<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Balat al-Syuhada : Perang Paling menentukan Bagi sejarah Kristen Eropa

 

KITA tidak hanya harus belajar dari kemenangan-keberhasilan tapi lebih penting lagi belajar dari kekalahan. Dengan demikian, kita mampu melakukan koreksi setelah tahu penyebab kekalahan dan dapat menghindarinya di masa mendatang.

Awal Ramadhan 114H (732M) terjadi pertempuran paling menentukan sepanjang sejarah Kristen Eropa. Medan perang diantara kota Tours dan Poitiers - Perancis, dikenal sebagai peristiwa Balat al-Syuhada (Pavements of Martyrs). Paul K. Davis memasukkan peristiwa ini dalam daftar 100 Decisive Battles. Edward Creasy, memasukkan pertempuran ini dalam bukunya, Fifteen Decisive Battles of the World.

Kapankah suatu pertempuran bersifat menentukan jalan sejarah?

Menurut Paul K. Davies (1999:xi), pertempuran dikatakan ’menentukan’ ketika memenuhi salah satu dari 3 kriteria berikut :

-   Pertama, pertempuran itu berdampak pada perubahan
     sosial politik yang sangat penting.
     (brought about a major political or social change).
-   Kedua, sekiranya hasil pertempuran berbeda 180 derajat
     maka akan terjadi perubahan besar secara sosial-politik. 
     (had the outcome ... been reversed, major political or
     social changes would have ensued
).
-   Ketiga,
pertempuran tersebut menandai dimulainya
     perubahan penting dalam strategi perang.
     (marks the introduction of a major change in warfare).

Pertempuran yang kita dibicarakan termasuk dalam kategori ke-2.

Pertempuran Balat al-Syuhada

Balat al-Syuhada, dalam sejarah juga dikenal sebagai Pertempuran Tours atau Pertempuran Poitiers, terjadi antara pasukan Muslim Andalusia yang dipimpin Abdul Rahman al-Ghafiqi melawan pasukan Perancis dipimpin Charles Martel dan pasukan Muslimin kalah, bahkan Abdul Rahman menjadi martyr sebagai syuhada.

Muhammad Abdullah Enan dalam bukunya “Decisive Moments in the History of Islam(1983:43) menuliskan ahli2 sejarah terutama di Barat, berandai-andai bahwa sekiranya hasil pertempuran berbeda, yaitu kaum Muslimin menang dan pasukan Perancis kalah, maka ‘tidak akan ada lagi Eropa Kristen, dan Islam akan mendominasi Eropa.’

Ia juga mengutip pendapat Edward Gibbon yang mengatakan bahwa pada titik itu (di daerah antara Poitiers dan Tours, pen.) garis kemenangan kaum Muslimin telah mencapai 1000 mil ke Utara dihitung dari Gibraltar. Sekiranya mereka mampu meneruskan jarak kemenangannya dengan jumlah yang sama, maka mereka akan mampu mencapai Polandia dan Dataran Tinggi Skotlandia. Jika itu terjadi, ‘barangkali tafsir al-Qur’an pada saat ini akan diajarkan di sekolah Oxford, dan mimbar-mimbarnya mungkin menunjukkan pada orang bersunat, kesucian dan kebenaran Wahyu Muhammad’ (1983:48). Kemungkinan inilah yang membuat para sejarawan memandang pertempuran ini sebagai decisive battle.

Enan dalam pengantar bukunya (1983:iv) memandang pertempuran ini sebagai salah satu dari 2 pertempuran paling menentukan antara Islam dan Barat (the greatest decisive encounters of Islam and Christendom). Pertempuran yang satunya lagi adalah pengepungan Konstantinopel yang dimulai sejak 32H (653M). Kegagalan Muslim dalam 2 pertempuran itu telah menunda dan menghalangi penetrasi Islam ke Eropa, masing-masing dari pintu masuk Timur dan Barat.

Bagaimana jalannya Pertempuran Tours atau Poitiers? Dan apa yang menyebabkan kekalahan Muslim pada pertempuran tersebut?

Pertempuran ini terjadi sekitar 20 tahun setelah Islam masuk Andalusia dipimpin Tariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nusayr. Sejak awal sudah tampak keinginan para pemimpin Muslim ini untuk membuka lebih jauh wilayah Eropa. Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad sudah menyeberangi Pegunungan Pyrenees yang membatasi wilayah Spanyol dan Perancis untuk memasuki wilayah lebih jauh lagi dan, tidak tertutup kemungkinan, mencapai Konstantinopel dari arah Barat (Eropa).

Namun saat 2 tokoh ini baru menguasai beberapa bagian Selatan Perancis mereka dipanggil menghadap Khalifah di Damaskus. Sepeninggal Musa ibn Nusayr hingga ke Abdul Rahman al-Ghafiqi setidaknya ada 5 orang lain yang ditunjuk oleh Damaskus untuk memimpin Andalusia (Reinaud, 1964). Sejak memasuki Andalusia, kekuatan kaum Muslimin terus merambah wilayah Selatan, Tengah, dan bahkan Utara Perancis (Davis, 1999: 103). Namun, laju penetrasi pasukan Muslim berjalan relatif lambat disebabkan ketidakstabilan politik di Andalusia pada masa itu.

Keadaan sosial-politik menjadi lebih baik saat Abdul Rahman al-Ghafiqi ditunjuk memimpin Andalusia. Kepemimpinannya baik dan adil membuatnya disukai bawahan yang dipimpin. Dalam membagi pampasan perang, ia lebih mendahulukan kepentingan anggota pasukan daripada kepentingan sendiri. Ia juga pemimpin saleh dan dikenal sebagai salah seorang dari sahabatnya Ibn Umar ra., yaitu sahabat Rasulullah SAW generasi Tabi’in(Reinaud, 1964:43; Alatas: 2007: 151).

Enan (1983: 45) menjelaskan bahwa al-Ghafiqi merupakan pemimpin dan administrator tangguh, pembaharu yang antusias, punya kebaikan kualitas ideal, punya rasa keadilan, kesabaran dan relijiusitas tinggi. Secara umum Enan melihat al-Ghafiqi sebagai pemimpin (Wali) Andalusia yang terbesar dan paling handal. Sejak kepemimpinannya, menurut Reinaud (1964: 44), gubernur-gubernur tidak amanah diganti dengan orang jujur. Orang Islam dan Kristen diperlakukan adil sesuai perjanjian diantara mereka. Gereja2 yang dirobohkan secara semenamena diperbaiki kembali. Sebaliknya gereja yang dibangun dengan cara korupsi dengan menyuap penguasa  setempat diperintahkan dirobohkan.

Ia sangat waspada terhadap potensi konflik internal  dan pemberontakan di Andalusia serta terhadap kemungkinan ancaman dari Utara. Karena itu, ia segera mengirim pasukan ke Utara menyeberangi pegunungan Pyrenees untuk memerangi salah satu gubernurnya di Perancis Selatan, Uthman ibn Abi Nis’ah, yang menentang kepemimpinannya dan bersekutu dengan penguasa Kristen di wilayah itu, yaitu Eudo, Duke of Acquitaine.

Pasukan yang dikirim al-Ghafiqi berhasil menumpas perlawanan Ibn Abi Nis’ah. Al-ghafiqi sendiri kemudian menyusul ke Utara dengan pasukan yang kuat untuk menghadapi ancaman Duke Eudo dan pasukannya.

Al-Ghafiqi memasuki wilayah Perancis di musim semi 732M (114H), kurang lebih satu tahun setelah diangkat menjadi Wali Andalusia. Satu persatu wilayah Acquitaine diduduki pasukannya. Eudo berusaha menahan pasukan al-Ghafiqi di tepi Sungai Dordogne. Namun dalam pertempuran ini Eudo menderita kekalahan telak dan banyak anggota pasukannya mati di pertempuran itu. Al-Ghafiqi mengejar Eudo hingga ke ibukota kerajaannya di Burdal, Bordeaux, yang segera takluk setelah pengepungan singkat.

Seluruh Acquitaine kemudian jatuh ke tangan Muslim. Sementara Eudo sendiri melarikan diri ke Utara, pasukan Muslim mulai memasuki wilayah Burgundi dan menaklukkan kota-kota seperti Lyon dan Besancon.

Sebagian pasukan Muslim bahkan berhasil mencapai Sens yang terletak hanya seratus mil saja dari Paris. Pasukan al-Ghafiqi kemudian bergerak ke arah Barat hingga ke tepi Sungai Loire. Dari sana mereka bersiap untuk ke Utara menuju pusat Kerajaan Frank (Perancis) (Enan, 1983: 47-8).

Kerajaan Frank ketika itu dalam masa transisi antara Dinasti Merovingian dan Dinasti Carolingian. Walaupun secara resmi masih dipimpin oleh seorang raja Merovingian yang sudah tidak memiliki kekuasaan riil, tapi secara efektif dikendalikan Charles Martel. Kerajaan Frank pada masa itu, dan pada abad-abad setelahnya, dapat dikatakan sebagai kerajaan terkuat di Eropa Barat dan sekutu paling setia dari kepausan Katholik Roma. Begitu melihat gerakan pasukan Islam semakin berbahaya, Charles Martel menghimpun pasukannya. Eudo sendiri, yang merupakan saingan Charles Martel dan selalu berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pusat, kini datang meminta bantuan pada Charles Martel. Charles menyetujuinya dengan syarat Eudo harus loyal kepadanya.

Sementara itu, Pasukan Muslim telah mencapai daerah diantara Poitiers dan Tours. Mereka menyerang dan menguasai kedua kota itu. Tidak lama setelah itu, di wilayah antara Poitiers dan Tours, pasukan Muslim mulai berhadapan dengan pasukan Frank yang dipimpin oleh Charles Martel. Laporan tentang jumlah pasukan Muslim beragam, antara 20.000 sampai 80.000. Sementara jumlah pasukan Frank dilaporkan secara beragam juga, ada yang menyatakan lebih sedikit dari pasukan Muslim dan ada yang yang menyebutkan angka yang lebih besar. Pasukan Frank kebanyakannya merupakan pasukan irregular, nyaris telanjang, dengan rambut ikal tergerai hingga ke bahu, serta mengenakan kulit serigala.

Pasukan yang dibawa al-Ghafiqi saat itu merupakan pasukan terkuat dan terbesar yang pernah dibawa ke Perancis. Namun jumlahnya sudah agak berkurang setelah melalui berbagai pertempuran. Pada saat itu mereka juga menghadapi ujian serius: harta! Sepanjang penaklukan berbagai kota di Perancis, pasukan Muslim berhasil mengumpulkan banyak pampasan perang. Harta itu bisa menjadi kekuatan ekonomi bagi Muslim selepas perang. Tapi masalahnya perang belum selesai. Dan kini mereka justru sedang dihadapkan dengan kekuatan inti lawan.

Al-Ghafiqi mulai mencemaskan keberadaan pampasan perang yang ada di tangan pasukannya. Ia khawatir perhatian pasukannya terpecah antara menghadapi musuh dan menjaga harta pampasan agar tidak jatuh ke tangan musuh. Ia meminta agar sebagian pampasan itu ditinggalkan saja, tapi ia tak mampu memaksakan hal ini karena, khawatir anggota pasukan akan menentangnya di saat yang cukup genting tersebut.

Kedua pasukan tidak langsung bertempur. Mereka saling mengawasi selama kurang lebih seminggu. Kesempatan ini digunakan oleh pasukan Muslim untuk mengamankan harta yang telah mereka kumpulkan agak jauh ke Selatan. Akhirnya pertempuran bermula pada tanggal 12 atau 13 Oktober 732 (Sha’ban 114). Selama 7-8 hari berikutnya kedua pasukan terlibat pertempuran kecil. Hari ke-9 mereka memasuki pertempuran besar melibatkan seluruh pasukan hingga malam tanpa ada pihak yang menang.

Pada hari kesepuluh kedua belah pihak saling menyerang lebih keras lagi. Kubu Perancis memperlihatkan strategi pertahanan yang kokoh dan menyulitkan kaum Muslimin untuk menyerang. Enan menyebutkan bahwa pasukan Perancis pada akhirnya mulai kelelahan dan tanda-tanda kemenangan mulai berpihak kepada pasukan Muslim. Tapi sayangnya banyak di antara anggota pasukan Muslim yang terlalu khawatir akan jatuhnya pampasan perang ke tangan musuh. Sehingga ketika mereka mendengar seruan dari tempat penjagaan harta bahwa musuh mulai melakukan penetrasi ke tempat itu, konsentrasi pasukan Muslim menjadi terpecah. Banyak di antara mereka yang meninggalkan tempatnya dan menuju tempat harta pampasan perang berada. Hal ini menimbulkan kekacauan di dalam barisan Muslim dan membuka peluang bagi musuh.

Al-Ghafiqi berusaha mengembalikan pasukannya pada posisi semula. Tapi terlambat. Dalam keadaan yang tidak menentu, ia terkena anak panah musuh. Ia terjatuh dari kudanya dan mati syahid. Keadaan semakin kacau dan musuh berhasil mendesak pasukan Muslim. Walaupun mendapat pukulan bertubi-tubi dan banyak korban gugur, kaum Muslimin masih bisa mempertahankan posisinya hingga pertempuran dihentikan pada hari itu. Kedua belah pihak kembali ke posisi masing-masing dan bersiap-siap menyongsong pertempuran baru keesokan harinya.

Namun pasukan Muslim tidak bersiap menyongsong pertempuran baru. Mereka menyadari kekalahan dan pemimpin mereka sudah gugur. Secara diam-diam mereka mundur pada malam harinya,  meninggalkan semua pampasan perang yang sejak awal berusaha mereka jaga.

Esok paginya pasukan Frank heran dengan kesunyian di kubu Muslim. Mereka pun menyadari bahwa lawan mereka sudah pergi meninggalkan pertempuran. Charles Martel dan pasukannya merasa cukup dengan hasil pertempuran itu dan tidak merasa perlu untuk mengejar pasukan Muslim. Mereka mengambil harta pampasan perang yang ditinggalkan pasukan Muslim dan kembali pulang (Enan, 1983: 56-9; Davis, 1999: 104-6).

Peristiwa itu kemudian dikenal dalam Sejarah Islam sebagai Balat al-Syuhada’ atau Dataran Syuhada. Para Sejarawan hanya bisa berandai-andai atas apa yang akan terjadi sekiranya pertempuran itu dimenangkan oleh pasukan Muslim. Bagaimana keadaan Eropa setelah itu sekiranya Kerajaan Frank dan seluruh wilayah Perancis jatuh ke tangan Muslim? Akankah Paris, dan mungkin juga setelah itu London, dan berbagai kota penting Eropa lainnya, menjadi pusat-pusat kebudayaan Islam?

Kita tidak perlu berandai-andai. Semua sudah ditetapkan Allah dan ketetapan Allah yang terbaik. Kita perlu belajar dari Sejarah, bahwa:

Adakalanya bukan musuh kuat yang mampu menaklukkan dan mengalahkan kita, tetapi yang seringkali terjadi, yang membuat kita takluk dan kalah justru karena ketidakmampuan kita sendiri dalam mengontrol hawa-nafsu yang bersumber pada kecintaan  berlebihan terhadap harta duniawi.

-------------------------------------

Oleh: Alwi Alatas.  Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, kini studi doktoral bidang sejarah, Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

Referensi
Alatas, Alwi. Sang Penakluk Andalusia: Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad. Jakarta:
Davis, Paul K. 100 Decisive Battles: From Ancient Times to the Present. Oxford: ABC-    CLIO. 1999.
Enan, Muhammad Abdullah. Decisive Moments in the History of Islam. Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delli. 1983.
Reinaud, Muslim Colonies in France, Northern Italy and Switzerland, diterjemahkan oleh Haroon Khan Sherwani dari Invasions des Sarrazins en France, et de France en Savoie, en Piemont et en Suisse. Lahore: Sh. Muhammad Ashraf. 1964

         -------------------------------

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

Blog Archive

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?