahan tersebut.

“Saya akan menjadi saksi, ketika beliau mengatakan; Saya ahlu sunnah dan saya bukan Syi’ah. Semua bertanggungjawab dan akan menjadi saksi, setelah itu tidak ada omongan lagi,” pinta ustadz Mu’in.

Secara syari’ah, kata ustadz Mu’in, Rasulullah Saw sebetulnya sudah memberikan contoh yang harus dilakukan kedua belah pihak terkait situasi seperti itu. Dimana, saat istri tercinta beliau, yakni ‘Aisyah ra dituduh telah berzina dengan salah seorang sahabat.

Awalnya, Rasulullah hampir percaya dengan fitnah yang dihembuskan oleh orang munafiq dan Yahudi. Tapi, ‘Aisyah sebagai pihak tertuduh mengatakan dirinya bukan pezina. Dan setelah turun ayat yang mengungkap kebenaran tersebut, akhirnya Rasulullah juga mengatakan istrinya tidak selingkuh.

“Kalau Rasulullah demikian, mudah-mudahan insya Allah ustadz Mudzakkir berqudwah; Saya bukan Syi’ah seperti yang kita tuduhkan. Ini syari’ah, terima kasih ustadz, agar supaya masyarakat ini tidak bingung dengan ustadz Mudzakkir, mudah-mudahan setelah ini kita sudah bisa tenang yaa,” lanjutnya.

Tak hanya jama’ah putra, ada pula jama’ah putri yang menginginkan kesaksian tersebut. Dia merasa prihatin dengan kondisi itu. Dirinya mengatakan, jika ustadz Mudzakkir tidak segera menyelesaikan masalah tersebut, akan berakibat perpecahan bagi umat Islam.

Selain itu, dia juga mengharap ustadz Mudzakkir untuk menyelamatkan umat agar terhindar dari perpecahan. Jangan sampai situasi seperti itu, memberikan angin segar dan membuat orang Kafir senang dan bertepuk tangan.

Mendengar sejumlah permintaan dari para jama’ah, ustadz Mudzakkir lalu berkata: “Kita semuanya ini, bapak-bapak ibu-ibu saudara-saudara sekalian, berada di kekuasaan Allah Ta’ala, ndak bisa, saya ini ndak bisa menolong orang, yang bisa menolong itu Allah Ta’ala. Kita semuanya ini sama, kita ini orang dho’if, orang-orang lemah,”

Namun, mendengar jawaban dari ustadz Mudzakkir seperti itu, para jama’ah intrupsi dan bersuara lagi bahwa bukan seperti itu jawaban yang di inginkan.

Disamping itu, para jama’ah juga merasa kecewa dengan sejumlah jawaban ustadz Mudzakkir, mulai dari penanya pertama hingga ke-empat, yang terkesan muter-muter dan tidak jelas arahnya. Para jamaah hanya meminta kesaksian ustadz Mudzakkir, apakah dirinya ahlu sunnah atau Syi’ah.

Kemudian dijawab lagi oleh ustadz Mudzakkir : “Kalau saudara-saudara menganggap (jawaban -red) saya mubeng-mubeng (muter-muter -red) ya sudah saya tidak usah jawab, cukup,” katanya.

“(kemudian sambil meletakkan mic yang dia pegang, ustadz Mudzakkir lalu berkata –red) Apapun yang saudara katakan, omongan saya sudah jelas, tidak ada sesuatu yang diragukan, yaa, saya muslim,” tandasnya.

“Allah mengatakan huwa sammaul-muslimin min qobli wa fie hadza (Dia –Allah- telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan -begitu pula- dalam -Al Qur’an- ini. QS. Al Hajj 22 : 78 -red), saya muslim,” tambahnya.

“Di Madinah kebetulan saya juga waktu sholat menjama’ dhuhur dengan ashar, berkali-kali ketahuan disitu didatangi askar, dipegang tangan saya; “Dari mana? Dari Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Malaysia? Bukan, Indonesia. (Askar bertanya lagi -red) Ente Syi’i? Saya jawab muslim, bukan Syi’i,” tegasnya.

Ustadz Mudzakkir melanjutkan, meskipun dirinya menyatakan bukan Syi’ah, tapi jika diminta atau dipaksa untuk mengkafirkan Syi’ah, dirinya tidak bisa.

“Tetapi kalau saya disuruh mengkafirkan saudara saya dikalangan Syi’ah, Tidak. Apalagi disuruh memusuhi ahlu sunnah, Tidak. Semua muslim,” tandasnya.

KH-Mudzakir-1

“Tidak percaya kepada saya silahkan, itu padune taqqiyah, silahkan. Pokoknya saya sudah katakan, setiap tuduhan, siapapun juga, kita ketemu di mahsyar (di akhirat -red). Di dunia tidak akan saya tuntut, insya Allah,” imbuhnya.

“(kemudian ada jama’ah yang berseru; beri penjelasan ustadz. Lalu dijawab ustadz Mudzakkir -red) Di mahsyar, di mahsyar saja ketemu kita,” pungkasnya.

[source]

READ MORE ... Monggo di-Klik

Canal de Suez : Diantara Ferdinand de Lessep dan Umar ibn Khattab

 

Malam ini saya sangat terperangah. Selama ini aku mendapat informasi tentang Terusan Suez secara tidak lengkap dan cenderung disesatkan oleh sumber informasinya. Lebih dari 30 tahun lalu dalam buku kurikulum Himpunan Pengetahuan Umum (HPU) untuk siswa kelas V dan VI SD di DIY, disebutkan Terusan Suez dibangun Ferdinand de Lessep dan diresmikan penggunaannya di tahun 1869 – setelah sekitar 10 tahun pembangunan. Saya pun mendapat kesan dan kesimpulan ide pembangunan ini berasal dari insinyur perancis ini.

Baru-baru ini saya temukan fakta baru, SIAPAKAH YANG SEBENARNYA MERINTIS PEMBANGUNAN TERUSAN TERBESAR DI DUNIA INI?

Terusan Suez Adalah Karya Master Piece Umar bin Khattab

Banyak yang belum tahu , bahwa ternyata Terusan Suez ternyata adalah sebuah karya agung berdasar ide dan gagasan cemerlang sekaligus membuktikan kejeniusan Amirul Mukminin Umar Bin Khaththab raddiyallahu’anhu.

Ide jenius beliau menghubungkan Laut Merah dan Laut Putih Tengah karena adanya berbagai potensi domestik yang sudah dikenal pada zamannya. Juga kejeniusan beliau patut kita berbangga karenanya, adalah kemampuan beliau mewujudkan proyek tersebut dalam waktu relatif singkat sehingga terusan tersebut bisa dilalui oleh kapal-kapal.

Di musim dingin tahun 641-642 M, Amru bin Ash ra. membuka terusan yang menghubungkan antara laut Qalzim dengan Laut Romawi atau di posisinya sekarang, dikenal dengan nama Terusan Amirul Mukminin.

Al Qadha’i bercerita, Umar bin Khattab ra. menginstruksikan pada Amru bin Ash ra. pada saat musim paceklik untuk mengeruk teluk yang berada di samping Fusthath kemudian dialiri air sungai Nil hingga laut Qalzim.

Belum setahun, teluk inipun sudah bisa dilalui oleh kapal dan digunakan untuk mengangkut logistik ke Mekkah dan Madinah. Teluk ini juga dimanfaatkan penduduk dua tanah suci itu hingga disebut Teluk Amirul Mukminin.

Al Kindi bertutur bahwa teluk tsb dikeruk pada tahun 32 H dan selesai hanya dalam waktu 6 bulan. Kapal-kapal sudah bisa lalu lalang menyusuri teluk hingga sampai di Hijaz bulan ke tujuhnya.

Terusan ini sangat membantu penduduk Mesir hingga era Khalifah Abu Ja’far Al Manshur , yang dibendungnya untuk memutus aliran dan dukungan Mesir terhadap perlawanan Muhammad bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Hijaz.

Sebagian sejarah juga menyebut, bahwa Amru bin Ash telah memikirkan untuk menghubungkan 2 laut putih dan Merah , namun tampaknya yang dimaksud adalah terusan lain, yang membelah antara Selat Timsah dengan Barzah, antara Mesir dan Sinai hingga Laut Tengah. Tapi rencana ini dibatalkan karena alasan pertimbangan militer yang ada pada zaman itu.

Pada masa Khilafah Utsmaniyyah, teluk ini dibersihkan tiap tahun. Musim dingin, teluk ini biasanya ditutup karena dikeruk dan dibersihkan seperti perayaan. (biasanya bulan Agustus). Lumpur yang dikeruk lalu diangkat dan ditimbun di samping kanan-kiri aliran teluk. dan ini sungguh menarik perhatian penduduk setempat.

Sumber : mediaumat.com

READ MORE ... Monggo di-Klik

Keteladanan : Mengenang Almarhum Zainal Nurrizki Wiranto

 

Innamaa bu'itsu li utammima makaarimal akhlaaq. 

“Sesungguhnya aku (Muhammad SAW) diutus untuk menyempurnakan akhlak”

Berikut ini keteladanan anak bungsu seorang jenderal (bekas panglima TNI dimasa krisis Mei 1998) dalam episode hidupnya yang pendek (23 tahun) telah memilih jalan sulit dan senyap dari popularitas untuk berdakwah - Nidaa’ul Islam, meninggalkan semua kemegahan yang kemuliaan yang sebenarnya dapat digapai.  Dan kini dia telah tiada, meninggal di usia muda dengan cara mulia dan husnul khotimah. 

INNALILLAHI WA INNA ILAHI RAJIUUN ...

Telah meninggal  Zainal Nur Rizki Wiranto (putra bungsu Bapak Jenderal purn. Wiranto). Almarhum Zainal Nurrizki telah meninggal setelah bermukim 2 tahun menimba ilmu agama di Ma’had Darul ‘Ulum Zakaria, di Johannesburg, Afrika Selatan.

Jujur saja!  Sebelumnya saya sama sekali tidak mengenalinya, Sama ada seperti saya juga tidak tahu nama-nama putra-putri Bapak Wiranto atau berapakah anaknya. Anak muda ini telah menjalani hidup dalam kesenyapan dakwah, tidak ada popularitas sama sekali sementara kita semua tahu ayahnya seorang yang sangat populer dan dikenal sebagai panglima TNI dimasa krisis 1998. Seorang jenderal yang bertanggungjawab dan sportif (karena saat chaos tahun 1998 bisa saja dia ambil alih kekuasaan dan itu tidak dilakukan).

Jujur saja! Saya tidak menyangka pak
Wiranto memiliki putra seperti
Almarhum Zainal. Beliau Masih muda,
tapi rela meninggalkan segala
kemewahan, segala fasilitas dan
kemudahan sebagai anak jendral.
Semasa hidupnya beliau lebih
memilih jalan dakwah dari masjid ke
masjid, tidur di masjid, makanpun
masak sendiri, baik di Indonesia
maupun di kampung kampung di
benua Afrika...
Subhanalloh, Beliau meninggal di
madrasah Darul Ulum Zakaria, Afrika
Selatan dan disholatkan oleh 600
ulama.. Didoakan oleh ratusan hafiz.
Allahumma firlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu....

Almarhum aktiv di gerakan dakwah Jamaah Tabligh (JT). (Foto: KataKami)

Berikut ini berita yang saya kutip dari Hidayatullah.com

Kamis, 30 Mei 2013. Hidayatullah.com--Zainal Nurrizki, putra bungsu Ketua Umum Partai Hanura, Jenderal (Purn) Wiranto yang low profile aktif dalam gerakan dakwah Jamaah Tabligh (JT).

Kakak ipar Zainal, Abdi Setiawan (38) menceritakan, Zainal mulai kenal dengan dakwah sejak sekolah di SMA.

"Dia pernah khuruj seminggu di Temboro (sebuah desa di Magetan, Jawa Timur, tempat salah satu pesantren Jamaah Tabligh terbesar, red)," kata Abdi kepada hidayatullah.com, (30/05/2013).

Pada 2009 dia ikut program dakwah (khuruj) selama empat bulan ke daerah pedalaman di Ternate Maluku Utara.

Tahun berikutnya (2010), Zainal belajar dakwah dengan program khuruj fi sabillah ke India, Pakistan, Bangladesh (IPB), tiga negara yang menjadi asal mula perkembangan Jamaah Tabligh (JT).

Abdi melanjutkan, sepulang dari IPB itulah Zainal membulatkan tekadnya untuk mendalami Islam. Dia berhenti dari kuliahnya di UGM untuk mendalami ilmu-ilmu syariat di Ma'had Darool Ulum Zakariya di Johannesburg, Afrika Selatan.

Kata Abdi, Zainal telah menjalani 2 tahun masala belajarnya di ma'had itu.

"Hafalan al-Qur'annya belum banyak. Pada 2 tahun pertama dia fokus belajar bahasa Arab dan Urdu," kata Abdi menjelaskan.

Sejak aktif di Jamaah Tabligh, kata Abdi, Zainal giat mengajak teman-temanya untuk taat kepada Allah.

"Akhlaknya kepada orangtua juga bagus sekali," ujar Abdi.*

"Ia pun meninggal dalam keadaan mulia, anak kami lagi belajar al-Quran. Katakanlah ia meninggal dalam fi sabilillah dan husnul khotimah," ujar Wiranto dikutip detiknews, Kamis (29/5/2013) saat menggelar doa di kediamannya Komplek Pati Angkatan Darat, Jl Palem Kartika No 21, Bambu Apus, Jaktim.

Zainal atau sering dipanggil Inal, meninggal pada usia 23 tahun. Sebelumnya, Inal terserang panas tinggi selama dua hari lalu dan meninggal saat berada di rumah sakit. Atas pertimbangan kemanusiaan, Inal akhirnya dimakamkan di pemakaman Muslim di Lenasia, Johannesburg, Afsel.

"Kalau kelamaan tidak baik, harus dibalsem lagi, rute pesawat terbang yang gampang pun sulit, di sana tidak ada lapangan terbang," kata Wiranto dikutip Vivanews.

Selain itu, alasan lain, Wiranto mengaku tak tahu bagaimana izin pengembalian jenazah di sana. Sehingga, dikhawatirkan tidak bisa ke luar.

"Kalau kami paksakan ke Tanah Air, perlu usaha ekstra keras, dan kami tidak tahu bagaimana izin pengembalian jenazah di sana, bisa keluar apa tidak," ucapnya. "Akhirnya, kami putuskan, sebagai umat Islam, lebih baik dimakamkan di sana, jadi di manapun dimakamkan tidak masalah."

Di Afrika Selatan, Inal tinggal bersama mertua dan istrinya. Untuk mendoakan almarhum yang jauh di benua hitam, tadi malam keluarga Wiranto pun mengadakan acara doa.
Seperti diketahui, Zainal mantan mahasiswa di Universitas Gajah Mada Jurusan Hukum Internasional. Pada tahun 2011 dia memilih memperdalam ilmu Al-Quran selama tujuh tahun di Perguruan Tinggi Ilmu Islam Darul Uloom Zakariyya, Johanesburg, Afrika Selatan.

Keluarga besar Wiranto (Foto: KataKami)

Wiranto meminta semua pihak berkenan mendoakan anaknya.

"Mohon handai taulan turut mendoakan, agar arwah almarhum mendapatkan pengampunan atas segala dosa dosanya, serta mendapatkan tempat yang baik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Atas nama almarhum, keluarga memohonkan maaf apabila selama hidupnya mempunyai kesalahan kepada teman, sahabat, dan siapapun yang pernah mengenalnya," ucap Panglima ABRI era Soeharto ini.*

Zaenal sempat kuliah di UGM jurusan Hukum Internasional hanya satu semester dan dia kembali ke Jakarta karena ingin memperdalam ilmu agama. [baca: Putra Jenderal Wiranto yang Dalami al-Quran Meninggal di Afsel]

"Akhirnya Ia ambil keputusan bahwa Ia lebih baik dalami agama dulu, merasa ada yang salah selama ini dalam hidupnya. Ia minta izin untuk pindah ke sekolah agama. Lalu mencari tempat belajar agama terbaik untuk pendalamam al-Quran," jelasnya.

Pada tahun 2011 dia berencana memperdalam ilmu Al-Quran selama 7 tahun di Perguruan Tinggi Ilmu Agama Islam Darul Uloom (baca Darul Ulum) Zakariyya, Johanesburg, Afrika Selatan. Di sekolah ini anak-anak dari seluruh dunia berkumpul untuk memperdalam ilmu al-Quran dan Islam.

"Dalam satu setengah tahun lalu sudah mulai belajar bahasa Urdu dan Arab. Inggrisnya pun sudah mahir," tuturnya.

Dan kini telah tiada.

Allahumma firlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu....

READ MORE ... Monggo di-Klik

The Last words of Omar Mukhtar – Fighter from Libia

 

My forefinger that admits in every prayer that there is no God but Allah and that Muhammad is the Messenger of Allah cannot write a word of falsehood, we do not surrender, we win or die!
Omar Mokhtar

Last words of Omar Mukhtar

Omar Mukhtar, Emir of the Mujahideen of Libya, headed jihad against Italian invaders in the 1920-1930s. He was 70 years old, when he received a severe wound, and was taken prisoner by the invaders.

A dialogue in an infidels’ court in 1931, between the “judge” and Omar Mukhtar:

- Did you fight against the Italian state?

Omar: Yes

- Did you encourage people to fight against Italy?

Omar: Yes

- Are you aware of penalty for what you did?

Omar: Yes

- For how many years did you fight against Italy?

Omar: For 20 years already

- Do you regret of what you have done?

Omar: No

- Do you realize that you will be executed?

Omar: Yes

The “judge” remarked:

- It’s a dismal end for a man like you.

Hearing these words, Omar Mukhtar replied:

- On the contrary, it is the best way to end my life!

The “judge” then wanted to acquit him and deport him from the country if he appeals to Mujahideen in a statement to stop the Jihad. Then Omar Mukhtar said his famous words:

- My forefinger that admits in every prayer that there is no God but Allah and that Muhammad is the Messenger of Allah cannot write a word of falsehood, we do not surrender, we win or die!

READ MORE ... Monggo di-Klik

Era Baru Militer Turki : Membaca dan Mempelajari Al Qur’an

 

Tahun 1923 khilafah Islam di Turki dihapus, sultan terakhir Turki Utsmani diusir keluar negeri dan Turki berubah menjadi Republik  dan mulai menegakkan nilai-nilai sekurarisme dan memusuhi segala yang berbau Islam. Tepat setelah 90 tahun dilarang mempelajari pelajaran agama di institusi militer, kini personil militer Turki diperbolehkan membaca dan mempelajari Al-Quran, biografi Nabi Muhammad (shalaallahu ‘alaihi wa sallam), Nilai-nilai dan norma-norma dasar Islam akan diajarkan di sekolah-sekolah militer di Turki, menurut laporan Umma-inform, seperti dilansir oleh Islam.ru.

Laporan mengatakan bahwa Menteri Pendidikan Turki mengeluarkan sebuah dekrit yang menghapuskan larangan mengajarkan pelajaran agama di institusi-institusi pendidikan militer. Sejak saat ini, para murid di sekolah militer-dimulai dari kelas 5-yang memiliki keinginan untuk mendapatkan pengetahuan Islam di sekolah menengah. Demikian juga di perguruan-perguruan tinggi militer Turki akan ada pelajaran dasar-dasar Islam, membaca Al-Quran, adab-adab Islam, dan sejarah Nabi Muhammad (shalalallahu ‘alaihi wa sallam).

Selain itu, dekrit tersebut juga membatalkan aturan yang mengharuskan pemilihan pelajaran untuk para murid oleh para komandan, sebagaimana yang dilakukan sebelumnya.

Karena kekurangan guru-guru Islam yang berkualitas, pernyataan resmi telah dikirim ke Kementerian Agama Turki untuk menyediakan guru-guru Islam untuk peluang ini.

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/04/11/militer-turki-mulai-mempelajari-al-quran.html#sthash.nBZOXbNd.dpuf

READ MORE ... Monggo di-Klik

Silaturahmi Anis Matta bersama Ratusan Kiai di Semarang

 

Hari Jum’at lalu (5 April 2013) ada kabar gembira dari Senayan bahwa PKS berhasil menggolkan usulan penghapusan pasal Pancasila sebagai Azas Tunggal dalam RUU Ormas yang akan disahkan 12 April nanti. Inilah berita yang sangat menggembirakan ummat Islam khusunya bagi semua Ormas Islam.

Takbir!!!     Allaahu Akbar … Allaahu Akbar … Allaahu Akbar walillaahi l hamd.

Berita gembira yang kedua adalah PKS kini telah memasuki fase baru dalam perjalanan politik dan mulai menjalin silaturahmi dengan para kyai kampung. Alhamdulillah – Inilah berita yang mengharukan dan sangat membahagiakan karena mulai dekatnya kita dengan para ulama yang bersahaja, waro’ dan tawadhu’ jauh dari hingar bingar duniawi dan pencitraan palsu.

  1. Politik pada hakikatnya adalah Ilmu Mengelola Manusia (Managing people) melibatkan Seni  dan Game, ada ketegangan namun tidak bahaya. Itulah Nature Politic dan sifat manusia selalu ingin menjauhi hal berbahaya.  sayangnya,
  2. dalam perjalanan, politik yang alami ini berubah dipahami menjadi sebatas perebutan kekuasaan, tegang dan berbahaya. Ini menjadi masalah besar kita.

Demokrasi Barat mengajarkan Politik itu untuk meraih kekuasaan, maka seringkali sejarah berulang orang-orang culas mencapai puncak kekuasaan. Sementara dalam Islam  – Kekuasaan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Maka demikianlah adanya, Nature Politik ini akan menjadi  relevan bagi PKS ketika PKS mulai diterima secara formal di kalangan pesantren salaf, ulama yang sebenar-benarnya ulama dan semoga terus dapat memenangkan hati ummat.  Berikut ini beritanya. 

Sumber : PKS Piyungan, Jumat, 05 April 2013

SEMARANG - Tekad Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk mengubah mitos Jawa Tengah sebagai basis merah dalam pilgub dan pileg tidak bisa dianggap remeh. Hal itu ditunjukkan oleh partai dakwah ini saat Kamis (4/4/13) PKS mengumpulkan kiai kampung.

Dalam acara yang dikemas dalam silaturrahmi itu, setidaknya 150 kiai kampung hadir dalam silaturrahmi di Pondok Pesantren Poncol Desa Popongan Kec Bringin, Kabupaten Semarang pimpinan KH Nurkholis.

Sementara dari PKS tampak Presiden PKS Anis Matta, Sekjen DPP PKS Taufik Ridho, Ketua Bidang Pembinaan Ummat Raihan Iskandar, Ketua Wilda Jateng, Jatim, DIY Cahyadi Takariawan. Juga ikut dalam rombongan anggota DPR RI dari Fraksi PKS seperti Fahri Hamzah, Andi Rahmat, Zuber Safawi, da juga Ketua DPW PKS Jateng Abdul Fikri Faqih.

Anis Matta menyatakan bahwa kedatangannyake Ponpes Poncol adalah dalam rangka silaturrahmi dan ta'aruf. "Kita akan melakukan silaturrahmi dan ta'aruf ke seluruh daerah. Kebetulan kita mulai dari Jawa Tengah," paparnya.

Langkah kita juga dalam rangka minta tausiyah kiai dan ulama. "Tapi kalau dapat suara, itu adalah bonus," candanya yang disambut tawa hadirin.

Lebih lanjut Anis bercerita kalau dirinya adalah jebolan pesantren selama 6 tahun. Dimana pesantren ternyata bisa melahirkan tokoh-tokoh besar. "Saya dengar Gus Dur pernah mondok disini," ujarnya.

Dalam kesempatan ini Kyai Thohir, salah satu Kiai yang datang dalam acara tersebut berpesan agar PKS dapat memberi warna politik nasional yang Islami.

"Kita ingin politik nasional menjadi politik yang Islami dengan adanya PKS," tandasnya.

Silaturrahmi PKS dengan para kiai kampung ini pun berlangsung gayeng. Selain tuan rumah pimpinan Ponpes Ponnco KH Nurkholis, para kiai kampung yang hadir antara lain KH Fatkhurrohman, KH Tohir, KH.Syaifudin, KH.Muslim Saleh, KH.Hasyim Asari, KH.Muh Mughni, KH.Damroji, KH.Abdul Hamid, KH.Rifai.

Beberapa tokoh teras partai Islam selain PKS juga turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka diakui KH Nurkholis sebagai alumni Ponpesnya. "Gambar berbeda-beda tidak apa-apa, yang penting sama-sama Islam,"ungkap Nurkholis.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Garam - Ekstrak Lemon Menjadi Bahan Bikin Senjata Mematikan

 

Keterbatasan dan kondisi maut mengancam setiap saat di Suriah memicu kreatifitas luarbiasa. Garam dan Lemon dapat menghasilkan rampasan perang peluncur roket RPG, senapan serbu AK-47, magazin  dan mesiu. Dan semua itu terjadi dalam perang yang tidak berimbang antara Mujahiddien Suriah dan tentara bangsat Bashar Assad. Allaaahu Akbar walillaahil hamd.

Di Suriah, garam dan lemon pun jadi bahan pembuatan senjata

A young man works on the production of hand made missiles in a secret factory in Al-Bab, 30 kilometers from Aleppo. (AFP)

Pertempuran di Suriah semakin sengit, meskipun teknologi persenjataan antara kubu musuh dan Mujahidin jauh berbeda. Pihak rezim Assad memiliki persenjataan canggih yang lengkap, sedangkan Mujahidin menggunakan senjata apa adanya yang di antaranya mereka rakit sendiri.

Kekurangan senjata tak membuat Mujahidin patah semangat dan kehilangan kreatifitas, justru kreatifias muncul di tengah-tengah keterbatasan. Bahkan garam dan lemon pun jadi bahan pembuatan senjata.

Di antara Mujahidin yang merakit senjata sendiri adalah para anggota Tentara Pembebasan Suriah (FSA). Mereka mengembangkan senjata mereka sendiri untuk “bermain” di medan Jihad melawan pasukan rezim Assad.

“Saya dan kelompok saya mengambil pertempuran ini sebagai kasus saling menguntungkan, jadi kami harus memainkan permainan bertahan hidup paling kuat dan mempertahankan diri-diri kami dari serangan-serangan para binatang ini (tentara rezim -red),” kata Abu Hasan, seorang letnan FSA di provinsi Aleppo, dalam sebuah laporan ekslusif Al Arabiya.

Tim Abu Hasan terdiri dari 57 anggota, delapan dari mereka mampu merancang dan membuat senjata-senjata unik, menurut Abu Hasan.

“Tidak semua senjata kami akurat dan kami mendapati beberapa meleset sesekali , tetapi itu adalah bagian dari perjuangan dalam peperangan. Namun senjata-senjata buatan tangan ini memberikan kami kekuatan yang kami butuhkan untuk membunuh beberapa dalam setiap serangan yang kami lancarkan,” tutur Abu Hasan.

Unit Abu Hasan memproduksi rata-rata 18-30 roket buatan sendiri setiap harinya, dan telah membuat peluncur roket dengan menggunakan bahan-bahan rumah tangga yang mudah didapat di dapur seperti garam atau ekstraksi asam dari lemon.

Menurut Abu Hasan, timnya khusus melaksanakan pertempuran darat, namun di bagian lainnya di kota Aleppo Abu Hasan menyaksikan temuan yang lebih maju secara teknis, di mana pesawat-pesawat tempur rezim telah ditembak jatuh oleh Mujahidin dengan menggunakan artileri buatan tangan sendiri.

“Rezim (Assad) meremehkan kemampuan mental rakyat Suriah… meskipun banyak dari kami yang tidak berpendidikan, kami berusaha untuk menciptakan dari nol untuk menghancurkan mesin-mesin yang sangat besar (milik rezim),” katanya.

Abu Hasan mengatakan bahwa senjata-senjata sederhana buatan tangan sendiri adalah investasi yang besar. Unitnya telah mampu membuat kemajuan melawan tentara rezim Assad dan mendapatkan ghanimah yang bisa memperkuat mereka.

“Setiap roket yang sukses diluncurkan, sebagai imbalannya kami menerima RPG-7, AK-47, dan amunisi-amunisi dan itulah bagaimana kami dapat tumbuh lebih kuat,” katanya, Al-Arabiya melaporkan.

- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/03/16/di-suriah-garam-dan-lemon-pun-jadi-bahan-pembuatan-senjata.html#sthash.XxZSpxvU.dpuf - See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/03/16/di-suriah-garam-dan-lemon-pun-jadi-bahan-pembuatan-senjata.html#sthash.XxZSpxvU.dpuf

READ MORE ... Monggo di-Klik

Social Behavior Study : Mengapa Daging Babi Diharamkan?

 

Suatu ketika Syeikh Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Beberapa mahasiswa menanyakan padanya tentang alasan ajaran Islam mengharamkan babi. “Umat Islam mengatakan babi itu haram karena memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba, dan bakteri-bakteri berbahaya. Sekarang, semua itu sudah hampir tidak ada karena babi dipelihara di peternakan modern, kebersihannya terjamin, dan proses sterilisasi yang sudah memadai. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba berbahaya?”

Muhammad Abduh tidak langsung menjawab. Dengan cerdik beliau minta dihadirkan 2 ekor ayam jantan dan 1 ekor ayam betina, serta 2 ekor babi jantan dan 1 ekor babi betina.

Mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?”

“Penuhi apa yang saya minta, maka akan saya perlihatkan satu rahasia,” jawab Syeikh

Mereka memenuhi permintaan Muhammad Abduh. Pemikir Islam ini segera mengurung 2 ekor ayam jantan bersama 1 ekor ayam betina dalam 1 kandang. Apa yang terjadi? Dua ekor ayam jantan itu berkelahi dan

saling membunuh untuk mendapatkan ayam betina. Setelah itu Muhammad Abduh melepas 2 ekor babi jantan dg 1 ekor babi betina. Kali ini, mereka menyaksikan sebuah “keanehan”. Tidak ada sedikit pun perkelahian utk memperebutkan babi betina. Tanpa rasa cemburu dan harga diri, babi jantan yang satu justru membantu babi jantan lainnya melaksanakan hajat seksualnya. Mengapa hal ini terjadi? “

Saudara-saudariku semua, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian.
Seorang lelaki dari kalian membiarkan istrinya bersama lelaki lain, tanpa rasa cemburu.
Seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, tapi kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu dan was-was.
Sesungguhnya, daging babi itu menularkan sifat-sifat buruk pada orang yang memakannya.

Muhammad Abduh kemudian memberikan contoh-contoh baik dalam syariat Islam. Misalnya, Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran serta memakan kotorannya. Siapapun yang ingin menyembelihnya harus mengurungnya selama beberapa hari serta memberinya pakan yg sesuai. Mengapa? Agar perutnya terbebas dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba berbahaya yang bisa menular pada manusia. Itulah hukum Allah. Itulah perlindungan dan kasih sayang Al-Khaliq kepada manusia.

(Disalin dari buku “Haram Bikin Seram” karya Tauhid Nur Azhar)

READ MORE ... Monggo di-Klik

Israel Amat Mengkhawatirkan Senjata Jatuh ke Tangan Mujahiddin

Tingginya tensi serangan mujahidin, membuat Bashar Assad kelimpungan. Pertempuran jarak dekat antara pasukan Assad dan mujahidin terjadi disekitar Damaskus. Assad amat membutuhkan bantuan pasukan. Karena itu ia memindahkan pasukannya yang stand by di Dataran Tinggi Golan ke Damaskus dan beberapa wilayah yang sedang panas.

Kepala intelijen militer Israel, Brigjen Aviv Kochavi membenarkan hal itu. ”Untuk menghadapi perlawanan, Assad telah memindahkan pasukannya di Golan untuk diterjunkan disekitar Damaskus dan kota-kota yang bergolak,” ungkap Kochavi dihadapan parlemen Israel, Knesset.

Kochavi amat khawatir jika senjata berat dan canggih milik rezim Assad jatuh ke tangan mujahidin. ”Israel harus memperketat pengawasan agar persenjataan tidak masuk ke pihak perlawanan,” tukas Kochavi.

Mujahidin, berperang dengan iman

Kochavi paham betul, bila senjata sampai jatuh ke tangan mujahidin, maka hasil pertempuran akan lain. Sebuah pepatah mengatakan, man behind the gun (senjata itu tergantung siapa yang menggunakan).

Senjata biasa bisa berubah menakutkan bila dipegang oleh orang yang benar. Sepucuk AK-47, akan lebih berbahaya bagi orang kafir bila dipegang oleh mujahidin. Senjata yang hari ini meletup di Suriah, tidak menutup kemungkinan akan meletup juga dijantung Israel lewat tangan-tangan mujahidin.

Tak dipungkiri, kekuatan persenjataan juga penting. Bila Amerika punya tank anti ranjau, mujahidin punya pengacau sinyal tank anti ranjau. Hingga tank anti ranjau Amerika menjadi tank nomor satu yang tersapu ranjau mujahidin. Strategi jitu dan persenjataan adalah faktor penting dalam peperangan

READ MORE ... Monggo di-Klik

Keutamaan Menghibur Membahagiakan Hati Anak Perempuan

 

Sebenarnya dalil-dalil yang telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya juga menjadi dalil untuk pasal ini. Namun, maksud dari pasal ini adalah untuk memberikan dalil yang lebih banyak untuk menegaskan urgensi tema ini dalam mendidik dan mengasuh anak perempuan.

image

Imam Al-Alusi berkata, “Yang diketahui dari orang-orang yang memiliki sikap mulia adalah mereka biasanya sangat memperhatikan perasaan wanita, mereka berusaha untuk selalu membahagiakan dan menghibur hati wanita, karena tabiat wanita yang lemah. Oleh karena itu, ketika orang tua ingin memberikan sesuatu kepada anak-anaknya, maka dianjurkan untuk mendahulukan anak perempuan.”

Membahagiakan dan menghibur hati anak perempuan bukan hanya dengan berlaku adil di dalam hal pemberian saja, akan tetapi masih banyak hal lainnya yang bisa membuat hati anak perempuan bahagia dan terhibur. Seperti memberikan perhatian, perawatan dan rasa kasihan kepadanya ketika ia sedang sakit. Al-Barra’ meriwayatkan dan berkata, “Suatu ketika Abu Bakar datang menjenguk putrinya, Aisyah r.a yang sedang terserang sakit demam, lalu ia berkata, “Bagaimana keadaanmu putriku ?” lalu ia mencium pipi putrinya tersebut.” (HR Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Salah satu petunjuk Nabi saw dalam hal ini adalah riwayat dari Ummu Khalid binti Khalid bin Sa’id, ia berkata, “Suatu hari saya bersama ayah datang kepada Rasulullah saw. Waktu itu saya mengenakan pakaian warna kuning, lalu Rasulullah saw berkata, “Bagus, bagus.” Lalu saya mendekat kepada Rasulullah saw dan bermain-main dengan beliau, lalu ayahku pun menghardikku. Lalu beliau berkata, “Biarkan.” Kemudian beliau mengucapkan doa, “Ablii wa akhliqii, tsumma Ablii wa akhliqii,” . Setelah itu, berkat doa Nabi saw tersebut, Ummu Khalid memang benar-benar dikaruniai umur panjang oleh Allah swt.”(HR Bukhari)

Dalam hadits ini, Rasulullah saw ingin menghibur dan membahagiakan hati Ummu Khalid, sekaligus ingin memberikan contoh kepada seluruh ummatnya. Karena, hal seperti ini memiliki dampak positif yang sangat besar terhadap jiwa dan perilaku anak perempuan. Ketika anak perempuan mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua seperti ini, maka dengan penuh kecintaan dan lapang dada ia juga akan membalas semua itu denagn selalu mentaati seluruh perintah dan pengarahan orang tua.

Metode yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw di atas lalu dipraktekkan oleh ummatnya dengan penuh antusias di dalam mengasuh dan mendidik anak-anak perempuan mereka. Hal ini mereka praktekkan dalam berbagai bentuk. Di antaranya adalah apa yang dicontohkan oleh Mu’in bin Aus, ia adalah seorang ayah yang memiliki delapan anak perempuan. Ia pernah berkata, “Aku tidak ingin seandainya anak-anak perempuanku diganti dengan anak laki-laki.” Tentang anak-anak perempuannya tersebut, ia berkata,

“Aku melihat banyak orang tua membenci anak-anak perempuan, padahal di antara mereka –dan aku tidak bohong- terdapat banyak perempuan-perempuan shalihah. Pada saat zaman membinasakan anak laki-laki, banyak di antara anak-anak perempuan yang tidak bosan memberikan  banyak manfaat dan di antara mereka terdapat perempuan-perempuan yang kuat.”

Sumber  : Buku “Tarbiyyatul Banaat fil Islaam” Penulis : Abdul Mun’im Ibrahim. Penerbit : Maktabah Awlaad Syekh lit-Turaats, 1423 H/2002 M.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Mujahidin Mali Jumlah Sedikit Dikeroyok Konspirasi Internasional

 

Mengapa bisa terjadi kekuatan negara-negara besar dan kaya – seperti Amerika serikat, Rusia, German – mau-maunya mengepung sekelompok kecil Mujahiddin di negara kecil, miskin, berpenduduk 15 juta dan bergurun pasir di pelosok Benua Afrika?

image

Jawabnya :
Islamophobia terhadap tegaknya syariat Islam. Invasi ini semakin mengokohkan perang kolonial Barat terhadap dunia Islam)....

Dari Tsauban ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan”. Kemudian ada sahabat yang bertanya: “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw menjawab: “Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah [yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari]. Dan Allah SWT akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian.” Ada sahabat yang bertanya lagi: “Wahai Rasulullah Saw, apakah wahn itu?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”

READ MORE ... Monggo di-Klik

Script Interview Komandan Jabhah al Nushrah Pasca Penaklukan Bandara Militer Terbesar Kedua Suriah

 

Kantor Berita Nora News melaporkan Aliansi Mujahidin Front Islam Suriah (Jabhah Islamiyah Suriah) meraih kemenangan telak dalam pertempuran di bandara militer Taftanaz, kota Taftanaz, propinsi Idlib pada Jum'at (11/1/2013) setelah melalui pengepungan selama berminggu – minggu. Dari penaklukan bandara militer Taftanaz, mujahidin Front Islam Suriah merebut sedikitnya 14 helikopter tempur, 22 tank, 25 panser, 6 truk pengangkut personil militer, satu gudang amunisi, senjata mesin berat dalam jumlah besar, beberapa pelontar rudal anti pesawat dan beberapa stasiun pengisian bahan bakar. Gedung akademi militer dalam kompleks bandara juga dikuasai sepenuhnya oleh mujahidin.

Pangkalan terbesar helikopter militer di kawasan utara Suriah dan bandara militer terbesar kedua untuk seluruh wilayah Suriah itu akhirnya direbut sepenuhnya oleh mujahidin, laporan kantor berita Uranit News dan Nora News.

Situs berita Islam Dier Ezzur menayangkan video wawancara singkat wartawan Koordinator Revolusi Kota Binnisy, Idlib dengan Abu Jabir, salah seorang komandan lapangan mujahidin Jabhah Nushrah yang memimpin perang penaklukan bandara militer Taftanaz. Berikut ini script wawancaranya :

---------------------

Wartawan: "Bersama kami saat ini syaikh Abu Jabir, salah seorang komandan lapangan mujahidin Jabhah Nushrah di Idlib. As-salamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh."

Abu Jabir: "Wa'alaikum salam wa rahmatullah wa barakatuh."

Wartawan; "Syaikh, mungkin Anda bisa menyampaikan pesan kepada kaum muslimin setelah penaklukan bandara militer Taftanaz."

Abu Jabir: "Segala puji bagi Allah semata Yang telah memenangkan tentara-Nya dan sendirian mengalahkan golongan-golongan musuh, tiada sesuatu sebelum-Nya dan tiada sesuatu sesudah-Nya. Segala puji bagi Allah semata, bagi-Nya kerajaan dana bagi-Nya pujian, dan mengalahkan para thaghut tersebut.

Pada hari ini kita berdiri, atas karunia dan kemurahan Allah semata, dalam pangkalan militer ini yang telah terlepas dari kekuasaan rezim, yang sebelumnya mereka pergunakan untuk membombardir mayoritas kota di propinsi Idlib. Atas karunia Allah semata, Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk menimpakan kerugian sebesar-besarnya kepada mereka (pasukan rezim Nushairiyah Suriah). Ini adalah karunia Allah SWT.

Kemenangan ini, tentu saja, kami hadiahkan kepada setiap wanita mulia yang kehormatannya dinodai (oleh pasukan rezim Suriah) di setiap jengkal negeri kita ini, negeri Syam yang diberkahi ini. Kami berjanji, insya Allah, akan melakukan banyak dan banyak lagi operasi serangan, insya Allah, inilah janji kami.

Saudara-saudara kami mujahidin telah menyatukan barisan, baik dari Thali'ah Islamiyah, Jabhah Nushrah, Ahrar Asy-Syam ataupun Shuqur Asy-Syam. Segala puji bagi Allah, usaha bersama inilah ~setelah taufik dan pertolongan Allah~ yang menjadi sebab kemenangan.

Demikian juga kami katakan kepada para syuhada'…kami tak akan melupakan kalian wahai Abu Nashir, Abu Dujanah, Abu Abdullah…kami tidak akan melupakan kalian wahai saudara-saudaraku di jalan Allah. Kami akan mempersembahkan segala hal yang mahal dan berharga untuk membalaskan kematian kalian. Kemenangan ini juga kami hadiahkan kepada darah para syuhada' kami yang gugur dalam perang dan pertempuran ini. Tentu saja mereka adalah orang-orang yang telah disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya,

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

"Di antara orang-orang yang beriman terdapat orang-orang yang menepati janji yang mereka buat dengan Allah (untuk memperjuangkan agama-Nya). Maka di antara mereka ada yang telah gugur dan adapula yang masih menunggu-nunggu (kemenangan atau gugur dalam perjuangan). Dan mereka sedikit pun tidak merubah perjanjian mereka dengan Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 23)

Demi Allah, kami tidak akan mengganti perjanjian kami. Menang atau mati syahid, sebagaimana yang Allah janjikan kepada kami. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam."

READ MORE ... Monggo di-Klik
Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

.

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website
Webmaster Toolkit - free webmaster tools
Google PageRank Checker

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?