<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Tim Relawan Indonesia: Melawat ke Latakia Suriah Utara

 

Mata terus menatap keindahan bintang-bintang di langit Latakia. Sambil berdzikir, memupuk terus keyakinan bahwa kematian itu sudah digariskan. Entah di Suriah atau di Indonesia, kematian datang karena memang sudah tiba saatnya. Bukan karena kenekatan kami datang ke daerah konflik semacam ini. Sebab, menolong orang terzhalimi di wilayah konflik tidak akan mendekatkan kita kepada kematian, sebagaimana duduk diam di rumah tidak akan melindungi diri dari kematian. Hasbunallah wa nikmal wakiil.

Hujan lebat mengguyur Bandara Soekarno Hatta, Sabtu 3 Nopember 2012 lalu, saat tim ke-3 Hilal Ahmar Society (HASI) bertolak ke Turki. Mengemban misi seperti 2 tim sebelumnya, tim ini dipimpin Abu Yahya dengan anggota Ustadz Oemar Mita sebagai penerjemah, dr. Herry Syahbana dan Eddy Subiyanto sebagai tim medis. Begitulah berita kecil yang di-release dari http://www.muslimdaily.net 

Status Abu Yahya masih bekerja sebagai editor penerbit Ummul Quro Jakarta juga salah satu pengurus HASI. Ustadz Oemar Mita kesehariannya dai aktif di sekitar Jakarta. Dr. Herry aktivis Hilal Ahmar Jogjakarta sedang menempuh pendidikan spesialis radiologi UGM. Sementara Eddy Subiyanto sehari-hari sebagai perawat di RS YARSIS Surakarta.

Dalam pesan yang disampaikan menjelang keberangkatan, dr. Sunardi selaku salah satu pendiri HASI menekankan kepada tim agar menjaga niat ikhlas dan kesabaran. "Anda adalah duta yang mewakili umat Islam Indonesia di hadapan rakyat Muslim Suriah yang sedang terzalimi."

Kami berusaha melintasi perbatasan Suriah  Turki untuk menembus ke kota Latakia melalui koridor aman, meski harus menempuhi medan yang teramat sulit.    

image

"Kedatangan antum kemari telah membawa berkah," kata salah seorang penjemput kami, warga Suriah. Kegelapan malam membuat saya tidak mengenali wajahnya.  "Hujan sering turun, halilintar sering menggelegar. Pesawat-pesawat itu mengurangi intensitas serangan,"

Melintasi perbatasan Turki-Suriah harus melalui medan yang berat. Kami harus mendaki tebing curam. Tentu dengan beban carrier bag cukup besar yang harus kami bawa sendiri. Tidak mungkin meminta bantuan ikhwah Suriah, karena mereka sendiri juga membawa beban obat-obatan yang tidak ringan. Sebut saja botol infus, di Indonesia terbuat dari plastik. Di Turki, terbuat dari kaca yang tentu menambah beban.  Perjalanan seru! Saya mengalami jatuh terduduk dan Ustadz Umar sempat meminta berhenti dan celananya sobek.

Disambut hujan rintik, nafas tersengal dan keringat bercucuran—meski sebenarnya temperatur cukup dingin—kami usaikan "estape" terakhir perjalanan melintas batas. Ujung tebing yang kami daki ternyata jalan aspal. Tidak seberapa lebar memang, tapi cukup bagus untuk sebuah jalan di pegunungan—bila dibandingkan di Indonesia.

Di pinggir jalan tersebut kami rehat sejenak sambil menanti ambulan yang dijanjikan akan menjemput kami ke klinik darurat di Salma. Tak berapa lama, di ujung jalan terlihat seberkas sinar bergerak mendekat diiringi raungan mesin disel. Sebuah truk engkel (kalau di Indonesia sosoknya seperti KIA Travello) menghampiri kami. Wajah baru menyapa kami dari kabin depan truk tersebut. "Ahlan wa sahlan," sambutnya tersenyum disertai rekannya yang akan mengawal kami.

"Maaf, ambulan sedang dipakai. Jadi kita dijemput pakai truk ini," kata Ubay si kurir. Kami semua—10 orang—menaikkan barang, dan menata diri di bak truk. Di ujung bak ada genset, sementara di bagian depan ada kotak logistik keperluan Rumah Sakit darurat selain obat-obatan yang kami bawa. Sejurus, kami semua duduk di bak belakang. "Mana syabab Indonesia.... ayo di tengah. Jangan boleh di ujung belakang," kata Ubay. "Oke, siap. Kita berangkat," katanya kepada sopir.

Mobil menyusuri jalanan sempit di antara tebing dan jurang. Kami dalam beragam posisi. Ada yang duduk, bersandar di tas, dan.... pak Edi terlelap tidur. Sesekali, kami isi dengan cengkrama bersama para ikhwah Suriah. Mulai dari sindiran mereka yang melapuk bujang, sampai kebiasaan mereka bersenda gurau. Namun ada pula fase mendebarkan, yaitu saat saya berdiri menata isi tas, saya nyalakan senter.

Sebermula saya ragu, karena mungkin ini membahayakan. Tapi melihat lampu truk terus menyala sepanjang jalan, saya pikir nyala senter bukan masalah. Tapi :

"Hey, duduk dan matikan lampu," teriak Ubay. "Di samping kanan kiri kita ada marshad (tempat pengintaian) milik tentara Asad. Mereka punya peluncur granat," katanya. "Bagaimana dengan nyala lampu mobil?" tanya Ustadz Umar. "Saya sudah ingatkan sopir," jawabnya pendek.

Asir, pemuda Suriah yang duduk di samping saya kemudian menceritakan berbagai bentuk serangan yang sering dilakukan tentara Asad. Mulai dari roket, hingga Birmil. "Apa itu?" tanya saya penasaran dalam posisi tangan bersedekap kedinginan. "Birmil itu tempat minyak. Tingginya sekitar 1,5 m dan diameternya setengah meter. Mereka isi dengan bahan peledak jenis TNT dicampur potongan besi, paku serta benda-benda tajam lainnya," papar Asir.

Birmil—yang kemudian saya menerkanya sebagai tong, drum atau sejenis tangki—itu lanjut Ala dibawa dengan pesawat dan dijatuhkan dari ketinggian sekitar 400 m. Satu birmil, bisa kadang diisi TNT seberat 60 kg. "Bisa dibayangkan kalau menimpa sebuah bangunan," kata Abu Bakar, salah seorang mujahid dari Katibah Ahlus Sunnah wal Jamaah. "Ini metode baru Basar Asad untuk menghemat biaya. Sebab, menyerang dengan roket memerlukan biaya besar. Birmil bisa jauh lebih hemat dengan efek mematikan tetap tinggi," imbuh Ala.

Rupanya, birmil itu pula yang menimpa klinik pengobatan tempat teman-teman HASI tim ke-2 (sebelum kami) berada. Alhamdulillah, meski bangunan rusak berat, hanya seorang dari tim ke-2 HASI yang terluka ringan di kepalanya. Namun, birmil itu pula yang menewaskan Komandan Abu Burhan, pimpinan Liwa' Ahbaabullah. Ia sedang membawa air untuk dibawa ke rumahnya di kawasan Lattakia, ketika sebuah pesawat menjatuhkan birmil. Dan, sebuah potongan besi menghantam kepalanya hingga menemui kesyahidan, insya Allah.

Saya merebahkan diri sekadar meregangkan otot. Menatap langit yang berubah tak menentu. Kadang mendung atau cerah bertabur bintang. Menatap bintang, mencoba membedakan bentuknya dengan pesawat. Sebab, serangan udara banyak dilakukan di malam hari. Ketika melihat perbukitan dengan rumah-rumah bertaburan lampu, saya menanyakannya kepada Asir, "Itu milik Sunni atau Nushairi?" Jawabnya “Milik Sunni”. "Mengapa berani menghidupkan lampu?" "Ya, nanti jika terdengar suara pesawat, seluruh lampu itu mati dipadamkan." "Pesawat lebih sering datang di malam hari karena tidak terlihat. Tiba-tiba saja langsung jatuh bom,"

Mata saya tetap terus-menerus menatap beku ke bintang-bintang di langit malam Latakia. Sambil tetap terus berdzikir, memupuk terus keyakinan bahwa kematian itu sudah digariskan. Entah di Suriah atau di Indonesia, kematian datang karena memang sudah tiba saatnya. Bukan karena kenekatan kami datang ke daerah konflik semacam ini. Sebab, menolong orang terzhalimi di wilayah konflik tidak akan mendekatkan kita kepada kematian, sebagaimana duduk diam di rumah tidak akan melindungi diri dari kematian. Hasbunallah wa nikmal wakiil.

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?