<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Diego Mendieta : Potret Buruk Bola Sepak Indonesia

 

Betul-betul sangat mengenaskan nasib sepakbola Indonesia, sudah miskin prestasi miskin pula moral pengurus klub-klubnya. Masak pemain tidak dibayar gaji (4 bulan sebesar 120 juta Rupiah), pemain dari LUAR NEGERI lagi. Hingga ketika sakit parah, minta tiket pulang ke negerinya untuk meninggal di depan keluarganya di Paraguay tidak juga dipenuhi dari gajinya tersebut.

Sebentar lagi berita tragis dunia sepakbola KITA akan GO INTERNASIONAL,.....bikin maluuuuuu, karena kelakuan pengurus sepakbola kita semua menanggung malu...

diego mendieta diego mendieta1
Diego Mendieta

Kita bisanya hanya ngomong doang……! Kita akan protes keras, demo dan menuntut ini itu ke Malaysia, ketika TKI kita sering disiksa, dianiaya, bahkan dibunuh. Tetapi yang ngomong begitu banyak tidak melihat ke diri sendiri, kejadian yang sama juga ada di negeri sendiri. Bagaimana kata orang Malaysia dan negara lainnya ketika melihat potret buruk yang sama terhadap tenaga kerja di Indonesia. Para pengurus klub sepakbola di Indonesia juga menyiksa TKA. Bahkan di dalam dunia sportifitas, ironis memang.

Berikut ini keinginan terakhir Diego Mendieta yang ditulis dengan tinta merah dan dipajang sebagai gambar identitas akun BBM beberapa rekan pemain serta pelaku sepak bola:

Gak minta gaji Full
Aku
Cuma minta tiket pesawat
Biar bisa pulang
Ketemu MAMAH
Dan
Mati di negara saya

RIP#Diego Mendieta

Berikut ini ulasan berita dikutip dari Yahoo!

Kematian menjemput manusia kapan saja tanpa pernah diduga. Namun demikian, kematian tragis Diego Mendieta patut disesalkan. Mantan pemain Persis Solo asal Paraguay menghembuskan napas terakhir dalam kesendirian dan ketidakadilan.

Hingga ujung hayat, Diego masih belum menerima gaji selama empat bulan sebesar Rp120 juta. Hak yang tak terbayarkan ini meninggalkan keprihatinan mendalam. Inilah puncak gunung es karut-marutnya tatanan sepak bola Indonesia.

Bukan rahasia lagi bahwa banyak pemain di kompetisi Indonesia yang belum menerima gaji — baik itu di LSI (versi KPSI) maupun LPI (versi PSSI) yang sedang sibuk klaim kepemimpinan sepakbola Nasional. Apa penyebabnya? Ketidakbecusan pengelola sepak bola di negeri ini.

Di Indonesia, kompetisi level negara nyaris tidak berbeda dengan turnamen antar-kampung. Maklum, tak pernah dibangun berdasarkan studi kelayakan. Tidak ada riset dan kalkulasi berapa biaya minimal yang harus dikeluarkan sebuah klub untuk ikut kompetisi. Akibatnya, tidak ada kejelasan dari mana saja klub seharusnya menggali sumber dana.

Selanjutnya, tak diketahui daerah mana yang pantas menyelenggarakan kompetisi di lapis satu-dua-tiga-dan seterusnya. Tidak pula diperhitungkan apakah kota tertentu memiliki daya beli tiket dan suvenir klub. Tak ada pula aturan tentang siapa yang berhak punya klub dan tak ada aturan kepemilikan saham. Tak ada panduan bagaimana dan oleh siapa semestinya klub dikelola, bagaimana keamanan kompetisi diurus, bagaimana klub diberi kompas untuk menjaring dana/sponsor.
Ini semua tak pernah jelas.

Mungkin Indonesia satu-satunya negara besar di dunia dengan kompetisi (yang katanya profesional) tanpa fondasi yang kuat, bagus, baik, dan benar. Padahal, selain sebagai industri hiburan, kompetisi profesional juga berfungsi sebagai muara pembinaan sepak bola nasional. Sepertinya di Indonesia, kedua fungsi ini diabaikan.

Pendeknya, kompetisi Indonesia tak punya desain besar. Andai ada, itu cuma macan kertas. Prinsip "pokoknya jalan" menjadi kunci. Itulah sebabnya konfigurasi jadwal pertandingan pun belang bonteng. Masa kompetisi dari musim ke musim selalu tak jelas. Rencana dibuat parsial. Sanksi dan aturan bisa direkayasa kapan saja sesuai kepentingan. Kompetisi amburadul.

Kita tidak heran lagi bila klub bergerak liar (misalnya dengan membeli pertandingan dan bahkan gelar juara). Kita juga tidak heran bila kompetensi wasit amatlah rendah. Wasit tidak becus, wasit mudah “dititipi”, juga wasit yang menjadi bulan-bulanan pemain karena sering menghadiahkan penalti di menit-menit terakhir.

Kita juga tidak heran bila tiada standar kualitas pemain, maklum yang memilih pemain adalah pengurus klub (bukannya pelatih). Padahal para pemain ini ujung tombak kompetisi kasta tertinggi dengan putaran uang ratusan miliar rupiah.
Uang itu seperti dibakar tanpa ada hasil yang bisa dibanggakan. Yang muncul justru masalah demi masalah mendasar.

Kompetisi profesional bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dalam sistem sepak bola sebuah negara. Dia hanyalah puncak piramida pembinaan. Tentu saja kompetisi puncak membutuhkan topangan dari bawah. Fondasi harus kuat. Tatanan harus jelas. Dengan sebuah piramida, pengelola dan pelaku sepak bola menjadi paham di mana peta mereka dan ke mana tujuan. Tanpa itu semua Indonesia menjadi sulit dan mungkin tidak akan pernah berprestasi.

Memang Indonesia pernah juara SEA Games 1991, meski belum punya piramida pembinaan. Tetapi itu 21 tahun yang lalu. Atau tim kita pernah menahan seri melawan tim Rusia pada tahun 1953. Namun kini dunia sudah berubah. Sepak bola dan pengelolaannya berevolusi tanpa henti. Indonesia tidak bisa hanya bermodalkan romantisme, mengenang kejayaan masa lalu, seolah dunia tidak bergerak.

Indonesia juga tidak bisa naif menyalahkan konflik PSSI-KPSI sebagai biang keladi kegagalan. Betul, konflik memang menyebabkan tim nasional tidak diperkuat pemain terbaik. Tetapi tanpa konflik pun kita sudah kesulitan berprestasi. Ingat, pada Piala AFF 2010 kita juga gagal juara.

Sudah saatnya PSSI membuat cetak biru piramida pembinaan dan pengelolaan sepak bola. Membuat liga berjenjang yang dijalankan dengan teratur dan konsisten adalah syarat mutlak. Berbagai lapisan kompetisi itu akan melahirkan pemain dalam jumlah besar dari tahun ke tahun. Dia juga akan membutuhkan panitia pertandingan dalam jumlah banyak. Dia pun akan memerlukan kurikulum sepak bola.

Sudah saatnya pula PSSI membenahi dan menyusun ulang konsep kompetisi profesional di negeri ini. Jangan lagi hanya mengandalkan prinsip parsial dan asal jalan saja. Perhitungan hak dan kewajiban setiap pelaku dalam bungkus industri menjadi penting. Jangan biarkan lagi klub amatir dan sumber dana tak jelas bisa mudah ikut liga.

Jangan lagi ada pemain yang bayarannya macet. Jangan lagi ada pertandingan yang berubah jadi pameran jurus pencak silat. Jangan lagi ada wasit yang berfungsi ganda (terima titipan duit, juga terima bogem mentah pemain).

Paling kita akan mendengar perkataan orang-orang bijak kita seperti ini :

"INTROSPEKSI DIRI"..."BELAJAR DARI KESALAHAN"....

TETAPI sudah yang keberapa ratus kali ya???? kita INTROSPEKSI TERUS...BELAJAR TERUS...kapan PINTER NYA KITA? KITA HANYA PANDAI BERKATA-KATA!!!!!!!!!!!!!!

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?