<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Ta'wil al Imam al Bukhari Membungkam Pemuda Wahabi

 

Kaum wahabi yang dalam otaknya sudah penuh dengan doktrin akan bersikap sok dan merasa pintar sendiri. Dalam ajaran Wahabi saling menghormati menyayangi bisa dikatakan tidak ada sama sekali, yang ada hanya ego dan kecongkakan. Begitu sombong dan congkaknya mereka hingga berani mengkafirkan imam-imam besar. Dan tidak sedikit di antara mereka yang sampai mengkafirkan shahabat.

Ciri ciri kaum wahabi:

  1. Biasa memvonis bid'ah dan kafir pada orang Islam yang tidak sefaham. Mereka tidak menerima qaidah yang menyatakan bid'ah terbagi bid'ah hasanah dan bid'ah sayyi'ah.

  2. Mereka tidak mau menta'wil al Qur'an maupun al Hadits, dan memaknai al Qur'an dan al Hadits secara harfiyah saja.

  3. Sikapnya kaku dan merasa paling benar atau mencaci-maki orang yang tidak sepaham.

Berikut ini kisah orang Wahabi yang tidak bisa menjawab karena  pendapatnya yang berlainan dengan pendapat imam Bukhari.

    Kalau kita amati dengan seksama, perdebatan Wahabi dengan ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, akan mudah disimpulkan, bahwa si Wahabi sering mengeluarkan vonis hukum tanpa memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan tidak jarang, pernyataan mereka dapat menjadi senjata untuk memukul balik pandangan mereka sendiri. Seperti kisah di bawah ini.

    Ustadz Syafi’i Umar Lubis dari Medan bercerita:
    “Ada satu pesantren di kota Siantar, Simalungun, Sumatera Utara. bernama Pondok Pesantren Darussalam. Setiap tahun, Pondok tersebut mengadakan Maulid Nabi SAW dengan mengundang ulama dari berbagai daerah termasuk Medan dan Aceh. Acara puncak biasanya ditaruh pada siang hari. Malam harinya diisi dengan diskusi.

    Pada Maulid Nabi SAW tahun 2010, saya dan beberapa orang ustadz diminta sebagai pembicara dalam acara diskusi. Diskusi kali ini membahas tentang Salafi apa dan mengapa, dengan judul Ada Apa Dengan Salafi?

    Setelah presentasi selesai, lalu tiba sesi tanya-jawab. Ternyata dalam sesi ini ada orang yang berpakaian gamis mengajukan keberatan dengan pernyataan saya dalam memberikan keterangan tentang Salafi, antara lain berkaitan dengan ta’wil.

    Orang Salafi tersebut mengatakan: “Al-Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab. Sudah barang tentu harus kita fahami sesuai dengan bahasa Arab pula”. Pernyataan orang Salafi itu, saya dengarkan dengan cermat. Kemudian dia melanjutkan keberatannya dengan berkata: “Ayat-ayat al-Qur’an itu tidak perlu dita’wil dan ini pendapat Ahlussunnah” (pendapat wahabi).

    Ta’wil terhadap teks-teks mutasyabihat telah dilakukan oleh para ulama salaf, di antaranya Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain. Akan tetapi kaum Wahhabi sering kali mengingkari fakta-fakta tersebut dengan berbagai macam alasan yang tidak ilmiah dan selalu dibuat-buat.

    Setelah diselidiki, ternyata pemuda Salafi itu bernama Sofyan profesi sebagai guru di lembaga As-Sunnah, sebuah lembaga pendidikan Wahhabi atau Salafi.

    Mendengar pernyataan Sofyan yang terakhir, saya bertanya:

    “Apakah Anda yakin bahwa al-Imam al-Bukhari itu ahli hadits?” Sofyan menjawab: “Ya, tidak diragukan lagi, beliau seorang ahli hadits.”

    Saya bertanya: “Apakah al-Bukhari penganut faham Ahlussunnah Wal-Jama’ah?”

    Sofyan menjawab: “Ya.”

    Saya berkata: “Apakah al-Albani seorang ahli hadits?”

    Sofyan menjawab: “Ya, dengan karya-karya yang sangat banyak dalam bidang hadits, membuktikan bahwa beliau juga ahli hadits.”

    Saya berkata: “Kalau benar al-Bukhari menganut Ahlussunnah, berarti al-Bukhari tidak melakukan ta’wil. Bukankah begitu keyakinan Anda?”

    Sofyan menjawab:“Benar begitu.”

    Saya berkata: “Saya akan membuktikan kepada Anda, bahwa al-Bukhari juga melakukan ta’wil.”

    Sofyan berkata: “Mana buktinya?”

    Mendengar pertanyaan Sofyan, saya langsung membuka Shahih al-Bukhari tentang ta’wil yang beliau lakukan dan memberikan photo copynya kepada anak muda itu. Saya berkata: “Anda lihat pada halaman ini, al-Imam al-Bukhari mengatakan:

    بَابُ – كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ اَيْ مُلْكَهُ.
    Artinya, “Bab tentang ayat : Segala sesuatu akan hancur kecuali Wajah-Nya, artinya Kekuasaan-Nya.”
    Kata wajah-Nya, oleh al-Bukhari diartikan dengan mulkahu, artinya kekuasaan-Nya.

    كل شيئ هالك الا وجهه. الا ملكه. ويقال الا ما اريد به وجه الله
    “Segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya”, maksudnya adalah“Kecuali kekuasaan-Nya. Dan ada pendapat lain yang mengatakan “Kecuali yang ditujukan untuk mendapatkan balasan Allah”. (Shahih Al Bukhari Juz 3 halaman 171).

    Apa yang dilakukan Al Bukhari di atas jelas merupakan Ta’wil terhadap firman Allah. Ini berarti Akidah Imam Al Bukhari sama dengan Akidah mayoritas Ummat Islam.

    “Kalau begitu al-Imam al-Bukhari melakukan ta’wil terhadap ayat ini. Berarti, menurut logika Anda, al-Bukhari seorang yang sesat, bukan Ahlussunnah. Anda setuju bahwa al-Bukhari bukan Ahlussunnah dan pengikut aliran sesat?”

    Mendengar pertanyaan saya Sofyan hanya terdiam. Sepatah katapun tidak terlontar.

    Kemudian saya berkata: “Kalau begitu, sejak hari ini, sebaiknya Anda jangan memakai hadits al-Bukhari sebagai rujukan. Bahkan Syaikh al-Albani, orang yang saudara puji itu, dan orang-orang Salafi memujinya dan menganggapnya lebih hebat dari al-Imam al-Bukhari sendiri. Al-Albani telah mengkritik al-Imam al-Bukhari dengan kata-kata yang tidak pantas.

    Al-Albani berkata: “Pendapat al-Bukhari yang melakukan ta’wil terhadap ayat di atas ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang Muslim yang beriman”.

    Itulah komentar Syaikh Anda, al-Albani tentang ta’wil al-Imam al-Bukhari ketika menta’wil ayat:
    بَابُ – كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ اَيْ مُلْكَهُ.
    Dengan beraninya Syaikh Albani bertindak kurang ajar terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak patut diucapkan oleh seorang Muslim. Secara tidak langsung, seolah-olah al-Albani mengatakan bahwa ta’wilan al-Imam al-Bukhari tersebut pendapat orang kafir (selain Muslim).

    Kemudian saya mengambil photo copy buku fatwa al-Albani dan saya serahkan kepada anak muda Salafi ini. Ia pun diam seribu bahasa.

    Demikian kisah yang dituturkan Syafi’i Umar Lubis dari Medan, ulama muda yang kharismatik dan bersemangat dalam membela Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

    bagi Wahabi pemula memang masih ada yang canggung untuk mengkafirkan para imam besar langsung dari mulut mereka, namun pada dasarnya, dalam hati mereka, mereka sudah menghinakan bahkan mengkufurkan dan memasukkan para imam besar Islam pada katagori ahlul bid'ah.

    seperti contoh yang sudah dilakukan oleh seniornya, al Albani.

    maka dari itu, mengajilah yang baik kepada orang yang benar benar alim dan berakhlakul karimah, agar anda selamat di dunia dan di akhirat.

    Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook.

    0 komentar dan respon:

    Word of the Day

    Article of the Day

    This Day in History
    Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
    Free Backlinks Online Users

    Delivered by FeedBurner

    Google Translate

    Add to Google
    Translate to 32 LANGUAGES
    Jpn
    Indonesia

    Sayangi Kendaraan Anda
    ASURANSI MOBIL SHARIAH
    contact :
    yusuf.edyempi@yahoo.com
    SMS......:...0815 8525 9555

    Statistic

    danke herzlich für besuch

    free counters

    SEO for your blog

    sitemap for blog blogger web website

    Recent flag visits


    bloguez.com

    STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?