<div style='background-color: none transparent; float:right;'><a href='http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget' title='News Widget'>News Widget</a></div>

Jangan Menjadi Hamba Allah yang Hebat Jika Menginginkan Keikhlasan


Suatu kali saya lakukan pengembaraan dari pesantren ke pesantren, masjid ke masjid  di  kota Solo,  Kudus,  Purworejo, Kebumen, Magelang,  Temanggung Kendal Salatiga, Semarang, Kendal,  Lamongan, Jombang, Gresik, Surabaya, Bangil, Kediri dan sekitar Jawa Timur disela-sela kesibukan saya menyusun Skripsi awal 1990-an.
Di setiap masjid atau pesantren tempat bermalam saya selalu bertemu PARA PENCARI TUHAN atau musyafir religius, sama seperti saya dan kami pun berbagi pengalaman dan wawasan spiritual hingga masalah tassawuf yang menjadi kecenderungan saya saat itu.    
Wanderer_And_Zadig_Meet_Destiny
Salah seorang   Pencari Tuhan ini mengaku telah mengalami bermacam keajaiban. Dia pemburu orang  yang dianggap wali atau kuburannya. Tiap minggu dia datangi kediaman Mbah Mangli (Hasan Asy’ary – wafat tahun 1997) di Grabag – magelang, Mbah Maimun Zubair di Sarangan – G. Lawu atau Mbah Nuh (dikatakannya ada Moga) selatan Pemalang.
Dia penganut Tarekat Naqsabandiyah.  Jika berdo'a, tak lama kemudian sudah bisa merasakan apakah doanya terkabul atau tidak. Suatu kali dia juga berdoa agar termasuk mereka yang berhati emas, tiba-tiba dia bermimpi melihat langit berwarna keemasan dan tetesan emas itu bagaikan jatuh menetesinya. Seolah doanya dikabulkan Allah ta’ala.
Ia menceritakan tentang karomah para wali yang dikunjungi, cerita buah bibir dari mulut ke mulut yang sulit dibuktikan kebenarannya.
Anganku pun melayang pada  literatur klasik kisah para sufi dengan pengalaman rohani yang saya rasa telah meracuni akal sehat. Karena kisah-kisahnya menyamai mu’jizat rasul, bahkan sangat berlebihan. Apakah pengalaman tersebut benar-benar terjadi atau tidak. Saya hanya mengkhawatirkan dua kemungkinan :
1. Si Penutur atau pelakunya menjadi riya' ketika menceritakan karomah (kadang diartikan keramat). Pengalaman rohani tidak boleh diceritakan karena dikhawatirkan hati tergelincir kepada Riya’ (memamerkan diri). Tipu daya syetan paling halus untuk ahli ibadat. Diibaratkan seperti semut hitam berjalan diatas batu hitam di malam gelap. Riya’  menghapus seluruh amal seperti pasir diatas batu yang hanyut di timpa curahan air. 
2. Dia Beribadah BUKAN untuk mencari keajaiban; bukan lillaahi ta’ala. Sholat sunnah ratusan rakaat atau wirid sekian ribu kali, dengan harapan membuka tabir hijab (kasyaf), kebal senjata, melemahkan musuhnya atau mengejar "keajaiban karomah" yang disebutnya ma'rifat (sayangnya direpresentasikan dengan keajaiban).
Saya tidak bermaksud mencela dan memusuhi para wali – kekasih Allah – Mereka hidup wara’ dan bersih dari riya’, tersembunyi dari pandangan, bahkan diberitakan yang mengetahui wali adalah wali Allah yang lain. 

Maka sungguh celaka! saat orang mendapat karomah segera mengklaim dirinya wali, merasa Tuhan sangat dekat dengannya.  Setelah "merasa" menjadi wali, ia melupakan aspek syari'ah. Dia Pikir apabila sudah mencapai derajat ma'rifat tidak perlu lagi menjalankan kewajiban syari'at.
Wali palsu ini, lupa atau memang tidak pernah tahu fatwa Imam Maliki : Syari’at tanpa tassawuf adalah fasiq dan Tassawuf tanpa syari’at adalah zindiq (sesat).”
Abu Said bertemu orang yang berkata, "Dia bisa terbang… " Abu Said menjawab, "Ah… itu tidak aneh… burung saja bisa terbang." Yang ganjil adalah orang mengklaim dirinya sufi (wali) sembari mempertontonkan "keajaiban.”  Sementara Nabi SAW yang kekasih Allah, justru bisa terluka sehingga giginya tanggal dalam perang Uhud dan sempat diracun saat dijamu orang yahudi.
Nabi Zakariya tiba-tiba dianugerahi puteri padahal sudah tua dan isterinya diketahui  mandul.  Setelah mendapat keajaiban Allah memerintahkannya
"Sebutlah nama Tuhan-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari" (QS Al-Imran 3 : 41).
Maryam mendapat keajaiban serupa, dikaruniai putera, Isa as (padahal tidak pernah "disentuh" lelaki).  Allah memberitahukan tingginya derajat Maryam dan memerintahkannya, "Ta'atlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku.'”  (QS Al-Imran 3 : 43).
Ternyata, Nabi Zakariya dan Maryam tak meninggalkan kewajiban syari'at meski dianugerahi keajaiban. Wali atau Sufi sejati tak butuh pengakuan dan tidak pernah meninggalkan kewajiban syari'at, meski telah mencapai maqam ma'rifat setelah melewati maqam tahalla dan tajalla. Mereka refleksikan syukur dengan tetap menegakkan ibadah  yang  disyari’atkan dan diteladankan oleh Muhammad SAW.
Siti A’isyah ditanyai tentang Nabi SAW. Sambil menangis bertutur : "Suatu malam Rasulullah mendekatiku dan membawaku ke tempat tidur, maka kami pun berdekatan sehingga kulit bertemu dengan kulit. Tiba-tiba Beliau meminta, “Wahai putri Abu Bakar, ijinkanlah saya menghadap Tuhanmu.” Aku menjawab, “ Sungguh saya sangat senang berdekatan dengan Tuan, tetapi saya tidak mau menghalangi keinginan Tuan,”
Nabi pun berwudhu menggunakan air sedikit, lalu berdiri menegakkan shalat malam sampai menjelang shubuh. sepanjang shalat, beliau senantiasa menangis, baik saat berdiri, ruku’, sujud maupun duduk. Maka aku pun tak tahan untuk bertanya, “Apa yang membuat Anda menangis seperti itu?.”  Rasulullah pun menjawab :”Tidak bolehkah orang seperti Muhammad ini bersyukur?.” 
Mengenal Abu Said Bin Abi Al-Khair
Sufi Penyair dan Peletak Dasar Pendidikan Pesantren
http://www.bicaramuslim.com/bicara7/viewtopic.php?f=13&t=5410
Abu Said bin Abi al-Khair sufi terkemuka abad ke-10 M. Ia lahir tahun 967 M di kota Minha, kota kuno di Provinsi Khurasan (kawasan Iran Timur Laut dekat Afghanistan). Ayahnya muslim ortodoks yang  mengikuti jalan sufi. Suatu saat, atas saran ibunya, si ayah membawanya mengikuti pertemuan sufi dengan harapan memperoleh berkah. Sejak itu ia selalu ikut ayahnya. Sedemikian seringnya sehingga ia hafal bait-bait syair yang dilantunkan. Salah satu bait syairnya adalah :
Allah memberi kaum darwis Cinta dan cinta adalah kesengsaraan,
Dengan mati dekat dan cinta pada-Nya, mereka tumbuh,
Kaum muda yang murah hati `kan menuai kehidupan,
Manusia kekasih Allah tak pedulikan pameran dunia.

Suatu hari Abu Said kecil menanyakan makna syair ini kepada ayahnya. Sang ayah justru membentak seraya mengatakan, Abu Said tidak akan mampu memahaminya dan juga hal itu sama sekali bukan urusannya. Bertahun-tahun kemudian barulah ia memahaminya.
1272866483_470x353_moon-night
Syair tersebut mengungkapkan ajaran dasar kaum sufi. Yakni bahwa untuk mendekati Allah, yang adalah cinta itu sendiri, penempuh jalan spritual (murid ) harus bersedia menghilangkan “diri”-nya.
Ia memperlihatkan gelora api cinta Ilahi dalam dirinya. Sebuah peristiwa menghentakkan hati ayahnya saat ia minta dibuatkan kamar khusus. Setelah dipenuhi, Abu Said pun melukis kata “Allah” pada tembok kamarnya. Ketika sang ayah bertanya mengapa demikian. si anak menjawab, ”Setiap orang menulis rajanya di dinding rumahnya.”
Jawaban ini menampar muka sang ayah yang pengagum Raja Mahmud. Ayahnya baru saja membangun rumah baru dengan berbagai lukisan dinding yang menggambarkan sang raja dalam lingkungan mewah. Jawaban cerdik anaknya mengingatkan dirinya bahwa hanya Allah sang Raja. Ia hapus semua lukisan idolanya
Sejak itu ayahnya melakukan apa saja guna mendidik anaknya. Mulanya ia dikirim ke Abu Muhammad Anazi untuk belajar dasar-dasar ilmu al-Qur`an dan gramatika Arab sekaligus belajar prinsip-prinsip Islam kepada Bishr bin Yasin. Setelah selesai studi tentang al-Qur`an, Bishr mengajarinya cinta tanpa pamrih kepada Allah – mencintai-Nya karena Dia semata yang pantas dan berhak dicintai, bukan karena mengharapkan pahala atau takut hukuman. Salah satu syair yang diajarkannya jika ia ingin bermunajat kepada Allah dalam kesendirian adalah :
Tanpa-Mu, duhai kekasih, aku tak bisa istirahat, 
Tak sanggup kuhitung kebaikan-Mu kepadaku,  
Meski setiap utas rambut di tubuhku menjadi lidah,
Tak mampu kuucapkan seperseribu syukurku kapada-Mu.

Abu Said mengungkapkan bahwa melalui bait syair yang sangat sering diulang-ulangnya ini, jalan menuju Allah tersingkap di masa mudanya. Sepeninggal guru spiritualnya Bishr bin Yasin, ia melakukan perjalanan jauh untuk terus mempelajari Islam sufi dari kota ke kota lain, dari guru ke guru lain. Guru terakhirnya dalam ilmu tassawuf adalah Abu Ali Faqih yang juga belajar ilmu tafsir al-Qur’an , prinsip-prinsip Islam, dan hadis Nabi.
Ia mulai berkonsentrasi di jalan sufi setelah mendengar majlis ilmu guru sufi, Abu al-Fadhl Hasan, tentang respon manusia terhadap seruan 124.000 Nabi yang diutus untuk menyeru ke jalan Allah. Namun sebagian besarnya tidak mengindahkan. Hanya sebagian kecil mau mengikuti seruan itu. Seisi majlis ilmu lalu mengulang-ulang melantumkan nama Allah, dan tenggelam dalam zikir. Hati mereka menjadi sangat bersih dan tercerahkan. Kemudian nama "Allah" muncul dan terpatri di hati mereka, hingga tidak perlu lagi mengulang-ulangnya. Nasehat Abu al-Fadl ini sangat mempengaruhi Abu Said sehingga ia tidak bisa tidur malam itu.
Esoknya, sesudah shalat subuh dan membaca wirid, Abu Said mengikuti pengajian tafsir al-Qur’an yang disampaikan gurunya, Abu Ali Faqih. Kebetulan kajian hari itu adalah ayat al Qur’an, "Katakanlah ‘Allah’ dan biarkanlah mereka bersenang-senang dalam kejahilan mereka ." Ketika ayat ini dibacakan, Abu Said mengalami fana. Dalam fananya, ia bergumam bahwa sebuah pintu telah terbuka dalam hatinya. Sang guru yang mengetahui adanya perubahan dalam diri muridnya, segera mengirimnya kepada Abu al-Fadl.
Ia kembali ke kampung halamannya dan terus melakukan khalwat. Abu Said menuturkan bahwa selama kurun waktu tersebut, ia terus menerus mengulang kata Allah, Allah. Jika ia tertidur atau pikirannya kacau dan kusut, sesosok bayangan yang sangat ditakutinya dengan tongkat api ditangan segera datang mengingatkan untuk kembali mewiridkan kata Allah, Allah. Demikian, Abu Said terus mengulang nama Allah hingga segenap wujud dirinya mulai mengucapkan Allah, Allah, Allah.
Tentang dzikir "Allah-Allah", al-Ghazali dalam kitab  Al-Maqshad al-Asna’ menulis bahwa yang diperoleh seorang hamba dari menyebut nama Allah adalah ta’alluh (penuhanan), yang berarti bahwa hatinya dan niatnya karam di dalam Tuhan, sehingga yang dilihat-Nya hanyalah Dia.
Dalam Mizan al-Amal, al-Ghazali menulis bahwa ia diberitahu seorang wali bagaimana seharusnya mendzikirkan nama ini. Katanya, "Jauhkan hatimu, Nak dari segala keterikatan kecuali keterikatan kepada Tuhan, dan menyendirilah seraya mengucapkan dengan kekuatan konsentrasimu Allah, Allah, Allah sambil melekatkan pikiran Anda terhadapnya."
Pengulangan nama Allah secara terus-menerus tanpa jeda akan mengantar ke suatu titik di mana gerakan lidah terhenti dan nampak seakan-akan kata tersebut mengalir begitu saja dari lidah secara spontan. Teruslah dengan cara ini hingga setiap jejak gerakan lidah menghilang sementara kalbu mencatat pikiran atau gagasan kata tersebut.
Selanjutnya, akan datang suatu tahap dimana kata tersebut meninggalkan kalbu sepenuhnya. Hanya hakikat atau realitas nama itu yang dapat dirasakan akan tinggal, mengikat dirinya dengan tak terhindarkan pada kalbu. Hingga titik ini segala sesuatu akan menjadi tergantung pada kesadaran berkehendak Anda sendiri. Akhirnya cahaya kebenaran akan menyinari kalbu Anda, kadang bertahan agak lama, dan kadang hanya tinggal sebentar saja.
ARTIKEL TERKAIT   :
1.     How To Feel True Happiness? (Part 1)   
2.     How To Feel True Happiness? (Part 2)
3.     THE BUTTERFLY TEACHS ME A LOT – Series of Parental Related to the
        Poem written by General Douglas Mac Arthur : Build Me My Son

4.     SEARCHING THE MOST SUITABLE METHODE FOR TEACHING SOUL (Part 1)
5.     SEARCHING THE MOST SUITABLE METHODE FOR TEACHING SOUL (Part 2)

< Wa billaahit taufiq wal hidayah >
The Quote Inspire to ISLAM

0 komentar dan respon:

Word of the Day

Article of the Day

This Day in History
Sanden Yogyakarta Jakarta Slideshow: Yusuf’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to Yogyakarta was created by TripAdvisor. See another Yogyakarta slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
Free Backlinks Online Users

Delivered by FeedBurner

Google Translate

Add to Google
Translate to 32 LANGUAGES
Jpn
Indonesia

Sayangi Kendaraan Anda
ASURANSI MOBIL SHARIAH
contact :
yusuf.edyempi@yahoo.com
SMS......:...0815 8525 9555

Statistic

danke herzlich für besuch

free counters

Blog Archive

SEO for your blog

sitemap for blog blogger web website

Recent flag visits


bloguez.com

STAGE OF MODERN CIVILIZATION SOME GREATEST ACHIEVERS OR THE ONES HISTORY WOULD REMEMBER SOME WAY - CAN YOU TRACK THEM BY NAME?