<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Hakikat Demokrasi dalam Pandangan Islam

 

Jika dicermati arus berita politik global – tentu tidak asing dengan dictum “dunia internasional”, “komunitas internasional”, “masyarakat internasional” yang semua itu dimaknai dengan komunitas negara-negara yang menjunjung nilai demokrasi Barat. Negara seperti Korea Utara atau Burma di masa lalu atau yang tidak ramah kepada USA dan sekutunya pasti dianggap otoriter atau sengaja dikucilkan, meskipun demokrasi mendapat tempat di negara tersebut seperti Iran dan Venezuela.

Tampaknya semua itu adalah pencapaian obsesi Tata Dunia Baru - The New World Order [NOVUS ORDO SECLORUM] yang memang sejak berabad lalu menjadi impian besar Yahudi Amerika (lebih spesifik lagi – Zionist global) untuk mendominasi dunia.”

Dengan mata telanjang, kita lihat, nilai demokrasi Barat menampilkan pandangan tidak adil terhadap isu global. “Komunitas Internasional” tidak pernah mengakui kemenangan HAMAS dalam proses demokrasi Palestina pada tahun 2006 atau kemenangan sangat besar Front Penyelamat Islam - Front Islamic du Sulut (FIS) karena meraih 86% suara di Aljazair tahun 1991. Mereka sangat khawatir akan ancaman nyata kebangkitan Islam di halaman depan benua Eropa.

Pada sisi lain mereka sangat mendukung pemerintahan otoriter yang anti demokrasi di Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait etc. Atau produk demokrasi di Pakistan berupa pemerintahan korup dan membiarkan atau bahkan mendorong militer Pakistan disewa Amerika dengan imbalan bantuan milyaran dollar. Kemudian seperti apa wajah demokrasi yang dianut oleh masyarakat kita? 

image Negara ini tidak punya paradigma (ideologi) yang jelas, sehingga akan terus menerus mencari-cari dan mengikuti corak paradigma negara lain (AS) yang menjadi kiblat demokrasi. Bandingkan lambang dewa Horus dari Mesir kuno dengan lambang negara yang didesain tahun 1950-an awal oleh sultan Hamid II, didikan Belanda, tidak lama setelah kembali ke NKRI hingga pertanyaan yang menganggu, mengapa masih pakai KUHP bikinan Belanda?

Demikian juga sejarah demokrasi Indonesia. Era Soekarno demokrasi Indonesia bermazhab Demokrasi Terpimpin yang otoriter hingga bermetamorfosis menjadi  Nasionalis Islamis Komunis (Nasakom). Era Orde Baru bermazhab Nasionalis Sekuler. Setelah Orde Baru tumbang dan 4 kali pemilihan presiden, demokrasi kita sekarang beralih ke Demokrasi Liberal. termasuk memberi ruang kepada kaum gay dan lesbian di ruang publik. Sesuatu yang tidak hpernah terjadi sebelumnya.

Demokrasi mengizinkan eksistensi Homoseks, tapi tidak untuk segala hal yang mengarah pada nilai-nilai Islam

Alam demokrasi memang memberi ruang untuk apapun tetapi tidak untuk apapun yang mengarah pada penegakkan nilai-nilai Islam. Pencalonan Dede Utomo seperti foto di samping telah melengkapi potret buruk demokrasi Indonesia. Dia ketua umum Gay Indonesia (GAYA) payung komunitas gay.  Dede utomo menjadi calon Komisoner Komnas HAM. Meski DPR (sebagai produk demokrasi) yang akan menentukan.

Kita tahu Komnas HAM sendiri  merupakan produk turunan dari ajaran demokrasi dan mengacu pada  HAM PBB (masyarakat Internasional-nya Amerika. Sehingga gay dan paranormal pun berhak menjadi calon bersaing dengan kyai.

Kita juga tahu inti ajaran demokrasi adalah kedaulatan membuat hukum (legislasi) ada di tangan DPR termasuk memilih pejabat publik seperti komposisi anggota KPK, gubernur BI, komisioner HAM etc.

Selain menanam Sekulerisme, Barat juga memelihara konflik di dunia Islam dengan mengkampanyekan ide yang kompatibel dengan sekulerism ini. Seperti nasionalism, pluralism, demokrasi, dan HAM. Ide demokrasi ini berbasis pada sekularism dan freedom hingga kebebasan tafsir ulang ajaran Islam dan rekonstruksi hukum Islam.

Dampak Nasionalism

Ide Nasionalism  telah menjadikan dunia Islam pecah berkeping-keping menjadi 57 negara dalam 1 abad terakhir dan tampaknya jumlahnya akan semakin bertambah. Secara global, paham ini memberi andil sangat besar terciptanya 193 negara (yang diakui PBB) dikungkung nasionalism sempit dan sering kepentingan nasional masing-masing negara saling bertumbukan. Memicu perang … perang … perang!!!!

Adalah fakta yang biasa, seorang ulama yang alim dan salih dari negara lain datang ke Indonesia akan dianggap orang asing oleh saudaranya sesama muslim. Tetapi ironisnya sesama orang Indonesia, yang agamanya berbeda atau tidak beragama akan lebih diperlakukan sebagai saudara.

Lalu dimanakah gerangan perasaan bahwa “Ummat Islam itu ibarat satu tubuh yang jika salah satu anggota tubuhnya sakit maka seluruh tubuhnya pun ikut merasakan sakit  ….?”

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?