<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Bahaya Lisan : Tertawa Pembawa Celaka, Berkata Baik atau Diam

 

Dengan dalih syiar Islam, saat ini marak tayangan seni (hiburan) bernuasa Islam. Tapi benarkah mereka sedang memainkan peran Islam atau justru sedang mempermainkan Islam? Waspadalah! Jangan tertipu dengan seni, musik dan drama religi bernafaskan Islam.

Adakah Hiburan Dalam Islam?


Kita butuh suasana rileks yang menghadirkan senyum kegembiraan atau pengobat kejenuhan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, banyak ide inovatif dunia entertainment lahir dari industri entertainment dengan pemain besar media asing maupun lokal. Kita perlu hiburan, tapi hiburan yang dipilih harus sesuai norma Islam, bukan hanya cari kepuasan.

Bentuk hiburan sangat bervariasi dan semuanya bertujuan menghilangkan letih batin, capek pikiran dan lelah badan. Sayangnya sering melewati batas, trend tayangan TV terlalu berorientasi menghibur. Dampaknya, muncul ustadz setengah artis (trendy, nyentrik dan ganteng) berebut kue manis bisnis media bernuansa religi yang meramaikan dunia hiburan.

Muatan hiburan jarang ditakar dengan norma Islam. Hiburan yang disebut islami pun tampak bebas, bias dan jauh dari aturan Islam. Kepentingan materi dominan, rating jadi ukuran, target profit jadi pertimbangan utama dan kepuasan audiens jadi prioritas. Dipastikan hiburan paling “Islami” tak akan sepi dari kebatilan dan kemungkaran selama kriteria itu yang dipakai. Sementara konten komedi, hedonism dan pornografi makin disukai publik.

Takaran Islam dalam Canda dan Hiburan

Bercanda-tertawa merupakan sifat bawaan manusia, bumbu pergaulan dan garam kehidupan. Orang tidak betah dengan suasana tegang dan hidup tanpa humor. Canda dan tertawa dibolehkan, selama dalam koridor norma Islam, yaitu: tanpa muatan dusta, pelecehan, pamer dan penghinaan. Karena Nabi juga bercanda.

Canda Nabi adalah berkelakar tetapi serius, bercanda yang bebas dari kedustaan, tertawa tetapi jauh dari kehinaan, humor tetapi tidak sampai menghilangkan muru’ah (wibawa).

Komedi Dalam Prespektif Islam


Menjadi terkenal adalah watak dasar manusia, sehingga cara apapun dilakukan - tidak perduli pada norma agama dan aturan sosial. Pahlawan hiburan pun bermunculan. Bakat seni, lawak dan akting digeluti. Pelawak bisa datang dari kalangan mana saja. Termasuk kalangan ustadz yang seharusnya membawakan pesan dan nilai Islam. Padahal jika mereka tahu resikonya pasti akan lebih banyak menangis daripada tertawa.

Hadits Nabi: Sesungguhnya ada seorang hamba, berbicara dengan suatu kalimat, tidak diucapkan kecuali untuk membuat orang lain tertawa, maka ia terhempas ke jurang Jahannam sedalam antara langit dan bumi. Sungguh terpelesetnya lisan lebih berat daripada seseorang terpeleset kakinya.[1]

Hiburan paling banyak diminati adalah komedi. Pelawak menjadi figur idola, selebriti yang menjadi sorotan publik. Acara apapun selalu saja dibumbui lawak. Kyai/ustadz mulai  pintar melawak dan mencari sensasi dengan gaya pelawak. Ustadz populer adalah yang pintar bergaya pelawak.

Islam membolehkan bercanda atau menghidupkan suasana dengan humor, TAPI Islam juga membenci kedustaan dan kemunafikan. Maka siapa saja yang memancing agar orang tertawa dengan cara berdusta, INGATLAH ancaman INI!

Celakalah bagi seseorang yang bercerita dengan suatu cerita, agar orang lain tertawa maka ia berdusta, maka kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. [2]

Dampak Dunia Komedi

Tema yang diangkat pelawak adalah OMONG KOSONG, sia-sia, bombastis, tidak mendidik, mementingkan naiknya rating acara dan dukungan publik. Sesama pelawak saling lempar hinaan dan ejekan sebagai bahan humor, cacat tubuh menjadi banyolan sehingga sebagian Pelawak meniru gaya bicara, cara berjalan dan perilaku aneh untuk menggelitik tawa penonton.

Lebih parah lagi, kadang simbol Islam menjadi sasaran. Padahal setiap kalimat yang meluncur dari lisan pasti dihisab:

Saat dua malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. 50: 17-18)

Malaikat sebelah kanan mencatat semua kebaikan dan malaikat sebelah kirinya mencatat semua keburukan. [3]

Lisan (lidah) paling menentukan surga-neraka seseorang. Kepribadian bisa dinilai dari ucapan yang lebih tajam dari pisau dan lebih bahaya dibanding semua kejahatan, karena kebanyakan  kejahatan bersumber dari ucapan (kurang bisa menjaga lisan). Islam sangat perhatian pada bahaya ucapan dan menyuruh untuk menjaga lisan.

Nabi bersabda:
Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat tentang sesuatu yang diridhai Allah, yang tidak ia sadari, maka Allah mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat tentang suatu yang dimurka Allah, yang ia tidak sadari ternyata menghempaskan dirinya dengannya ke dalam Jahannam.[4]

Bagi muslim hanya ada 2 pilihan:

Bicara tentang kebaikan (mendatangkan ridha Allah) atau diam.

Sebab berbicara tentang apapun harus berdasarkan ilmu. Setiap ucapan kalimat pasti dimintai pertanggung-jawaban.

Dan jangan kamu ikuti apa yang kamu tidak miliki pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggunganjawabnya. (QS. 17:36)

Hadits Nabi:
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.[5]

Penghinaan Simbol Islam dalam Lawak

Bahan lawakan kadang melecehkan Islam. Ada pelawak dengan ringannya membuat lelucon:

“Syukur al-Hamdulillah” tukang cukur botak sebelah.

Memperolok-olok Islam dan menggunakan Qur’an untuk bercanda-HARAM. Mengolok Allah atau  Rasul adalah kekufuran dan riddah (mengeluarkan si pelaku dari keislaman).

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentu mereka akan menjawab: ”Sesungguhnya kami hanya bergurau dan bermain2 saja.”  Katakanlah: ”Apakah dengan Allah, ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”  Tak usah kamu minta maaf, sebab kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami maafkan segolongan dari kamu (lantaran bertaubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang2 yang selalu berbuat dosa. (QS. 9:65-66).

Syaikh Ustaimin ditanya: tentang orang bercanda dengan ucapan yang mengandung hinaan terhadap Allah, Rasul-Nya atau Islam.

Jawaban: Perbuatan itu walau hanya bercanda untuk membuat tertawa, merupakan kekufuran dan kemunafikan. Perbuatan ini pernah terjadi di zaman Rasulullah. Mereka berkata:

”Kami belum pernah melihat seperti para pembaca (Qur’an) diantara kami, yang lebih buncit perutnya, lebih berdusta lisannya dan pengecut saat berhadapan dengan musuh. Maksudnya, Nabi dan para sahabatnya. Lalu turunlah ayat tentang mereka:

Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) tentu mereka akan menjawab:”Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”(Taubah 65).

Lantas mereka datang kepada Nabi:

“Sesungguhnya kami berbicara tentang hal itu saat kami dalam perjalanan, hanya untuk menghilangkan jenuhnya perjalanan.

Nabi berkata kepada mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah,

Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (QS. 9:65-66)

Kesimpulan:
Materi Rububiyah, kerasulan, wahyu dan agama adalah materi terhormat. Tak boleh bermain-main dengan menjadikan bahan ejekan dan banyolan, agar orang tertawa ataupun menghina. Barangsiapa bertindak demikian maka ia telah kafir, karena tindakan tersebut sebagai bukti penghinaan terhadap Allah, rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan syariat-Nya. Barangsiapa melakukan, hendaklah taubat, mohon ampun dan memperbaiki perbuatan, disertai usaha menumbuhkan dalam hatinya rasa takut, pengagungan dan cinta kepada Allah. Hanya Allah yang kuasa memberi taufik.[6]

Penghinaan terhadap Orang Shalih dalam Lawak

Kadangkala pelawak berakting menjadi sosok orang saleh (ustadz) hanya untuk menjadi bahan ledekan. Mereka menirukan gaya, gerakan dan mimik ustadz, tetapi muatan bicara dan perkataan jauh dari norma kepantasan hingga menjatuhkan kredibiltas ustadz.

Syaikh Utsaimin ditanya: Apa hukum mengolok orang yang konsisten dalam menjalankan perintah-perintah Allah.

Jawaban: Mengolok orang istiqamah dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, DIHARAMKAN. Dikhawatirkan ejekan itu berangkat dari sikap ketidaksukaannya terhadap istiqamah mereka dalam menjalankan agama, maka ia serupa kandungan ayat diatas (QS. At-Taubah :65-66)

Hendaklah berhati-hati orang yang suka mengolok komunitas/kelompok yang menebarkan kebenaran, karena mereka yang diejek dan diolok-olok adalah termasuk para ahli agama yang dimaksudkan dalam firman Allah:

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.) Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan:

“Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu’min. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. 83:29-36)[7]

----------------000-----------------

[1] . Shahih diriwayatkan Imam Muhammad at-Tibrizi dalam Miskatul Masabih, bab Mizah (4835), 3/ 1360.
[2] . Shahih diriwayatkan Imam at-Tirmdzi dalam Sunannya (2315) dan Imam at-Tibrizi dalam Miskatul Mashabih, bab Hifzul Lisan (4834) dan disahihkan Syaikh al-Bani.
[3] . Lihat Jamiul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab, 1/336 
[4] . Shahih diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahihnya (6478) dan Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (3970)
[5] . Shahih diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya, 2/ 267, Imam Bukhari dalam Shahihnya (6018), (6136) dan (6475), Imam Muslim dalam Shahihnya ((47), Abu Daud dalam Sunannya (5154) dan Imam Tirmidzi dalam Sunannya (2500) serta Ibnu Hibban dalam Shahihnya (506)
[6] . Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Utsaimin, 2/ 156-157.
[7] . Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Utsaimin, 2/ 157-158.
sumber: http://www.zainalabidin.org
Ke HALAMAN UTAMA Website klik : ------------------->image

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?