<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Misery is One of Signs Allah’s Love for His Servant Believers

Lafadz Allah pasca earthquake is sign True Islam       Lafadz “ALLAH”  (dengan huruf Arab) Terbentuk pada Bencana Tsunamy pasca gempabumi besar  Tanda Bahwa Setiap Bencana Adalah Bukti Allah Maha Kuasa

Terbayang jelas di layar TV begitu suramnya nasib korban Tsunami Aceh, lebih dari 200.000 jiwa meninggal dan ratusan ribu lainnya memulai hidup dari titik KM Nol - tanpa harta, hilang sanak keluarganya atau tinggallah sebatangkara. Apapun argumentasi ilmiah disodorkan untuk membicarakan penyebab semua bencana, semua ini dalam kerangka kehendak Allah SWT dan telah tertulis di Lauhul Mahfudz (QS. al-Hadid 23).

Setiap musibah dan kesengsaraan yang menimpa manusia memiliki 2 dimensi yang berbeda, seperti 2 sisi keping mata uang logam. Musibah bagi orang beriman kepada Allah ta’ala boleh jadi peringatan agar terhindar dari dosa yang lebih besar atau  jika dihadapi dengan kesabaran akan menghapus dosa masa lalu, dan jika meninggal akibat tenggelam, tertimpa suatu material atau terbentur akan dianugerahi derajat mati sahid. Bagi orang kurang beriman bisa jadi itu peringatan dan bagi yang ingkar itulah hukuman azab.

Tentang hal ini Rasulullah bersabda, "Tiada suatupun yang menimpa seorang mukmin, baik berupa kepayahan, sakit, sedih, susah, atau perasaan murung, bahkan duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan melebur kesalahan-kesalahannya lantaran kesusahan-kesusahan tersebut."                (HR Bukhari dan Muslim)

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukuman di dunia. Jika Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia menahan hukuman kesalahannya sampai disempurnakannya pada hari qiamat." (HR. Imam Ahmad, At-Turmidzi, Al-hakim, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi). Bersumber dari Abdullah bin Mughaffal. Menurut Al-Haitsami, periwayatan hadits ini shahih.

Seorang lelaki telah bertemu dengan wanita yang disangkanya pelacur. Ia pun menggoda hingga tangan menyentuh tubuhnya. Si wanita membentak, "Cukup!" Lantaran terkejut, Ia menoleh ke belakang dan terbentur tembok, terluka berdarah. Lelaki iseng itu pun pergi menemui Rasulullah dan menceritakan pengalaman yang baru saja dialami.

Komentar Rasulullah? "Engkau seorang yang masih dikehendaki oleh Allah menjadi baik." Selanjutnya bersabda, sebagaimana dalam hadits di atas.

Dalam riwayat At-Turmidzi, hadits itu disempurnakan dengan lafadz berikut, "Dan sesungguhnya Allah, jika Dia mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Jika mereka ridha (rela), maka Allah pun ridha kepadanya. Jika mereka benci, Allah pun membencinya."

Kasih sayang Allah tidak selalu berwujud kesenangan, melimpahnya harta, tercapainya segala keinginan, dan jauh dari berbagai musibah. Justru sebaliknya, kasihsayang-Nya sering berbentuk --oleh sebagian orang disebut—adzab yang sebenarnya bukan adzab tapi lebih tepatnya ujian. Berat ringannya ujian tergantung pada kuat tidaknya iman seseorang. Nabi dan Rasul yang 124.000 banyaknya adalah orang yang paling disayangi dan dikasihi Allah. Namun justru mereka yang paling berat menerima ujian dan melebihi ujian yang diberikan kepada siapapun. Kemudian disusul para syuhada' dan kemudian shalihin. Setelah orang menyatakan. "Kami beriman", Allah langsung menyiapkan ujian baginya.

Orang Fasiq (suka berbuat dosa besar), ingkar dan kafir yang dilimpahi kesenangan itulah yang justru tidak dicintai Allah. Mereka dibiarkan tenggelam dalam kesenangan (istidroj) sampai tiba ajalnya. Pada saat itu semua kesenangan dicabut dan diganti dengan berbagai siksa mengerikan, baik ketika di kubur, di padang mahsyar, maupun di neraka.

Allah berfirman: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan 'Kami telah beriman,' lantas tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. al-Ankabut: 2-3)

Selain ujian demi ujian untuk orang beriman, teguran demi teguran juga diberikan. Teguran terkadang halus, tapi sering juga kasar. Bagi yang kepekaan imannya tinggi, teguran halus sudah cukup menyadarkannya. Akan tetapi bagi yang telah hilang kepekaannya, teguran yang keras sekalipun tak bisa menyadarkannya.

Apa yang dialami lelaki itu merupakan teguran langsung agar sadar dan tidak mengulangi kesalahan. Ia sangat bersyukur atas kecelakaan yang menimpa dirinya. Wajah benjol dan darah mengalir di wajah tidak seberapa dibandingkan dengan nilai kesadaran yang baru dirasakannya. Kecelakaan itu semakin tidak berarti jika dibandingkan dengan siksa yang bakal diterimanya di akhirat kelak. Bukankah setiap dosa akan ditimbang dan dibalas sesuai dengan bobotnya? Dengan kecelakaan itu ia bertobat. Dengan bertobat, maka terhapuslah dosanya.

Karena itu, jangan cepat mengeluh. Boleh jadi itu hanya ujian untuk bersabar atau merupakan teguran dari Allah SWT atas berbagai kesalahan yang telah kita lakukan.

Walaahu a’lam bis shawab
Wa bilaahit taufiq wal hidayah – The Quote Inspire Us to ISLAM

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?