<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>
Tampilkan postingan dengan label Menentang Wahabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menentang Wahabi. Tampilkan semua postingan

Telah Hilangkah Ruh Jihad untuk Pembelaan Rasulullah pada Ulama Kita? Apalah Arti kekuatan Demo Semata

 

Ulama Indonesia terdahulu sebenarnya sudah menyadari tabiat penguasa baru, Wahabi, yang telah mengusir Syarif Husain dari tanah Haromain (Mekkah dan Madinah).  Wahabi adalah kaum puritan yang bersemboyan “Pemurnian aqidah Islam”, “Kembali kepada Qur’an dan Hadits” dan mengkafir-kafirkan dan membid’ah-bid’ahkan amalan golongan lain. Pada tahun 1924 Komisi Hijaz, hasil konferensi umat Islam Indonesia di Bandung, telah dikirim ke penguasa baru tersebut dengan misi menyampaikan pesan untuk tidak merusak situs warisan Rasulullah dan para sahabat. Komisi ini juga meminta agar kaum Wahabi menghormati ajaran dan praktek amalan umat Islam yang bukan Wahabi di Makkah dan Madinah.  

Faktanya hingga kini ada sekitar 300-an situs sejarah awal Islam telah dihancurkan. Bagaimana mungkin mereka bisa menghancurkan rumah tinggal Nabi hingga tidak berbekas? Tokoh intelektual besar Wahabi (saya tidak sudi menyebutnya “ulama besar Wahabi”) sejak lebih dari 60 tahun lalu  menyerukan pembongkaran makam keluarga Nabi (ahlul bayt) dan makam para sahabat utama. Mereka penjarakan para ulama bukan Wahabi tanpa proses pengadilan. 

Sejak tahun 1942, mereka undang tentara kafir Amerika di tanah Nabi dan membangun pangkalan militer Dahran. Pengkhianatan penguasa Wahabi terhadap umat Islam sudah terjadi sebelum berkuasa. Mereka berkuasa atas bantuan Yahudi Inggris, (Kolonel) “Lawerence – Prince of Arabia” hingga mendatangkan fitnah teramat besar dengan mengundang Barat untuk mendominasi pusat dunia Islam.

Mereka juga punya hubungan khusus dengan negara Israel dan membiarkan Israel membangun pos pemeriksaan di  Pulau Tiran dan Safir seluas 113 Km yang dimiliki Arab Saudi. Keduanya sangat strategis karena berada di mulut Teluk Aqaba, dimana lalu lintas ke pelabuhan di selatan Israel harus melewati Laut Merah.  “Ulama Besar” Wahabi – Nashiruddin al Albani juga mengharamkan Jihad melawan Israel dan menghimbau warga Palestina pergi meninggalkan tanah miliknya.

Dan kini mereka ingin mewujudkan Mekkah dan Madinah sama seperti kota-kota besar lain di Amerika dan Eropa. Tentu saja harus menggusur semua situs dunia Islam tersebut dengan alasan perluasan dan pembangunan. INI BUKTI TERBARU :

MAKKAH - Pembukaan sebuah toko baru di kota suci Makkah, Arab Saudi, oleh artis Barat Paris Hilton memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia, sebab dianggap sebagai penodaan bagi kota suci Makkah. Hilton telah membuka sebuah toko yang menjual tas mewah dan barang-barang berharga tinggi di kota Makkah awal pekan ini di bulan November 2012.

 

"Toko baru saya yang cantik baru saja dibuka di Mall Makkah di Arab Saudi," tulis Hilton di akunTwitternya, dikutip Onislam.

 

"Tidak perlu ada tokonya di sini karena kami tidak membutuhkannya," kata seorang Syaikh di Saudi, Syaikh Adnan Baharith kepada CNN.

"Jika ini berada di tangan kami (jika berkuasa-red) kami pasti telah menutup seluruh tokonya di Saudi," tambah Syaikh.  Sebenarnya, ini bukan pertama kali Hilton membuka toko di negeri kaum Muslimin itu. Tetapi ini adalah toko ke-5 milik Hilton yang didirikan di Saudi.

 

"Ini adalah toko ke-5 di Arab Saudi, dan jumlah toko totalnya 42! Bangga banget untuk mengembangkan merek saya!" kicau Hilton.

 

Kabar ini bukan saja membuat Muslim di Saudi marah, tetapi juga menimbulkan kemarahan umat Muslim di seluruh dunia.

 

"Ini tidak bisa diterima bagi seorang wanita seperti dia membuka tokonya di sini (Makkah)," kata seorang user menulis di Twitter.

Makkah adalah kota tersuci umat Islam, di sana adalah tempat berkumpulnya umat Islam di seluruh dunia untuk melaksanakan ibadah umrah dan haji. Pemerintah Arab Saudi telah melakukan beberapa proyek pengembangan Makkah, mencakup memperluas area Masjidil Haram dan terminal-terminal untuk ibadah haji.

Namun bertaburnya perusahaan milik non-Muslim di Arab Saudi, terkhusus tanah suci Makkah, membuat banyak Muslim khawatir bahwa Makkah "dikomersilkan."

Lalu mengapa ketua Majelis Ulama Indonesia dan kebanyakan ulama kita seperti menutup mata? Apakah karena kedermawanan Arab Saudi untuk pembangunan masjid dan madrasah di Indonesia? 

MUI: Rencana Hancurkan Makam Nabi SAW, fitnah untuk adu domba umat Islam

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Amidan mengatakan kabar yang menyebutkan Pemerintah Arab Saudi akan menghancurkan Masjid Nabawi beserta Makam Nabi Muhammad Saw adalah isu belaka. Dia menilai isu tersebut sengaja dihembuskan untuk mengadu domba kalangan Muslim, seperti diketahui Arab Saudi dalam manhajnya menisbatkan diri kepada dakwah Salafiyah.

"Memang mau diperluas tapi kondisi makam tidak akan berubah. Selain itu kan makam ada di dalam masjid," kata Amidhan seperti dikutip merdeka.com, Rabu (31/10/2012).

Dia katakan, di Arab Saudi isu tersebut tak beredar. Karenanya, ia mempertanyakan asal isu itu beredar. "Enggak ada sama sekali. Tenang-tenang saja di sini," kata Amidhan yang saat ini berada di Madinah usai menunaikan haji.

Komentar I : Pak Kyai! Rencana itu sungguh rencana teramat besar dan  menjadi isu sejak tahun 1950-an. Sama seperti juga usaha 2 orang nashrani membuat terowongan untuk mencuri jenazah Nabi pada berabad2 yang lalu. Sementara Pak Kyai terlampau tergesa menyimpulkan hanya berdasarkan kunjungan sekilas di Masjid Nabawi.

Menurutnya, pemerintah Arab Saudi juga tidak bakal berani melakukannya. Sebab, jika hal itu terjadi, Pemerintah Arab Saudi akan didemo seluruh umat muslim dunia.

"Pasti akan dimusuhi sama semua umat muslim di dunia, pasti akan didemo. Pasti tidak akan tinggal diam umat muslim," kata Amidan.

Komentar 2 : Pak Kyai, kerajaan Arab Saudi tak ambil pusing dengan demo-demo seperti itu.  Mana ada berita demo disana Karena protes sedikit, langsung dibawa ke penjara. Demo besar di Bahrain ditumpas habis dengan kekuatan senjata oleh tentara Arab Saudi.

Sebelumnya beredar kabar Pemerintah Arab Saudi berencana memperluas Masjid Nabawi di Madinah. Hal itu menimbulkan kekhawatiran banyak pihak jika makam Nabi Muhammad akan dihancurkan.

Kabar ini pertama kali dihembuskan oleh kantor berita Iran, Fars News Agency, yang kemudian dikutip sejumlah media di Indonesia, Senin (29/10/2012) lalu.

Menurut kantor berita itu, pengahancuran makam Rasulullah SAW merupakan bagian dari rencana pemerintah Arab Saudi yang akan menghancurkan seluruh situs bersejarah Islam, termasuk Masjid Nabawi dan 3 masjid lainnya yang merupakan masjid tertua di dunia.

Sebagai gantinya, dikatakan, pemerintah Arab Saudi merencanakan pengembangan proyek ekspansi yang bernilai multi miliar Poundsterling.

Bahkan rencana penghancuran Masjid Nabawi di Madinah, tempat di mana Nabi Muhammad SAW dimakamkan, akan dimulai bulan depan seusai musim Haji. Kemudian, di atas tanah situs paling bersejarah tersebut, pemerintah Saudi akan membangun gedung terbesar di dunia yang bisa menampung 1,6 juta orang.

Dikatakan selanjutnya, pengembangan Masjid Nabawi sebagian besar nantinya akan mengambil bagian sayap barat dari masjid. Dalam sayap itu, terdapat makam 2 khalifah sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Bakar Siddik RA dan Umar bin Khatab RA.

Mengutip Dr. Irfan al-Alawi dari Yayasan Riset Warisan Islam, Fars menyebutkan rencana itu  digulirkan sejak 2007 lalu, dimana Kementerian Urusan Islam Arab Saudi merilis pamflet yang isinya rencana penghancuran makam Rasulullah SAW dan situs bersejarah lainnya. Pamflet tersebut disusun oleh Mufti Besar Arab Saudi, Abdulaziz al-Sheikh. Bahkan, di dalam pamflet disebutkan, penghancuran kubah masjid dan meratakan makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar berdasarkan fatwa Abdulaziz al-Sheikh.

Suara Islam Online
telah berusaha menghubungi Kedubes Saudi Arabia di Jakarta melalui Atase Pers Nawwaf Algarnas. Hingga berita ini diturunkan handphonenya dalam keadaan mati. Pesan singkat yang dikirimkan SI Online juga belum dijawab

Komentar 3 Penutup :

Pak Kyai! Isu pembongkaran makam Nabi SAW, bukan baru ada dan diciptakan oleh media Iran - yang sebagian kaum suni menganggap Syiah bukan bagian dari dunia Islam. Sementara kaum wahabi yang begitu jelas pengkhianatannya dianggap sebaliknya.   Modernisasi di Makkah dan Madinah agar setara dengan kota-kota besar di dunia Barat sudah jelas di depan mata. Tidak perlu dibayangkan lagi Hotel HILTON hanya berjarak satu lemparan batu dari Masjidil Haram di Mekkah.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Studi Analisis : Sampang, Tajul Muluk, dan NU Membeku

 

Ummat Islam memang ditakdirkan harus menghadapi cabaran pertentangan antar golongan. Nabi memberitakan ummat akan terpecah-pecah dengan kefanatikan golongan masing-masing – merasa Islam-nya paling benar dan juga akan muncul nabi-nabi palsu.

Nabi palsu dan ajaran Islam yang sesat pun muncul di kalangan Syiah (seperti Ismailiyah, Nushairiyah atau Druze) namun lebih banyak lagi muncul di kalangan Sunni. Fitnah yang termasuk paling besar di kalangan Sunni adalah munculnya kaum Wahabi/Salafi, pengikut “si Tanduk Setan dari Najed.” Penyebar kebencian dan dendam kesumat. Dakwah, khutbah dan majelis ilmunya pun jauh dari kedamaian karena mengobral cacian, pengkafiran, tuduhan sesat dengan mengklaim Islam-nya paling benar. Slogannya pemurnian Islam dan kembali ke Qur’an & Hadits yang penafsiran dan pengajaran menurut syaikh-syaikh mereka – di luar ajaran gurunya dianggap sesat, bid’ah dan kafir. Saya pun tidak sudi menyebut syaikh-syaikh mereka ini sebagai ”ulama.” 

Namun sayangnya banyak kalangan Sunni memukul rata semua Syiah sesat (ada 22 golongan) sementara mereka menutup mata kesesatan Wahabi. Padahal imam-imam madzab utama di kalangan sunni (Imam Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali) tidak pernah mengkafirkan atau fatwa sesat pada Syi’ah Imamah (Itsna Asy’ariyah – Imam 12 keturunan Ali bin Abii Thalib ra keturunan Rasulullah SAW) meski ada perbedaan sejarah mazhab dan periwayatan hadits dalam rentang 14 abad.

Mengapa kini sikap bijak bil hikmah para imam besar Sunni ini tidak menjadi pegangan penganut Sunni?

Syiah adalah bagian dari ummat Islam dan bagian dari mozaik dunia Islam. Ingat kebencian Wahabi dan penyebaran fitnah salafi telah memperbesar masalah ini.

Sunni dan Syiah Imamah

Segala puji bagi Allah. Alhamdulillaah! Astaghfirullaah!

Kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya dan kami pun meminta ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah, Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Amma ba’du …

Siapa Sunni?

Secara umum, golongan ini adalah umat yang mengikuti aliran Hasan Asy''ari dalam urusan akidah dan keempat imam Mahzab (Malik, Syafi''i, Ahmad bin Hanbal, dan Hanafi) dalam fiqih atau syari’at. Jadi identifikasi golongan Sunni (Ahlul Sunnah) sejarahnya muncul belakangan – pada masa hidup Abu-al Hasan Asy’ari (lahir: 873M- wafat: 935 M) atau 3 abad sesudah Rasulullah SAW wafat.

Ahlul Sunnah (Sunni) secara harfiah adalah orang-orang yang konsisten mengikuti tradisi Muhammad SAW. Baik dalam tuntunan lisan maupun amalan serta sahabat mulia beliau. Golongan ini percaya perbuatan manusia diciptakan Allah dan baik  buruknya karena qadha dan qadar-Nya. Kaum Sunni  memperurutkan keutamaan Khulafaa ur-Rasyidin sesuai urutan dan masa kekuasaan mereka. 

Siapa Syi’ah?

Kaum Syiah atau cikal bakal pendukung Syiah munculnya tidak lama setelah Rasulullah SAW wafat di zaman Khulafaa ur Rasyidin. Merekalah pembela Ali ibn Abi Thalib dan cucu Nabi (Hasan + Husein) yang di kemudian hari diburu dan dibunuh atas suruhan Mu’awiyah. Mereka menganggap Nabi mewasiatkan kekhalifahan pada Ali. Sementara Ali mengurusi jenazah Nabi SAW, Abu Bakr di tempat lain dibaiat oleh para sahabat sebagai khalifah pengganti kepemimpinan Nabi.

Jadi akar sejarahnya adalah pembelaan kepada Ali ibn Abi Thalib (masalah politik). Dalam perkembangannya, ajaran Islam Syiah berkembang dalam rel yang berbeda dengan sejarah sunni. Termasuk sanad dan perawi hadits. Para imam Syi’ah (yang utama 12) Ayatullah sebagai pimpinan tertinggi dan keturunan Rasulullah SAW, bisa saja mengatakan :

“Perawi hadits adalah saya.”  

Karena memang merekalah pemegang otoritas keagamaan dan terutama memang  kapabilitas intelektual - sebagai pewaris ajaran datuknya Nabi SAW - benar-benar sangat terjaga.  Kehidupan sufi (yang sangat dibenci oleh kaum wahabi) dan tradisi keilmuan benar-benar hidup dan berkembang di lingkungan Syiah. Misalnya lembaga pesantren pertamakali muncul dari kalangan Syiah. Sejarah Syiah juga mengiringi masuknya Islam di Indonesia. Ulama Syiah banyak yang ahli  filsafat sehingga mendorong berkembangnya masyarakat yang memiliki ciri rasionalitas.

Mengapa Syiah dan Sunni harus bertentangan?

Membayangkan kasus Sampang – seolah saya ada disana – menjadikan hati, akal dan pikiran saya pun merasa sangat kesakitan dan seketika hati dan pikiran saya menerawang ke penindasan agama yang masih menimpa muslim Sunni  Rohingya di Myanmar. Dan sekarang kaum Mustadh’afin (yang Teraniaya) ini pun sudah dekat di pelupuk mata – di Indonesia. 

Saya bukan penganut Syiah. Ketika kuliah saya pernah mondok di Pesantren NU, di Payaman,  Secang – Magelang. Namun perasaan walaa’ dan barra’ – Muslim itu bersaudara, jika anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh pun akan merasakan sakitnya – perasaan itu yang mengganggu hati dan pikiran saya.

Perbedaan tidak berarti perselisihan. Perbedaan dapat menjadi rahmat karena ia merupakan sumber kekayaan intelektual khazanah Islam.

Sampang, Tajul Muluk, dan NU yang Membeku

Tajul Muluk, penganut mazhab Syiah di Sampang telah dikriminalisasi karena keyakinannya adalah contoh orang kecil tertindas. Saya tidak bisa mendamaikan kemarahan dengan kesedihan saya yang mendalam atas nasibnya, tanpa menuliskannya. Bagi saya, Tajul Muluk adalah pantulan diri saya sendiri. Saya melihat diri saya pada dirinya dan nasibnya.

Simpati saya datang dari rasa kemanusiaan yang wajar, sedemikian wajarnya sehingga saya merasa perlu untuk mengurai penindasan yang dialami dengan alasan yang wajar dan mudah, mengabaikan kerumitan teknis hukum dan pasal-pasal.

Semata-mata agar orang tahu, tanpa perdebatan soal prosedur hukum dan pengadilan tiga per empat yang kerap begitu palsu, keadilan dan ketidakadilan bukanlah perkara yang rumit untuk dipahami bahkan bagi orang kebanyakan. Dan hakim atau pengadilan sering kali gagal melihat konteks-konteks sosial secara utuh sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari bangunan kesimpulan hukum.

Tajul Muluk awalnya adalah seorang santri, kemudian seorang ustad yang memimpin madrasah milik orangtuanya. Sebagaimana orangtuanya, dia menetap dan menghabiskan umurnya yang mendekati 40 tahun, sebagai warga kampung di Dusun Nangkernang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.

Selama itu, dia tak pernah terlibat kejahatan, perbuatan asusila, atau kebejatan moral yang meresahkan masyarakat. Bahkan sebaliknya, dia adalah seorang ustad yang pintar, peduli, dan secara tak terelakkan menjadi panutan di kampungnya.

Ditunjang dengan bahasa Arab yang cukup baik, bekal ilmu agama yang luas, dan kepribadian yang lembut terutama terhadap warga miskin di sekitarnya, keberadaan Tajul adalah ‘perbedaan mencolok’ bagi praktik keberagamaan yang semakin simbolis dan cenderung membeku di Sampang.

Dengan sadar saya menulis bahwa telah begitu lama tumbuh sejumlah kiai gadungan yang mengaku NU atau lebih tepatnya pedagang agama dengan simbol-simbol NU yang telah menjadikan agama dan tradisi NU yang mulia itu sebagai barang dagangan di Sampang.

Sebagian para pengaku kiai NU di Sampang itu mencekik umat bahkan yang miskin dengan tarif saat perayaan mauludan Kanjeng Nabi dan ritual-ritual tradisi NU lainnya yang sangat dihormati di Sampang.

Sehabis ritual-ritual itu, sudah umum diketahui begitu banyak warga di Sampang sering harus berutang karena tradisi menanggap kiai berceramah dari pintu ke pintu. Status dan kadar ke-NU-an perlahan-lahan dibangun di atas hubungan-hubungan selebritas agama yang menyusahkan daripada membebaskan.

Kiai-kiai NU ini tentu saja tak benar-benar layak disebut kiai kecuali karena simbol-simbol di tubuhnya. Mereka mempromosikan Islam NU yang materialistis dengan menjual tarif dan tak lagi mau berkunjung ceramah ke tempat orang-orang miskin yang jamak ada di sana. Anda tak perlu mengerahkan daya selidik yang serius untuk mengetahui realitas seperti itu.

Kiai atau tokoh agama itu kini juga lebih banyak menjual proposal agama dengan Pemda ketimbang memperjuangkan masalah sosial dan kepentingan umat yang cukup mengkhawatirkan di sana.

Jika saja pikiran orang di Sampang dibiarkan bebas tanpa membutakan diri dengan simbol dan dogma, keprihatinan-keprihatinan mendalam terhadap kebekuan beragama itu sebenarnya tidak asing di benak warga Sampang. Mereka merasakan belenggu-belenggu itu lebih banyak dari mengatakannya.

“Tetapi kok Kiai itu (Tajul) berbeda?” pikirnya, “Kalau begitu, mending saya jadi Syiah saja atau Muhammadiyah. Tak perlu harus berutang!”

Perlahan-lahan, sepak terjang keberagamaan Tajul Muluk, anak seorang kiai terpandang di Sampang, yang ramah terhadap orang miskin dan lebih mempesona dalam berdakwah, secara serius mengusik kemapanan kiai-kiai pecinta materi yang ada di Sampang, khususnya di Kecamatan Omben. Tajul Muluk adalah anti-tesa, sebuah Islam protes kepada kebekuan beragama yang menguat di sana.

Perang pengaruh yang mulanya bersifat personal telah beralih secara cepat menjadi sentimen identitas mazhab bahwa kami NU sementara Tajul Muluk itu Syiah dan (karenanya) sesat. Tentu saja sentimen primordial yang meruncing itu adalah dalih untuk membungkus alasan sesuangguhnya yang jauh lebih primordial dan memalukan: kecemburuan, ketakutan akan hilangnya pamor dan panggung dakwah para kiai. Hal-hal yang cepat atau lambat, dengan atau tanpa Tajul Muluk, sebenarnya pasti akan terjadi di Sampang.

Tajul Muluk kemudian diolah dalam desas-desus dan fitnah klise yang standar dan mengada-ada tentang Syiah sehingga kemudian Tajul tersihir sebagai musuh masyarakat. Para kiai yang kemapanannya terusik itu mendapatkan angin pembenaran lebih dahsyat lagi oleh kelompok wahabi/takfiri bernama al-Bayyinat, yang juga mendaku diri sebagai kader NU yang anehnya terang-terangan memiliki agenda organisasi dan tercermin dalam ceramah kebencian mereka yang sistematis untuk menyesatkan dan memerang Syiah, khususnya di Jawa Timur.

Persekutuan jahat itu pun makin menjadi-jadi dengan melibatkan politik daerah di Sampang yang dimainkan oleh Bupati Sampang Noer Tjahja. Bupati ini melihat peluang menjadikan kasus Tajul Muluk sebagai kasus populis yang bisa digunakannya mendulang simpati massa fanatik NU untuk memilihnya sebagai bupati untuk kali kedua. Semenjak itu, bupati ini secara aktif mengeraskan dan memobilisasi pidato kebencian terhadap Tajul Muluk dan paham Syiah.

Tajul Muluk akhirnya terusir dari rumah, kampung halamannya dan dari pengikut dan santrinya yang berjumlah lebih dari 350 orang. Tapi itu rupanya tidak cukup. Jauh di pengungsian, Tajul mendengar, rumah dirinya, madrasah, mushalla, koperasi, rumah ibunya, dll telah dibakar massa.

Kebakaran itu berbuntut pengungsian ratusan warga pengikut Syiah dan kemudian penderitaan yang tidak berkesudahan hingga sekarang, misalnya: penjarahan harta benda, pemecatan para buruh tani karena tidak mau keluar dari Syiah, dan  lainnya.

Alih-alih aktor penyuruh dan pelaku pembakaran ditangkap, dan hukum ditegakkan, yang terjadi Tajul Muluk yang sebenarnya adalah korban justru dikriminalisasi dan dihukum karena dianggap melakukan penodaan agama. Tak ada rehabilitasi rumah korban, pergantian hak warga yang dirampas atau bahkan sekadar kata maaf.
Warga Syiah dan Tajul Muluk dipersekusi haknya secara perlahan dan menyakitkan. Dalam penderitaan dan kemiskinan, anak istri Tajul Muluk, dan pengikutnya, menjalani penindasan di depan negara yang hanya bersedia menjadi penonton.

Tanpa basa-basi saya ingin mengatakan, NU yang toleran, yang katanya memiliki prinsip kemanusiaan dan keindonesiaan yang solid terbukti hanya ilusi di Sampang.
NU boleh bersilat lidah, bahwa ada oknum, tapi tampaknya apa yang disebut oknum-oknum itu telah cukup menguasai kancah politik organisasi NU di Jawa Timur, dan mungkin di daerah lain dalam waktu cepat, begitu cepatnya sehingga tak bisa dibayangkan oleh tokoh-tokoh ideologis NU sendiri.

Pada saat itu, mungkin NU bahkan akan pula segera disesatkan dan dikafirkan oleh rayap takfiri yang menempel di rumahnya sendiri yaitu si bunglon Wahabi.

Source:
Hertasning Ichlas; beritasatu.com; Kamis, 16 Agustus 2012

Saya tutup dengan pandangan Habib Rizieq mengenai Syiah dari release resmi FPI :

"KONFLIK BERDARAH Sunni - Syiah tidak boleh terjadi. Sunni harus bisa menahan diri dan Syiah harus tahu diri. Artinya, Sunni tidak boleh tunjuk hidung dengan  mengkafirkan Syiah, apalagi menggeneralisir bahwa semua Syiah kafir, tapi Sunni tetap wajib mengkafirkan aneka pemikiran yang nyata-nyata kafir dari siapa pun datangnya.”

Untuk menghibur hati yang galau dengan maraknya kyai, ustadz dan guru ngaji yang menjual Islam dan untuk mengingati kerinduan kami pada ustadz saya dulu yang mukhlis, saya kutipkan syair ini :

Dimana Ustadz kami  

Dimana ustadz kami yang selalu tersenyum dengan sorban hijau dan janggut di wajahnya?
Dimana ustadz yang dulu mengajarkan alif ba ta tsa ... hingga yak di surau kami?
Dimana ustadz yang dulu memberi tausiah iman dan Islam di langgar kampung?
Dimana ustadz yang mengajarkan etika, kesopanan akhlaqul karimah kepada kami?

Ustadz itu sudah tidak ada, saudaraku … Saya tidak sudah tidak lagi menemukan. 
Yang ada ustadz-ustadz yang menunggangi ummat untuk kepentingan pribadi.
Tidak ada lagi uluran tangan untuk kami cium sebagai hormat kami
Tidak ada lagi yang men-tartil tilawah kami
Tidak ada lagi yang menasihatkan kami untuk tegar dalam Iman dan Islam
Tidak ada lagi penjaga akhlaq kami

Yang ada adalah para ustadz dan santri yang siap menghajar kami
membubarkan tempat pengajian kami
menghancurkan rumah dan sekretariat tempat kami berkumpul dan tilawah qur'an
jumlahnya ratusan bahkan ribuan
datang dari jauh
bukan untuk mentausiahkan kami
mengajak kami mengaji
tapi menghancurkan kami
karena kami menjaga eksistensi agama Islam ini, yang dulu telah diajarkan mereka kepada kami.

Dimana ulama itu ?  Dimana MUI itu ?  Dimana Ummat Islam ???

Ketika penjara penuh dengan orang pengajian dan ustadz yang komitmen Islam
Selamat datang kemaksiatan
Selamat datang penyimpangan
Selamat datang kebebasan

READ MORE ... Monggo di-Klik

Rektor IAIN Sunan Ampel : Syiah Itsna Asy’ariyah Bukan Aliran Sesat!

 

25 Agustus 2012 terjadi penyerangan fisik terhadap muslim Syi’ah Imamah (Itsna Asy’ariyah) di Sampang, Madura. Penyerangan biadab terjadi hanya dalam beberapa hari sesudah lebaran dengan beberapa korban jiwa dan pembakaran rumah-rumah saat mereka merayakan lebaran ketupat. Alasan penyerangan karena mereka ingin membangun kembali masjid yang rusak.

Padahal dalam 14 abad sejarah Syiah otoritas ulama di kalangan sunni (Ahlu Sunnah wal Jama’ah) menganggap mereka bagian dari Islam. Imam madzab utama di kalangan sunni (Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hambali) tidak pernah sekalipun memfatwakan Syiah Itsa Asy’ariyah sesat dan keluar dari Islam. 

Kalangan ulama utama NU sendiri tidak pernah fatwakan Syi’ah Imamah keluar dari Islam. Tetapi mengapa terjadi penyerangan terhadap saudara sesama muslim?  

Kita meyakini kebenaran hadits Nabi SAW bahwa ummat akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat adalah yang mengikuti sunnah Nabi dan berpegang teguh pada Al-Qur’an. Kita tahu sebutan Islam sunni atau Ahlu sunnah wal jama’ah adalah sesuatu yang baru – tidak ada di zaman Rasulullah, shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in. Aqidah kaum sunni pun dirumuskan oleh Hasan Asy’ari. demikian pula Syiah adalah sesuatu yang baru bahkan lebih dahulu ada.  Syiah muncul karena ada  perbedaan politik khilafah (kepemimpinan) sepeninggal Nabi.

Maka alangkah naifnya, Wahabi – salafi yang baru 300 tahun sejarahnya, telah melakukan takfir, caci-maki, umpatan kebencian, menaburkan fitnah dan provokasi agar kalangan sunni selalu memusuhi mereka. Padahal hadits “Tanduk Setan dari Najd yang akan muncul pada abad 12 H” justru menunjuk ke hidung Muhammad bin Abdul Wahhab) dari Najd, Arab Saudi pendiri Wahabi pada akhir abad 18 M.

Syiah terbagi 22 golongan, sebagiannya (seperti Nushairiyah dan Isma’iliyah) jelas sesat dan dan sebagian lain tidak sesat – seperti Syiah Imamah (Itsna Asy’ariyah) dan Zahidiyah di Yaman.  Kita juga tahu di kalangan yang mengklaim golongan sunni ada begitu banyak golongan sesat-menyesatkan – salah satunya Wahabi/Salafi. Lalu mengapa harus merasa paling benar dan menghakimi muslim lain kafir dan sesat.

Saya bukan penganut Syi’ah. Agama saya ISLAM (titik). Tidak ada embel-embel Islam sunni atau Islam Syi’ah apalagi Islam Salafi.

Rektor IAIN Surabaya: Syiah Sampang Bukan Aliran Sesat

TEMPO.CO, Surabaya - Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Abd A'la menegaskan bahwa aliran Syiah yang dianut warga Sampang bukanlah aliran sesat. "Masalah keyakinan Syiah itu sudah clear, tidak sesat, Syiah bagian dari Islam," kata A'la kepada Tempo, Minggu, 27 Agustus 2012.

Menurut A'la, jika Syiah dianggap sesat maka sama artinya dengan tidak mengganggap negara Iran sebagai negara Islam. "Iran itu mayoritas Syiah dan dianggap negara Islam. Apa kita akan mengingkari hal itu," ujarnya.

Memang terdapat banyak aliran dalam Syiah, namun dari kacamata A'la, di dunia ini hanya mengakui satu aliran Syiah yang sesat yaitu Syiah Ghulam. Sedangkan yang ada di Indonesia, kata A'la, bukanlah aliran Ghulam.

A'la juga minta ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak gampang melabeli sesat kepada aliran tertentu.

Selain itu, A'la juga minta seluruh tokoh masyarakat mampu menciptakan kedamaian di tengah masyarakat. Seorang tokoh yang hanya menebarkan kebencian untuk memaksakan suatu keyakinan merupakan tokoh yang tak mengetahui hakikat dari Islam itu sendiri.

A'la lantas menukil salah satu ayat dari surat Yunus ayat 99 yang berbunyi. "Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi beriman semua?".

A'la juga minta pemerintah tak gegabah dalam merelokasi warga Syiah Sampang. "Relokasi malah akan menjadikan Syiah eksklusif, dan ini justru bahaya."

Konflik yang melibatkan Syiah, tambah A'la, mayoritas bukan karena perbedaan keyakinan melainkan adanya faktor lain, seperti faktor politik maupun konflik keluarga. Dia mencontohkan terbunuhnya Husain bin Ali, serta peperangan antara Muawiyah dan Ahlul Bait yang semuanya bernuansa politik.

Karenanya, konflik antara Syiah dan warga Sampang diduga juga bukan karena adanya perbedaan keyakinan. "Kan sebentar lagi ada Pilkada, saya tidak bermaksud mengecilkan masalah, tapi faktor politik seringkali memicu," tutur A’la.

Apalagi antara Syiah dan NU, kata A’la pula, sebenarnya memiliki banyak ritual yang sama. Ritual pujian ala NU, misalnya, adalah meniru ritual ala Syiah.

Tetapi Islam juga mengajarkan bahwa perbedaan juga rahmat. Jangan mudah saling mengkafirkan atau begitu mudah menuduh sesat dan mengabaikan perbedaan yang sudah ditakdirkan pada ummat Islam. Dakwah Islam tidaklah dengan kekerasan tetapi dengan bil hikmah.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Sampaikanlah Pesan Islam Sesuai dengan Kadar Akal

 

Sering dalam membicarakan issue ajaran Islam kita disodori pertanyaan :

Haditsnya mana, ayatnya mana? Kedudukan haditsnya shohih atau tidak? Siapa perawinya? Sanad hadits-nya mana? Anda belajar dari mana?

Pertanyaan ini sangat khas di kalangan penganut Wahabi / Salafi dari yang awam sampai yang sudah senior. Sementara “ulama” Wahabi yang mengaku ahli hadits – Syaikh Nashiruddin al-Albani, ketika diminta menyebutkan 10 hadits dengan sanadnya (perawinya hingga ke Rasulullah) tidak mampu menjawab. Dan akhirnya mengaku “Saya ahli hadits kitabi” – Jelasnya si tukang reparasi arloji jam ini belajar hadits dari buku.

Pertanyaan diatas tidak selayaknya disodorkan pada muslim awam. Bahkan tidak semua pendakwah atau mubaligh atau ustadz memiliki kapasitas untuk menjawab. Silahkan tanyakan atau lakukan konfirmasi kebenaran hadits dan pemahaman tafsir Qur’an kepada ahlinya – ulama hadits dan ulama tafsir. Jangan kepada seorang muslim biasa yang menyampaikan kebenaran tentang Islam.

Apakah hanya karena dia seorang muslim biasa (awam) dan ketiadaan pengetahuan ilmu hadits dan ilmu tafsir akan menghalangi seseorang untuk menyampaikan esensi ajaran dan kebenaran Islam. Pahamilah perkataan dan nasehat agama darinya dan jika masih ragu, maka bertanyalah kepada ahlinya. Karena boleh jadi dia hanya menggugurkan kewajiban pada setiap muslim :

- Balighuu ‘anni walau ayah (Sampaikan oleh kalian walau hanya satu ayat)

- Saling nasehat menasehatilah kalian (dalam mengajarkan ajaran Islam).

Ketahuilah setiap muslim masing-masing memiliki otoritas dan kewajiban yang dituntut dan akan dia pertanggungjawabkan di akhirat sesuai dengan kapasitas dan timbangan akalnya. Setiap muslim bertanggungjawab bagaimana mengajarkan, mendidik dan memimpin keluarganya.

Kapasitas sebagai seorang muslim awam

Kewajiban seorang muslim awam adalah menyampaikan esensi kebenaran ajaran Islam sesuai dengan pemahaman maksimalnya. Misalnya, seorang jama’ah umroh dan dia ini muslim biasa (awam) menghadiri majlis ilmu seorang ulama ahli hadits di masjid Nabawi – Madinah. Dia didampingi seorang translator yang menterjemahkan perkataan ulama tersebut.

Muslim awam tersebut pun menangkap esensi dari ajaran ulama tersebut, termasuk ingatan isi kandungan hadits atau ayat al-Qur’an. Dia tidak memiliki pengetahuan tentang matan hadits, perawi dan sanadnya atau bahkan setelah sekian lama dia lupa dengan hafalan ayatnya atau nama ulama hadits dalam majlis ilmu tersebut.

Apakah hanya karena lupa atau tidak tahu ilmu kedudukan hadits tersebut dan tidak hafal ayat namun esensi ajarannya masih utuh dalam benaknya akan menghalangi seorang muslim biasa untuk menyampaikan esensi ajaran Islam kepada Istrinya, keluarganya, kerabatnya dan bahkan jama’ah pengajian di mushola lingkungannya?

Kapasitas sebagai pendakwah atau mubaligh atau ustadz

Mereka berkepentingan menghafal matan (redaksional) ayat Al-Qur’an dan hadits, memahami penafsirannya sebagaimana yang diajarkan gurunya atau ulama hadits dan ulama tafsir, kitab-kitab kuning yang ditulis ulama salaf di bidang tafsir dan hadits. Beserta asbaabul Nuzul dan asbaabul furuj. Pada tingkatan ini ustadz satu dengan ustadz-ustadz (asaatidz) pun masing-masing memiliki derajat keilmuan yang berbeda-beda.

Sebagian mereka memiliki kapasitas untuk menjawab pertanyaan alinea pertama diatas, sebagian lain barangkali tidak mampu menguraikan jawaban yang benar. Apalagi jika ia menjadi ustadz kitabi (mempelajari Islam dan mengajarkannya hanya dari buku) atau berguru tidak dalam jangka waktu lama atau hanya dari satu-dua orang guru.

Kapasitas sebagai ulama ahli hadits (Muhadits) atau ahli tafsir al-Qur’an (Mufasir)

image Mereka ini sumber ilmu Islam sejati, ibarat air berasal dari sumber yang jernih dan memiliki otoritas dan kapasitas menjaga Islam tidak tercemari oleh ajaran sesat. Mereka setia menjaga Islam yang diajarkan Rasulullah SAW, yang kemudian diwariskan ke generasi terbaik ummat Islam – Shahabat, Tabi’in, Tabi’it-Tabi’in – kemudian ke ulama pengumpul hadits (Imam Bukhori, Muslim, Ahmad etc.), imam madzab yang diakui (Imam Maliki, Hanafi, Syafi’I,Hambali etc.), ulama salaf ahli hadits dan tafsir qur’an, ulama khalaf (yang datang kemudian) yang dari generasi ke generasi menjaga dan mewariskan sanad ajaran Rasulullah SAW hingga sekarang.

Merekalah tempat sebaik-baiknya bertanya tentang ajaran Rasulullah SAW, tentang ajaran Islam. Datangilah majlis ilmunya dimanapun berada karena engkau akan mendapati pengajaran Islam dari sumber mata air yang jernih. Karena belajar Islam hanya dari buku atau bahkan internet saja boleh jadi memiliki fondasi ilmu yang rapuh atau bahkan sesat tanpa disadari.

Namun hati-hati dalam memilih guru dan majlis Ilmu, karena banyak yang sesat-menyesatkan. Sebagaimana nubuwwat Rasulullah yang memberitakan bahwa kelak mendekati kiamat banyak kesesatan di kalangan ummat. Namun Rasulullah memberi tuntunan untuk mengikuti fikroh yang dianut mayoritas ummat Islam dan lebih spesifik lagi mengikuti ulama dari kalangan jurriah keturunan Rasulullah – yaitu kalangan ahlul bait atau habaib (jamak dari kata habib).

Semoga Allah memberkati dan member hidayah kepada kita semua – Amien.

READ MORE ... Monggo di-Klik

Ta'wil al Imam al Bukhari Membungkam Pemuda Wahabi

 

Kaum wahabi yang dalam otaknya sudah penuh dengan doktrin akan bersikap sok dan merasa pintar sendiri. Dalam ajaran Wahabi saling menghormati menyayangi bisa dikatakan tidak ada sama sekali, yang ada hanya ego dan kecongkakan. Begitu sombong dan congkaknya mereka hingga berani mengkafirkan imam-imam besar. Dan tidak sedikit di antara mereka yang sampai mengkafirkan shahabat.

Ciri ciri kaum wahabi:

  1. Biasa memvonis bid'ah dan kafir pada orang Islam yang tidak sefaham. Mereka tidak menerima qaidah yang menyatakan bid'ah terbagi bid'ah hasanah dan bid'ah sayyi'ah.

  2. Mereka tidak mau menta'wil al Qur'an maupun al Hadits, dan memaknai al Qur'an dan al Hadits secara harfiyah saja.

  3. Sikapnya kaku dan merasa paling benar atau mencaci-maki orang yang tidak sepaham.

Berikut ini kisah orang Wahabi yang tidak bisa menjawab karena  pendapatnya yang berlainan dengan pendapat imam Bukhari.

    Kalau kita amati dengan seksama, perdebatan Wahabi dengan ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, akan mudah disimpulkan, bahwa si Wahabi sering mengeluarkan vonis hukum tanpa memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan tidak jarang, pernyataan mereka dapat menjadi senjata untuk memukul balik pandangan mereka sendiri. Seperti kisah di bawah ini.

    Ustadz Syafi’i Umar Lubis dari Medan bercerita:
    “Ada satu pesantren di kota Siantar, Simalungun, Sumatera Utara. bernama Pondok Pesantren Darussalam. Setiap tahun, Pondok tersebut mengadakan Maulid Nabi SAW dengan mengundang ulama dari berbagai daerah termasuk Medan dan Aceh. Acara puncak biasanya ditaruh pada siang hari. Malam harinya diisi dengan diskusi.

    Pada Maulid Nabi SAW tahun 2010, saya dan beberapa orang ustadz diminta sebagai pembicara dalam acara diskusi. Diskusi kali ini membahas tentang Salafi apa dan mengapa, dengan judul Ada Apa Dengan Salafi?

    Setelah presentasi selesai, lalu tiba sesi tanya-jawab. Ternyata dalam sesi ini ada orang yang berpakaian gamis mengajukan keberatan dengan pernyataan saya dalam memberikan keterangan tentang Salafi, antara lain berkaitan dengan ta’wil.

    Orang Salafi tersebut mengatakan: “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab. Sudah barang tentu harus kita fahami sesuai dengan bahasa Arab pula”. Pernyataan orang Salafi itu, saya dengarkan dengan cermat. Kemudian dia melanjutkan keberatannya dengan berkata: “Ayat-ayat al-Qur’an itu tidak perlu dita’wil dan ini pendapat Ahlussunnah” (pendapat wahabi).

    Ta’wil terhadap teks-teks mutasyabihat telah dilakukan oleh para ulama salaf, di antaranya Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain. Akan tetapi kaum Wahhabi sering kali mengingkari fakta-fakta tersebut dengan berbagai macam alasan yang tidak ilmiah dan selalu dibuat-buat.

    Setelah diselidiki, ternyata pemuda Salafi itu bernama Sofyan profesi sebagai guru di lembaga As-Sunnah, sebuah lembaga pendidikan Wahhabi atau Salafi.

    Mendengar pernyataan Sofyan yang terakhir, saya bertanya:

    “Apakah Anda yakin bahwa al-Imam al-Bukhari itu ahli hadits?” Sofyan menjawab: “Ya, tidak diragukan lagi, beliau seorang ahli hadits.”

    Saya bertanya: “Apakah al-Bukhari penganut faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah?”

    Sofyan menjawab: “Ya.”

    Saya berkata: “Apakah al-Albani seorang ahli hadits?”

    Sofyan menjawab: “Ya, dengan karya-karya yang sangat banyak dalam bidang hadits, membuktikan bahwa beliau juga ahli hadits.”

    Saya berkata: “Kalau benar al-Bukhari menganut Ahlussunnah, berarti al-Bukhari tidak melakukan ta’wil. Bukankah begitu keyakinan Anda?”

    Sofyan menjawab:“Benar begitu.”

    Saya berkata: “Saya akan membuktikan kepada Anda, bahwa al-Bukhari juga melakukan ta’wil.”

    Sofyan berkata: “Mana buktinya?”

    Mendengar pertanyaan Sofyan, saya langsung membuka Shahih al-Bukhari tentang ta’wil yang beliau lakukan dan memberikan photo copynya kepada anak muda itu. Saya berkata: “Anda lihat pada halaman ini, al-Imam al-Bukhari mengatakan:

    بَابُ – كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ اَيْ مُلْكَهُ.
    Artinya, “Bab tentang ayat : Segala sesuatu akan hancur kecuali Wajah-Nya, artinya Kekuasaan-Nya.”
    Kata wajah-Nya, oleh al-Bukhari diartikan dengan mulkahu, artinya kekuasaan-Nya.

    كل شيئ هالك الا وجهه. الا ملكه. ويقال الا ما اريد به وجه الله
    “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya”, maksudnya adalah“Kecuali kekuasaan-Nya. Dan ada pendapat lain yang mengatakan “Kecuali yang ditujukan untuk mendapatkan balasan Allah”. (Shahih Al Bukhari Juz 3 halaman 171).

    Apa yang dilakukan Al Bukhari di atas jelas merupakan Ta’wil terhadap firman Allah. Ini berarti Akidah Imam Al Bukhari sama dengan Akidah mayoritas Ummat Islam.

    “Kalau begitu al-Imam al-Bukhari melakukan ta’wil terhadap ayat ini. Berarti, menurut logika Anda, al-Bukhari seorang yang sesat, bukan Ahlussunnah. Anda setuju bahwa al-Bukhari bukan Ahlussunnah dan pengikut aliran sesat?”

    Mendengar pertanyaan saya Sofyan hanya terdiam. Sepatah katapun tidak terlontar.

    Kemudian saya berkata: “Kalau begitu, sejak hari ini, sebaiknya Anda jangan memakai hadits al-Bukhari sebagai rujukan. Bahkan Syaikh al-Albani, orang yang saudara puji itu, dan orang-orang Salafi memujinya dan menganggapnya lebih hebat dari al-Imam al-Bukhari sendiri. Al-Albani telah mengkritik al-Imam al-Bukhari dengan kata-kata yang tidak pantas.

    Al-Albani berkata: “Pendapat al-Bukhari yang melakukan ta’wil terhadap ayat di atas ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang Muslim yang beriman”.

    Itulah komentar Syaikh Anda, al-Albani tentang ta’wil al-Imam al-Bukhari ketika menta’wil ayat:
    بَابُ – كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ اَيْ مُلْكَهُ.
    Dengan beraninya Syaikh Albani bertindak kurang ajar terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak patut diucapkan oleh seorang Muslim. Secara tidak langsung, seolah-olah al-Albani mengatakan bahwa ta’wilan al-Imam al-Bukhari tersebut pendapat orang kafir (selain Muslim).

    Kemudian saya mengambil photo copy buku fatwa al-Albani dan saya serahkan kepada anak muda Salafi ini. Ia pun diam seribu bahasa.

    Demikian kisah yang dituturkan Syafi’i Umar Lubis dari Medan, ulama muda yang kharismatik dan bersemangat dalam membela Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

    bagi Wahabi pemula memang masih ada yang canggung untuk mengkafirkan para imam besar langsung dari mulut mereka, namun pada dasarnya, dalam hati mereka, mereka sudah menghinakan bahkan mengkufurkan dan memasukkan para imam besar Islam pada katagori ahlul bid'ah.

    seperti contoh yang sudah dilakukan oleh seniornya, al Albani.

    maka dari itu, mengajilah yang baik kepada orang yang benar benar alim dan berakhlakul karimah, agar anda selamat di dunia dan di akhirat.

    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook.

    READ MORE ... Monggo di-Klik

    Dimana Posisi Wahhabi dalam peta Permusuhan Islam vs Imperialism?

     

    Bagi orang yang memiliki pandangan jernih untuk mampu memandang kebenaran,  membuka matanya untuk menelusuri sejarah Wahabiyah, dia akan melihat  pendiri Wahabi (si Tanduk Setan dari Najd, sebagaimana diramalkan Nabi akan muncul di abad 12H/akhir abad 17M) di masa mudanya dekat agen Inggris di Irak, dan kaum Wahabi pendukung pertama dan utama imperialis Barat di dunia Islam jazirah Arab,  merongrong kekhalifahan ISLAM Turki dan saat “merdeka semu” (pengaruh Amerika bercokol kuat) menjadi negara-negara kecil dengan Nasionalism sempit.

    POSISI WAHABI DALAM GEOPOLITIK

    Jika menelusur sejarah Muhammad ibn Abdul Wahhab dan pemimpin Wahabi setelahnya tidak pernah ditemukan upaya nyata mensejahterakan umat, tegakkan keadilan, cegah kedzaliman dan melawan kebodohan. Yang terjadi justru penindasan, pembunuhan, pemenjaraan ulama dan penentang kerajaan Wahabi Arab Saudi dan penguasa tiran di seluruh bekas wilayah Turki Utsmani. Wahabi ikut andil mengubah dunia Islam di Timur Tengah dan mengundang Imperialism Barat.

    Bahkan, mereka jadikan barat sebagai qiblat dan mereka dukung para penjajah untuk menginjak-injak martabat negara-negara Arab dan Islam. Diizinkannya Miltary base kafir AS di Dahran - dengan Makkah dan Madinah.

    Atau fakta yang tersimpan sejak lama, bahwa Israel ternyata menduduki wilayah Arab Saudi sejak tahun 1967.  Pulau Tiran dan Safir, dua pulau gabungan ini milik Arab Saudi yang memiliki luas 113 Km.  Keduanya sangat strategis karena berada di mulut Teluk Aqaba, dimana lalu lintas ke pelabuhan di selatan Israel harus melewati Laut Merah.  Israel membiayai sebuah pos di kedua pulau tersebut.

    image

    Inilah bukti mereka adalah kepanjangan tangan musuh-musuh Islam yang dengan semaunya mereka permainkan Islam.

    - Traktat Ibn Sa`ud – Inggris pada 26 Desember 1915

    - Penempatan pangkalan militer AS di Dhahran sejak 1942 – sekarang

    - Fatwa bolehkan meminta pertolongan AS dalam Perang Teluk 1990-1991.

    Permusuhan Wahabiyah kepada umat Islam secara gamblang bisa dilihat dari fatwa pemuka utama wahabi (saya tidak sudi menyebutnya ulama) Nashiruddin al Albani ketika memberikan fatwa bahwa,

    Kepada penduduk Palestina ia fatwakan wajib keluar dari Palestina, apa kemaslahatan dari ini semua? Dan untuk siapa kita tinggalkan Palestina jika kita mewajibkan penduduknya meninggalkan Palestina? Berapa harga fatwa ini? Orang yang cerdas adalah orang yang memahami isyarat ini. Siapa yang membayar al Albani untuk fatwanya ini???

    Inilah kenyataan dari apa yang telah mereka dilakukan, atau yang sedang mereka lakukan juga rencana busuk mereka di masa mendatang.

    AQIDAH WAHABI

    Tidak akan ditemukan dalam sejarah Wahabi kecuali pengkafiran terhadap umat Islam dan tuduhan syirik, mewajibkan untuk memerangi mereka serta menghalalkan darah dan harta mereka.

    Dalam diri mereka yang ada hanyalah aqidah tajsim, tasybih, kufur, sesat dan pengingkaran ziarah makam Rasulullah dan makam orang yang shalih untuk bertabarruk, pengkafiran terhadap orang yang mengatakan: “Wahai nabi pembawa rahmat mintakan syafaat untukku kepada Allah!!”.

    Mengingkari perayaan maulid nabi yang mulia seperti biasa dilakukan di kalangan ahlussunnah, mengharamkan membaca al Qur’an bagi umat Islam yang telah meninggal dunia, inilah rutinitas mereka tidak ada yang lain.

    Satu-satunya tujuan mereka dengan kedok agama mereka menumpahkan darah umat Islam yang tidak berdosa, menghalalkan yang haram, dan menyebarkan fitnah demi fitnah. Sungguh licik hati mereka penuh dengan kedengkian dan kebencian serta suka membuat masalah pada umat.

    Wahabiyah mengklaim bahwa mereka hanya mengikuti Nabi dan tidak membuat bid’ah. Aqidah mereka yang telah kita paparkan bersumber dari kitab-kitab mereka adalah saksi kebohongan mereka, jelas mereka pembuat bid’ah dalam aqidah.

    Dalam sebagian aqidah Wahabi mengikuti Yahudi, Fir’aun dan Hamman terbukti mereka berhujjah dengan aqidah orang-orang ini. Bahkan dalam hal menetapkan arah, batasan, tempat, duduk, bergerak, diam, berat, timbangan, lisan, mulut kepada Allah, mereka mengambil pernyataan Yahudi, Fir’aun dan Hamman. Yaitu aqidah Penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya (aqidah Tasybih).

    Juga Aqidah Wahabi yang mengatakan Allah berada di atas Arsy dengan dzat-Nya, di langit dengan dzat-Nya, Allah memiliki kursi di setiap langit untuk tempat duduk-Nya. Aqidah ini sangat serupa dengan ungkapan “BAPA kami di Surga” dalam doa kristen.

    Kami menantang mereka, apakah mereka siap untuk menunjukkan siapa yang mereka ikuti dalam hal itu? Apabila mereka berbicara atau menulis tidak ada yang diikuti oleh mereka dalam hal itu kecuali Fir’aun, Hamman, Yahudi dan Musyabbihah (aqidah Tasybih Ibn Taimiyah) yang terlihat sangat jelas, sejelas matahari  tengah hari  yang tidak terhalang mendung.

    Bila kita beri waktu hingga qiamat mereka tidak akan mampu membuktikan satu pun apa yang mereka selewengkan dalam aqidahnya dengan hujjah berdasar hadits Nabi, pendapat para sahabat, tabi’in atau mujtahid Ahlussunnah Wal Jama’ah. Sebab faktanya justru wahabi meninggalkan semua figur ulama salaf.

    Jadi Aqidah Wahabiyah adalah aqidah sangat rapuh bahkan lebih rapuh dari sarang laba-laba. Karena tidak ada panutan mereka kecuali orang-orang bodoh dan kafir yang telah Allah kehendaki menjadikan mereka sesat-menyesatkan serta tidak ada cahaya dalam hati mereka. Jadi Wahabiyah adalah pembawa bid’ah dan bukan muttabi’ah (orang yang mengikuti nabi).

    (source : Fadhoih al-Wahabiyah – Syaikh Fathi al-Mishri. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam buku berjudul “Radikalisme Sekte Wahabiyah”)

    Orang wahabi mengatakan Allah SWT. berwujud sama dengan makhluknya dan menganggap Allah duduk di Arsy diatas langit.  untuk mengetahui dalil Anda bisa lihat di Apakah Allah berada di Langit?

    MUHADDITS SEJATI DAN MUHADDITS WAHABI


    Para Ulama menetapkan kriteria yang ketat agar hanya ‘orang yang memang memenuhi kriteria’ yang layak menyandang gelar muhaddits seperti  diungkapkan oleh Imam Sakhrowi tentang siapa Ahli Hadits (muhaddits) itu sebenarnya:

    “Menurut sebagian Imam hadits, orang yang disebut Ahli Hadits (Muhaddits) adalah orang yang pernah menulis hadits, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan rihlah (perjalanan) ke berbagai tempat untuk mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadits), dan mengkomentari cabang dari Kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan.”

    Jika demikian (syarat-syarat ini terpenuhi -pent) maka tidak diingkari bahwa dirinya adalah Ahli Hadits. Tetapi jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya memakai-pent ) perhiasan lu’lu (permata-pent) dan marjan atau memakai pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni -pent). Dan hanya mempelajari hadits Al-Ifki wa Al-Butan. Maka ia telah merusak harga dirinya, bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya.

    Ia tidak pantas menyandang gelar seorang Muhaddits bahkan ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam” (Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1 h. 40-41).

    Dengan kriteria sedemikian ketatnya, maka yang layak menyandang gelar ini adalah ‘Para Muhaddits’ generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam Al-Hakim Naisaburi, Imam Ibn Hibban dan lain-lain.

    Kapasitas Keilmuan Imam Bukhari ra.

    Ketika Imam Bukhari mengunjungi Baghdad, para ahli hadis di kota itu mendengar kedatangannya. Mereka ingin menguji dengan berbagai cara termasuk mencampur-adukkan isi hadits dan  mengacak hadist dengan menukar-nukar perawinya. Tugas ini diserahkan pada 10 orang yang masing-masing mengeluarkan 10 hadits palsu.

    Ketika Imam Bukhari menggelar majelis ilmu, mereka ikut bergabung di dalamnya guna menanyakan kebenaran hadits-hadits yang telah direkayasa tersebut. Tidak lupa mereka juga mengundang ahli hadits dari luar Bagdad untuk meramaikan perdebatan yang akan terjadi.

    Satu per satu dari mereka mengemukakan hadits palsu kepada Al-Bukhari. Beliau selalu menjawabnya dengan 2 kata, “Tidak tahu” …. “tidak tahu”….. dan “tidak tahu.”
    Para undangan yang merupakan ahli hadits saling berpandangan satu sama lain. Sebagian dari mereka mengakui Bukhari memang benar-benar orang yang paham akan hadits, tapi sebagian lain menyangsikan bahwa ia menguasai semua itu.

    Setelah ke-10 dari mereka mengemukakan hadits rekayasa, Bukhari memandang orang pertama yang mengemukakan hadits. Dengan brilian ia mengkoreksi isi hadits rekayasa itu satu per satu sekaligus menyusun kembali para perawinya dengan benar. Begitu juga dengan orang kedua hingga kesepuluh, ia koreksi satu per satu hadits yang mereka ajukan tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun.

    Semua orang pun akhirnya mengakui ketajaman, daya ingat dan keistimewaan Imam Bukhari. Bandingkan dengan Muhaddits Wahabi seperti di bawah ini.

    Kapasitas Keilmuan Syech Nuruddin Albani
    Di kalangan Salafi (Wahabi), lelaki satu ini dianggap muhaddits paling ulung di zamannya di samping keahliannya di bidang Arloji. Itu klaim mereka. Bahkan sebagian dari mereka tidak canggung menyetarakannya dengan para imam hadits terdahulu. Fantastis!!. Mereka gencar mempromosikannya lewat berbagai media. Usaha mereka bisa dikatakan berhasil. Kalangan muslim banyak yang tertipu dengan hadits-hadits edaran mereka yang di akhirnya terdapat kutipan, “disahihkan oleh Albani, ”. Para salafi itu seolah memaksakan kesan bahwa dengan kalimat itu Al-Albani sudah setaraf dengan Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah dan lainnya.

    Kapasitas ilmu reparasi jam ini sangat diragukan. Ketika ia diminta oleh seseorang untuk menyebutkan 10 hadis beserta sanadnya, ia dengan ringan menjawab, “Aku bukan ahli hadits sanad, tapi ahli hadits kitab.” Si peminta pun tersenyum kecut, “Jika begitu siapa saja juga bisa,” tukasnya.

    Namun demikian, dengan penuh keberanian Albani merasa layak mengkritisi dan mendhoifkan hadits-hadits Bukhari Muslim yang kesahihannya telah disepakati dan diakui para ulama’ dari generasi ke generasi sejak ratusan tahun lalu. Aneh bukan?

    Wallaahu a’lam

    READ MORE ... Monggo di-Klik

    Memahami Hakekat Wahabi : Mengapa mereka sangat Egois dan Tidak Ada Toleransi

     

    Wahabi selalu menggaungkan untuk selalu kembali ke  Qur’an dan Hadits Nabi tetapi amaliyahnya sangat membenci dzuriyat Rosul. Ajarannya mengabaikan sunnah Nabi, meninggalkan sama sekali warisan Rasulullah melalui para sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, jumhur ulama salaf dan khalaf. Bahkan mereka justru sangat membenci umat Islam yang menjaga warisan Nabi tersebut. Hakikatnya Wahabi memahami Qur’an dan sunnah hanya berdasarkan hawa nafsu dan pemahamannya sendiri.   

    Berikut ini penjelasan tentang kelakuan Wahabi yang selalu gigih memperjuangkan pemberantasan semua amaliyah Islam yang tidak sesuai dengan ajaran mereka.

    Di tangan kaum Wahabi, wajah Islam yang lembut menjadi penuh umpatan, caci- maki, mengkafir-kafirkan dan kebencian yang mendalam; wajah yang diliputi kasih sayang menjadi penuh dendam dan hujatan …." Seolah akhlaqul Karimah (akhlak yang baik) sudah terangkat dan lenyap dalam diri seorang muslim.

    Kita juga lebih merasakan kerasnya Wahabi atau kelompok Salafi  dalam praktek keagamaan. Radio ROJA’ untuk wilayah Jakarta selalu menyiarkan pembacaan ayat Qur’an secara tartil dan hadits dengan sangat fasih atau mengharamkan banyak hal. Secara garis besar, dari manhaj dan pemikiran, mereka memiliki beberapa prinsip keberagamaan yang sangat puritan.

    Mereka selalu menyatakan kembali ke Al-Kitab dan as-Sunnah. Prinsip ini bila dilihat  sekilas sungguh sangat mempesonakan hati siapa-pun yang tidak memiliki pengetahuan syari’at Islam yang didapat dari para ulama salaf dan imam  mujtahid. Tapi sayang, hakikatnya mereka hanya menyeru umat untuk:

    Meninggalkan pendapat jumhur (mayoritas) ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (ulama yang kemudian) bahkan ijma' (konsensus) ulama di luar golongannya.

    Nama kelompoknya Salafi merupakan salah satu kebohongan terbesar kaum Wahabi karena faktanya mereka tinggalkan para ulama salaf dan pengelabuhan dan penipuan terhadap umat Islam.

    Bila demikian halnya sesungguhnya mereka tidak lain:

    memahami Al-Kitab dan as-sunnah hanya berdasarkan pemahaman diri sendiri, yang sudah pasti bersumber dari hawa nafsu.

    Sehingga dengan prinsip ini mereka selalu berusaha sekuat tenaga untuk:

    memaksa orang lain hanya mengikuti pemahaman yang mereka miliki karena menganggap hanya pemahaman merekalah yang benar sedangkan yang lain salah, meskipun itu datang dari mayoritas ulama dan imam-imam mujtahid umat Islam.

    Dan pada akhirnya:

    Menganggap sesat siapa pun yang tidak sepaham dengan mereka bahkan dengan mudah mengkafirkannya.

    Berikut ini fakta yang membuktikan berbahaya ajaran para pemuka Wahabi yang menjadi rujukan para pengikutnya. Antara lain, Syaikh Al-Qanuji dalam kitabnya Ad-Dinul Khalish, jilid 1 (h. 140) menjelaskan,

    “Taqlid terhadap madzhab termasuk bagian dari kesyirikan.”

    Berdasarkan pernyataan (fatwa) ini, umat Islam saat ini secara keseluruhan adalah kafir, karena sebagian besar umat yang hampir 1,5 milyar mengikuti madzhab yang empat (madzab Imam Maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hambali). Sementara pengikut Wahabi di seluruh dunia hanya ada kisaran jutaan atau belasan juta saja.

    “Mereka merasa satu-satunya golongan umat Islam yang paling benar. Tampaknya ingin masuk surga sendiri – Surga hanya untuk Wahabi.”

    Syaikh Ali bin Muhammad bin Sinan dalam kitabnya Al-Majmu` Al-Mufid min `Aqidah At-Tawhid, halaman 55, menyatakan,

    “Wahai seluruh kaum muslimin, keislaman kalian tidak akan membawa guna, kecuali jika kalian mengumandangkan perang yang membabi-buta terhadap thariqah tasawuf hingga lenyap, perangilah mereka sebelum kalian memerangi Yahudi dan Majusi.”

    Dalam kitab I`shar At-Tawhid, Syaikh Nabil Muhammad mengatakan,

    “Tasawuf, para pengikut thariqah, dan para penduduk negara-negara Islam seperti Mesir, Libya, Maroko, India, Iran, Asia Barat, Syam, Nigeria, Turki, Romawi, Afganistan, Turkistan, Cina, Sudan, Tunisia, dan Al-Jazair adalah orang-orang kafir.”

    Syaikh Hassan Al-Aqqad dalam kitabnya Halaqat Mamnu’ah (h. 25) menyatakan,

    “Kafir orang yang membaca shalawat untuk Nabi sebanyak 1.000 kali atau mengucapkan La ilaha illallah sebanyak 1.000 kali.”

    maka dari itu, seharus semua kaum muslimin ahlus sunnah wal jama'ah menjauh dari faham wahabi dan dari orang wahabi dan memahami bahayanya.

    READ MORE ... Monggo di-Klik

    Bantahan terhadap Kaum Wahabi dan Bahaya Takfir

     

    Anda katakan kepada mereka:
    “Ajaran agama kalian itu baru, dirintis Muhammad ibn Abdul Wahhab.

    Buktinya, tidak seorang muslim-pun sebelum Muhammad Ibn Abdul Wahhab yang mengharamkan perkataan: ”Yaa Muhammad” Bahkan orang yang oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab disebutnya sebagai “Syaikh al-Islam”; yaitu Ahmad ibn Taimiyah telah membolehkan ucapan “Ya Muhammad!” bagi orang yang sedang kesusahan karena tertimpa semacam lumpuh pada kakinya (al-Khadar).

    Ibn Taimiyah menganjurkan bagi orang yang tertimpa semacam kelumpuhan kaki (tidak bisa digerakkan) untuk mengucapkan “Yaa Muhammad…”.

    Rekomendasi Ibn Taimiyah didasarkan kepada apa yang dilakukan  sahabat Abdullah ibn Umar, bahwa suatu ketika ia tertimpa al-khadar pada kakinya, lalu orang berkata kepadanya: “Sebutkan orang yang paling kau cintai!!”, kemudian Abdullah ibn Umar berkata: “Yaa Muhammad…”.

    Al-khadar bukan kesemutan atau lumpuh permanen, tapi adalah lumpuh sementara sebab terlalu lama duduk atau semacamnya.

    *****

    Anda katakan kepada si Wahabi:
    “Ibn Taimiyah yang kalian sebut sebagai “syaikh al-Islam” membolehkan perkara di atas, sementara kalian menamakan itu sebagai kekufuran. Dalam hal ini, bahkan Ibn Taimiyah sendiri terbebas dan tidak sejalan dengan apa yang kalian yakini.

    Dengan dasar apa kalian mengaku sebagai bagian dari orang-orang Islam?! Kalian bukan orang-orang Islam, karena kalian mengkafirkan seluruh umat Islam yang mengucapkan ”Ya Muhammad...”, padahal tidak ada seorangpun yang mengharamkan perkataan ”Ya Muhammad...” kecuali kalian sendiri yang pertamakali mengharamkannya.

    Barangsiapa mengkafirkan umat Islam maka dia sendiri yang kafir, karena umat ini senantiasa akan berada dalam agama Islam hingga hari kiamat. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

    لَنْ يَزَال أمْرُ هذِه الأمّةِ مُسْتَقِيْمًا حَتّى تَقُوْمَ السّاعَةُ أوْ حَتّى يَأتِيَ أمْرُ اللهِ (روَاه البُخَاري
    ”Senantiasa urusan umat ini akan selalu dalam kebenaran hingga datang kiamat, atau hingga datang urusan Allah” (HR. al Bukhari)

    Jika mereka berkata: ”Ibn Taimiyah tidak berkata demikian!!”

    Maka Anda katakan kepada mereka:
    ”Buktinya ditulis oleh Ibn Taimiyah dalam bukunya ”al Kalim ath Thayyib”. Ulama yang menulis biografi Ibn Taimiyah mengatakan bahwa ”al Kalim ath Thayyib” benar-benar sebagai salah satu karya-karyanya, di antaranya disebutkan oleh Shalahuddin ash-Shafadi; salah seorang yang hidup semasa dengan Ibn Taimiyah dan banyak mengambil darinya.

    Seorang pemuka Wahhabi; al Albani, juga mengakui “al Kalim ath Thayyib” adalah salah satu karya Ibn Taimiyah, dan bahkan ia membuat catatan tambahan (ta’liq) terhadap kitab tersebut, walaupun ia berkata bahwa sanad tentang perkataan sahabat Abdullah ibn Umar tersebut adalah dla’if.

    Walaupun al-Albani menilai sanad perkataan Ibn Umar tersebut dla’if tetapi penilaiannya sama sekali tidak memberi pengaruh apapun, sebab Ibn Taimiyah telah mengutip riwayat itu dengan menamakan ”Fasal: Tentang kaki bila terkena al-khadar”, lalu ia menamakan kitab tersebut dengan ”al-Kalim ath-Thayyib” atau ”Perkataan yang baik” (Lihat kitab, h. 73).

    Seandainya benar sanad riwayat tersebut dla’if (seperti  sangkaan al Albani); tetapi Ibn Taimiyah jelas membolehkan dan karenanya ia kutip dalam kitabnya tersebut.

    Dari sini Anda katakan kepada mereka:

    ”Dengan demikian siapa sebenarnya yang telah kafir, apakah Ibn Taimiyah yang kalian sebut ”Syaikh al-Islam” atau kalian sendiri?!

    Secara tersirat kaum wahhabi telah mengkafirkan Ibn Taimiyah; baik mereka sendiri sadar atau tidak. Namun, tentu mereka tidak berani mengatakan Ibn Taimiyah kafir, juga mereka tidak akan mengatakan bahwa mereka sendiri sebagai orang-orang kafir. Mereka tidak akan memiliki jawaban untuk ini.

    Katakan kepada mereka:

    ”Ajaran kalian itu baru sebab dengan pendapat kalian yang mengharamkan perkataan ”Ya Muhammad...” berarti kalian mengkafirkan seluruh umat Islam dari masa Rasulullah hingga sekarang. Bahkan sadar atau tidak; kalian telah mengkafirkan ”imam utama” kalian, Ibn Taimiyah yang jelas membolehkan perkataan ”Ya Muhammad...” saat kaki terkena al-khadar”.

    Mereka akan terdiam seribu bahasa tidak memiliki argumen.

    Tentang penilaian al-Albani yang mengklaim riwayat perkataan Ibn Umar tersebut sebagai sanad yang dla’if, penilaiannya sama sekali tidak dapat dijadikan landasan.

    Karena al-Albani tidak punya otoritas untuk melakukan penilaian hadits; dla’if atau shahih. Dia bukan seorang hafizh al-hadits, bahkan diakui sendiri bahwa ia tidak hafal walaupun hanya 10 hadits saja dengan sanad-sanadnya. Ia hanya mengakui bagi dirinya sendiri bahwa dia ”muhaddits kitab” bukan ”muhaddits hifzh”.

    Jika orang Wahhabi berkata: ”Ibn Taimiyah meriwayatkan perkataan Ibn Umar tersebut dari seorang perawi yang masih diperselisihkan (Mukhtalaf fih)”, maka anda katakan kepada mereka:

    ”Ibn Taimiyah jelas meriwayatkannya dalam kitabnya tersebut, itu bukti bahwa ia menganggap baik perkataan ”Ya Muhammad...”, baik riwayat tersebut shahih ataupun tidak. Karena seorang yang meriwayatkan sesuatu yang batil sementara ia tidak mengingkarinya itu artinya ia menganggap baik sesuatu tersebut dan menyeru kepadanya.

    Perkataan Abdullah ibn Umar diatas diriwayatkan oleh al Hafizh Ibn as Sunny (’Amal al Yaum Wa al Laylah, h. 72-73), juga oleh Bukhari dalam kitab al Adab al Mufrad (h. 324) dengan jalur sanad selain sanad Ibn as Sunny. Juga telah diriwayatkan oleh al Hafizh al Kabir Imam Ibrahim al Harbi; seorang yang dalam ilmu dan sikap wara’-nya serupa dengan Imam Ahmad ibn Hanbal, dalam kitab Gharib al Hadits, dengan jalur sanad selain sanad Ibn as-Sunny (Gharib al Hadits, j. 2, h. 673-674).

    Diriwayatkan pula oleh al Hafizh an Nawawi (al Adzkar, h. 321), oleh al Hafizh Ibn al Jazari dalam kitab al Hishn al Hashin dan ’Iddah al Hishn al Hashin (h. 105), dan oleh asy Syaukani; seorang yang dalam beberapa masalah sejalan pemahaman Wahabi.

    Lihat -wahai orang-orang Wahabi-, asy Syaukani meriwayatkannya dalam Tuhfah adz-Dzakirin (h. 267), sementara kalian menganggap perkataan ”Ya Muhammad...” sebagai kekufuran?!

    Wahai Wahhabi hendak lari kemana kalian?
    Jelas tersingkap ”kedok sesat ” ajaran kalian. Lihat! Ibn Taimiyah sebagai imam kalian, dan sebagai imam utama dari Muhammad ibn Abd al-Wahhab yang banyak mengambil faham sesatnya telah meriwayatkan dalam karyanya sendiri, ”al-Kalim ath-Thayyib”.

    Jika Wahhabi berkata: ”Kita yang benar, sementara Ibn Taimiyah tidak benar karena telah menghalalkan perbuatan syirik dan kufur.”

    Katakan kepada mereka:

    ”Kalian mengkafirkan imam terkemuka kalian sendiri yang jadi referensi utama kalian dalam akidah tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya) dan banyak kesesatan lain. Itu berarti pengakuan kalian bahwa kalian mengikuti seseorang yang kalian anggap kafir, padahal dia ini rujukan utama dalam berbagai permasalahan akidah yang kalian yakini.

    Lihat, kalian telah mengikuti Ibn Taimiyah dalam penyataan kufurnya bahwa Kalam Allah dan Kehendak-Nya adalah baharu dari segi materi (al-Afrad) dan qadim dari segi jenis (al-Jins/an-Nau’). Kalian juga mengikutinya dalam keyakinannya bahwa jenis alam ini azaly (tidak bermula) ada bersama Allah bukan sebagai makhluk.

    Lihat, dengan kekufurannya kalian jadikan dia sebagai ikutan dan sandaran dalam segala keyakinan kalian yang nyata telah menyalahi kebenaran. Sementara, di saat yang sama, kalian menyalahi dia pada perkara dimana ia telah sesuai dengan kebenaran di dalamnya; yaitu kebolehan mengucapkan kata ”Yaa Muhammad...” ketika dalam keadaan sulit atau saat tertimpa musibah.

    Katakan kepada mereka;

    ”Pengakuan kalian sebagai kelompok salafi adalah bohong besar. Siapakah di antara ulama Salaf yang melarang mengatakan kata ”Yaa Muhammad...” saat dalam kesulitan? Haram bagi kalian mengaku sebagai kaum Salafi, karena penamaan ini menipu orang awam. Padahal kalian sedikit pun tidak berada di atas keyakinan Ulama Salaf, juga tidak di atas keyakinan Ulama Khalaf. Kalian datang dengan membawa agama dan ajaran yang baru.

    DUDUK PERKARA SEBENARNYA

    Sesungguhnya mengucapkan kata ”Yaa Muhammad...” untuk tujuan meminta tolong (istigatsah) adalah perkara yang telah disepakati kebolehannya oleh para ulama Salaf dan ulama Khalaf; baik di masa Rasulullah hidup atau setelah wafat.

    Adapun yang dilarang dalam syari’at adalah mengucapkan kata ”Yaa Muhammad...” di hadapan wajah Rasulullah di masa hidupnya untuk tujuan memanggilnya, yaitu setelah turun firman Allah:

    لاَتَجْعَلُوا دُعَآءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَآءِ بَعْضَكُم بَعْضًا (النور: 63

    ”Janganlah kalian jadikan panggilan terhadap Rasulullah di antara kalian seperti sebagian kalian memanggil sebagian yang lainnya” (An-Nur: 63).

    Diharamkan perkara ini adalah karena ada suatu kaum bersifat kasar memanggil Rasulullah dari luar rumah dengan mengatakan ”Yaa … Muhammad keluarlah engkau kepada kami...!!”. Dari sebab ini kemudian Allah mengharamkan perkara ini karena untuk memuliakan Rasulullah.

    Adapun tentang seorang sahabat yang buta yang bertawassul dengan Rasulullah supaya mendapatkan kesembuhan dari butanya; yang kemudian Rasulullah mengajari dia beberapa kalimat doa untuk ia bacakan; maka bacaannya tersebut tidak dibacakan hadapan Rasulullah. Doa tersebut yaitu:

    اللّهُمّ إنّي أسْألُكَ وَأتَوَجَّهُ إلَيكَ بِنَبِيّنَا مُحَمّدٍ نَبيّ الرّحْمَة يَا مُحَمّدُ إنّي أتَوَجّهُ بِكَ إلَى رَبّي عَزّ وَجَلّ فِي حَاجَتِيْ

    ”Ya Allah! Sesungguhnya aku meminta kepada-Mu menghadap kepada-Mu dengan Nabi-Mu; Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Yaa…Muhammad! sesungguhnya saya denganmu menghadap kepada Tuhan saya dalam kebutuhanku ini.”

    Dalam riwayat hadits ini Rasulullah berkata kepada sahabat buta tersebut:

    ”Pergilah ke tempat wudlu, berwudlulah, lalu kerjakan shalat 2 raka’at, Lalu berdoalah dengan membaca doa-doa itu” (HR. Ath Thabarani, lihat al Mu’jam al Kabir, j. 9, h. 17-18 dan al Mu’jam ash Shagir, h. 201-202).

    Ia lalu keluar dari majelis Rasulullah, berwudlu, lalu shalat 2 raka’at, dan membaca doa tawassul dengan Rasulullah. Setelah  menyelesaikannya ia kembali menghadap Rasulullah dalam keadaan dapat melihat. Dengan demikian doa yang dibacakan oleh sahabat buta tersebut tidak di hadapan Rasulullah pada masa hidup beliau.

    Katakan kepada Wahabi;

    ”Kalian ambil pendapat Ibn Taimiyah dalam karyanya “at Tawassul Wa al Wasilah” bahwa tawassul hanya boleh dilakukan dengan orang yang hadir di hadapan dan masih hidup, namun terhadap tawassul (istighatsah) dengan orang yang sudah wafat; yang padahal oleh Ibn Taimiyah dikatakan sebagai perkara baik, seperti bertawassul dengan Rasulullah setelah wafatnya; kalian salahkan dan menuduh perkara itu  syirik dan kufur.
    Alangkah naifnya kalian, betul-betul jauh dari kebenaran.”

    Katakan pada si Wahabi untuk membantah pendapat mereka yang mengatakan bahwa Allah berada di arah atas; atau di Arsy;

    ”Seseorang posisinya berdiri, apakah dari segi jarak posisi kepalanya lebih dekat kepada arsy dibanding seorang yang sedang dalam posisi sujud?” Mereka pasti menjawab bahwa yang dalam posisi berdiri lebih dekat kepada arsy. Lalu kita katakan kepada mereka: ”Kalian telah menjadikan arsy sebagai tempat bagi Allah, padahal ada hadits yang menolak pemahaman sesat kalian ini; adalah riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah bersabda:

    أقْرَبُ مَا يَكُوْنُ العَبْدُ مِنْ رَبّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فأكْثِرُوا الدّعَاء (رَوَاه مُسْلِمٌ
    ”Seorang hamba yang paling ”dekat” kepada Allah adalah saat dia dalam posisi sujud, maka hendaklah kalian memperbanyak doa” (HR. Muslim).

    Kalian katakan bahwa metode takwil sama dengan ta’thil; artinya menurut kalian memberlakukan takwil sama saja mengingkari wujud Allah dan mengingkari sifat-sifat-Nya; atau dalam istilah kalian ”at-ta’wil ta’thil”.

    Ini artinya saat kalian menolak takwil, berarti sama saja kalian mengakui bahwa keyakinan kalian bathil, karena keyakinan kalian berlawanan dengan pemahaman zahir (literal) hadits tersebut.”

    Adapun kami - kaum Ahlussunnah - memahami firman Allah:

    الرّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (طه: 5

    Dan seluruh ayat atau hadits yang secara zahir (literal) seakan bahwa Allah memiliki tempat dan arah, atau memiliki anggota badan dan bentuk (batasan), bergerak dan pindah, atau sifat apapun yang seakan bahwa Allah serupa dengan makhuk-Nya; - ini semua kita pahami dengan metode takwil, baik takwil Ijmali atau takwil tafshili, sebagaimana dicontohkan ulama Salaf, yang kemudian diikuti para ulama Khalaf.

    Kita katakan;

    ”Makna teks-teks semacam itu semua bukan dalam makna zahirnya, tetapi itu semua memiliki makna yang sesuai bagi keagungan Allah yang sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya.

    Inilah yang dimaksud dari perkataan ulama Salaf ”Bila Kayf Wa La Tasybih”. Ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa makna ”Bila Kayf” yang dimasud adalah bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits mutasyabihat seperti tersebut di atas tidak dipahami dalam pengertian benda atau sifat-sifat benda. Inilah pemahaman yang benar dari maksud perkataan ulama Salaf dan ulama Khalaf ”Bila Kayif.”

    Sementara si Wahhabi,   mulutnya mengatakan ”Bila Kayf”, tapi hatinya meyakini adanya kayf (sifat benda).

    Memang metode takwil tafshili tak semua ulama Salaf melakukannya. Imam Ahmad ibn Hanbal misalnya, mentakwil firman Allah: ”Wa Ja’a Rabbuka” (QS. Al-Fajr: 22) dengan mengatakan bahwa yang dimaksud ”ja’a” adalah ”datangnya” pahala dari Allah. Riwayat lain mengatakan bahwa yang dimaksudkannya adalah ”datangnya perintah Allah” (Lihat al Bidayah Wa an Nihayah, j. 10, h. 327).

    Sementara Wahabi mengatakan dalam mamahami ayat diatas bahwa; Allah turun secara indrawi. Dalam keyakinan mereka Allah pindah dari Arsy ke bumi sebagaimana Malaikat turun secara indrawi; yaitu turun dengan pindah dari arah atas ke arah bumi pada hari kiamat kelak.

    Seandainya Imam Ahmad berkeyakinan seperti kalian, tentu ia tidak akan mentakwil ayat diatas; tentu akan memahaminya sesuai zahirnya seperti yang kalian pahami, tapi faktanya beliau melakukan takwil. Perkataan Imam Ahmad ini diriwayatkan oleh Imam al-Bayhaqi dan disahihkan dalam kitab Manaqib al-Imam Ahmad.

    Demikian pula firman Allah ”Yauma Yuksyafu ’An Saq” (Al-Qalam:42)  ditakwil secara tafshili oleh sebagian ulama Salaf; mereka katakan yang dimaksud “as-Saq” dalam ayat ini adalah “huruhara (kesulitan) yang teramat dahsyat”, (artinya Allah akan mengangkat huruhara tersebut di hari kiamat kelak dari orang-orang mukmin) (Lihat Fath al Bari, j. 13, h. 428, al Asma Wa as Shifat, h. 345).

    Sementara kalian wahai Wahabi memaknai “saq” pada ayat ini dengan mengatakan bahwa Allah memiliki betis sebagaimana manusia memiliki betis yang merupakan salah satu anggota badannya. Bagaimana kalian mensucikan Allah dari menyerupai makhluk-Nya dengan keyakinan yang rusak? Dengan demikian menjadi jelas bahwa pengakuan kalian sebagai pengikut Imam Ahmad ibn Hanbal adalah bohong besar.

    Sementara itu Imam al Bukhari menyebutkan takwil 2 ayat al Qur’an. Pertama; beliau mentakwil firman Allah:

    كُلُّ شَىءٍ هَالِكٌ إلاّ وَجْهَه (القصص: 88
    Imam Bukhari mengatakan makna “al Wajh” dalam ayat tersebut adalah “al Mulk”; artinya kerajaan atau kekuasaan (Shahih al Bukhari, tafsir Surat al Qasas). Takwil ayat ini demikian juga telah disebutkan oleh Imam Sufyan ats Tsauri dalam kitab Tafsir-nya (Tafsir al Qur’an al Karim, h. 194).

    Kedua; Imam al Bukhari mentakwil firman Allah:

    هُوَ ءَاخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا (هود: 56
    ditakwil dalam makna “al mulk wa as sulthan” artinya “kerajaan dan kekuasaan” (Shahih al Bukhari, Tafsir Surat Hud). Imam al Bukhari tidak pernah mentakwil ayat ini seperti yang kalian yakini dalam pengertian bahwa Allah bersentuhan.

    Benar, makna literal dari ayat tersebut seakan Allah menyentuh setiap ubun-ubun segala binatang, namun memaknainya seperti ini jelas tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya). Allah tidak disifati dengan menyentuh, dan atau disentuh; sebab menyentuh maupun disentuh adalah dari tanda-tanda makluk.

    Adapun takwil hadits riwayat Imam Muslim tersebut di atas adalah bahwa makna “al Qurb” disini bukan dalam pengertian dekat dari segi jarak. Demikian pula dengan redaksi hadits yang seakan-akan Allah bertempat di arah atas; itu semua tidak boleh dipahami secara literal (harfiah), tetapi harus dipahami dengan metode takwil.

    Dengan demikian bagaimana kalian mengatakan bahwa metode takwil sama saja dengan ta’thil (menafikan atau mengingkari sifat-sifat Allah)? Juga dengan dasar apa kalian mengatakan bahwa metode takwil adalah kufur?

    Katakan kepada mereka untuk terakhir kali:

    “Jika kalian tidak memahami hadits riwayat Imam Muslim ini dengan makna zahirnya (harfiah) maka berarti kalian melakukan takwil, dan bila demikian maka berarti kalian telah menyalahi diri kalian sendiri yang anti terhadap takwil. Kalian mengatakan: “Takwil adalah ta’thil”, sementara kalian sendiri memberlakukan takwil.

    Source:mahrusaligpl

    Dalam perspektif terkini,  Wahabi menjadi kelompok yang menghasut perpecahan konflik di tubuh ummat Islam, caci-maki dan umpatan mereka menjadi fitnah bagi ummat Islam.  

    contohnya sederhana, siapakah yang pertamakali mencaci agama kristen di internet?
    dari pihak yang mengaku Islam ternyata hanya Wahabi ini yang pertama mencaci kristen, setelah itu si Wahabi-nya lenyap. Bola panas berbelok menyerang orang Islam. Alhasil Islam dan kristen berperang, baik di internet maupun di dunia nyata. Membuncahkan kebencian Nashrani di benua Eropa dan Amerika yang memang dari sananya sudah benci Islam. Dan muslim disana yang menjadi korbannya.
    jadi berhati-hatilah dari makar busuk kaum Wahabi.

    Wallaahu a’lam

    READ MORE ... Monggo di-Klik
    Word of the Day

    Article of the Day

    This Day in History
    Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
    Free Backlinks Online Users

    Google Translate

    Add to Google
    Translate to 32 LANGUAGES
    Jpn
    Indonesia

    Sayangi Kendaraan Anda
    ASURANSI MOBIL SHARIAH
    contact :
    yusuf.edyempi@yahoo.com
    SMS......:...0815 8525 9555

    .

    Statistic

    danke herzlich für besuch

    free counters

    SEO for your blog

    sitemap for blog blogger web website
    Webmaster Toolkit - free webmaster tools
    Google PageRank Checker

    Recent flag visits


    bloguez.com

    STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?