<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

2] True happiness : Miseries inspire Truth

BAGIAN KEDUA

Beragam cara dilakukan untuk meraih kebahagiaan. Kebahagiaan, bagi setiap orang memiliki cara pandang berbeda tergantung persepsinya tentang hidup. Tidak peduli, dia humanis, religius yang saleh, agnostik, pagan, komunis, pembenci agama atau materialistik.

Kisah Profesor Senior Yahudi dari New York University yang menemukan kebahagiaan sejati dI pelukan Islam.  Tiga tahun riset kehidupan sosial di Afghanistan dan Pakistan yang menderita akibat perang berkepanjangan dan kemiskinan memilukan telah menginspirasinya memeluk ISLAM.

yousef cohen_yusuf zulkarnain inspiring quotes Keluarga mualaf Yahudi - Joseph Cohen - mantan Anggota Kelompok Radikal Yahudi di tepi Barat. Kini menjadi pendakwah Islam di kalangan Yahudi Amerika.

Penderitaan Mereka Adalah Inspirasi Hidayah

Berikut script "Kabar Dari New York"
Tuesday, 27 April 2010 17:54

Dua minggu lalu saya temukan secarik kertas di mejaku di Islamic Cultural Center of NY. Isinya “I have been trying to reach you but never had a good luck! Would you please call me back? Karen.

Berhubung kesibukanku, saya menunda menelepon dia hingga 2 hari lalu.    “Oh! thank you so much for getting back to me!jawabnya saat saya perkenalkan diri dari Islamic Center. “I am really sorry for delaying to call you back,”  Saya tanyakan siapa dan latar belakangnya.

Hi, I am sorry! My name is Karen Henderson, and I am a professor at the NYU (New York University),” katanya.

“And so what I can do for you?”  Dia menanyakan apa saya ada waktu untuk bicara. “Yes, certainly I have, just for you, professor!" 

"Oh ... that is so kind of you!jawabnya.

Karen bercerita panjang tentang dirinya, background keluarga, profesinya, dan status sosialnya.
Saya adalah seorang professor yang mengajar sosiologi di New York University” katanya, sebagai sosiolog, dia tidak saja mengajar tapi juga melakukan berbagai riset di luar negeri.

Ia telah mengunjungi Afghanistan dan Pakistan yang disebutnya sumber inspirasi.  "Saya telah menghabiskan 3 tahun di desa-desa. Ada banyak kenangan tentang orang-orang yang sangat menakjubkan," lanjutnya.

Karen bicara  20 menit. Saya serius mendengarkannya tanpa menyela. Dia bicara dengan cara sangat menarik, informatif, dan disampaikan dalam bahasa yang jelas, membuat saya lebih tertarik mendengar. Mungkin karena dia professor, jadi bicaranya sangat sistematis dan eloquent.

"Karen, ceritamu sangat menarik. Saya yakin apa yang kau lakukan seperti pengalamanku tinggal di Pakistan 7 tahun, mengunjungi banyak wilayah yang tidak Anda sebutkan. "Apa kau ingin menceritakannya?"

Ia menarik napas dan menjawab dengan suara lembut dan lamban.
"Sir, saya ingin tahu Islam lebih lanjut, agama orang-orang ini. Mereka adalah orang-orang manis, dan saya pikir saya telah terinspirasi oleh mereka dalam banyak hal,"

Waktu tidak lagi mengizinkan, saya memintanya datang ke Islamic Center esok harinya dan sepakat jam 1:30AM, saat saya mengajar di kelas Islamic Forum for non-Muslims.

Hari berikutnya Sabtu siang saya tiba, pihak security menyampaikan ada wanita menunggu saya. “She is the mosque.” (maksudnya di ruang shalat wanita). Saya pun memintanya memanggilkan wanita itu ke kantorku.

Karen masuk dengan pakaian Asia Selatan. Sepasang shalwar  dan gamiz, serta kerudung ala Benazir Bhutto. Wanita 40-an tahun itu menyapa, 
Hi, sorry for coming earlier! I can wait at the mosque, if you are still busy with other things,

Not at all, professor! I am free for you,” jawabku tersenyum.
“Saya mohon pamit 5 menit, ya" untuk sekedar melihat weekend school program hari itu.  Setelah kelar melihat-lihat beberapa kelas, saya kembali ke kantor. “I am sorry Professor!” sapaku.

Please do call me by name, Karen!” pintanya tersenyum.

“Saya senang memanggil orang penuh penghormatan. Aku sungguh tidak tahu bagaimana harus memanggil Anda. Orang senang dikenal dengan gelar profesional. Tapi di  Amerika tidak,” kataku tersenyum.

Kami hanyut dalam diskusi, mulai isu kartun Muhammad SAW di komedi kartun Amerika, hingga asal usul Karen.

Saya adalah seorang Yahudi. Orangtua saya orang Yahudi, tetapi Anda tahu, terutama ayahku, dia tak percaya pada agama lagi”   Ayahnya menilai konsep tuhan sekedar alat represi sepanjang sejarah manusia.

Walau tidak percaya tuhan dan agama, ayahnya masih merayakan hari besar Yahudi,  seperti Hanukka dan Sabbath. “Perayaan ini, bagi Yahudi kebanyakan, tidak lebih warisan tradisi, Yudaisme saya pikir bukan agama, dalam arti lebih sebagai budaya dan keluarga“ tambahnya.

------------------------------------------------------
Semua itu bukan baru bagi saya. 60 persen lebih Yahudi Amerika dari sekte Reform. Mereka lakukan reformasi mendasar dalam agamanya, termasuk dalam hal-hal akidah atau keyakinan. 'Sekte reform' misalnya, sama sekali tidak percaya lagi pada kehidupan akhirat. Saya teringat dalam suatu diskusi di gereja Marble Collegiate tahun lalu tentang konsep kehidupan.

Pembicaranya saya, Pastor dan Rabbi dari Central Synagogue Manhattan. Saat sampai pada isu hari Akhirat, Rabbi tersebut mengaku tak percaya.  Seorang hadirin - yang juga murid mualaf saya dari Rusia - berdiri dan bertanya, “Jadi, jika Anda tak percaya pada kehidupan setelah kematian, mengapa Anda harus pergi ke rumah ibadat, mengenakan yarmukka, memberi amal, dan lainnya? Mengapa Anda merasa perlu bersikap jujur, bermanfaat untuk orang lain? Dan mengapa kita harus menghindari hal-hal yang harus kita hindari? "

Rabbi tersenyum menjawab singkat, “Kami melakukan semua karena apa yang harus kita lakukan” Mendengar jawaban Rabbi semuanya tersenyum dan bahkan banyak yang tertawa.
--------------------------------------------------------

Back to Karen. Kami hanyut dalam konsep kebahagiaan. Sebagai sosiolog, dia melakukan banyak riset ke Amerika Latin, Afrika, Eropa, dan Asia Selatan.  "Satu hal yang harus aku ceritakan, orang-orang Pakistan dan Afghan adalah orang-orang yang sangat menakjubkan”  katanya.

"Apa yang membuatmu takjub tentang mereka,” tanyaku.       

Religiusitas mereka. Antara lain komitmennya terhadap agama. Yang paling menakjubkan kekuatan mereka, bertahan di alam (yang sangat  kejam) yang menjadi kehidupan sehari-hari. Bagaimana mereka begitu kuat dan tampak bahagia meski dalam kehidupan sangat menantang

Saya tidak menyangka kalau tiba_tiba dia menangis saat membicarakan   'kesulitan hidup' orang Afghanistan/Pakistan di pegunungan-pegunungan. Sambil melempar senyum bergumam, “I am sorry, saya sangat emosional dengan kisah ini” Dia professor senior, walau masih belia dalam statusnya, Pengalamannya luarbiasa, menjadikan saya lebih banyak mendengar.

Segera saya ambil kendali. Saya bercerita konsep kebahagiaan menurut Islam. Bahwa kehidupan dunia sangat sementara dan Islam mengajarkan kehidupan akhirat. 

"Tidak peduli bagaimana Anda menjalani hidup, itu adalah sementara dan tidak memuaskan. Harus ada tempat, dimana kita akan hidup kekal, dimana semua mimpi & harapan akan terpenuhi. Keyakinan ini memberi  kekuatan besar dan tekad untuk menjalani hidup kita sepenuhnya, tidak peduli bagaimana situasi dapat mengelilingi kehidupan itu sendiri” jelasku.

Adzan Dhuhur dikumandangkan. Saya segera berhenti bicara. Nampaknya Karen paham bahwa saat dengar adzan, kita seharusnya mendengarkan dan menjawab. Dia tidak paham apa yang seharusnya diucapkan, tapi dia tersenyum ketika saya meminta maaf berhenti bicara.

Saya lanjutkan sedikit dan bertanya, "Jadi, sebenarnya apa yang membuat Anda menelepon saya?"

IMemberitahukan ; pikiran saya terus mengingat mereka. Mengingatkansaya, bagaimana mereka bahagia, sementara, di Amerika hidup mewah tapi penuh kekurang kebahagiaan ujarnya bernada marah.

"Tapi mengapa Anda harus membicarakannya dengan saya?"

Karen merubah posisi duduk dan dengan  sangat serius berkata.         
"Aku sudah memikirkan ini untuk waktu yang cukup lama. Tapi aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana untuk melanjutkan itu. Aku ingin menjadi seorang muslim,”  ujarnya mantap.

Saya segera menjelaskan menjadi muslim itu sangat mudah. Yang susah  proses menemukan hidayah. Saya juga sampaikan nampaknya dia sudah melalui proses itu, dan kini menuju jenjang akhir. 
"Pertanyaan saya, apakah Anda sungguh yakin bahwa ini agama yang Anda yakini sebagai kebenaran, “ kataku.

"Tentu tidak diragukan lagi!" Jawabnya tegas.

Saya segera memanggil guru wanita untuk mengajarkannya berwudhu. Ternyata dia bisa wudhu dan shalat, hanya belum hafal bacaannya.

Selepas Dhuhur, Karen saya tuntun melafalkan, Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah wa asy-hadu anna Muhammadan Rasul Allah” (“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain ALLAH dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan (rasul) Allah). Dia ikuti dengan  khusyu’ dan diikuti pekikan takbir jamaah yang hadir.

Doa menyertainya, semoga Karen Henderson dijaga dan dikuatkan iman, tumbuh menjadi pejuang Islam di bidangnya sebagai profesor di salah satu universitas bergengsi.

Penulis, M. Syamsi Ali,  imam Masjid Islamic Cultural Center of New York asal Indonesia pengisi rubrik "Kabar Dari New York" www.hidayatullah.com

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?