<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

2] Pandangan NAZI Tentang Islam, Muslim di sekitar NAZI


Saya sangat bersyukur bahwa saya berada dalam suasana kondusif di Indonesia sehingga bisa  bebas mengungkapkan apa yang saya rasakan tentang suatu hal yang sangat tidak adil,  yaitu tuduhan NAZI Jerman sangat rasis seperti yang di-blowup oleh media mainstream yang dikuasai Yahudi dan negara pemenang perang. Menyanggah NAZI tidak rasis sangat mudah karena faktanya pandangan Islam dan personil muslim ada dalam kesatuan elit tentara NAZI Jerman.
Adapun sejarah NAZI faktanya juga telah dimanipulasi media yahudi. Negara-negara besar pemenang PD II (USA, Inggris, Prancis dan Rusia) sangat leluasa merombak super power sebelum PD II  (Jerman) sesuka hatinya, termasuk dalam penulisan sejarah Jerman dan pencitraan NAZI. Zionist tentu saja ikut bermain. 
Bukti foto memperlihatkan  pasukan "Ras Arya Perkasa" ternyata bercampur ras lain, seperti Slavia, Chechen, Mediterania Bosnia bahkan Arab dan Korea. Dan yang membuat kagum, kebanyakan ras asing ini bergabung dalam pasukan elite SS - pasukannya Himmler – Media Yahudi menyebut Himmler "Rasis nomor 1"! 
Tuduhan yang tidak berdasar dan berlawanan dengan fakta bahwa ras-ras asing justru dirangkum dalam pasukan elit Jerman.
Bukti lain: 
Tidak selalu orang Jerman berambut pirang, mata biru dan tinggi di atas rata-rata orang Eropa. Faktanya banyak dari mereka berdarah campuran dan berpenampilan sama sekali "tidak ideal". Paling kentara adalah Joseph Goebbels. Saya yakin pertamakali melihatnya, anda pasti menyangka Goebbels – Ahli Propaganda NAZI adalah non-Jerman, bahkan non-Eropa!
Demikianlah!. Bila ingin mendapat fakta jernih, kita harus meneliti sejarah dengan fair sehingga kesimpulan kita bukanlah sebagai pengekor "trend". Apalagi trend-setter opini pro-Yahudi.  Tidak selalu fakta adalah apa yang diyakini orang banyak.
Seperti dikatakan Hitler :
"Apabila suatu kebohongan dijejalkan terus-menerus, maka orang akan menganggapnya sebagai sebuah fakta."

Islam di Jerman pra Perang Dunia II

Jerman merupakan sekutu kekhalifan Turki dalam PD I. Jerman menderita malu, kepedihan mendalam atas kekalahannya dan penghinaan Sekutu. Hal ini juga terjadi pada orang Arab yang dikhianati janji palsu Inggris dan Prancis yang akan memberi kemerdekaan. Banyak  pejuang terbaik Arab Muslim tewas demi membela Sekutu.
Situasi suram dimanfaatkan ahli-ahli strategi Jerman untuk reposisi Geo-Politik terhadap kekuatan imperialism. Jerman harus merapat lebih dekat ke bangsa Arab Muslim.  Alasannya sederhana, ada musuh bersama.
Seperti Karl Haushofer  dan Otto Strasser inginkan "Kekuatan Ke-3" di Eropa yang bersama-sama menjadi lawan kapitalisme dan komunisme. Minat mereka, memenangkan kaum "tidak punya" (selama ini tertekan) melawan kaum "berpunya".
Latar belakang strategis ini ternyata kemudian berdampak sampingan - beberapa diantara ahli strategi Jerman tersebut masuk Islam setelah meneliti dan mendalami sumber utama kebudayaan Arab, yaitu  – ISLAM.
Pendukung Arab ini diantaranya Dr. Fritz Grobba, veteran di Kementerian Luar Negeri dari tahun 1924 yang bertugas sebagai Duta Besar Jerman di Irak dan Arab Saudi. Dia pengagum kebudayaan Islam, dijuluki "Lawrence of Arabia Jerman" dan menjadi teman dekat al-Husseini. Setelah PD II, Grobba memeluk agama Islam dan menjadi penghubung politik antara pemimpin Mesir Gamal Abdel Nasser dengan pihak Jerman dan Soviet.
(Kevin Coogan, Dreamer of the Day: Francis Parker Yockey and the Postwar Fascist International, New York: Autonomedia, 1999, halaman 383).
Tokoh lain Werner-Otto von Hentig, teman dekat Grobba dan kepala Divisi Arab di Kementerian Luar Negeri saat dpimpin  Joachim von Ribbentrop. Setelah PD II, dia menghabiskan sebagian besar waktunya di Timur Tengah. Pada tahun 1955 Raja Ibnu Saud menunjuknya sebagai kepala penasihat Eropa untuk Arab Saudi.
Saat menjabat Duta Besar Jerman untuk Indonesia.  Dalam kapasitas tersebut, dia mendampingi delegasi Saudi sebagai penasihat khusus dalam Konferensi Asia-Afrika, Bandung, April 1955. Hentig memberi nasihat pada orang Arab untuk mengadopsi kebijakan netralisme dalam politik dunia dan mempertahankan kemerdekaan mereka dari super power dunia saat itu, Amerika – Rusia.
(Kevin Coogan, Dreamer of the Day: Francis Parker Yockey and the Postwar Fascist International, New York: Autonomedia, 1999, halaman 384).

Pandangan NAZI tentang ISLAM?

Seiring bangkitnya gerakan Nasional-Sosialis (NAZI) Jerman, para tokoh politik baru juga menyuarakan statemen menyejukkan tentang Islam yang sangat berbeda dengan keyakinan umum saat itu di Eropa. Termasuk diantaranya  Adolf Hitler dan Heinrich Himler! Seperti apa pandangan mereka tentang Islam?
Nov. 1938, harian Die Welt, dengan merujuk artikel di Der Arbeitsmann, menulis sebagai berikut:
"Inti utama artikel tersebut adalah pujian akan konsep Islam tentang takdir sebagai contoh komperehensif akan ide-ide nasib akan datang dan sekaligus bertentangan dengan konsep yang diyakini doktrin Kristen yang selama ini berlaku."
Merujuk ke mingguan Berlin Fridericus, majalah Prancis menulis bahwa:
"Jumlah orang masuk Islam semakin meningkat. Namun sampai saat ini tidak timbul masalah berarti di Jerman."
Mingguan Fridericus juga mengklaim bahwa:
“… disebabkan oleh konsep Islam "memproklamasikan prinsip2 vital dari etika yang sudah terbina, sehingga sangat mungkin untuk dikonfirmasikan." Dengan mengharmonisasikan ide keadilan dan pengampunan, Islam telah membuat ‘banyak orang Nordik tertarik dengan ajaran pembebasan dan keseteraan yang dikemukakan ISLAM.’
Der Welt menyimpulkan laporannya:
"Orang-orang Austria yang bergabung kembali dengan Reich mendapati bahwa di ibukota kini berkembang penelitian dan minat besar akan agama Muhammad, sehingga kita melihat bertambahnya orang lokal yang memproklamirkan diri sebagai pengikutnya (seperti tercatat di laporan resmi pemerintah). Di pihak lain, propaganda terencana yang mendukung ditinggalkannya ajaran Gereja justru semakin berkembang."
(dikutip dari buku "Nazisme et Islam" karya Omar Amin Mufti).
------------------------------------------------------------
Demikianlah, NUR Islam bersinar terang di tengah-tengah semangat NAZI di jantung Eropa.
--------------------------------------------
Related Post:
Daftar Perwira NAZI, SS dan Wehrmacht Pemeluk Islam–Bagian 4 
Rasialisme versi NAZI Jerman - Bagian 3
Kabut Misteri Dibalik Interaksi NAZI Jerman dan Islam - Bagian 1
--------------------------------------------------------

Kembali ke BAGIAN PALING ATAS klik --->        Back to Top

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

Blog Archive

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?