<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Turis Adrenalin : Supir Truk Jepang ini menikmati Tur baku tembak di Medan Perang Suriah

 

Kematian datang bisa dimana saja dan kapan saja. Para pengecut yang selalu menghindar jauh dari mara bahaya dan mengkhawatirkan nyawanya atau takut akan kehadiran si Pencabut nyawa – malaikat maut Izra’il  - namun justru ajal mendatanginya. Sementara orang-orang pemberani yang menyambut bahaya dan selalu dekat dengan aroma kematian justru tetap dapat melanjutkan kehidupannya.

Seseorang tidak akan bisa menghindar dari maut ketika takdir kematiannya sudah tiba, meskipun dia berlindung di benteng yang tinggi dan kokoh. Seseorang akan keluar dari tempatnya menuju tempat yang ditakdirkan sebagai tempat kematiannya. Pilihannya adalah bagaimana dia memilih  cara matinya.

Ada perbedaan 180 derajat antara seorang mujahid Islam yang berperang mencari mati untuk mendapatkan kemuliaan mati syahid diperbandingkan dengan tentara pembela permerintahan sekuler yang berperang untuk mempertahankan nyawanya agar tetap hidup atau berperang untuk membela kepentingan duniawi.  


Tour de Adrenaline

Seorang Jepang bosan dengan profesinya sebagai supir truk, yang sehari-harinya mengemudi dari Osaka hingga Tokyo atau Nagasaki, mengangkut beban tangki bensin, air atau bahkan cokelat, telah memutuskan "berlibur"  memacu adrenalinnya di medan perang sengit di Suriah.

Toshifumi Fujimoto biasa dipanggil Fujimoto, usia 45 tahun, laki-laki perawakan agak  gemuk ini benar-benar menyukai resiko kematian dengan melewati momen-momen maut yang memacu adrenalin, benar-benar hal yang tak biasa dalam hidup dia sebelumnya. Pria ini benar-benar senang dan sangat menikmati menjadi turis perang.

Dia telah berusaha membunuh kebosanannya menjalani rutinitas sebagai supir. Dan kini Fujimoto telah menggantinya dengan hari-hari menegangkan dan situasi "seru" di jalan-jalan kota Aleppo, Suriah, Di negara perang ini adalah tempat ia berpetualang saat ini. Tempat baru petualangannya setelah sebelumnya melalui tempat-tempat konflik lainnya di Timur Tengah. Semuanya ia abadikan dengan mengambil foto dan merekam video dan mengupload dan menarasikannya di account Facebook sembari menghindari peluru dengan penuh semangat.

Sebelum tiba di Suriah, tahun lalu ia berada di Yaman menikmati Arab Spring – revolusi dan demonstrasi besar rakyat Yaman. Ia juga hadir menyaksikan revolusi Mesir dan demonstrasi rakyat di depan kedutaan besar AS dan Lapangan Tahrir Square di Kairo, Mesi., Kemudin disusul jatuhnya pemerintahan presiden Husni Mubarak. Pada akhir tahun 2011. Fujimoto pun berencana untuk menemui Mujahidin Taliban di Afghanistan.

Saat ini, ia telah lebih dari 2 minggu menikmati tur di kota Aleppo, salah satu tempat perang paling sengit di Suriah. Fujimoto telah "bermain-main" bersama dengan para Mujahidin di bawah suara dentuman bom dan tembakan mortir dan meriam besar.

Dengan memakai seragam ala tentara Jepang "bersenjatakan" kamera foto dan video, Fujimoto mendatangi front tempur dimanapun yang setiap harinya ia dokumentasikan perang paling sengit yang sedang berlangsung di salah satu kota terbesar Suriah itu.

Fujimoto, tidak bisa berbicara bahasa Inggris, apalagi bahasa Arab, ia pun hanya bisa diwawancarai dengan memanfaatkan fitur Google Translate yang ada di laptopnya.

"Saya selalu pergi sendiri, karena tidak ada tur guide yang mau pergi ke front ini. Ini sangat menarik, dan adrenalin terpacu tidak seperti biasanya," katanya bersemangat.

"Di Suriah, jauh lebih bahaya untuk menjadi wartawan daripada menjadi turis," katanya. Ia gambarkan bagaimana setiap pagi ia berjalan 200 m untuk mencapai 'front.' “Saya di sana berada di jajaran baku tembak bersama para tentara Pembebasan Suriah (FSA)."

"Ini membuat saya kagum, dan Saya juga menikmatinya," katanya. Dalam suatu kesempatan, Fujimoto juga mengambil foto para Mujahidin Suriah yang bertebaran di jalan-jalan kota Aleppo.

"Kebanyakan orang mengira Saya ini orang Cina, dan mereka menyapa saya dengan bahasa Cina," ungkapnya sambil tersenyum.

Fujimoto bersama mujahidin Suriah (foto ini diambil dari akun Facebook Toshifumi Fujimoto)

Saat pertempuran sedang sengit, ia ambil kesempatan untuk mendokumentasikannya, namun jika situasi bahaya para Mujahidin memperingatkan para warga sipil atau siapapun yang bukan pejuang untuk menjauh.

Namun ia sering mengabaikan peringatan dan tetap berusaha mengambil foto yang kemudian akan ia share di Facebook-nya, ia bahkan tidak takut mati.

"Saya bukanlah target para penembak jitu karena Saya adalah turis, tidak seperti kalian para jurnalis," katanya kepada wartawan AFP. "Selain itu, Saya tidak takut apakah mereka menembak saya atau mereka mungkin membunuh saya. Saya adalah kombinasi samurai dan kamikaze."

Fujimoto bahkan tidak menggunakan helm atau jaket anti peluru sebagai pelindung.

"Itu sangat berat ketika digunakan untuk berlari dan lebih menyenangkan jika pergi ke front tanpa apa-apa (pelindung). Selain itu, ketika mereka menembak itu sangat menyenangkan dan menarik."

Dalam foto-foto yang ia share di akun Facebook-nya, terlihat ia sering bersama Mujahidin dan anak-anak Suriah. Di antara fotonya menunjukkan ia sedang menembak bersama Mujahidin, namun tak ada keterangan apakah ia sedang belajar menembak atau turut menembak pasukan rezim.

Fujimoto mengatakan bahwa majikannya tidak tahu ia sekarang berada di Suriah. "Saya hanya mengatakan kepada mereka Saya pergi ke Turki untuk berlibur. Jika Saya mengatakan mereka yang sebenarnya, mereka akan mengatakan kepada saya bahwa Saya benar-benar gila."

Fujimoto bersama mujahidin Suriah (Foto ini diambil dari akun Facebook Toshifumi Fujimoto)

Mungkin banyak orang mengatakan ia gila, tetapi orang-orang tidak tahu bahwa pekerjaannya dan kehidupan keluarganya adalah akar kesedihannya yang membuat ia ingin mencari hidup baru.

Fujimoto telah bercerai dengan istrinya, dan mengatakan "Saya tidak memiliki keluarga, tidak ada teman, tidak ada pacar. Saya sendirian dalam hidup ini."

Tetapi ia memiliki tiga anak perempuan, yang tidak pernah ia lihat selama lima tahun, "bahkan tidak di Facebook atau Internet, tidak ada. Dan itu adalah kesedihan saya yang mendalam," katanya sambil mengusap air matanya.

Sebab itulah ia membayar asuransi jiwa, dan "Saya berdoa setiap hari bahwa, jika sesuatu terjadi pada saya, gadis-gadis daya mungkin akan mendapatkan uang asuransi dan mampu hidup dengan nyaman."

Fujimoto tidak menjual foto-foto atau rekaman yang ia ambil selama turnya di medan perang ini, dan ia telah menghabiskan uang hingga USD 2.500 dari kantong pribadinya untuk terbang ke Turki. Kemudian mengeluarkan USD 25 sehari untuk biaya penginapan.

Selama di Aleppo, ia telah mendatangi berbagai medan tempur, seperti di distrik Amariya, Salahuddin, Saif al-Dawlah, Izza. Dan meskipun ia senang mengambil gambar di tempat konflik ini dan menyebarkannya, tetapi ada gambar yang membuatnya terpaku dan menyangkut dalam pikirannya.

Ketika ia membuka file di laptopnya, ia menunjukkan sebagian tubuh anak perempuan kecil berusia 7 tahun membusuk di Saif al-Dawlah, karena ditembak oleh penembak jitu rezim. Ia membayangkan, betapa sedihnya kehilangan puteri yang dicintai.

"Saya cinta anak-anak, tetapi Suriah bukanlah tempat bagi mereka. Sebuah bom bisa menghabisi nyawa mereka kapan saja," katanya yang kemudian diajak oleh mujahidin untuk bergabung dengan mereka di Salahuddin dan segera turun ke jalan menuju tempat di mana suara tembakan terdengar untuk melanjutkan "liburannya" di mana ia bisa merasakan hidup yang lebih hidup.

Inilah Fujimoto, orang Jepang yang rela menghabiskan uang untuk pergi ke medan perang. Demi mencari kehidupan yang lebih hidup, melupakan segala kepenatan dan kesedihan dalam hidupnya. Tak takut mati atau takut rugi harta.

Namun bagi seorang Muslim, medan Jihad bukanlah layaknya film action di Hollywood yang hanya untuk ditonton, atau "tempat wisata" yang hanya untuk "refreshing." Ada perniagaan sejati yang menggiurkan di sana yang ditawarkan oleh Allah SWT.

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar."                                                                                              (Q.S Ash-Shaff [61]: 10-12).

Maka tidak tertarikkah dengan janji ini?

"Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?"  (Q.S An-Nisaa' [4]: 87)

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?