<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Determinism Versus Undeterminism in Islamic Thoughts of Destiny

                                                                                          Konsep Takdir dari Waktu ke Waktu

Sesudah Nabi wafat pada 8 Juni 632 M (12 Rabi’ul ‘Awwal 11H) dalam usia 63 tahun (lahir tanggal 12 Rabi’ul Awwal Tahun Gajah – 570 M) terjadi perdebatan dalam banyak persoalan agama, diantaranya dalam masalah takdir. Ada 3 pemahaman takdir :

Kelompok (1) Takdir mutlak wewenang Allah yang sudah ditetapkan sebelum diciptakan dan tidak ada kehendak makhluk. Faham ini diwakili aliran Jabbariyah tokoh-tokohnya orang Yahudi untuk merusak aqidah Islam diantaranya Thalut bin A’shom dan melahirkan konsep Nasib.

Kelompok (2) Manusia punya kebebasan mutlak menentukan takdir tanpa campur  tangan Allah karena Dia telah menyerahkan Kehendak dan Kekuasaan-Nya kepada manusia. Diwakili Mu’tazilah pendiri Abu Hudzaifah bin Atho (699-749M), Qodariyah tokohnya Ma’bad al Jauhani al Bishri dan Maturidiyah yang berlebihan menggunakan kebebasan akal.

Kelompok (3) Manusia bebas berkehendak tapi Allah punya hak mutlak menentukan hasil. Diwakili Asy’ariyah pendiri Ali bin Ismail Al-Asy’ari (873-935M) atau dikenal sebagai Abu Hasan Al Asy’ari pengikut Mu’tazilah yang mengkritisi ajaran dan jadi condong ke Jabbariyah dengan anggapan takdir mutlak ada di tangan Allah.

Dalam perkembangan selanjutnya ada konsep takdir yang lebih rasional dibanding aliran Asy’ariyah yang dikemukakan oleh Ibn Rusydi (Cordoba 1126-1201M). Fahamnya: Manusia mempunyai kebebasan tertentu menentukan takdir, namun Allah tetap menentukan hasil melalui sunatullah (hukum sebab-akibat) atau Causal Law. Namun sekali lagi sangat ditekankan bahwa Allah tetap sebagai Causa Prima (Faktor Utama).

Pandangan Takdir Dalam Alam Pikiran Barat

327px-Clockwork_universe_by_Tim_Wetherell Di Barat juga ada perdebatan sengit tentang takdir (destiny). Menurut doktrin filosofis Determinisme, Semua perbuatan dan peristiwa telah ditentukan tuhan Sehingga melahirkan pandangan Fatalisme.  Bagi para pemganut doktrin Determinisme, seluruh alam semesta ini, termasuk peristiwa, tindakan dan pikiran manusia, bekerja seperti mekanisme kerja arloji (jam).

To the Determinist, the universe is like clockwork

Sebaliknya menurut Indeterminisme, manusia punya kebebasan mutlak tanpa campur tangan tuhan, sehingga melahirkan pandangan Laissez Faire (ungkapan perancis – berarti “Biarkan Terjadi”) atau secara harfiah diartikan manusia boleh berbuat sebebas-bebasnya. Doktrin ini pada awalnya dicetuskan oleh para penentang raja perancis yang melakukan intervensi di bidang ekonomi namun akhirnya meluas menjadi pandangan bahwa manusia punya kebebasan mutlak.

Disini dapat disimpulkan bahwa baik di dunia Barat maupun Timur sama saja terjebak dalam konsep takdir yang ektstrim antara kebebasan mutlak manusia atau kekuasaan mutlak Tuhan.  

Esensi takdir seharusnya diperoleh dengan pendekatan kaafaah, mengikuti fitrah Allah Yang Esa, Universal dan didasarkan “rahmatan lil ‘alamin.” (rahmat Allah bagi seluruh alam semesta dan seisinya).

Takdir Versus Nasib

Salah dalam memahami takdir berakibat kontra-produktif. Kesalahan utama adalah menyamakan takdir dengan nasib. Falsafah nasib mengajarkan, Manusia tidak punya kebebasan menentukan takdir karena sudah ditetapkan Allah sebelum lahir. Banyak umat Islam mengalami kebingungan dengan konsep hidupnya sendiri karena menemukan kontradiksi antara kepasrahan (akibat salah memaknai takdir) dan kerasnya persaingan hidup hingga sulit menentukan sikap dan tindakan.

Ada Perbedaan mendasar diantara keduanya,                                            1.  Takdir memberi motivasi positif dan Nasib memberi motivasi negatif.    2.  Takdir mengajarkan ketegaran, dinamis dan kreatif sedangkan nasib   ….mendorong sikap pasrah, malas dan statis.                                      Semestinya konsep takdir berdampak positif dalam beragama dan menghantarkan sukses dunia dan akhirat sehingga tidak ada malas-malasan dan putus asa.

Dalam falsafah Nasib masalah jodoh, mati dan rezeki manusia sudah ditentukan sebelum lahir. Ada ungkapan ‘Kalau memang jodoh tidak akan lari kemana.’ atau ‘Sebelum ajal berpantang mati’ atau ‘Kalau ditakdirkan miskin, yaa miskinlah.’ Benarkah demikian?

A) Rahasia Jodoh Dalam Pandangan Takdir

Jodoh, kematian dan rezeki merupakan Qodho dari Allah yaitu takdir yang ditetapkan Allah sesudah didahului usaha manusia. Maka ungkapan “jodoh tak perlu dicari, serahkan saja pada NASIB.” sangat tidak mendidik. jodoh tak akan datang sendiri tanpa proses sebab-akibat.

Dalam usaha mencari dan memilih pasangan hidup  ISLAM menyuruh para perempuan muslim (muslimah) carilah suami yang baik, bertanggung-jawab, satu iman dan mampu menafkahi keluarga atau bagi para laki-laki muslim carilah istri yang menentramkan hati, pintar mendidik anak dan satu iman karena budak hitam tetapi beriman kepada ALLah jauh lebih baik dibanding wanita kafir. Disini jelas, kita disuruh mencari dan memilih jodoh yang baik. Jodoh adalah pilihan yang harus diusahakan.

B) Rahasia Rezeki Dalam Pandangan Takdir

Islam mengajarkan setelah sholat, “ … bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi untuk mencari karunia Allah.” 

Allah bersifat aktif dalam menjamin rezeki pada ciptaan-NYa hewan dan tumbuhan (QS Hud ayat 6,  Al-Ankabuut ayat 60). Sementara khusus pada manusia yang ada akal dan kehendak, Allah bersifat responsif, menunggu dan mempertimbangkan usaha manusia dalam mencari rezeki, baru kemudian Allah menentukan takdirnya.

Allah menyiapkan rezeki, manusia harus berusaha mencari. Sebagian manusia serakah menguasai sendiri sumber rezeki hingga menimbulkan kerusakan ekosistem bumi dan lautan dan rusaknya tatanan masyarakat. (Ar-Ruum : 41, An-Nahl : 124, Al-Baqarah : 29, Ibrahim : 32, Al-Hijr : 20).

Jika seseorang berusaha dan Allah ‘menyukai’ usahanya maka Allah akan menunjukkan jalan bertemu dengan rezeki-Nya. Sebaliknya jika malas dan Allah ‘tidak menyukai’ orang malas maka Allah Yang Maha Pemurah tidak akan mempertemukan orang itu dengan rezeki-Nya.

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah Karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jumu’ah (62) : 10)

Allah menghendaki keseimbangan ibadah khusus (shalat) dengan ibadah dalam arti luas (amal, usaha dan dalam mencari rezeki). Keseimbangan ini memberi kekuatan luar-biasa pada seseorang dalam usaha menemukan takdir terbaiknya (beruntung). (QS An-Nur : 38). Tidak boleh mengambil sikap ekstrim diantara keduanya.

Jika mengejar dunia saja seseorang akan merugi dan tertipu, karena nilainya sangat tidak sebanding dengan nilai di akhirat (An-Nisaa (5) 134, Al-Hadid (57) : 20). Dan jika sama sekali tidak perduli pada urusan kehidupan dunia juga akan merugi karena termasuk orang yang tidak bersyukur. Nikmat Allah tak boleh disia-siakan (Al-Qashash (28) : 77).

C) Rahasia Mati Dalam Pandangan Takdir

Berkembang pendapat salah bahwa, ‘kematian telah ditentukan sebelum dilahirkan.’ Jika demikian berarti “usia harapan hidup.” sebagai salah satu parameter tingkat kesejahteraan, tidak dapat dinaikkan atau tingginya kematian bayi tidak dapat ditekan. Apakah merawat kesehatan atau melalaikannya tidak berpengaruh pada usia harapan hidup? 

Faktanya, di negara maju usia harapan hidup diatas 70th karena baiknya sistem layanan kesehatan masyarakat. Sebaliknya di negara miskin usia harapan hidup dibawah 50th dan tingkat kematian bayi sangat tinggi. Benarkah mati muda karena NASIB ataukah karena taraf hidup jelek? Kenyataannya, resiko kematian dini bisa dicegah atau harapan hidup lebih lama juga bisa diusahakan dengan kualitas hidup lebih tinggi.

Falsafah NASIB melahirkan  hidup penuh pasrah, membatasi diri untuk berusaha dan hanya menanti datangnya takdir. Inilah penyimpangan pemahaman takdir. Sesungguhnya kematian, terkait kapan, dimana dan bagaimana cara matinya, ditetapkan Allah seiring usaha manusia.

Bahwa Allah melarang bunuh diri, menunjukkan ‘kematian’ bisa diusahakan mengikuti hukum sebab-akibat, dimana manusia bisa memilih sendiri variabel-variabelnya. Bagi pelaku BUNUH DIRI, ia  bebas memilih waktu, dimana dan cara untuk menjemput kematian.

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”  An-Nisa (5) : 29

Manusia punya kehendak sebebas-bebasnya. Mau mati sekarang bisa bunuh diri atau memulai perbuatan beresiko tinggi sehingga secara tidak langsung memilih cara mati melalui akibat kecelakaan, hukuman tembak bagi pelaku kriminal, kanker atau HIV.

Bukankah takdir kematian merupakan hasil perpaduan berjuta variabel atau kejadian mengikuti sunatullah?

Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka tentang kematiannya kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib, tentulah mereka tidak tetap dalam siksaan menghinakan.” QS Saba (34) ; 14

Cermati huruf tebal, ada kesan Qodho pada penetapan takdir ajal seiring berjalannya kehidupan nabi Sulaiman. Sangat jelas ajalnya tidak ditetapkan sebelum lahir. Waktunya pun rahasia Allah, sehingga jin pun baru mengetahui kematian nabi Sulaiman ketika ia jatuh tersungkur setelah tongkat penopangnya dimakan rayap.

“Allah memegang jiwa ketika matinya dan (juga memegang) jiwa yang belum mati di waktu Tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan jiwa lain sampai waktu yang ditentukan (kelak). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” Az-Zumar ; 42

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan seseorang apabila waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”    Al-Munaafiqun (63) ; 11

Ayat diatas ada kesan Qodho ketika dikaitkan dengan urutan waktu. Allah memegang dan menahan jiwa yang ‘telah Dia tetapkan’ ajalnya. Artinya, dalam sakaratul maut, kondisinya tidak memungkinkan hidup karena variabel2 takdirnya mengarah kematian, tak ada lagi usaha yang dapat menyelamatkan nyawanya.

“ ... Sedang segolongan lagi dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, “Apakah ada bagi kita sesuatu (campur tangan) dalam urusan ini? Katakan, ”Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka sembunyikan dalam hati apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; Mereka berkata, “Sekiranya ada bagi kita sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tak akan terbunuh (kalah) disini.” Katakanlah, “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang2 yang telah diwajibkan akan mati terbunuh keluar ke tempat mereka terbunuh.” “Sesungguhnya orang2 yang berpaling diantaramu pada hari bertemu 2 pasukan itu, Mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka Perbuat dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka.” Al-Imran (3) : 154-155

Ketetapan takdir hak Allah. Meski demikian manusia diharuskan berusaha maksimal. Ikhtiar mungkin bentuk ‘negosiasi’ dengan Allah, agar Dia mentakdirkan yang terbaik. Jika dalam berusaha berbuat salah –karena bujukan syaitan– maka bakal diperoleh takdir yang tidak diharapkan. Dalam perang Uhud, umat Islam kalah karena sebagian pasukan tergiur pampasan perang, bahkan Nabi SAW pun terluka.

Ayat diatas mengajarkan untuk tidak menggerutu dan menyesali kejadian yang sudah terjadi apalagi berprasangka buruk pada Allah, karena sikap seperti itu adalah respon orang yang tidak beriman dengan benar.

“Hai orang beriman, jangan kamu seperti orang kafir, yang mengatakan kepada saudara mereka ketika mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau berperang : “ Kalau mereka tetap bersama kita tentu mereka tidak mati dan terbunuh.” akibat yang demikian itu,Allah menimbulkan penyesalan sangat dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. Al-Imran (3) : 156

Allah menggambarkan dengan jelas betapa orang kafir, munafik dan orang yang tidak memahami mekanisme Takdir bakal merasakan penyesalan sangat mendalam. Bagi orang berakal, Allah mengingatkan bahwa Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan serta menentukan takdir, tapi semua itu didasarkan pada apa yang mereka kerjakan.

Pendekatan Bio - Molekuler Dalam Memahami Kapasitas Umur Manusia

Disamping ayat Takdir Kematian yang menyiratkan Qodho, yaitu terkait urutan waktu, ada ayat yang tidak demikian. Seperti ayat ini :

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan.Al-Waqi’ah (56) : 60

Penjelasan ajal ini menyiratkan Qodar (takdir yang tidak terkait usaha dan urutan waktu), hanya menunjukkan Modus Kematian sebagaimana ayat tentang Lauhul Mahfudz yang mencatat semua peristiwa tetapi tidak menyiratkan urutan waktu. Ayat ini bisa ditafsirkan bahwa Allah menetapkan Qodar kematian seseorang sebelum lahir, termasuk Kapasitas Umur.

Dalam riset Bio-Molekuler, pemahaman kapasitas umur mendapat pijakan penting. Riset menyimpulkan bahwa umur dibatasi gen “Telomere” yang berperan seperti ‘Stopwatch’. Gen mulai ‘Berdetak’ saat sel telur bertemu sperma, bagaikan ‘Stopwacht’ dipencet start.

Dari berjuta sifat rantai genetika, gen Telomere khusus berfungsi mengendalikan seluruh reaksi bio-molekuler. Pembelahan sel hingga usia janin beberapa minggu berjalan dengan kecepatan fantastis dimana pertumbuhan organ2 tubuh; otak, paru, jantung, tulang, jaringan syaraf, anggota tubuh dan sebagainya sedemikian cepat dan terkontrol.

Sebaliknya menjelang kelahiran, kecepatan pembelahan sel turun drastis krn semua organ telah sempurna. Kemudian pertumbuhan bayi sangat pesat lagi, seperti 80% perkembangan otak terjadi pd 3th pertama. Seiring waktu kecepatan pertumbuhan pun melambat hingga ajalnya. Terlihat seluruh proses bio-molekuler dikendalikan gen Telomere mengikuti urutan waktu dengan kecepatan pembelahan sel sesuai kebutuhan termasuk harus berhenti tumbuh (seperti pada rambut alis), dengan sangat disiplin dan harmonis-proporsional sehingga pertumbuhan sel rambut alis selamanya tidak akan menutupi mata.

Gen Pengendali ini juga berfungsi seperti ‘Jam Biologis’ mengatur waktu kapan jam tidurnya dan sebagainya atau seperti ‘Stopwatch’ yang menjadi acuan kapan tumbuh gigi susu, kapan mulai muncul tanda2 fisik usia remaja atau dewasa. Kapan mulai beruban, kulit keriput dan kapan organ2 vital mulai bermasalah hingga rusak fatal berakibat kematian.

Perumpamaan seperti baterai sekali pakai menjadi sumber tenaga robot. Pabriknya merancang kapasitas umur pemakaian 1500 jam dan setelah itu habis daya listriknya. Bisa saja terjadi robot ‘bunuh diri’ terjatuh dari ketinggian atau tidak adanya perawatan rutin menyebabkan robot ‘mati’ pada 150 jam pemakaian atau kapasitas umur pemakaiannya tidak sampai habis. Demikian juga takdir kematian seseorang.

Allah menetapkan Qodar manusia sebelum lahir, termasuk Kapasitas Umur, misalkan kapasitas umur seseorang ditetapkan 80 tahun maka maksimal usianya 80 tahun, namun bisa jadi ia mati sebelum usia 80 tahun dimana waktu, tempat dan cara mati tergantung Qodho (usaha)nya seperti bagaimana cara hidupnya. Misalnya pada usia 35 tahun bisa saja ia mati karena bunuh diri, over-dosis, HIV, TBC akibat tidak menjaga kesehatan atau di hukum mati sebagai penjahat. Ternyata Allah membatasi umur lewat Untai Genetika dalam inti sel kita sendiri sejak sel telur dibuahi oleh sperma. Begitulah Dia menetapkan takdir kematian kita.

Apabila memahami takdir dengan benar, Allah akan memberi kekuatan motivasi untuk menyikapi rezeki kepada hamba Allah. Diantaranya :

Motivasi pertama : Jangan berputus asa. (Al-Israa (17) : 21)

Motivasi kedua : Allah mengatur rezeki masing-masing orang berbeda-beda, ada orang yang dilebihkan (kaya) dan ada orang yang kekurangan (miskin). Orang kaya didorong Allah untuk menolong si Miskin, karena Allah telah ‘menyelipkan’ hak si Miskin didalam rezeki orang Kaya. Barangsiapa yang tidak mau menolong si Miskin dianggap ‘kufur nikmat’. Allah pun memberi rezeki si Miskin lewat si kaya agar terjadi interaksi sosial yang berkeseimbangan (An-Nahl (16) : 71, Saba (34) : 39).

Motivasi ketiga : Tidak hidup bermegah-megahan dengan rezekinya. Kemewahan yang menyebabkan dirinya melupakan tujuan hidup, yaitu beramal saleh dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya. Rezekinya bukan untuk dinikmati sendiri sepuas-puasnya lantas mati tidak berguna. (At-Takaatsur ayat 1-8, Al-Israa’ ayat 16, Al-Mu’minun ayat 64,  Al-Waqi’ah ayat 45-46 ).

Motivasi keempat : Menjadikan Bertawwakal kepada Allah dalam soal rezeki. Setiap ‘Perburuan’ selalu memunculkan stress ketika menghadapi kegagalan karena ada begitu banyak variabel diluar kontrol. Menghadapi kenyataan tersebut  jangan seseorang segera buruk sangka kepada Allah. (Al-Fajr : 16, Asy-Syuura : 27, Ath-Thalaaq : 3).

Wallaahu a’lamu bishawab

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?