<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

M Syafi'i Antonio : Perjalanan Panjang Ekonom Islam Pertama di Indonesia

 

Saya memiiki hubungan emosional dengan figur ini.  Melalui media cetak di  tahun 1993, saat menetap di Palembang, untuk pertamakali saya tahu dan  mengagumi Syafii Antonio yang ikut merintis bank syariah pertama & anggota Dewan Syariah Bank Muamalat termuda (28). Prestasi luarbiasa, belum 10 thn masuk Islam ia raih Master Ekonomi Islam – pakar ekonomi syariah pertama Indonesia setelah studi S1 di Yordania dan Al-Azhar. Dia juga terlibat pendirian  Asuransi Syariah Takaful tahun 1994.

Tahun 1996 saya bergabung ke Takaful dan sering bertemu dengan Syafii Antonio dalam momen di Takaful.  Apalagi kemudian hari ada keterkaitan karena perkawinan. Istrinya orang Minang dari nagari Muaro Paneh, Solok, Sumatera Barat adalah anak H. dr. Rafki Ismail Mph. – bekas Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat th. 1990-an. Dr. Rafki 'Pulang ka Bako' ke bapak mertuaku – Bustaman Syam di nagari Koto Anau, 1,5 KM diatas Muaro Paneh. Ada kekerabatan dengan mertua saya.

Desember 2001 saya sempat bersama menghadiri pernikahan anak dr. Rafki Ismail di Koto Tinggi, Padang yang bermenantu dengan kawanku di Takaful, Syahrial Syakni – Direktur Teknik Asuransi Takaful Keluarga saat itu.

Mengenal Profil Syafii Antonio Msc.

Berikut kutipan dari Mualaf Center Online mengisahkan jalan hidupnya.

Saya lahir di Sukabumi 12 Mei 1965 dengan nama asli Nio Cwan Chung, WNI keturunan Cina, sejak kecil menganut Konghucu dan ayah  pendeta Konghucu. Saya mengenal Islam dari pergaulan lingkungan rumah dan sekolah. Saya sering memperhatikan cara ibadah muslim maka tanpa sadar saya diam-diam suka shalat walau belum muslim.

Keluargaku memberi kebebasan beragama hingga saya memilih Kristen Protestan dan ganti nama menjadi Pilot Sagaran Antonio. Hal itu tidak membuat ayah marah, namun ayah sangat kecewa jika memilih Islam.

Sikap ayah berangkat dari citra buruk muslim. Dia melihat ajaran Islam bagus. Apalagi dilihat dari sisi Al Qur'an & hadits. Tapi, ayah sangat heran pada pemeluknya yang tidak mencerminkan kesempurnaan ajaran Islam.  Gambaran buruk itu menurut ayah terlihat dari banyaknya muslim ada dalam kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan. Bahkan, mencuri sandal di mushola dilakukan oleh umat Islam sendiri. Keindahan Islam dinodai oleh perilaku umatnya yang kurang baik.

Meski demikian buruknya citra muslim di mata ayah, tidak membuat saya kendur untuk mengenal Islam lebih jauh. Untuk mengetahui Islam, saya mengkaji Islam secara komparatif dengan agama lain. Dalam studi perbandingan saya gunakan 3 pendekatan, yakni pendekatan sejarah, alamiah, dan rasio. Sengaja tidak menggunakan pendekatan kitab suci agar dapat secara obyektif mengetahui hasilnya.

Berdasarkan 3 pendekatan itu, saya melihat Islam agama yang mudah dipahami dibanding agama lain. Dalam Islam saya menemukan bahwa semua rasul yang diutus Tuhan mengajarkan risalah yang satu, yaitu Tauhid. Saya sangat tertarik pada Al-Qur'an yang penuh dengan mukjizat, baik dari bahasa, tatanan kata, isi, berita, keteraturan sastra, data ilmiah, dan berbagai aspek lain.

Ajaran Islam juga memiliki sistem nilai sangat lengkap dan komprehensif, meliputi sistem tatanan akidah, kepercayaan, dan tidak perlu perantara dalam beribadah. Dibanding agama lain, ibadah dalam Islam diartikan secara universal. Artinya, semua yang dilakukan baik ritual, rumah tangga, ekonomi, sosial, maupun budaya, selama tidak menyimpang dan untuk meninggikan syiar Allah, nilainya adalah ibadah. Tidak ada agama yang memiliki sistem selengkap agama Islam. Hasil studi banding inilah yang memantapkan hati saya untuk segera memutuskan bahwa Islam adalah agama yang dapat menjawab persoalan hidup.

Masuk Islam

Setelah merenung untuk memantapkan hati, pada tahun 1984, usia 17 tahun dan masih siswa SMA, saya memeluk Islam. Oleh KH. Abdullah bin Nuh al-Ghazali saya dibimbing mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dan berganti nama menjadi Syafii Antonio.

Keputusan menjadi pengikut Nabi Muhammad saw. mendapat tantangan keluarga. Saya dikucilkan dan diusir dari rumah. Jika pulang, pintu selalu tertutup dan terkunci. Bahkan saat shalat, kain sarung saya sering diludahi. Perlakuan keluarga tidak saya hadapi dengan wajah marah, tapi dengan kesabaran dan perilaku santun. Inilah konsekuensi dari keputusanku.

Alhamdulillah!
Perilaku dan sikap saya terhadap mereka membuahkan hasil. Tidak lama kemudian mama mengikuti jejakku menjadi pengikut Muhammad saw. Saya pun terus mempelajari Islam, mulai dari membaca buku, diskusi dan sebagainya hingga mempelajari bahasa Arab di Pesantren an-Nidzom, Sukabumi, dibawah pimpinan KH Abdullah Muchtar.

Lulus SMA saya melanjutkan ke ITB dan IKIP, tetapi kemudian pindah ke IAIN Syarif Hidayatullah. Tidak lama kemudian saya melanjutkan S1 ke University of Yordan. Kemudian melanjutkan program S2 di International Islamic University di Malaysia, khusus mempelajari Ekonomi Islam.

Saya mengajar pada beberapa universitas. Segala aktivitas saya arahkan pada bidang agama. Untuk membantu saudara muslim Tionghoa, Saya aktif pada Yayasan Haji Karim Oei. Di yayasan ini para mualaf mendapat informasi dan pembinaan. Mulai dari bimbingan shalat, baca Al-Qur'an, diskusi, ceramah, dan kajian Islam, hingga informasi mengenai agama Islam. (Hamzah, mualaf.com)

Saat ini Syafii Antonio aktif di berbagai Lembaga Keuangan Islam baik Bank maupun Non Bank dan membina berbagai pendidikan syariah.

Dr. Muhammad Syafii Antonio, MSc.

- Doktor Banking and Micro Finance, University of Melbourne, 2004
- Master of Economic, International Islamic University, Malayasia, 1992
- Sarjana Syariah, University of Jordan, 1990
- Komite Ahli Pengembangan Perbankan Syariah pada Bank Indonesia
- Dewan Komisaris Bank Syariah Mega Indonesia
- Dewan Syariah BSM
- Dewan Syariah Takaful
- Dewan Syariah PNM
- Dewan Syariah Nasional, MUI

Perbankan dan Syariah serta Pesantren.

Syafii Antonio alumni pesantren yang menekuni perbankan hingga sukses    sebagai pakar Ekonomi Syariah. Ia memulainya dari pesantren tradisional An_izham, Sukabumi, thn 1985 selama 3 tahun. Alasannya masuk pesantren ingin mendalami ilmu keislaman secara utuh. "Jika ingin menjadi muslim yang komprehensif, pesantren tempat yang ideal."

Dia diterima di ITB, IKIP dan kuliah di IAIN selanjutnya ke Yordania atas bantuan Muhammadiyah untuk studi Islam bidang syariah. Di saat yang sama ia juga mengambil kuliah ekonomi dan melanjutkan ke Al-Azhar.

Studinya berbelok saat batal melanjutkan ke Manchester University akibat Perang Teluk. Akhirnya, ia mendaftar ke International Islamic University, Malaysia mengambil studi Banking and Finance hingga meraih Master of Economic tahun 1992.

Syafii berkecimpung di bank syariah tahun 1992 saat bertemu delegasi Indonesia yang akan mendirikan bank syariah setelah melihat contoh bank syariah di Malaysia. Ia segera bergabung ke Bank Muamalat, bank dengan sistem syariah pertama di Indonesia. Tahun 1994 ia mendirikan Asuransi Takaful, lalu berturut-turut reksa dana syariah. Empat tahun membesarkan Bank Muamalat, ia mundur dan mendirikan Tazkia Group yang memiliki beberapa unit usaha pengembangan bisnis dan ekonomi syariah.

Sebagai alumni pesantren, Syafii mengungkapkan ketidak-yakinannya kurikulum pesantren bisa menghasilkan mental teroris. "Apalagi pesantren tradisional/salaf," Pada pesantren ini, tuntutan tasawufnya cukup tinggi sehingga mereka menekankan akhlak dan etika. "Bahkan saya melihat beberapa pesantren terjerumus pada zuhud yang negatif dan sangat berseberangan dengan apa yang saya dorong sekarang," katanya.

Begitu pula pada pesantren modern dan progresif seperti Gontor dan Darunnajah, pendekatan metode belajarnya sudah diperbarui. "Santrinya menggunakan  2 bahasa asing dan tidak terlalu terikat mazhab tertentu dari sisi fiqih dan akidah."

Lalu ada jenis pesantren lain yaitu yang mencoba tidak hanya berkutat pada aspek teologi dan teori, tapi mencoba untuk merespons tantangan modernisasi/westernisasi sebagai realisasi amar ma'ruf nahi munkar. "

Yang terakhir ini dikembangkan beberapa pesantren di Indonesia, tanpa saya berhak menyebut nama, mungkin itu bisa jadi yang paling dekat pada pergerakan yang lebih progresif," katanya. Kalaupun ada tersangka teroris, tidak bisa disebut mewakili pesantren dan ajaran Islam.

Sebagai alumni pesantren Syafii mengkritisi pendidikan pesantren. "Saya lihat kurikulumnya harus ditinjau ulang," Ia mencontohkan kitab klasik yang diajarkan di pesantren. "Konteks dan contohnya sudah sangat klasik dan belum tentu selesai dipelajari dalam 2-3 tahun" Ia imbau agar kurikulum pesantren memadatkan apa saja yang harus dipelajari santri. "Ada target yang harus dirancang untuk santri," katanya.

Gaya belajar pesantren terpusat pada 1-2 kiai. "Tidak ada regenerasi dan tentu sangat berat bagi para kiai itu untuk mengajar sekian banyak santri," Karenanya, tidak heran jika terdapat jarak yang jauh dalam penguasaan ilmu antara kiai dan asistennya.

Syafii melihat para kiai ilmunya sangat banyak dan ikhlas, tetapi kurang respons terhadap masalah sosial, ekonomi, dan kemasyarakatan. Dalam media apapun, tulisan kiai sangat jarang sekali. Ketika muncul pemikiran frontal, mereka cenderung reaktif, bukan proaktif. "Seharusnya jika ada ide-ide jernih langsung dituliskan dan disampaikan ke masyarakat," katanya.

--------------------------------------------------------

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?